
Kau tidak perlu tahu seberapa terlukanya aku
Yang perlu kau tahu aku selalu bisa baik baik saja asal kau bahagia
☘☘
Baskara sadar memilih satu diantara dua sangat sulit baginya, saat ini Sisil lebih membutuhkannya dibandingkan Rindu. Sejak dia tinggal tadi Sisil tidak berhenti menangis, dia selalu berkata kalau dia takut sendiri, dia tidak ingin kehilangan Baskara.
Baskara duduk disamping brangkar Sisil sambil mengusap wajah gadis itu.
Lusa kalau keadaan Sisil lebih baik, Sisil diperbolehkan pulang. Tentu saja selama itu juga Baskara harus menemaninya.
Baskara sudah mengirim pesan ke teman temannya untuk datang kerumah sakit. Sambil menunggu kedatangan Alan, Pandu dan Rama, Baskara mengelap tubuh Sisil. Gadis itu masih terlihat lemas, tapi emosinya sedikit bisa dikendalikan.
Pintu terbuka lebar menampakan ketiganya dengan cengiran santai. Rama melambaikan tangan kearah Baskara, sedangkan Alan dia langsung membanting tubuh diatas sofa khusus tunggu pasien.
"Nih gue bawain elo baju ganti"
Pandu melempar paparbag kearah Baskara.
"Keadaan Sisil gimana?" tanya Rama sambil mengamati wajah pucat Sisil
"Emosinya sedikit bisa di kendalikan tapi dia harus selalu dalam pengawasan" ujar Baskara
"Bdw kalian kesini gak bawa makanan?"
"Boro boro bawa makanan, kita langsung cabut pas elo nelfon tadi" sela Alan.
"Lagian lo aneh, orang masih bimbingan elo suruh dateng ke sini" kata Rama sambil mengupas jeruk yang ada di nakas "kita lagi skripsi Bas, enggak kayak elo pacaran mulu"
Baskara ikut terkekeh mendengar ucapan Rama. Dia mengganti pakaiannya dan mebasahi rambut.
"Bu Rindu gimana Bas?" tanya Rama disela dia mengunyah jeruk.
Baskara berhenti saat mengusap rambut basahnya
"Elo jangan egois dong, boleh boleh aja elo mau nolong Sisil tapi utama in istri elo" tambah Rama.
"Kalau boleh jujur Bas, perasaan elo ke bu Rindu gimana sih? " Alan menegakkan tubuhnya
"Perasaan gue ke Rindu" Baskara melirik atap atap kamar rumah sakit.
Perasaan seperti apa yang selama ini di miliki Baskara pada Rindu, perasaan suka, senang atau hanya nyaman.
"Perasaan gue ke Rindu gak lebih cuman karna gue ngebutuhin dia"
Itu memang jawaban terjujur dari Baskara, selama ini dia tidak pernah benar benar menganggap bahwa dirinya jatuh cinta pada Rindu, dia hanya beranggapan kalau itu respon hatinya karena merasa terikat oleh gadis itu.
Gadis itu selalu bisa bersikap dewasa, menuruti kemauan Baskara dan Baskara menganggapnya hanya sebagai dia membutuhkan Rindu bukan mencintainya.
"Jadi elo selama ini gak cinta sama bu Rindu?" tanya Alan ingin memperjelas perasaan Baskara.
Lelaki itu menggeleng meski ragu "gue rasa perasaan gue ke Rindu selama ini bukan karna cinta"
"Bas" Pandu hendak berucap tapi dia hentikan kala melihat Sisil menggeliat dan perlahan membuka matanya.
Gadis itu tersenyum kearah Baskara, sambil berusaha menegakkan tubuh yang dibantu Baskara, Sisil menatap ketiga teman Baskara sambil tersenyum
"Kalian udah dateng?" sapa Sisil pada ketiganya.
Alan, Pandu, dan Rama mengangguk canggung, sudah berapa lama ya mereka tidak bercakap cakap bareng Sisil, terakhir dilakukan saat study tour atau saat ulang tahun Baskara.
Rama melempar jeruk kearah Alan yang langsung ditangkap lelaki itu.
"Lo mau makan?“ tanya Baskara pada Sisil.
Sisil mengangguk dengan tersenyum sampai menampakkan pupyeyesnya.
Bubur dimangkuk yang disiapi rumah sakit langsung di bawa Baskara dalam sebuah sendok yang di suapi ke Sisil. Baskara mengurus Sisil dengan telaten, meski kadang perasaan terluka hadir.
Terluka karna apa Baskara itu? Hanya saja perasaan itu seperti sebuah belati yang menyayat hatinya saat dia tertawa bersama Sisil namun bayangan Rindu yang hadir di fikirannya.
__ADS_1
"Kalian gak kuliah?"
Sisil menelan bubur sambil melempar pertanyaan ke tiga teman Baskara.
"Kita udah bimbingan Sil, jadi lebih fokus ke skripsi" jawab Pandu
"Wah , enak ya bisa ikut skripsi" Sisil mencimbikan bibrinya "aku kayaknya wisuda telat deh"
"Gak papa wisuda telat ketimbang gak wisuda sama sekali" ledek Rama
Mereka tertawa bersama memenuhi ruangan rawat Sisil. Gadis itu menggenggam tangan Baskara sambil mengayun ayunkan
"Sayang, aku bosen dirumah sakit, kapan kita pulang?"
"Uhuk" Pandu tersedak buah apel yang baru dia kumpas.
Dengan cepat Rama menepuk punggung Pandu sampai laki laki itu mengeluarkan potongan apel kecil yang dia telan.
"Santai aja kali Pan makannya, gak ada yang mau ambil apel elo" goda Alan.
Baskara menyunggingkan senyum kearah mereka "nanti kita bakalan pulang setelah elo bener bener sembuh"
Baskara mengusap puncak kepala sisil.
"Bas kayak nya kita gak bisa lama lama deh di sini, kita mau lanjut ngerjain skripsi" dusta Alan mulai bangkit yang diikuti Rama dan Pandu.
Baskara mengangguk, dia mengantarkan ketiga temannya sampai lorong ruangan rawat Sisil.
Di lorong keheningan mendewa diantara mereka, baik Pandu, Alan, Rama ataupun Baskara memilih diam sambil bersender pada dinding. Baskara tahu ada hal yang akan mereka bicarakan.
“ati ati kalau dijalan"
Baskara menepuk bahu Rama
"Bas" panggil Alan membuat Baskara menoleh
"Kita gak setuju elo deket deket sama Sisil" tambahnya.
"Gue perhatiin semakin hari perhatian elo ke Sisil udah ngelewati batas sebagai orang yang hanya berbelas kasihan ke orang lain"
"Kalian kenapa sih tiba tiba ngomong kayak gini?"
"Kita tanya sekarang sama elo, terkhir kali elo pulang ke rumah istri lo kapan?" tanya Alan sambil bersidekap.
"Lo tahu, mungkin bu Rindu disana lagi cemas mikirin elo, dia ngerasa kesepian nungguin elo"
"Gue cuman ngejagain dia sampai papa Sisil ditemuin, setelah itu gue gak bakal nemuin dia" tegas Baskara memelan kan suaranya
"Kapan papanya Sisil ditemukan? Lusa, tahun depan atau dia gak bakal balik lagi. Apa selama itu juga elo bakal terus kayak gini in bu Rindu?" Alan mulai terlihat emosi
"Lan, terkahir kali kita debat saat gue ngurusi urusan elo, dan sekarang gue gak mau kita berantem cuman karna kalian ngurusin urusan gue"
"Bas, kita temen elo, udah sewajarnya kita ngasih tau kalau elo ngelakuin hal salah" cicit Pandu.
"Lo semua tahu kan, Sisil mengindap amnesia__"
"Kita tahu, tapi sampai kapan elo ngasih harapan ke Sisil kalau elo masih ada perasaan sama dia. Sisil mesti tahu kalai elo udah nikah" tegas Alan.
Baskara mendegus, dia menatap manik mata teman temannya yang sudah tersulut emosi. Tidak baik permbicaraan ini terus dilanjutkan yang ada pertemanan mereka akan merenggang karna masalah ini.
"Gue mau masuk. Sisil udah nunggui gue" Baskara melangkah maju
"Ini terakhir kali kita ngebantuin elo. Kita bakalan bantu nyari papa Sisil sampai ketemu"
Alan, Pandu, dan Rama berjalan meninggalkan Baskara yang memaku. Dia bersandar di dinding sambil mengusap wajahnya kasar, seperti ini yang perlu dilakukan Baskara adalah mengalihkan emosinya pada sebatang rokok. Dia mencari ruangan bebas merokok, disana rokok mengangtung di bibir, sambil api yang sudah membakar diujung rokok. Baskara menghisapnya perlahan, entah kenapa aroma Rindu menyengat dihidung Baskara. Aroma bedak bayi yang membuatnya merasa dihipnotis.
Baskara memejamkan matanya, dia kembali menyakinkan bahwa hanya sampai Sisil menemukan papanya setelah itu dia akan kembali pada kehidupan nya semula. Sampai saat itu , Baskara harap Rindu mampu bertahan menunggu dia.
**
Rindu dinyatakan hamil oleh dokter. Dia merasa puas juga merasa sedikit terluka, kenapa dia hamil saat Baskara tidak ada disisinya?
__ADS_1
Berulang ulang Rindu menghubungi Baskara tapi handpone laki laki itu dalam keadaan mati.
Sungguh Rindu hampir frustasi karena ini. Kenapa Baskara tidak pernah ada disisinya dalam waktu lama?
Rindu menatap kalender di dinding dengan pandangan kosong. Kehamilannya seharusnya bisa disambut dengan perasaan membahagiakaan bukan malah dia merasa sedikit miris seperti janda yang harus mengurus anak seorang diri.
Tiba tiba Rindu seperti mencium aroma spageti didalam apartemen sejurus kemudian perut itu bergeroncongan meminta jatah makan.
"Spageti" gumam Rindu.
Rindu ingin makan delivery saja karena kerestoran juga percuma. Tapi makan sendiri itu tidk enak, Rosa juga sudah kembali kerumah sakit, dia juga tidak punya teman selain Rosa.
Wirawan, hanya orang itu yang terlintas di fikiran Rindu, setelah mencari pesan chat Wirawan yang tertumpuk dibawah, Rindu mengirim sebuah pesan
Rindu
Kamu dimana?
Tidak perlu menunggu lama karena tanda centang itu langsung berubah biru
N. Wirawan
Rumah sakit, ada apa Rin?
Rindu
Sibuk?
N.Wirawan
Tidak juga, tidak ada jadwal operasi
Rindu
Temani saya makan spageti
N.Wirawan
Aku kesana. Tunggu aku
Salah tidak ya Rindu pergi dengan Wirawan mencari spageti. Dia tidak mau nanti orang orang berfikir aneh aneh tentang dia. Apalagi Baskara. Tapi ah sudahlah. Lelaki itu juga sedang sibuk dengan wanitanya. Dia tidak pernah peduli pada Rindu kan. Jadi kenapa Rindu harus peduli padanya.
Rindu kelaur dengan pakaian santai, perut nya belum terlalu ketara karena usia kehamilannya masih muda.
Ternyata di lobi Wirawan sudah berdiri dengan pakaian cansual milkknya. Wiarawan sebenarnya tidak jelek jelek juga, cukup tampan kalau dibandingkan Baskara, dia memiliki wibawa dan selalu berfikir dewasa.
"Udah nunggu lama?"
Wirawan membukakan pintu untuk Rindu. Gadis itu mengangguk mengucapkan "terimakasih".
Mobil mereka melaju kearah restoran spageti yang terkenal lezat, seperti acara ngedate keduanya tampak serasi. Rindu tidak banyak makan spageti karena perutnya tiba tiba mual. Dia hanya memakan dua sendok saja selebihnya dia langsung memutahkan makanan itu kewastafel restoran.
Karena khawatir Wirawan memilih membawa Rindu ke rumah sakit. Dia akan memeriksakan kenapa Rindu mutah mutah begitu, dia takut kalau Rindu keracunan. Wirawan memang belum tahu kalau Rindu sedang hamil.
Mobil mereka sampai di parkiran rumah sakit, saat Wirawan mematikan mesin wajah Rindu menoleh kesebelah kiri dan pemandangan yang dia lihat sungguh membuat matanya langsung berkaca kaca.
Itu Baskara suaminya yang sedang berciuman dengan wanita lain. Wanita yang selalu menjadi alasan Baskara tidak pulang, wanita yang selalu membuat Rindu terluka.
Silvi Margareta atau Sisil
Gadis itu sedang berciuman dengan Baskara ditaman Rumah sakit. Cukup berhasil membuat jantung Rindu seperti dipanah ribuan anak panah, merasa di sayat oleh belati paling tajam. Merasa pasokan oksigen di bumi telah habis.
Wirawan yang menyadari Rindu terisak langsung khawtair, dia berulang ulang bertanya "ada apa" pada Rindu
"Saya mau pulang" suara itu selalu diiringi isakan yang membuat hati Wirawan juga merasa terkuka
"Tapi kita belum ketemu dokter" kata Wirawan mencoba menenangkan Rindu
"Saya mau pulang Wirawan, tolong bawa saya pergi dari sini"
"Ada apa Rindu?"
__ADS_1
"Saya mau pulang" Rindu terisak sangat keras "bawa saya pergi dari sini" ujarnya