BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)

BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)
Chapter 40


__ADS_3

Sembunyi pada kesalah kesalahan hanya akan membuat dirimu berpangkat pencundang


☘☘


Untuk membuat fikiran Sisil menjadi positif hal yang dilakukan Baskara adalah mengajaknya keliling taman. Melihat pemandangan dan menghirup udara segar, tidak didalam rumah sakit yang identik dengan bau obat obatan.


Baskara dan Sisil berjalan berisisihan sambil bercerita, semua cerita yang di katakan Sisil adalah cerita semasa mereka berpacaran. Baskara tidak selera menanggapi cerita cerita Sisil, sungguh, ada bagian dimana dirinya merasa kosong, dimana dia merasa hampa.


Mereka memilih duduk dibangku taman sambil menatap anak anak yang bermain, Sisil mengandeng tangan Baskara sambil menyenderkan kepalanya di bahu Baskara.


Dia menikmati suara musik yang diputar salah satu pengujung taman.


"Bas" panggil Sisil


Baskara hanya berdehem sebagai resapon jawaban atas panggilan Sisil.


"Setelah wisuda kamu ada niatan ngelamar aku gak?"


Apa ngelamar? Ngelamar gimana yang dimaksud Sisil. Menjadikan dia istri. Istri ke dua maksudnya. Baskara semakin tercakat kala Sisil menatap wajahnya. Dia mengerjap sambil tersenyum menunggu jawaban darinya.


Baskara ingin menjawab tidak, karena meski dia belum yakin soal perasaannya ke Rindu tapi untuk menikah lagi dia tidak sekejam itu. Selama dia tinggal dengan Rindu ,Baskara merasa nyaman, dia tidak pernah berfikir untuk meninggalkan Rindu, meski sejujurnya perasaan dia ke Sisil masih ada.


"Bas" panggil Sisil menyadarkan Baskara dari lamunan


"Ha apa? Elo barusan ngomong apa?"


Baskara ingin mengalihkan pembicaraan mereka ke hal yang lain tapi sepertinya dia merasa kesulitan.


"Kamu ada niatan nikahin aku gak?" ulang Sisil.


"Gue belum kepikiran soal itu"


Sebenarnya dia sudah memikirkan soal menikahi Sisil tapi itu terjadi saat dia belum menikah dengan Rindu, sekarang ini berbeda, dia tidak memiliki pemikiran untuk itu.


"Apa aku gak ada di rencana hidup kamu?"


Rencana hidup, rencana hidup Baskara hanya melanjutkan S2 ,  memipin perusahaan, memiliki anak yang banyak dengan Rindu, membuat gadis itu jengkel, Menggangu Rindu, bercinta dengan Rindu sampai dia bosan, bermain ps dengan teman temannya, menua sambil menggangu hari hari Rindu.


Tidak ada Sisil dalam rencananya kecuali akhir akhir ini Sisil membuatnya memiliki rencana baru yaitu menemukan papanya.


"Kamu gak mau nikah sama aku?" ulang Sisil


Matanya berkaca kaca dengan wajah yang pucat, demi Tuhan melihat Sisil seperti itu mengiris hatinya. Baskara mengusap rambut Sisil. Dia tersenyum


"Kita pikirin nanti ya. Sekarang kita mikirin kesembuhan kamu"


Cupp


Sisil langsung mencium bibir Baskara tanpa persetujuan darinya. Itu berhasil membuat Baskara kaget, sungguh ini diluar dugaan Sisil akan melakukan hal seperti itu, meski semasa pacaran pun dia sering melakukannya.

__ADS_1


Sisil tersenyum setelah melepaskan ciumannya, dia memeluk Baskara dengan erat.


"Jangan tinggalin aku ya"


Baskara mengerjap. Matanya berkaca kaca, dia merasa hina saat memikirkan tentang Rindu.


**


Sisil sudah diperbolehkan pulang oleh dokter Icha. Yang terpenting sebulan sekali dia harus melakukan cake up. Sejauh ini kondisi Sisil lebih membaik. Dia tidak semarah sebelum belumnya. meski dia tidak mengingat bahwa status Baskara sudah berubah sejak satu setengah tahun yang lalu.


Baskara mengantarkan Sisil pulang bersama Alan, Pandu dan Rama. Tentu saja, mereka bertiga harus dipaksa dulu oleh Baskara baru dia mau mengantarkan kepulangan Sisil.


"Sil. Kita langsung cabut ya, mau ngurus skripsi" alasan Alan.


"Gue juga. Soalnya nebeng Alan" sahut Pandu dan Rama kompak.


"Hati hati ya, makasih udah nganterin aku pulang" Sisil tersenyum "sering sering main kesini ya"


Pandu, Alan, dan Rama langsung berpamitan setelah menatap Baskara dengan sengit. Siapa sih yang gak ngerasa jengkel kalau punya temen model Baskara?.


"Gue juga balik ya" kata Baskara sambil mengusap puncak kepala Sisil.


Sisil mencimbikan bibirnya tidak terima.


"Nanti gue balik lagi. Udah semingguan gue gak balik"


"Janji kesini lagi kan" tegas Sisil


Sisil tersenyum sambil melambaikan tangan ke Baskara.


Seminggu ini dia sama sekali tidak pulang, tidak menemui Rindu dan tidak tahu apa kabar anak itu.


Baskara membawa mobilnya menuju apartemen, dia langsung menuju apartemennya dengan senyum merekah.


Rindu, gadis itu sedang menyantap salad buah sambil menatap layar laptop. Setelah seminggu lalu dia menghabsikan air matanya kali ini Rindu dengan malas memencet keyboard.


Baskara melangkah dengan ragu, apa Rindu tidak marah kalau melihat Baskara tidak pulang selama ini? Apa Rindu akan memaafkannya?


"Lagi apa?" ucapan Baskara membuat Rindu menoleh dengan mata bengkak, Rindu sudah mulai berkaca kaca.


Baskara tahu Rindu marah tapi bagaimana dengan Sisil. Dia juga membutuhkan Baskara.


"Dari mana kamu?" itu kalimat hantaman untuk Baskara, dia tahu kembalinya dia ke rumah akan membuat perkelahian di rumah tangganya.


Baskara tidak menjawab dia membuka kulkas untuk mengambil minum tapi pertama kali yang dilihat didalam kulkas adalah susu ibu hamil. Baskara gemetar, dia ingin menabgis, sungguh, dia ingin marah pada dirinya sendiri.


Rindu menarik kaos Baskara dari belakang. Suara isakan itu terdengar ditelinga Baskara, lebih menyakitkan dari pada mendengar tangisan Sisil ternyata.


"Kenapa tidak pernah pulang? Apa sudah tidak menganggapku sebagai istri?"

__ADS_1


Baskara menggenggam tangannya kuat, sungguh, dia menjadi manusia terjahat di muka buni.


"Gue nemenin Sisil" ucapan itu semakin membuat Rindu menangis dengan kencang.


Baskara tidak berani membalikan tubuhnya untuk menatap wajah Rindu


Perasaan bersalah nya menumpuk hingga membuat dia ingin mati.


"Apa dia lebih berarti dari saya? " kalimat itu terjeda dengan isakan.


"Gue cuman ngebantu dia buat nyembuhin depresi"


"Dengan cara kamu membuat saya terluka. Apa itu yang kamu bilang menyembuhkan?"


Baskara berbalik sambil menggenggam bahu Rindu.


"Rindu gue cuman mau nebus kesalahan gue karna udah ninggalin dia nikah sama elo"


Hati rindu bagaikan dihantam gondam, bagaikan di tembak seribu peluru, kakinya lemas. Demi apapun yang ada dimuka bumi ini, dia merasa terluka mendengar jawaban Baskara.


"Jadi kamu bilang pernikahan kita adalah kesalahan"


"Enggsk Rin, bukan gitu maksud gue"


"Jadi maksud kamu apa?" Rindu berteriak lebih kencang.


"Gue gak mau egois, gimanapun yang bisa nyembuhin Sisil itu gue"


"Kamu dokter?"


"Rin gue___"


"saya hamil, saya hamil sudah 4 minggu"


Rindu nenundukan wajahnya sambil terisak isak.


Kalau tidak sedang mengandung, Rindu ingin meminta cerai dengan Baskara. Dia sudah tidak kuat menahan ini semua.


Baskara bersimpuh di kaki Rindu sambil menangis. Dia benar benar tidak mampu untuk menengakkan kakinya.


"Maafin gue, maafin gue Rin"


"Mama Rindu sudah gak kuat, Rindu ingin menyerah. Apa menjadi istri harus sesakit ini ma"


Rindu mengigit jarinya untuk menahan isakan tapi gagal isakan itu semakin menjadi kala Baskara bersimpuh dikakinya sambil menggenggam tangan.


Dia tidak ingin memaafkan Baskara, lekaki itu sudah kerterlaluan dengan dirinya. Dia seenaknya, dia semaunya. Lelaki itu hanya menganggap Rindu sebagai bahan lelucon.


Tapi dia tidak bisa meminta cerai, dia tidak ingin mengorbankan anaknya. Dia tidak mau menambah luka lagi dimasa depan.

__ADS_1


"Kamu adalah kesalahan yang tidak pernah saya harapkan"


__ADS_2