BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)

BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)
Chapter 58


__ADS_3

Rinduku kayak celengan


Bisa nampung berapapun jumlahnya


☘☘


Melewati hari hari dengan video call benar benar membuat Baskara tersiksa, apalagi selisih jam yang membuatnya harus begandang setiap malam. Tidak mungkin dia membuat Rindu yang terbangun tengah malam demi menatap wajahnya, alhasil Baskara yang harus menyetel alarm selama jam 2 dan 3.


Pada jam jam itu Rindu tidak sibuk, kecuali dia dipanggil profesornya.


Hari ini sesuai rencana Alan, Pandu dan Baskara, mereka akan menghadiri acara pembukaan bisnis Rama yang di Bandung. Sekalian refresing dari penatnya otak setelah tes kemarin.


Kata Dimas hasil akan diumumun lusa, Baskara sih yakin yakin aja bakal keterima, tesnya lebih gampang dari Havard. Kalau dia gak keterima juga, fiks Baskara memang patut disebut bodoh.


Sambil mengikat dasi dia menata jasnya.


"Lo udah tahu acaranya dimana?"


Baskara mengenakan jas sambil menatap Pandu dari pantulan cermin. Akhir akhir ini mereka sering tidur di apartemen, yah dialih fungsikan jadi basecamp, soalnya Rindu gak ada otomatis mereka bebas berteriak sesuka hati kan.


"Rama sih udah ngirim alamatnya"


Pandu mengikat tali sepatu sedangkan Alan dia sibuk memilih jas mana yang akan dia kenakan.


"Bagus yang abu abu atau yang item?"


Alan menjinjing jas nya untuk diperlihatkan ke Pandu.


"Yang abu abu"


Pandu mengikat tali sepatu sebelah kanan


Mereka sudah selesia dengan setelah jas masing masing.



Baskara berdiri gagah dengan memasukan tangan kedalam saku. Setelan jas coklat itu kontras membuat dia sangat manly, kalau Rindu ada disini dia akan memujinya. Dia juga sudah meminta tolong pada Pandu untuk mengambil gambar dirinya, gambar itu akan di kirim pada Rindu nanti.



Pandu mengenakan jas abu abu bergaris kotak kotak dengan dasi kupu kupu. Dia mengenakan aksesoris anting magnet yang menambah kesan tampannya. Dia nyengir saat melihat pantulan dirinya didepan kaca.


"Oke, orang paling ganteng emang si Pandu"


Dia menepum dada membanggakan diri



Alan yang tahu itu langsung menggeser Pandu, dia menunjuk pantulan dirinya didalam kaca, setelan jas bergaris putih dengan warna abu abu muda, dasi pink yang di ikat asal asalan tetap membuatnya tampan.


"Wahh calon pengusaha sukses" dia berkata dengan lantang.


"Bangke, jadi berangkat gak?"


Baskara menghentikan dua temannya saat tengah memuja kesempurnaan bayangan mereka.


**


Perjalanan mereka di habiskan dengan bermain handpone, untungnya mereka membawa supir jadi tidak perlu gantian menyetir, tiga jam menempuh perjalanan dari Jakarta ke Bandung. Disambut pemandangan yang menyegarkan mata, kota kelahiran Rama memang sering menjadi pilihan untuk liburan saat semester awalan dulu, sekarang rasanya mereka merindukan suasana seperti dulu, dimana tidak ada kesibukan yang menyita mereka.


"Udah lama kita gak kesini?"


Suara Pandu membuat Baskara mengangguk


"Terakhir kalau gak salah pas Pandu habis putus cinta"


Mengingat kembali memori saat Pandu diputuskan oleh juniornya membuat Baskara menarik senyum, mereka tidak memiliki cara untuk menghibur, kadang saat melihat salah satu dari mereka merasa kegundahan hal yang sering dilakukan adalah main game atau pergi liburan.


"Gak usah diinget inget yang itu"


Pandu memprotes ucapan Alan barusan


"Belum move on pak?" goda Alan membuat ketiga tertawa kompak.


Sampai di tempat tujuan, dengan antusias Pandu, Alan dan Baskara turun dari mobil. Senyum mereka merekah saat turun tapi langsung hilang setelah melihat pemandangan dihadapannya.


"Lo yakin ini alamatnya?"


Baskara menatap Pandu yang mengecek alamat dari Rama.


"Bener kok ,ini alamat yang dikasih Rama ke gue"


Pandu masih menatap sekeliling

__ADS_1


"Kok sepi?"


Alan mengibaskan tangan sebagai kipas ditengah terik matahari


"Gak ada orang anying"


Baskara mendegus, udah panas panas harus beridir dengan jas tebal gini.


"Telfon si Rama goblok, gue gak mau jadi ikan asin disini"


Alan berdecak, belum sempat menelfon Rama, si anak itu keluar dari ruko dihadapannya. Dia nyengir sambil melambaikan tangan


"Weh ganteng amat lo pada"


Melihat Rama hanya mengenakan celana pendek dan kaos santai membuat Baskara melotot. Bahkan kalau diibaratkan matanya seakan ingin jatuh menggelinding ke lantai.


"Katanya pembukaan bisnis baru elo? Kok sepi?"


Dengan tampang cengo Alan memajukan dirinya mendekati Rama.


"Lah, ini dia"


Sambil membentangkan tangan dia tersenyum cerah.


"Maksud elo toko kecil ini"


Baskara menganga, dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Ya kan gue bilang sama Pandu, pembukaan acara bisnis kecil kecilan gue"


Biasanya tuh kalo ada yang bilang kecil kecil an acaranya bakal gede, lah ini Rama bilang kecil kecilan emang kecil beneran.


Tidak ada orang disini. Hanya ada dia dan satu orang didalam yang tengah bersih bersih.


Ditambah hanya ada satu karangan bunga dari mereka bertiga.


Baskara berdecak, ternyata mereka salah kostum ,seharusnya pakai kaos biasa bukan malah setelah jas resmi seperti ini


"Jadi kalian bertiga salah kostum?"


Rama tertawa sambil berjalan memasuki toko distronya.


Mereka mengikuti Rama dari belakang, meski toko ini bisa dibilang besar tapi tetap membuat Alan, Pandu dan Baskara kecewa. Pasalnya, apa yang dia bayangkan tidak sesuai dengan kenyataan.


"Lain kali kalo si Rama ngasih info ditanya bener bener Pan"


"Lah mana gue tahu kalau gini jadinya, dia cuman bilang pembukaan bisnis kecil kecilan"


"Kalau kayak gini siapa yang malu?"


Baskara memijat pelipisnya saat mendengar temannya saling berdebat.


"Udah, makasih lho kalian udah dateng"


Rama membawa tiga buah cangkir teh bersama dengan roti.


"Gue mah belum bisa kalo pembukanannya segeda bokapnya Alan"


Rama nyengir sambil meletakkan nampan dimeja.


"Yah cuman gini bisnis gue"


Dia tersenyum puas, ada kebanggaan tersendiri dalam dirinya saat memutuskan untuk memulai berbisis


"Enaklah Ram, lo udah bisa mulai bisnis elo sendiri" komentar Pandu


"Gue bersyukur sih"


Rama nyengir


"Bdw turut berdua saol ditolaknya elo dari Havard"


Bangsat, jauh jauh Baskara ke Bandung, pertanyaan itu tetap aja keluar dari mulut Rama. Bahkan pembahasan Havard masih terus menjadi pembicaraan menarik untuk mereka. Baskara memutar mata malas.


"Jadi elo LDR an sama bu Rindu?"


Rama menatap temannya bergantian. Topik yang bagus saat membahas bu Rindu adalah raut kekesalan dari Baskara.


"Yoi, dia ngegalau terus kerjaannya" sergah Pandu cepat.


"Sering begadang buat nelfonin dedek Rindu dia"


Alan yang berada di luar ikut nyaut

__ADS_1


"Ma, harga baju baju elo murah banget?"


Alan yang sedari tadi berkeliling langsung membawa tiga buah kaos berwarna berbeda.


"Itu produksi sendiri"


Rama menatap kehadiran Alan sambil bersender pada kursi.


"Weh boleh juga"


Pandu bangkit sambil memeriksa bahan baju yang dipegang Alan.


"Nih, gue traktir kalian berdua"


Alan memberika satu persatu kaos kepada Pandu dan Baskara. Mereka langsung berganti baju, malukan kalo ada yang liat mereka pakai setelan rapi padahal cuman duduk di distro doang.


"Eh si Sisil kuliah di Bandung lo"


Rama memecah keheningan sambil menatap wajah Baskara. Dia menyungingkan senyum, tidak bermaksud apa apa hanya mengatakan ketimbang Baskara kaget saat kedatangan Sisil nanti.


"Masa?"


Pandu menimpali sambil menyisir rambutnya


"Gue juga baru tahu, bokapnya pindah ke Bandung dan mulai bisnis kedai kopi diujung"


Rama menyesap teh sambil memangku kaki kanan.


"Mau nemuin sang mantan gak Bas?"


Tanya Alan


Baskara tidak berminat menemui Sisil, yang dia inginkan tuh menemui Rindu.


"Mumpung bu Rindu lagi di Amerika"


Pandu asal ngomong, yang dihadiahi tendangan kaki dari Alan.


"Ngomong dijaga dikit dong"


"He he maaf"


Dia nyengir, mengangkat tangan sebagi ucapan maaf.


"Gimana keadaan dia?"


Setelah sekian lama bungkam, akhirnya Baskara membuka suara


"Kabarnya sih baik, dia udah gak kambuh kambuhan, sekarang kuliah pendidikan, katanya sih mau jadi guru"


Pandu dan Alan manggut manggut.


"Dunia sempit juga ya, Rindu jauh jauh ke Amerika ketemunya mantan Baskara"


Tentang Octavia. Mereka bertiga sudah tahu kejadian itu, soalnya Baskara selalu cerita tanpa ada yang ditutup tutupi.


Alan memainkan handpone nya sambil meneruskan kalimat


"Ke Bandung ketemunya Sisil"


Panjang umur yang dibicarakan datang sambil membawa kotak makanan.


"Makanan sudah datang"


Sisil tersenyum sambil menjijingnya.


Mereka berempat kompak menoleh, Sisil tersenyum, sambil duduk disamping Rama dia membuka kotak bekalnya.


"Tambah cantik aja si Sisil"


Pandu mencomot kue yang ada dikotak bekal. Dia memakannya tanpa menoleh teman temannya yang sudah mendelik.


"Bareng bareng makannya coeg" komentar Rama.


"Gimana kabarnya?"


Suara Baskara terdengar serak. Rasanya canggung saja setelah dia tidak bertemu dengan Sisil. Apalagi perpisahan yang Baskara rasa masih mengganjal.


"Baik" dia tersenyum meski dengan senyum getir "aku denger kamu gagal masuk Havard ya?"


"Uhuk"


Baskara terbatuk batuk mendengar kalimat Sisil. Beritanya cepat banget nyebar, sambil memelototi Rama yang saat ini berusaha mengalihkan pandangan supaya tidak bersitatap dengan Baskara.

__ADS_1


Duh punya temen kalau modelan mereka yang suka ngumbar aib emang susah.


Ingat ya saran dan komentar masih diterima 💕💕


__ADS_2