BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)

BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)
Chapter 64


__ADS_3

Kita harus membuat dia tertawa agar dia jatuh cinta


Tapi setiap dia tertawa


Aku yang jatuh cinta


☘☘


Tidak ada pelukan paling dirindukan oleh Rindu selain pelukan Baskara, sambil membuka kain penutup mata, Rindu dibuat terkejut dengan kehadiran banyak orang disini. Tidak sebanyak itu ,hanya ada beberapa orang tengah berdiri menyambutnya, ada Alan, Pandu yang membawa buket bunga untuk Rindu. Ada Wirawan dan Rosa yang tersenyum ramah. Sisil dan Rama berdiri bersisihan sambil terus menarik sudut bibir.


"Kita dimana?"


Sambil membisikan kalimat ,Rindu menarik lengan Baskara untuk mendekat.


Dia takut kalau nanti Baskara terpincut lagi sama Sisil.


"welcome to our home"


Baskara membisikan kalimat itu lirih didekat telinga Rindu.


Rindu menoleh ,dengan binar mata bahagia dia langsung memeluk Baskara. Air matanya lolos begitu mendengar kalimat itu. Dia tidak menyangka, Baskara sudah memikirkan ini matang matang. Sebelumnya mereka tidak pernah menyinggung soal membeli rumah, menurut Rindu apartemen sudah lebih dari cukup untuk ditinggali.


Baskara menyeka air mata Rindu, dia menakup wajah istrinya.


"Ini hasil jerih payah gue selama elo gak ada" jari jempolnya mengusap pipi Rindu.


"Rumah elo sekarang adalah gue. Pulanglah ke gue, jangan pergi kemana mana, karna gue cuman ada disini, buat elo"


Baskara mengecup dahinya, membawa gadis itu kepelukan, mereka berpelukan sangat erat. Waktu tolong berhenti untuk dua insan ini.


"Pegel Bas mata gue ngeliat kalian mesra mesraan"


Kebahagiaan itu sejatinya gak pernah bertahan lama, ada aja yang ngerusak dengan caranya. Contohnya kalimat Rama yang sambil menggaruk tekuk, padahal tangan Sisil yang melingkar di lengan dia tidak cukup untuk membuat nyaman.


"Lo bisa liat orang lagi seneng gak sih" maki Baskara.


Rindu menarik senyum "makasih ya"


Mereka berjalan untuk masuk kedalam rumah. Pesta rumah baru akan diadakan nanti malam, rekan bisnis, dan keluarga akan datang. Semua acara sudah disiapkan Baskara, acara ini juga sekalian menyambut kedatangan Rindu.


"Nanti malam bakal ada acara di rumah, sekitar jam 7"


Rindu yang tengah memasukan pakaian ke koper menghentikan kegiatannya.


"Banyak yang dateng?"


"Lumayan sih, mereka disini mau bantu bantu"


Baskara duduk disisi meja sambil menarik tubuh Rindu untuk menindihinya. Dia memeluk Rindu lebih erat. Sejak acara penyambutan didepan tadi, Rindu memilih mengganti pakaiannya sambil melihat lihat rumah. Yang lain tidak begitu peduli, mereka kembali sibuk untuk acara nanti malam.

__ADS_1


Baskara mengelus tekuk Rindu. Bibirnya mendekat sambil meniup niup telinga mungil itu.


Rindu mendesah meski tidak terlalu kuat tapi tangannya mencekal jas Baskara.


Wajah Baskara berpindah lebih dekat kewajah Rindu. Hidung mereka saling bersentuhan, deru nafas Baskara tepat mengenai kulit kulit Rindu.


"Gue kangen sama elo"


Sambil bibir bersentuhan kalimat Baskara lirih diucapkan ,cukup berhasil membuat Rindu bergetar. Kumpulan kupu-kupu bertebaran di perutnya, desiran desiran cinta mengalun di hati.


Bibir Baskara mengunci bibir Rindu, mereka sama sama berpungutan, melepas rindu dengan cara yang manis. Saling menukar ludah dan menyusuri rongga rongga mulut. Mengabsen tiap deret gigi putih berkilatan, Baskara menggigit kecil bibir Rindu, dihisapnya sampai wanita itu mengalungkan tangan di leher Baskara.


"Bas"


"Astagfirullah haladzim"


Alan sontak menoleh saat membuka pintu dan mendapati mereka tengah berciuman. Dengan posisi membelakangi Rindu dan Baskara, dia meneruskan kalimatnya.


"Lo mau nyobain menu dari restoran gue gak? , kalo aja ada yang kurang"


Baskara dan Rindu sudah berdiri berjauhan kala Alan berteriak kaget tadi. Dengan canggung Baskara keluar kamar mengekori Alan.


Di undakan tangga, Baskara mendorong pelan bahu Alan.


"Elo ganggu orang lagi enak enaknya aja" cela Baskara sinis


**


Suara sambutan Baskara menggema di penjuru ruangan. Dia memberi penyambutan dengan memperkenalkan Rindu secara resmi.


"Dia adalah istri saya, Deolinda Rindu Maheswari" suara Baskara mendapat riuh dari banyak orang. Tentu , lelaki itu terlihat seperti seorang bujang. Tidak ada kabar mengatakan pernikahan Baskara.


"Saya menikah sudah 6 tahun yang lalu, tepatnya di Singapura"


Baskara menatap Rindu yang cantik dengan dres bewarna putih dan sepatu putih. Rindu tampil sederhana dengan dres itu, bahkan dia jauh lebih muda dari usianya.



Rindu tidak perlu mengenakan gaun mewah seperti Sisil atau dokter Icha, dia hanya perlu menjadi dirinya untuk membuat Baskara jatuh cinta.


Sejatinya Rindu hanya seorang wanita yang menurut pada orang tuanya, yang pendiam dan dingin. Tapi orang seperti Baskara yang selalu melakukan apapun sesuka hati, yang tidak pernah bisa diam, yang selalu seperti anak kecil jatuh cinta pada wanita itu


"Tidak banyak yang tahu soal pernikahan saya, karena saat itu saya belum menjabat sebagai CEO"


Baskara melajutkan kalimatnya sambil menatap beberapa tamu undangan


"Saya beruntung mendapatkan wanita seperti dia, dia yang selalu punya mimpi mimpi yang tidak pernah saya tahu, yang mulai saat ini mimpi dia adalah mimpi saya"


Baskara berjalan mendekati Rindu. Lampu langsung padam menyorot Rindu dan Baskara yang berdiri berhadapan

__ADS_1


"Maaf, gue terlambat buat ngomong ini"


Baskara menatap lekat kearah Rindu, gadis itu berusaha menahan tangisnya


"Gue sayang elo Rin, gue sayang elo, gue cinta sama elo"


Rindu memeluk Baskara dengan erat, saat itu terjadi suara lantunan musik dari biola mulai terdengar, disambut suara tepukan para tamu undangan.



Baskara menggenggam pipi Rindu, dia mengecup dahi Rindu. Air mata itu tidak bisa dibendung lagi, air mata bahagia, dia bahagia melihat Baskara tubuh sebesar ini.



Baskara mencium bibir Rindu, mengundang tepuk tangan dari tamu undangan. Ciuman itu terjadi hanya sekilas selebihnya Baskara memeluk Rindu. Pelukan yang terjadi sangat lama ditengah pusatan para tamu undangan.


Lagu dansa langsung terputar bersama dengan nyalanya lampu agar lebih terang, semua orang berdansa menikmati pesat rumah baru Rindu dan Baskara.


"Gimana suka sama kejutannya? "


Baskara dan Rindu yang tengah berdansa saling membisik kalimat.


"Suka, saya suka apapun yang kamu berikan ke saya"


Baskara menghentikan kalimatnya, dia merogoh saku celana dan mengeluarkan sebuah kalung. Kalung permata yang indah berkilauan.


Dia mengenakan kalung itu persisi di leher Rindu


"Cantik" katanya


Cup


"Cantik"


Dia mengaytakan kata cantik dan mengecup berulang ulang.


"Udah cium ciumannya"


Alan yang tengah berdansa dengan seorang wanita sontak mengagetkan Baskara. Lelaki itu menoleh sambil menghadiahi pelototan tajam


"Kan gue cuman ngingetin"


Alan kembali menatap gadisnya, tanpa mau menganggu Baskara yang wajahnya sudah masam. Rindu hanya tersenyum melihat Baskara yang seperti itu.


Wajah bayinya masih sama, saat marah ataupun tertawa, tidak akan ada kata dewasa untuk dia. Selamanya Baskara akan tetap menjadi bayi besar yang lucu.


Rindu menatap Rama dimana lelaki itu tengah bergurau bersama Sisil dan Wirawan.


Hangat, dia menyukai saat saat seperti ini. Dia tidak mau pergi dari waktu seperti ini. Tidak akan.

__ADS_1


__ADS_2