BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)

BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)
Chapter 6


__ADS_3

Setelah membereskan koper kopernya Rindu memilih kembali mengerjakan kerjaan yang sempat dia tunda selama pernikahan. Dia menghidupkan laptop sembari bertemankan buku tebal di meja kerja. Kamar ini memang disediakan meja khusus untuk belajar atau kerja. Bukannya ikut membantu Baskra justru memutar lagu The Changcuters yang berjudul Racun.



"Racunnnnn Racuuunnn" Baskra berteriak sembari menirukan suara vokalis Changcuters. Merasa jengah Rindu menoleh menatap Baskara yang jingkrak jingkrak diatas kasur. Astaga, musibah apa yang di dapatkan Rindu, sudah menikah dengan ank dibawah umur sekarang harus sekamar dengn pasien rumah sakit jiwa.



Baiklah kalau Rindu harus teriak teriak untuk meminta dia mematikan musiknya atau mengecilkan volume spekernya, itu tidak akan dilakukan Baskara. Lebih baik dia memilih pergi menuju ruang sebelah yang terdapat tumpukan buku dari rumahnya dulu. Rungan ini di sulap Arya menjadi perpustakaan, selain rungannya kecil tapi cukup menyenangkan untuk menenangkan fikirannya.



Rindu membawa laptop dan buku tebalnya menuju ruang sebelah, meski suara musik itu tetap terdengar setidaknya tidak sekeras saat di berada satu ruangan dengan Baskara. Rindu kembali mengetik soal, sebentar lagi UTS akan segera dilaksanakan, dan sialnya pak Yuda itu banyak tidak masuk jam kuliah apalagi dia tidak memberikan kerangka pembelajaran pada Rindu, jadi dia sedikit gelagapan. Setelah diberi tahu oleh salah satu mahasiswanya melalui email sekarang giliran Rindu membuat soal itu hingga selesai.



Sepertinya kembaran Patrick menyesal kalau tidak membuat ulah. Untungnya hanya kembaran patrick saja tidak dengan spongebob. Yang dimaksud kembaran patrick adalah Baskara, lelaki itu membuka ruangan pribadi Rindu sembari celinguk kanan dan kiri.



"Kecil, buatin gue makan dong. Laper nih" Baskara menyentuh perutnya sebagai gestur di benar benar ingin makan.



Rindu mendegus, kenyataan selama 26 tahun dia tidak memiliki adik sepertinya Tuhan memberikan adik yang langsung gede tanpa melalui proses kecil dulu. Kalau dia anak kecil paling udah Rindu jitak kepalanya.



"Cepetan, suami lo minta dibikinin makan ini"



Udah minta tolong masih marah marah lagi, dasar jenis manusia tidak tahu terimakasih. Kalau minta tolong itu setidaknya pakai bahasa yang baik dan benar, bukan main nyelonong dan nyuruh orang ditambah manggilnya gak pakai nama.



Ya, Rindu bisa apa, sebagai istri yang mengharapkan surga akhirnya dia bangkit lalu berjalan untuk membuka kulkas. Sayur sayuran disini cukup lengkap, sepertinya Arya sudah mempersiapkannya dengan matang.



Bercimpuk di dapur selama setengah jam akhirnya Rindu berhasil membuat aneka makanan, dari ayam goreng, capcai, dan masih banyak lagi diatas meja. Rindu membasuh beberapa peralatan masak sebelum dia memanggil Baskara. Setelah selesai dia berjalan menuju kamar Baskara yang letaknya tidak terlalu jauh.



Didalam kamar yang dilakukan Baskara adalah bertelepon ria, dia tertawa sembari kakinya diangkat diatas tembok. Pemandangan yang tidak pernah Rindu lakukan sebagai perempuan saat berteleponan degan kekasih. Mengerti gestur Baskara yang menempelkan jari telunjut di atas bibir dia memilih menutup pintu kamarnya dengan pelan. Lalu melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.



Eitss bukan Baskara kalau tidak menyebalkan. Saya tegaskan bukan Baskara kalau tida membuat saya marah



Lelaki itu sudah keluar kamar sambil memanggil Rindu dengan "woy Kecilll gue lagi diet nih, sorry lupa" katanya enteng lalu beranjak ke televisi tanpa menyentuh makanan yang sudah susah payah Rindu masak.


__ADS_1


Rindu mendegus sembari ******** bibirnya gemas, tidak ada hal paling buruk saat harus serumah dengan anak TK yang fikirannya labil seperti Baskara.



"Terus siapa yang mau abiskan makanannya?" tanya Rindu menatap kearah Baskara yang mengganti chanel TV asal



"Emmm" Baskara berdehem lama lalu jawaban selanjutnya adalah jawaban yang patut membuat Rindu marah "lo makan deh, kalau gak lo buang, eh jangan jangan lo kasihin aja sama tetangga apartemen, siapa tahu mereka lagi gak diet"



Astaga Baskara, mana ada tetangga apartemen yang meminta sedekah makanan jam 11 malam begini, yang ada Rindu dimarahin karena bertamu malam malam. Gadis itu menatap makannya dengan perasaan bersalah.



Makanan sebanyak ini kalau di habiskan sendiri Rindu tidak akan sanggup, kalau dibuang sayangkan. Karena malas untuk berfikir terlalu panjang, akhirnya Rindu memilih mengemas makanan itu dalam plastik khusus makanan. Dia sempat menyisahkan sedikit untuk dia letakan diatas kulkas. Siapa tahu cabe men ini tiba tiba berubah buat gak diet dan minta makan, jadi tinggal dipanasin dari pada Rindu harus masak malam malam.





Saat Rindu memegang knop pintu, Baskara menoleh.



"Mau kemana?" dia bertanya begitu seperti untuk memastikan kalau kalau Rindu ingin kabur, bisa berabe masalahnya.




Kali ini Rindu tidak menuruni tangga, yang benar saja dia sudah tahu kalau lift apartemen ini tidak rusak. TIDAK RUSAK



Dia berjalan pelan sembari menoleh kanan dan kiri untuk melihat kira kira ada anak anak yang kurang mampu tidak ya, siapa tahu dia melintasi area apartemen ini. Karena tidak menemukan apa apa Rindu memutuskan mencarinya disekiliing apartemen.



Kakinya membawa Rindu melangkah lebih jauh ternyata sekitar Apartemen tidak membuatnya menemukan siapa siapa, karena mungkin apartemen itu sudah dijaga kebersihan dari sampah maupun pemulung pemulung. Rindu menatap dua orang anak kecil yang tengah mengacak acak sampah.



Bagi merek menemukan sisa makanan seperti ini sanggat membuat mereka bersyukur, tapi Baskara, lelaki itu justru membuang buang makanan tanpa peduli dengn keadaan orang yang dibawahnya.



"Sedang apa?" tanya Rindu kepada dua orang adik dan kakak ini. Mereka menoleh menatap Rindu dengan heran.



"Mencari makan" kata mereka kompak.

__ADS_1



"Ini" rindu memberikan plastik yang berada ditangannya kepada mereka, makanan itu tentu masih hangat karena Rindu memasknya juga baru saja. Bayi besarnya merengek tadi sebelum dia berubah menyebalkan.



"Untuk kami?" ulang anak kecil yang lebih besar dari adiknya.



"Iya, tadi ada bayi besar minta makan tapi katanya dia sudah kenyang jadi saya kasih ke kalian"



Mendengar kata bayi besar membuat kedua adik kakak ini tertawa. Rindu tidak tertawa hanya tersenyum tipis yang tidak disadari keduanya.



"Makan ya, kakak mau mengurus bayi besar dulu. Nanti dia menangis" kata Rindu berbalik tanpa melihat mereka yang tersenyum bahagia



"Terimakasih kak, semoga bayi besarnya tidak menangis" kata mereka yang masih bisa Rindu dengar dari jauh.



"Ya saya juga berharap begitu. Dia tidak akan merepotkan" katanya lirih hampir seperti untuk diri sendiri.



Rindu berjalan meski dengan jalan yang santai tapi tetap sampai di apartemen tidak pada pukul 12 malam. Saat dia membuka pintu yang dilihat pertama kali adalah mangkuk tempat dia menaruh makanan yang dimasaknya sudah berserakan didepan televisi.



Rindu menghela nafas berat, dasar emang orang ini. Kalau niat ngerjain jangan setengah tengah. Saat dia memungut sampah sampah dan mangkuk diatas meja ada secarik kertas bertuliskan



"BERESKAN, AKU BENCI SEMUT!!!"



Yaampun kalau benci ya di beresin sendiri bukannya menyampah seperti orang gila diruang tamu. Meski dongkol Rindu akhirnya membersihkan piring Baskara di watafel, dia melakukan pekerjaan rumah dengan baik. Sampai pukul setengah satu, dia berniat untuk tidur tentu mereka akan tidur dalam kamar yang sama.



Tapi tunggu, kamar Baskara sudah terkunci bahkan saat Rindu menggendor tidak ada sahutan dari dalam itu artinya Baskara benar benar sudah tidur. Apa dia akan membiarkan Rindu tidur sendirian diruang tamu. Gadis itu takut jika tidur dikamar yang luas, meski dalam keadaan terang tapi tidur dikamar luas seperti dia melihat 1000 orang tengah menatapnya bersamaan. Rindu bergidik ngeri membayangkan itu, karena tidak ada pilihan akhirnya Rindu membawa bantal sofa untuk tidur diperpustakaan.



Untungnya lantai itu terbuat dari karpet bulu rasfur sehingga terasa empuk. Sedangkan untuk selimut saat dia menuju ke ruang perputakaan dari kamar Baskara dia sudah membawa selimut berwarna biru muda.



"Tidak apa apa malam ini tidur disini" kata Rindu mencoba meenguatkan dirinya, meski itu sulit dalam keadaan seperti ini.

__ADS_1




__ADS_2