BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)

BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)
Chapter 49


__ADS_3

Baskara membuka mata sambil memegang kepalannya. Selang infus sudah terpasang ditangan sebelah kanan. Dia menatap Alan, Pandu dan Rama yang tertidur pulas di sofa.


Dengan sekali sentakan selang itu berhasil lepas dari tubuhnya. Langkahnya masih gontai belum setegap biasanya. Dia berjalan keluar rumah sakit sambil memegang tembok. Saat didepan dia melambaikan tangan untuk mencari taksi.


"Bandara" katanya


Sopir taksi langsung membawa Baskara ke bandara, setelah membayar dia menuju meja resepsionis untuk menanyakan penerbangan ke Amerika, untungnya penerbangana ke Amerika terjadwal jam 9.54 sedangkan saat ini jam masih pukul sembilan.


Setelah membeli tiket dan ***** bengek, dia langsung membayar. Jangan tanyakan dengan apa Baskara membayar tiket itu, dia mencuri handpone Pandu saat dirumah sakit, menggunakan itu dia bisa login ke keuangan milkinya. Masalah paspor dll, Baskara sempat mampir dulu ke apartemen, dia pernah tinggal  di Amaerika sampai lulus SMA.


Baskara duduk dengan lemas sambil memijat pelipisnya. Dia hampir tertidur, untungnya suara intrupsi penerbangan Amerika membuatnya terbangun. Baskara bangkit dengan berusaha menyeimbangkan tubuhnya. Dia berhasil duduk di kursi pesawat.


Yang dia lakukan saat ini hanya tertidur, dia sangat lelah, lagipula perjalanan 18 jam, jadi masih cukup untuk tidur di pesawat.


**


Suasana ramai Amerika langsung menyambutnya, Baskara duduk di kursi sambil memegangi pelipis, rasa pusing itu masih terasa, mungkin efek dia minum terlalu banyak bir.


Hanponenya tentu tidak bisa berfungsi saat di Amerika jadi dia memutuskan untuk mencari taksi menuju universitas Havard.


Baskara hampir muntah kala dia duduk di mobil, mungkin efek dia tidak enak badan.


Sesampai di kampus Havard, Baskara berdiri sebentar, meski pandangannya kabur, Baskara tetap melangkah memasuki perkarangan kampus Havard. Dia menatap sekeliling.


Pandangan berhenti saat melihat tubuh mungil itu membawa tumpukan buku. Dia tersenyum, tubuh itu masih semungil saat dia di Indonesia bahkan lebih mungil saat dia di Amerika.


Dia menatap lawan bicara Rindu, seorang laki laki asli Amerika yang menatapnya dengan intens. Baskara merasa cemburu, dia langsung berjalan meski dengan jempol kaki yang terbalut perban dan sandal jepit.


"She is my wife"


Dia menarik tangan Rindu dan menyembuyikan gadis itu dibelakang.


"Oh what?" lelaki itu nampak bingung dengan kehadiran Baskara.


Dia menilik penampilan Baskara dari atas sampai bawah. Kaos putih, kemeja kotak kotak dan rambut acak acakan yang membuat semua orang prihatin. Meski yah radius ketampanannya tidak mengurangi.



"I'm her husband, don't approach him"


"who is approaching? , we are only talking about college lectures"


Lelaki itu langsung pergi usai menatap wajah pucat Baskara.


"Baskara"


Rindu memanggil dengan nada marah, tapi sorot kemarahannya melunak kala menatap wajah pucat Baskara, lelaki itu benar benar pucat.


"Gue pengen bersandar"


Baskara meletakkan kepalanya ditekuk Rindu


Sejenak, sejanak sampai Rindu merasa beban tubuh Baskara makin berat. Baskara sudah tidak sadarkan diri di pelukannya. Dengan bersusah payah dia mencoba mencari perotolongan, untungnya ada teman Rindu yang langsung memanggil ambulan.


Baskara harus dilarikan kerumah sakit, udah tahu sakit malah dipaksa terbang ke Amerika hanya untuk menemuinya.


Sambil mengigit kuku tangan, Rindu menatap dokter yang tengah memeriksa Baskara.


"he was just exhausted, after resting his condition would recover he was too dizzy from the effects of alcohol"


"Thanks"


Dokter itu permisi pergi, Rindu menunggu Baskara dengan penuh kegelisahan. Dia lupa barang barang yang seharusnya ditata di asrama, dia lupa tentang formulir untuk mengisi kelas.

__ADS_1


Sambil mengusap wajah Baskara, Rindu menteskan air matanya


"Jangan tinggalin saya Bas" kalimat itu lirih diucapkan Rindu.


Baskara membuka mata setelah 4 jam tidak sadarkan diri, dia memijat pelipisnya sebagai reaksi pusing yang mendera. Dipandanginya keadaan sekeliling, setengah sadar dan tidak dia menggerutu


"Anjir, kepala gue udah kayak pecah aja"


Sambil kembali menidurkan kepalanya dia memejamkan mata, suara bising dari ruangan rumah sakit justru membuat pusingnya tambah berdenyut nyeri.


Brangkar itu terasa bergoyang seperti baru saja disentuh seseorang. Dengan mata berat Baskara mencoba menilik siapa orang yang membuat brangkar nya bergoyang.


Rindu memandangi beberapa obat yang di berikan suster padanya. Sambil membaca dosis dan pemakaian , Rindu membandingkan obat satu dengan yang lainnya. Baskara hanya mengintip menggunakan mata yang dibuka sekecil mungkin.


"excuse me, if you can know what drug inject?"


Dia mendekati suster yang baru saja melintas didepan brangkar


"oh this is sleeping pills"


"Thank you"


Rindu kembali mendekat di brangkar rumah sakit.


Pelan pelan Baskara membuka matanya sambil menatap gerakan Rindu yang semakin serius membaca dosis obat.


Tangannya terurur menggenggam tangan Rindu, otomatis gadis itu menoleh menatap nya. Mereka berpandangan hanya dalam hitungan 5 , setelahnya Rindu langsung menarik tangan itu dan mengalihkan pandangannya.


Baskara menegakan posisi tidur. Sambil masih menatap Rindu dengan senyuman dia mengerjapkan mata.


"Gue ma___"


"Setelah dari rumah sakit, kamu boleh langsung pulang ke Indonesia"


Rindu pergi begitu selesai mengucapkan kalimat itu.


"Jangan lupa obatnya diminum"


Baskara membuka mata saat suara Rindu kembali terdengar, meski gadis itu berjalan pergi lagi setidaknya tadi dia berbalik hanya untuk memberitahu jangan lupa minum obat.


Baskara memandangi obat dan sirup yang tergeletak di meja.


"Aisss dari dulu gue benci obat"


Dia menarik selimut, enakan tidur ajalah ketimbang mikirin gimana caranya minum obat.


**


Rindu berhenti didepan ruangan inap Baskara, jantungnya bergetar lagi. Bahkan ini lebih keras ketimbang detakan saat dulu.


Habya karena Baskara menggenggam tangan Rindu, kenapa perasaan marah sudah tidak ada lagi di hidupnya? .


Sambil menyusuri lorong Rindu masih menelan detakan jantung.


Lebih baik dia kembali ke kampus dan mengurus perpindahannya.


Setelah mengurusi segala tetekbengek, dari daftar ulang, pengurusan asrama sampai pemilihan kelas. Selesai mengurus semuanya, Rindu duduk di samping mesin minuman. Dia menatap kearah depan sambil meneguk air mineral.


Kalau nanti Baskara bertanya seputar perceraian mereka, jawaban apa yang akan diberikan olehnya. Semakin Baskara mendekati Rindu semakin keyakinan untuk berceria menipis. Dia masih ingin kembali bersama tapi mengingat bagaimana kegugurannya, sangat menghancurkan hati Rindu.


Kalau saja lelaki itu tahu, penyebab perceraian mereka adalah karena Baskara tidak pernah meminta maaf soal keguguran nya.


Rindu menarik nafas sambil memejamkann mata. Handponenya bergetar. Menampakkan nama  rumah sakit tempat Baskara berada menelfon.

__ADS_1


"are you the guardian of Mr. Baskara. I think you need to come here, a little less stable"


Mendengar penuturan dari seseorang diseberang telefon menyentak hati Rindu. Dia langsung bangkit dan berlari mencari taksi.


Untungnya jarak itu bisa ditempuh dalam waktu 20 menit sehingga Rindu sudah berada di halaman rumah sakit. Sambil berlari tergopoh gopoh, Rindu membuka ruangan Baskara dengan wajah khawatir. Bayangan dimana Baskara mengalami masa kritis benar benar membuat degupan hatinya semain kencang.


Tapi saat dia membuka pintu Baskara terlihat baik baik saja. Dia hanya mengoceh tidak jelas.


"Do not touch me the battery won't take medicine"


Baskara melotot. Dia tetap bersikeras menolak untuk minum sirup yang di berikan suster


"you have to take medicine"


Suster itu kembali menyodorkan sirup yang ada digenggaman


"No" tolak Baskara tegas.


"let me"


Rindu mengambil alih tugas suster, cukup berhasil membuat suster pergi meninggalkan mereka.


"Gue gak mau minum obat"


Baskara melengos saat Rindu menyodorkan sirup itu


"Ini sirup bukan obat"


"Apapun itu namanya tetep obat !!"


Ngomong sama Baskara itu kayak ngomong sama anak kecil.


"Terserah kamu kalau gak mau minum obat, kamu mati disini gak ada ruginya buat saya"



Baskara menoleh menatap Rindu yang tetap santai setelah mengatakan kata sekasar itu.


"Lo kejem banget sih"


Rindu meletakkan obat itu di atas meja


"Gue mau minum obat itu tapi elo harus nyobain dulu, pait gak rasanya"


Memang Baskara itu anak kecil, Rindu sampai lupa, jadi urusan minum obat bisa jadi sepanjang ini. Meski malas Rindu memilih mengambil obat berbentuk sirup yang ada di atas meja. Ragu ragu dia menuangkan diatas sendok dan memasukkannya di mulut.


Rindu mengernyit, belum sempat di telan sudah sepahit ini. Baskara menarik tangan Rindu sehingga menipiskan jarak keduanya


Cup


Baskara mencium bibir Rindu saat mulutnya masih penuh dengan sirup pahit. Sirup itu perlahan sudah berpindah ke mulut Baskara, dalam satu hentakan sudah berhasil dia telan meski setelah itu pungutan keduanya berhenti


"Wlekkk pahit"


Baskara meraih air putih diatas nakas lalu meneguknya hingga tandas. Dia membaringkan kepalanya seolah tidak terjadi apa apa.


Rindu masih memaku dengan degupan jantung yang keras, hatinya tersayat saat ingat bagaimana kehilangan anak nya. Bahkan laki laki itu tidak meminta maaf sama sekali.


Baskara terlalu egois untuk memahami Rindu, dia selalu bertindak semauanya.


Rindu pergi tanpa menoleh saat Baskara memanggil namanya.


♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣

__ADS_1


maaf ya tidak sesuai ekspektasi kalian


inget Baskara itu anak yang bertindak seenaknya


__ADS_2