
Suatu saat nanti kamu akan bisa berjumpa dengan masa dimana kamu bisa berdiri tegak untuk melupakan semuanya
☘☘
Sebenci bencinya Rindu pada Baskara dia tidak akan meninggalkan Baskara dalam kondisi seperti ini. Malam malam dia mendatangi rumah sakit dimana Baskara dirawat. Karena dia belum resmi menjadi mahasiswa, dia masih bisa berkeliaran kemanapun. Minggu depan baru penyambutan mahasiswa baru akan di mulai.
Rindu sedikit tidak yakin saat menemui Baskara, apa semudah itu memaafkan lelaki yang sudah meruntuhkan hidupnya. Membuat dia kehilangan anak pertama dan harus tersayat saat melihat Baskara berdiri dengan wanita lain.
Rindu menggeser pintu. Matanya membulat sempurna, ya Tuhan brangkar itu sudah tertata rapi, tidak ada tanda tanda keberadaan Baskara. Tidak mungkin kan Baskara mati tanpa pihak rumah sakit menelfonnya.
"excuse me, where is the patient on behalf of Mr. Baskara?"
Suster itu berhenti saat Rindu bertanya dengan wajah pucat. Arah pandang suster itu langsung berubah saat Rindu menunjuk brangkar Baskara.
"ohh Mr. Baskara, he has been allowed to go home since this afternoon"
"What"
Rindu tidak percaya dengan ucapan suster itu.
"Thank you"
Dia masih memutar otak ,gak mungkin kan Baskara langsung pulang ke Indonesia gitu aja. Anak itu apa bawa uang segitu banyaknya, sedangkan dia membawa handpone yang kartu SIM nya dari Indonesia.
Rindu setengah berlari menyusuri halaman rumah sakit, kalau sore tadi Baskara meninggalkan rumah sakit, itu artinya saat Rindu pergi meninggalkan Baksara.
Rindu hampir menangis, fikirannya melayang kemana mana. Anak itu masih anak kecil yang bodoh, apa dia tahu jalan Amerika, bagaimana kalau dia nyasar? .
Kenapa dia tidak meninggalkan catatan dirumah sakit atau meminta kontak Rindu pada pihak rumah sakit.
Fikirannya hanya di universitas Havard, ya Baskara tidak akan pergi sebelum menemui Rindu kan. Dia langsung mencari taksi untuk pergi kekampusnya.
Dia menyeka air mata yang berulang ulang membanjiri pipi, saat mobil berhenti Rindu langsung berlari keluar taksi dengan tergesa gesa. Dia sempat bersebrangan dengan mahasiswa yang sama sama dari Indonesia, tapi Rindu memilih acuh.
Laki laki itu tidak ada, Rindu sudah hampir lelah menyusuri kampus Havard yang luasnya melebihi kampus Baskara di Indonesia.
Rindu melihat seorang mahasiswa duduk di bangku taman sambil membaca, kemungkinan gadis ini sudah berada di taman sangat lama terlihat dari botol minuman yang berada disebelahnya.
"excuse me. do you see a man 183 cm tall, wearing a blue plaid shirt. his face is white with random random hair"
Gadis itu menatap Rindu sambil mengernyitkan dahi. Dia mencoba mengingat apakah ada seorang laki laki yang disebutkan oleh Rindu
"No"
Rindu mengangguk sebagai respon paham. Dia sudah kelimpungan mencari Baskara.
"Rindu" panggilan dari James membuat Rindu menoleh.
Masih ingat James, lelaki itu yang bertemu Baskara saat dia pertama kali menginjakan Havard.
James tingginya sama dengan Baskara hanya saja kulitnya asli bule. Mata hanzel dan teduh tak henti hentinya memandangi Rindu.
Rindu tersenyum sekilas, meski pertemuan keduanya singkat tapi James banyak membantu Rindu di sini.
"Hey" Rindu memilih menyapa dulu James.
"are you looking for your husband?"
__ADS_1
Rindu melongo, bagaimana James bisa tahu kalau dia tengah
mencari Baskara
"Yes"
"I saw it, he waited in front of the girls' dormitory for a long time now maybe he's gone. I thought he would die of cold if he stood in front of the dormitory"
Jadi Baskara sudah menunggunya sangat lama didepan Asrama putri. Setelah mengucapkam terimakasih Rindu langsung berlari menuju asrama putri tempatnya tinggal.
"Nadienn"
Rindu memanggil seniornya yang berasal dari Indonesia.
Gadis itu menoleh sambil memegang tumpukan buku.
"Apa ada seorang laki laki disini tadi?"
Nadien sempat berfikir "aku pikir ada, tapi dia sudah pergi"
Nadien adalah orang yang Rindu kenal setelah James, dia yang membantu mahasiswa beasiswa dari Indonesia.
"Dia tampan" kata Nandien antusias.
"Saya tahu"
Batin Rindu, dia menggigit bibirnya sebagai tanda kegugupan "kira kira sekarang dia kemana? Oh bukan perginya dia kemana?"
Nandien memutar matanya, dia meletakkan jari telunjuk di dagu sebagai respon berfikir. Kelamaan, Rindu sudah mau mati gugup kerena kehilangan bayi besarnya malah Nandien sok sok an mengingat
"Aku gak tahu"
Dia menyusuri sekitar kantin, anak itu tidak akan pernah jauh jauh dari makanan kan. Meski kantin Havard sangat luas dan rapi, tapi ini pertama kalinya Rindu menginjakan kaki di kantin. Dia mendegus lega kala melihat seorang laki laki berdiri sambil meniup telapak tangannya.
Setidaknya dia sudah menemukan laki laki yang berdiri dengan pakaian kusut dan sandal jepit. Dia hampir menagis saat menemukan keberadaan Baskara.
Rindu mendekati Baskara dimana laki laki itu sudah menyita pehatian kaum hawa. Sambil menarik kemeja Baskara, Rindu menyeka air matanya.
Baskara menoleh dan tetap meniup telapak tangannya karena kedinginan
"Rindu, gue laper. Disini gak bisa bayar secara cashless, harus pakai dolar"
Wajah lucu Baskara membuat Rindu semakin ingin menangis.
Bahkan gadis itu menyeka air mata yang turun membasahi pipi berulang ulang.
"Lo kenapa?"
Wajah Baskara berubah tegang saat melihat Rindu menangis tersedu sedu tidak berhenti. Dia tidak melakukan kesalahan lain kan, kesalahan kemarin masih belum termaafkan untuk Rindu jangan sampai dia menambah point kemarahan Rindu.
"Kalau gak punya uang jangan pergi ke mana mana, tunggu saya dirumah sakit"
Maksudnya itu jangan pergi Baskara, cuman Rindu masih gengsi mengakui kalau dia sudah memaafkan Baskara. Lelaki itu menarik sudut bibirnya, setidaknya Rindu tidak akan marah kan padanya.
"my cute wife"
Baskara mecubit pipi Rindu, tangan itu langsung ditepis Rindu. Dia menyeka air matanya.
__ADS_1
"Gue laper" rengek Baskara
"Saya gak punya uang Baskara"
Mendengar kalimat itu, Baskara melotot tajam.
"Lo kan disini kuliah, gimana bisa gak punya uang sih"
"Saya kan cuman bawa uang nipis, lagian uang beasiswa saya turun setelah penerimaan mahasiswa baru"
"Terus besok lo makan apa kalau gak punya duit?"
"Saya kan mahasiswa disini, jadi saya dapat vouncher makan di asrama"
Baskara lupa kalau Rindu sekarang mahasiswa beasisea Havard otomatis semua keperluan ditanggung oleh pihak pemberi beasiswa
"Terus keperluan lo yang lain gimana?"
"Sekarang jaman cashless Bas, saya sudah melimpahkan semua uang dalam mode itu" tutur Rindu
Baskara mendegus, diam diam dia merasa senang. Obrolan nya sudah kembali seprti biasa. Keputusan untuk menyusul Rindu berbuah baik, buktinya gadis ini tidak sedingin kemarin
"Lo bisa ijin buat tidur diluar?" tanya Baskara sambil meniup telapak tangan nya lalu ditempelkan di pipi Rindu yang merah. Karena sekarang bulan Febuari jadi di Amerika masih musim dingin.
Rindu mengangguk sambil pipinya masih ditangkup Baskara "saya kan belum resmi menjadi mahasiswa jadi diperbolehkan untuk jalan jalan"
"Ikut gue"
Baskara menarik tangan Rindu untuk keluar dari gedung kampus. Kampus ini sangat besar, jadi Rindu tidak ingat betul jalan keluarnya. Tadi dia terlalu terburu buru mencari keberadaan Baskara sampai dia tidak mengingat jalan mana yang dia lewati.
Baskara berhenti sambil memilih jalan
"Lo hafal gak jalan keluar nya kemana?"
Rindu menggeleng, emang bener kan dia gak hafal. Namanya juga baru pertama kali dia kesana.
Mereka terdiam sambil saling berpegang tangan, rasanya Baskara ingin mati kedinginan saat ini, ditambah jalanan yang dia lewati berbelok belok.
"Gue minta maaf" suara itu parau keluar dari bibir Baskara.
"Gue minta maaf udah ngebuat anak kita__"
Baskara menghentikan langkahnya begitu juga Rindu. Meski Rindu masih dibelakang Baskara tapi suara Baskara masih jelas terdengar. gadis itu menunduk sambil membuat pertahanan agar air mata nya tidak meluncur.
"Maaf udah ninggalin elo demi wanita lain"
Suara serak Baskara semakin membuat Rindu menangis, gadis itu sesegukan. Dia tidak bisa mengatakan apapun selain hanya menunduk.
"Gue salah, karna gue anak kita ___"
Kalimat itu begitu menyakitkan untuk Baskara. Lelaki itu membalikan badan dan memeluk Rindu.
"Gue salah Rin, lo boleh hukum gue apapun tapi jangan ninggalin gue"
Pelukan itu semakin erat bersama deraian air mata yang membasahi.
"Gue pengen kita ulang semua dari awal Rin, tanpa perpisahan"
__ADS_1
Suara Baskara semakin melemah, dia meneteskan air matanya ditekuk Rindu. Sementara Rindu gadis itu menagis di dada Baskara.
trailer BARA udah ada di YouTube, silahkan di tonton