BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)

BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)
Chapter 45


__ADS_3

Sidang skripsi Baskara jatuh pada hari ini, rencana untuk menemui papa Sisil dia tunda karena gugatan cerai dari Rindu. Sampai sekarang pun Baskara enggan menandatangani surat cerainya.


Rindu sudah dua hari yang lalu mengemasi barang barangnya, saat itu Baskara tengah konsultasi skripsi dengan dosen pembimbing. Saat pulang dia harus mengetahui apartemennya kosong dengan barang barang Rindu yang sudah tidak ada.


Baskara tidak ingin menyerah, dia sering datang kerumah Rindu untuk menjelaskan semuanya tapi sia sia gadis itu selalu menghindari Baskara.


Baskara menendang sepatunya di depan ruangan sidang. Degupan jantung semakin kencang, semalaman dia harus berusaha mengingat semua skripsi yang sudah di buat oleh pak Dodit. Sambil menunduk Baskara mencoba menghafal semua isi skripsinya.


"Woyy, semangat Bas" suara Alan langsung menggelegar di seisi koridor


"Deg degan gue anjir" katanya


"Ya elah, cuman sidang skripsi kan bukan sidang perceraian"


Mendengar kalimant Rama, Baskara langsung menendang tulang kering miliknya. Sehingga laki laki itu langsung mengaduh kesakitan.


"Taikk, gue cuman becanda anying" umpat Rama.


"Pandu gimana euuy" Alan berusaha mengintip dari celah pintu. Siapa tahu dia bisa melihat Pandu yang tengah sidang.


Sidang ini dilakukan tertutup, jadi Alan, Rama,dan Baskara hanya menunggu sidang Pandu selesai.


"Pertanyaan dosen nanti aneh aneh gak ya?" tanya Baskara sambil menatap setumpuk skripsinya


"Tenang Bas, sesusah susahnya pertanyaan dosen masih susahan pertanyaan bu Rindu"


Baskara menoleh menatap Rama yang justru nyengir


"Pertanyaan apa itu sobat?" Alan menepuk bahu Rama sambil tersenyum menggoda


"Pertanyaan seputar : apakah kanda sudah menadatangani surat cerai? "


Rama menyolet dagu Baskara


Baskara melenggos, gila memang dia punya temen macam mereka. Sudah tahu temannya lagi sedih karena gugatan cerai dari istri, lha ini malah dibikin drama.


"Tuh bini lo"


Rama menujuk arah Rindu yang berjalan bersama dua mahasiswanya.


Ruang sidang seluruh jurusan memang dalam satu gedung. Ekonomi dan bisnis ruangannya bersebelahan. Rindu tampak acuh dengan Baskara atau dia mencoba untuk pura pura acuh saat hatinya benar benar remuk.


"Aduh deg deg an nih bu"


Renata mengusap tangannya, dia sedari tadi sudah menggerutu


"Tenang saja, pertanyaannya gak akan jauh dari yang saya ajarkan"


Rindu menatap pintu yang masih tertutup, jantungnya berdegup lebih kencang dari pada sidang skripsi.


Ini detak jantung saat bertemu Baskara, Rindu selalu takut saat dia menatap mata teduh Baskara, hatinya kembali luluh oleh getaran cinta. Dia tidak ingin merasakan sakit yang sama berulang ulang.


Rindu memilih meninggalkan keduanya untuk mengambil buku yang tertinggal diruangan.


Selama kepergian Rindu, Baksara merasa kosong pada dirinya.


"Eh nama elo siapa?" Alan menatap Renata dan Dika yang berdiri cengo. Dika menggaruk tekuknya yang tidak gatal. Sambil menujuk diri sendiri untuk memastikan apakah Alan bertanya pada dirinya.

__ADS_1


"Iya kalian berdua, siapa lagi"


"Dia Renata, gue Dika" ujar Dika


"Oh jadi yang namnya Dika sama Renata elo"


Rama mendekat kearah mereka


"Elo dipanggil presiden DEMA"


DEMA (Dewan Eksklusif Mahasiswa). Dika dan Renata saling pandang. Soalnya tuh jarang banget mahasiswa ada urusan sama Presiden DEMA, kalau gak mau ikut olypiode atau organisasi gitu. Tapikan Dika sama Renata mahasiswa akhir otomatis perannya di organisasi agak berkurang, mana presiden DEMA nya sekarang dari mahasiswa semester 2, mana mereka kenal.


"Ngapain mereka manggil kita? " tanya Renata dengan polos.


"Punya utang kali elo sama dia, yuk kita anterin"


Dengan paksaan akhirnya Renata dan Dika meninggalkan koridor ruangan sidang.


Rama sempat berbisik sama Baskara


"Manfaatin waktu buat elo bicara sama bu Rindu"


Rindu kembali lagi setelah kepergian Renata dan Dika, dia celinguk an mencari keberadaan mereka. Hanya ada Baskara yang bersandar pada dinding. Wajahnya tampak gugup, lebih gugup dibandingkan saat dia pergi tadi.


Sambil menoleh kekanan kiri, Rindu berdiri bersisihan dengan Baskara.


"Mereka dipanggil presiden DEMA" kata Baskara yang menyadari gelagat Rindu.


Rindu terdiam tanpa menyahuti perkataan Baskara. Lelaki itu menoleh menatap wajah Rindu yang tertunduk.


Beberapa mahasiswa berlalu lalang didepan mereka, beberapa mahasiswa sempat berbisik membicarakan keduanya.


Pandu membuka pintu dengan wajah pucat, jantungnya masih deg deg an. Bahkan sambil menutup pintu dia terjatuh kelantai sangking lemasnya.


"Gimana?" tanya Baskara antusias


"Dibantai abis abisan gue" cerita Pandu.


"Aduhhh"


Jantung Baskara lebih deg degan dibandingkan tadi, dia melirik Rindu menunggu apakah gadis itu akan memberikan ucapan semangat padanya.


"Giliran elo kan? " Pandu bangkit sambil menepuk bahu Baskara


"Semangat" ujarnya


Baskara menoleh lagi menatap Rindu yang justru masih menatap pintu.


"Bu Rindu" suara Renata membuat Rindu menoleh


"Giliran kamu masuk" kata Rindu.


"Duh deg deg an nih bu" kata Renata memegang dadanya


"Jangan deg degan, tenang aja, kamu harus percaya diri, apapun yang terjadi kamu harus percaya sama skripsi kamu sendiri. Semangat"


Kalimat itu sepenuhnya ditujukan untuk Baskara hanya saja dia mengatakkan sambil menatap Renata yang juga menatapnya.

__ADS_1


Keduanya membuka pintu bersamaan, baik Baskara maupun Renata, keduanya sama sama masuk dalam ruangan sidang yang berbeda.


Rindu melirik kearah Baskara yang sudah hilang dibalik pintu


"Semoga sukses" ucapnya lirih.


Alan, Pandu, Rama dan Dika sama sama menunggu teman teman mereka selesai sidang.


Hampir 30 menit sudah berlalu. Mereka tak kunjung keluar.


, justru  Zaky yang menghampiri Rindu sambil membawa map


"Bu Rindu"


Rindu menoleh saat namanya dipanggil


"Ini persyaratan yang saya bilang kemarin"


Zaky memberikan map yang dibawanya. Rindu membaca tiap detail kata yang ada didalam map.


"Persyaratan nya sudah ada di ruangan saya, saya ambilkan dulu" kata Rindu langsung berlalu menuju ruangannya.


**


Rindu keluar ruangan setelah dia menyusun persyaratan yang akan dia berikan ke Zaky. Dia sudah mempersiapkan ini jauh jauh hari.


Dia sudah bertekad untuk melanjutkan S3 nya di Havard, Amerika.


Sebenarnya keputusan ini sudah dia perhitungkan matang matang sejak setengah tahun yang lalu, tapi dia tidak mendaftarkan beasiswa pada semester lalu karena dia ragu meminta persetujuan pada Baskara. Dan semester ini dia akan mendaftarkan beasiswa S3 nya.


Ini bentuk pengalihan dirinya pada Baskara, kalau dia tetap berada pada lingkungan anak itu, yang terasa sakit adalah hatinya. Dia akan terus ingat pada kegugurannya kemarin, dia akan selalu ingat pada perlakuan Baskara padanya. Sudah, Rindu tidak ingin mengingat itu semua.


Sambil menuruni undakan tangga, dia berjalan menuju ruangan sidang, sampai didepan ruangan langkahnya terhenti.


Lagi lagi sesak itu harus didapatkan Rindu, dia harus merasakan bagaimana sakitnya ditusuk ribuan jarum, disayat dengan belati, dan merasa ngilu di bagian dadanya.


Baskara tengah berpelukan dengan Sisil didepan taman. Pemandangan cukup bagus untuk membuatnya menangis, dia benar benar merasa semua keputusan adalah hal terbaik untuk Baskara. selama ini dia memaksakan untuk hidup dengan Rindu tapi nyatanya , sekeras apapun Rindu berusaha, Baskara hanya akan menyakiti dirinya sendiri dengan berpura pura mencintai Rindu


Wirawan menepuk bahu Rindu, dia melempar senyum.


"Aku cariin ternyata kamu disini" katanya


Rindu hanya mengangguk sambil kembali ke ruang sidang.


"Nungguin mahasiswa sidang juga?" tanya Rindu


"Enggak sih, cuman mau liat liat aja"


Rindu menunduk berusaha menyembunyikan wajah terlukanya, meski dia berusaha membuat dirinya baik baik saja tapi rasanya  tetap sia sia.


"Gimana udah daftar beasiswa di Havard?" tanya Wirawan sambil melirik Rindu yang masih saja menunduk


"Baru ngajuin"


"Good luck"


Mereka berhenti didepan ruangan sidang managemen bisnis. Sambil terus menatap pintu yang tertutup, Rindu memikirkan tentang Baskara, tentang bagaimana lelaki itu tersenyum saat berpelukan dengan Sisil. Tentang bagaimana dia bisa setega itu melakukan ini semua pada dirinya.

__ADS_1


__ADS_2