
Kamu hanya perlu bangkit
Untuk menghilangkan rasa sakit di hati
☘☘
Pemakaman Arya dilakukan pagi hari, Baskara tidak ingin menunda pemakaman Arya. Rindu tidak mengantar kepergian Arya ke makan, banyak larangan yang dia dapat. Meski dia sedikit tidak tenang melepas Baskara mengantarkan kepulangan Arya seorang diri, tapi kehadiran Alan, Pandu, dan Rama membuat Rindu bisa bernafas lega.
Selepas acara pemakaman selesai Baskara kembali dengan kaki telanjang, bahkan tatapan nya kabur.
Duduk di kamar sambil mengusap wajah berulang ulang
Pintu yang terbuka membuat Baskara dengan cepat menyeka air matanya.
"Turut berduka Bas"
Alan menepuk bahu Baskara, mencoba menyalurkan kekuatan.
Pandu menarik senyum serta Rama yang juga menyalami. Dengan berat Baskara menarik senyumnya.
"Papa gue pernah mati matian ngelarang gue bergaul sama kalian" adalah kalimat pertama dari bungkamnya Baskara sehari ini
"Mungkin dia lagi kecewa disana ngeliat gue tetap temenan sama kalian"
Alan menarik senyum kaku, Pandu menyisir rambut kebelakang dengan jari serta Rama mengusap wajah prihatin
"Seharusnya saat ini gue nyalahin papa karena dia salah ngelarang gue temenan sana kalian"
Baskara menyembunyikan tangisnya pada telapak tangan. Dia terisak, Pandu menepuk bahu Baskara.
"Sabar Bas, gue yakin papa elo bakalan bahagia disana sama ibu elo"
Pandu mencoba menguatkan
"Dia pasti seneng ketemu sama cucunya disana"
Baskra menyeka air matanya.
"Sekaranag elo harus kuat buat bu Rindu dan anak yang ada dikandungannya" Rama menarik senyum meski sulit
Sejurus kepergian ketiga temannya,
Dia langsung mandi dan setelahnya tidur dipangkuan Rindu.
Rindu hanya mengelus lelaki itu yang masih meneteskan air mata padahal mata terpejam. Beberapa pelayat sudah pamit pulang bersama dengan perginya keranda. Rekan bisnis, teman sekolah dan beberapa tetangga sudah tidak ada. Hanya ada orang tua Rindu dan teman teman Baskara.
Lelaki itu meneteskan air mata sambil memejamkan mata, tidur dilantai dengan membiarkan Rindu duduk lesehan. Baskara benar benar terpejam karena usapan Rindu.
Alan, Pandu dan Rama yang tahu kalau Bskara tertidur pulas dengan air mata menghela nafas berat.
"Bu kita pamit dulu"
Rama yang mewakili Alan dan Pandu berdiri, merapikan kemeja hitam.
"Kita bakal sering sering kesini untuk nguatin Baskara" tukas Alan.
Rindu mengangguk, menarik senyum. "Terimakasih sudah menguatkan Baskara"
**
Rindu manatap rahang kokoh Baskara yang masih terpejam sesore ini. Sudah seminggu dia tidak pergi bekerja.
__ADS_1
Rindu mengelus wajah Baskara, menatap wajah suaminya yang terlihat pucat.
"Dulu saat gue kehilangan anjing kesayangan gue, ibu selalu ngelus wajah gue dan nidurin gue dipangkuan dia"
Pergerakan Rindu berhenti saat mendengar kalimat Baskara. Tangan Baskara naik, menggenggam tangan Rindu sambil perlahan lahan membukanya.
"Gue emang gak punya ibu, tapi gue punya pengganti ibu dalam hidup gue"
Dia mengedip, mengelus rambut rambut Rindu.
"Makasih ya, udah jadi istri dan ibu buat gue"
Dia menyembunyikan wajahnya ditekuk Rindu. Meneteskan air mata di leher kecil, tersedu sedu setelah menyelesaikan kalimat yang terasa berat untuk diucapkan.
Rindu mengelus Baskara, memberi kekuatan dari elusannya. Membuat lelaki itu semakin nyaman untuk menangis.
"Jadilan papa yang baik seperti papa Arya untuk anak anak kita"
Kalimat Rindu membuat air mata Baskara deras menetes. Baskara bangkit mengambil sebuah album yang tergeletak diatas meja. Album album berisi tentang dirinya.
Rindu ikut duduk di sisi kasur, menatap suaminya yang mulai membuka lembaran album foto.
Dia menujuk foto lucu anak kecil yang sedang menangis.
"Ini gue, dulu gue nangis karena papa gak ngebeliin gue gulali"
Ada penyesalan dalam kalimat Baskara, Rindu mengelus punggung Baskara.
"Papa bukan sosok ayah yang tiap hari bisa cerita sama anaknya"
Baskara menyeka air mata, dia mengerjapkan mata berkali kali guna mengusir tangis.
"Kalau bisa dihitung, mungkin gak sampe tiga belas kali gue sarapan bareng papa, papa sibuk kerja, berangkat pagi pulang malam"
"Gue gak pernah nanya sama papa, apa papa kesepian setelah ditinggal ibu?, apa papa kerja keras untuk menghilangkan kesepiannya?"
Tangan Baskara mengelus wajah Arya yang telihat bahagia didalam foto. Rindu meletakkan dagunya di bahu Baskara.
"Gue baru ngerasa papa bener bener kesepian saat papa melihara Deo sama Ranti"
"Adek kamu?"
Rindu menggoda Baskara meski tidak cukup berhasil untuk mengusir lukanya
"Iya"
Kalimat itu bersamaan dengan turunnya air mata di pipi.
"Kalau gue bisa ngulang waktu, gue pengen nanya sama papa, apa papa kesepian setelah ditinggal ibu?"
Kalimat itu terdengar menyakitkan, penuh rasa sakit untuk mengucapkannya. Rindu tidak tahu apa yang harus dia lakukan pada Baskara.
"Gue yakin papa bakal ngejawab dia kesepian, tapi buat ngomong dia pengen nikah lagi. Gue rasa papa gak sanggup buat bikin gue sakit hati"
"Bas"
Baskara berbalik dia memeluk Rindu. Dia menumpahkan tangisnya, disana dirumah Arya.
Mereka sepakat untuk tinggal di rumah Arya, untuk menjaga apa yang Arya tinggalkan sebelum dia pergi. Baskara akan menebus kesepian Arya dengan tinggal disini bersama anak anaknya kelak.
"Jangan tinggalin gue Rin, gue mohon"
__ADS_1
Suara itu tedengar penuh permohonan, seperti dia benar benar tidak bisa untuk sendiri.
**
Sesuai janji Alan dan Pandu mereka selalu datang untuk mengalihkan rasa sakit Baskara. Agar lelaki itu tidak merasa kesepian, setidaknya kedatangn mereka menghibur
Meski tidak ada Rama yang ikut menguatkan , setidaknya kehadiran Alan dan Pandu dengan umpatan membuat Baskara bisa dengan sedikit menarik sudut bibir.
"Salam dulu sama adek gue"
Alan dan Pandu yang baru datang diteras rumah langsung di stop oleh Baskara di ambang pintu.
"Adek apaan, elo kan anak tunggal bangsat"
Alan ingin menyingkirkan tubuh jangkung Baskara yang berdiri ditengah pintu.
Dengan dagu yang memberi tahu bahwa adek Baskara adalah burung, Alan dan Pandu kompak menoleh memandangi kearah sangkar, dimana dua burung tengah asyik berkicau. Burung jenis murai batu itu asyik mengoceh membuat Alan memgerjap.
"Lo gak gila kan?" Alan memastikan dengan menempelkan punggung tangan di dahi Baskara.
Dengan tepisan kasar, Baskara langsung bersidekap.
"Pertama dia adek angkat gue, yang diangkat bokap gue sebelum meninggal, kedua gue gak gila , ketiga kalau mau meriksa orang gila atau enggak nya bukan pakek tangan, anjeng"
"Salam dulu sama mereka?"
Masih keukeh memaksa untuk mereka menyapa Deo dan Ratna, mau tidak mau Alan dan Pandu mendekat ke sangkar.
"Siang coy"
Pandu mengangkat tangan
"Ni mana yang cewek Bas?"
Baskara menujuk kearah Ratna yang terbang disisi sangkar.
"Siang jodohnya Alan"
Mendengar kalimat Pandu, Alan langsung menonyor dahinya, itu sangat keras sampai Pandu harus mengusap usap dahi.
"Lo kira gue burung, mau lo jodohin sama adeknya Baskara"
"Namanya Ratna yang cewek" kata Baskara ikut mendekat.
"Idih kayak nama mantan gue si Ratna" celetuk Pandu.
Alan tekekeh geli, "mungkin si Ratna bakal jadi jodoh elo"
Pandu menoleh langsung menampar pipi Alan keras.
"Maaf lan. Gue reflek" Pandu mendekati Alan yang tengah memegang pipinya.
"Bangsat, kira kira dong kalau mau nampar orang, sakit anjer"
Pandu mengelus elus tangannya. Meminta maaf.
"Maaf, abis gue jijik denger elo ngomong gitu tadi"
"Alesan aja lo, tadi aja elo ngatain gue" Alan masih bereaksi marah. Apalagi denyutan dari pipi yang enggan untuk hilang. Rasa panas itu menjalar memberi bekas merah dipipi.
"Astaga. Elo ribut didepan Deo sama Ratna, kalau di contoh mereka gimana"
__ADS_1
"Bodo"
Alan dan Pandu kompak berteriak. "Gara gara adek elo, gue ditabok Pandu"