
Meski dengan tampang kusut Baskara menarik kopernya setelah dia turun dari taksi. Wajahnya di tekut, tidak ada semangat semangatnya saat dia berjalan menghampiri rombongan Study tour.

Pandu melambaikan tangan kearah Baskara agar laki laki itu bisa mengenalinya. Dengan malas Baskara menarik kopernya kearah mereka.
"Yang semangat dikit dong Bas" komentar Rama yang mulai malas melihat tampang kusut temen nya.
"Berangkat jam berapa nih?" Tanya Baskara sembari merapikan rambut
"Bentaar lagi katanya, nih nomor kamar elo" Pandu memberikan sebuah nomor 32 kepada Baskra.
"Tidur sama siapa gue?"
"Gue lah" jawab Pandu enteng
"Ya elo aja yang simpen bambang"
Didepan kampus sudah ramai mahasiswa dengan koper dan tas masing masing. Banyak dari fakultas lain yang ikut, dari fakultas Managemen Ekonomi ada sekitar 4 bus. Dan kelas Baskara mendapatkan bus ke 2.
"Rindu gimana?" Tanya Alan yang dari arah belakang sembil memberikan minuman kepada mereka bertiga.
"Masih hidup" jawab Baskara santai
"Dia beneran gak ikut?" Timpal Rama yang berjongkok sembil mengamati sepatu teman temannya.
Baskara menggeleng, dia tidak merasa tertarik untuk membahas Rindu, semalaman saja dia tidak bisa tertidur memikirkan Rindu. Bagaimana nasib Baskara kalau tidak ada itu anak, bisa bisa akan banyak barang yang ketinggalan.
"Tenang Bas, gue denger fakultas kedokteran banyak yang ikut. Siapa tahu ada Sisil" ujar Alan santai
"Eh kutu aer maksud elo Baskara lo suruh selingkuh gitu?"
Pandu menendang kaki Alan sehingga laki laki itu mengaduh kesakitan
Suara dari toa mengikstrupsi mereka untuk masuk kedalam bus masing masing, karena malas atau memang apa Baskara memberikan kopernya pada teman sekelasnya untuk dia masukan ke dalam bagasi bus. Koper yang digunakan Baskara cukup kecil jadi tidak terlalu memakan tempat, dia hanya memegang dompet dan handpone selebihnya dia letakan didalam koper.
Untuk urusan makanan, mereka sudah menyerahkan pada Rama dan Pandu, jadi sebelum berkumpul dikampus mereka sudah menyempatkan belanja.
Baskara memilih tempat ke 6 paling belakang bersama Pandu.
Bus mereka belum juga jalan padahal sudah ada setengah jam mereka menunggu, bus yang lainnya juga sudah jalan.
"Nunggu apa sih kita?" Teriak Rama sembari berdiri.
"Pak Dodit" teriak Resa teman sekelasnya yang memang sebagai ketua kelas.
"Udah kayak miss Indonesia aja dia lelet amet" komentar Deni yang satu kursi dari tempat Baskara dan teman temannya.
"Bu Erma gak ikut ya Res?" Tanya salah satu teman Baskara yang duduk di kursi nomor satu.
"Kaga, anaknya dirawat dirumah sakit" jawab Resa
"Jadi ada dosen penggantinya gak?"
"Ada, nanti kebagian bus kita dia"
"Siapa?" Tanya Rama
__ADS_1
"Bu Rindu"
Mendengar nama Rindu, Baskara terbatuk batuk. Panjang umur nama yang di bicarakan sudah naik ke dalam bus dengan pakaian sederhana.

Rindu mengenakan rok kodok warna putih dengan sweter biru muda. Dia meneteng totabag kecil dengan bantal leher ditangan.
"Bu Rindu" panggil Dodit yang ada di belakang. Laki laki itu mengenakan kacamata dengan kumis tipis dan rambut lamis khasnya.
"Ada dua kursi tersisa, didepan dan belakang. Ibu pilih duduk dimana?" Tanya Dodit dengan tas menggantung dileher.
"Saya dibelakang aja pak"
Rindu hendak berjalan tapi suara panggilan kembali terdengar kali ini bukan dari Dodit melainkan Wirawan.
"Bu Rindu"
Wirawan berjalan sudah memasuki bus, dia melangkah pelan mendekati Rindu.
"Ini"
Wirawan memberikan sebuah paperbag berisi obat obatan pada Rindu.
"Obat obatan buat jaga jaga. Nanti saya menyusul setelah fakultas kedokteran selesai praktik" katanya.
"Woy cepetan dong, malah asyikan pacaran. Keburu pantai Bali kering gara gara kalian" pekik Baskara sembari berdiri.
Wirawan langsung berjalan keluar sedangakn Rindu dia berjalan menuju kursi belakang tepat dibelakang Baskara.
Entah sengaja atau tidak tapi kaki Baskara menjulai keluar dari deretan kursinya.
Tubuh Rindu limbung oleh karena tersandung kaki Baskara. Dengan sigap tangan Baskara memegang tangan Rindu untuk membantunya menyeimbangkan badan.
"Kamu sengaja"
Rindu menatap Baskar dengan kerutan terpanti didahinya
"Maaf bu, kaki gue eh saya kepanjangan"
Rindu melepaskan genggaman tangan Baskara lalu duduk di kursinya. Untungnya kursi belakang tiga tiganya kosong karena kursi ini disiapi untuk keluarga bu Erma. Ternyata dia berhalangan hadir.
**
Sekitat pukul 2 malam keadaan bus hening semua penghuninya sudah tertidur lelap. Mungkin karena kelelahan bernyanyi disepanjang perjalanan. Baskara bangkit menuju kursi Rindu. Dia duduk disebelah Rindu yang sibuk memainkan handponenya.
"Lo kenapa sih gak bilang sama gue kalau lo ikut?"
"Kamu bisa gak, gak usah ngagetin saya"
"Iya maaf" Baskara menatap handpone Rindu. Dia langsung menarik handponenya. Dengan tanpa rasa bersalah dia meletakkan kepalanya di bahu Rindu, kakinya menjulai kesamping diarah jalan perbatasan kursi satu dengan yang lainnya.
Tatapannya terarah kepada handpone Rindu yang dia mainkan.
"Wirawan sering ngajak lo jalan?"
Rindu hanya berdehem untuk menjawab pertanyaan Baskara, anak itu seharusnya tidak usah bertanya toh dia sudah membuka semua pesan di handpone Rindu.
"Lo belom jawab pertanyaan gue?"
__ADS_1

Sembari memainkan handpone Rindu, Baskara melirik kearah Rindu. Gadis itu juga sama halnya dengan Baskara dia menatap Handponenya yang di mainkan asal oleh Baskara.
"Yang mana?"
"Kenapa elo gak bilang sama gue kalau elo ikut study tour?"
"Saya dapat kabarnya barusan"
"Setidaknya elo kasih tau gue"
"Saya mau tidur, kamu kembali ke kursi kamu, sebelum banyak yang curiga"
"Ogah, gue mau tidur disini!! "
Baskara membenarkan posisi duduknya. Dia melipat tangannya bersidekap sebelum menyimpan handpone Rindu di saku celana.
Baskara lebih merendahkan duduknya agar bahunya dapat digunakan sandaran untuk Rindu, yah , kan Baskara tinggi jadi wajar aja kalau bahunya susah digapai Rindu.
Rindu memejamkan matanya sembari bersidekap. Dia tidak memperdulikan Baskara yang sudah memberikan bahunya secara suka relawan sebagai fungsi bantal.
"Eh dodol, lo tahu gak fungsi bahu buat apa?"
Rindu tidak menjawab ucapan Baskara membuat lelaki itu gemas sendiri. Dia memiringkan kepala Rindu untuk diarahkan di bahunya.
**
Rindu menggeliat saat mendengar suara bising diarah depan. Ternyata semua mahasiswanya terbangun tapi mereka tidak menyadari tentang Rindu yang tidur dengan Baskara.
"Bas, bangun" Rindu menghoyangkan tubuh Baskara.
"Hemm" dia justru menggeliat sembari mengelus tekuk Rindu, iya sejak sejam yang lalu posisi ditukar, Rindu yang sebagai sandaran untuk Baskara.
"Yang lainnya udah bangun, nanti kita ketahuan"
Dengan suara dikecilkan akhirnya membuat Baskara terbangun.
Dengan pergerakan cepat Baskara kembali ke kursi nya tanpa disadari oleh yang lain
"Tidur dimana elo semalam?" Suara Pandu menyentak Baskara saat dia merapikan switer
"Rumah" jawab Baskara asal, lalu menarik selimut Pandu.
Saat ini mereka berada di Jogjakarta dan bus tengah berhenti di depan hotel. Rindu dan mahasiswanya sudah turun, setelah memberi instruksi kamar masing masing, mereka berjalan menuju kamarnya. Sebenarnya dosen perempuan yang ikut ada 5 orang, dua dari fakuktas kedokteran, 2 dari managemen bisnis dan terkahir Rindu. Untungnya Rindu tidur di kamar sendiri karena memang bu Erma sengaja memesan kamar pribadi untuk keluarganya.
Setelah mandi Rindu membanting tubuhnya diatas kasur. Dia tidak memegang handpone saat ini jadi dia hanya menonton televisi sembari berbaring. Acara akan dilakukan nanti pada jam 10 sedangkan sekarang masih pukul 8.
Suara ketukan terdengar dari luar dengan malas Rindu melangkahkan kakinya untuk membuka pintu.
"Kamu ngapain disini?" Tanya Rindu pada tamunya yang asal main masuk dan membanting tubuhnya di kasur
"Tidur, Pandu ribut banget dari tadi" matanya sudah terpejam tanpa menunggu persetujuan Rindu
"Bangunin gue jam 10 nanti"
Belum sempat Rindu membalas ucapannya dia sudah mendengkur dengan lembut.
__ADS_1