
Aku tidak suka kamu berjalan dibelakangku karna kamu bukan pembantuku
Atau berjalan didepanku karena kamu bukan bosku
Berjalanlah disampingku sambil genggam tanganku, karna kamu pasanganku
☘☘
Mereka duduk lesehan sambil bermain ps, meski Rindu masih menggerakan stik dengan lambat dan kaku, alhasil dia sering kalah terus buat Baskara mencak mencak menyalahkan Rindu gitu aja. Kayak gini contohnya
"Lo itu kalau gue suruh jauhi lawan, ya jauhi !! kenapa elo malah deket ke lawan? "
"Saya gak tau, saya kira saya gerakin kakinya buat ngejauhin lawan"
"Hiis lo gak pernah maen game ya?"
"Saya bisanya baca buku"
"Makanya elo kayal kutu buku, datar, triplek, kanebo kering" Baskara masih memecet stik ps nya sambil marah marah
"Rin geser kekanan, itu ada musuh samping elo" teriak Baskara memberi perintah
"Yang mana musuhnya saya gak tau"
"Astaga itu yang badannya gede"
"Eh eh kenapa elo nembak ke gue sih, gue jadi mati kan !!!"
Baskara melempar stik ps nya asal, dia merebahkan kepala diatas sandaran kursi.
"Pusing gue ngajarin elo maen ps, mending gue maen sama temen temen gue"
Rindu bangkit "iya sana kamu maen sama temen temenmu, saya kan udah bilang saya gak bisa maen ps"
"Mau kemana elo?"
"Mau belanja, bahan dapur habis"
"Ikuuutttt" Baskara bangkit sambil berjalan dibelakang Rindu
"Saya mau ganti baju" katanya berhenti sambil menatap tajam Baskara.
"Elah, gue udah pernah liat badan elo, gak usah sok sok an malu deh"
Baskara hendak masuk kedalam kamar tapi Rindu menghalanginya dengan merentangkan tangan dan kaki. Cukup berhasil mengusir Baskara agar dia mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam kamar.
Selesai berganti pakaian Rindu bersiap pergi belanja, melihat Baskara makan sembari duduk di sofa, Rindu mendegus.
"Buang plastiknya di kotak sampah"
"Iya"
Kalau iya itu dibuang di kotak sampah eh malah dibuang asal gitu aja mentang mentang Rindu gak tau. Baskara membuntuti Rindu dibelakang sambil memainkan rambut Rindu. Tidak ada risih bagi Rindu karna itu dilakukan Baskara hampir setiap hari saat dia mengantar Rindu kekampus.
Sampai didalam mobil, Baskara hanya terus bernyanyi tanpa mengajak Rindu larut dalam perbincangan, sedangkan Rindu dia sibuk membaca artikel di salah satu berita online. Sampai diparkiran mall mereka keluar bersama. Tapi Baskara lebih dulu berjalan didepan Rindu. Seperti biasa dia selalu berjalan untuk meninggalkan Rindu tanpa menunggunya.
Karen langkah Baskara yang cepat dia sampai tidak mendengarkan saat Rindu memanggil. Padahal Rindu sedang melihat diskon buku yang menarik perhatiannya.
Baskara sudah sampai di depan sayur sayuran. Dia tersenyum sambil menoleh kebelakang, tapi yang dicari justru tidak ada. Tidak ada Rindu dibelakanhnya, Baskara hampir panik. Kemana orang itu, dia memutari semua rak yang ada dimal hampir seperti orang gila.
Sudah berulang ulang dia memutari rak dan keliling dilantai 3, dia tidak menemukan Rindu, lelaki itu turun sampai dia berlari diatas eskalator, dilantai dua dia tidak menemukan Rindu juga.
Dengan wajah khawatir Baskara berlari menurini eskalator hampir terjatuh, dia panik, dia takut Rindu diculik atau dia hilang. Ya ampun, sangking parnonya setiap orang dengan warna baju sama dengan Rindu dia akan menarik bahu orang itu. Sampai dilantai pertama dia tak kunjung menemukan Rindu.
"Rindu elo dimana sih? Kalau elo di culik terus di mutilasi orang gimana? Gue gak pengen jadi duda"
Sumpah Baskara mengatakan itu sambil bibirnya bergetar, dia hampir menangis.
Sampai di sebuah kumpulan orang orang yang melihat tumpukan buku yang tertata rapi, dia menemukan gadis mungil yang sedari tadi membuatnya gila. Gadis itu tersenyum sambil membaca sinopsis dibelakang buku. Baskara mendegus lega, kenapa bisa sepanik itu sampai dia tidak bisa berfikir jernih untuk mencari Rindu, dia punya handpone dan bisa menelfonnya.
Baskara melangkah sambil menepuk bahu Rindu, gadis itu menoleh dengan sisa senyumnya.
"Kamu kenapa ngos ngosan?" tanya Rindu kepada Baskara yang masih mengatur nafas.
Basjara ******** senyum "gue nyariin elo sampai keliling mall pe'a"
__ADS_1
Tu kan, tadi dia takut kehilangan sekarang omongannya udah kasar aja sama Rindu. Setelah membayar 2 buah novel Rindu dan Baskara naik kelantai 3 , dia akan berbelanja kebutuhan rumah tangganya.
Mereka sibuk memilih, sayuran mana yang akan mereka masak nanti malam, tentu dengan debatan yang cukup memuakan.
"Baskara, kita udah lama gak beli selada" kata Rindu mengambil selada.
Baskara langsung merebutnya dan meletakkan selada itu ketempat semula.
"Gue gak suka, mending beli yang lain"
"Selada itu sehat"
"Gue gak suka" kekeh Baskara
"Kamu belum nyoba masakan saya kan"
Dengan wajah memohon akhirnya Baskara mengalah, selada keinginan Rindu berhasil di dapatkan, sekarang dia menuju ke deretan paprika, dan kubis.
"Ngambil yang banyak sekalian, besok kalo gue ke Paris, elo mau belanja sama siapa?"
Oke, belanja ini memang sepenuhnya untuk seminggu kedepan, tapi menyimpan sayuran segar selama seminggu akan tidak enak kalau dimasak.
"Secukupnya aja, saya bisa belanja sendiri" jawab Rindu sambil memilih paprika mana yang segar.
"Rin, gue gak suka elo keluar sendirian" kata Baskara sambil memegangi troli "nanti orang mikir elo janda yang ditinggal mati suaminya gimana?"
Rindu melirik Baskara "saya belum setua itu untuk disebut janda, yang ada saya dikira belum menikah" jawabnya sambil memasukan paprika yang sudah dia pilih.
Baskara mendorong troli untuk mengikuti Rindu.
"Baskaara" panggilan dari wanita sekitar umur 45 an menghentikan laju troli yang didorong Baskara. Rindu melirik kearah Baskara yang tersenyum kikuk.
"Eh tante" Baskara meraih tangan wanita itu lalu menciumnya.
"Belanja?" tanya wanita itu sambil tersenyum ramah. Rindu tidak kenal saipa dia, kalau Rindu bersikap masa bodo akan terkesan tidak sopan. Jadi dia berdiri disamping Baskara sambil menatap wanita itu.
"Iya" jawab Baskara kaku. Baskara sedikit mendekatkan tubuhnya ke Rindu, dia berbisik sangat pelan, jadi hanya Rindu saja yang bisa mendengarnya
Rindu mangut mangut paham, jadi wanita ini adalah mamanya Sisil.
"Sama siapa?"
Merasa ada yang aneh Lily bertanya lebih dulu yang membuat Baskara bingung.
Mau jawab istri takut nanti tante Lily shock dan kena serangan jantung mendadak di mall. Mana tante Lily punya riwayat jantung dan dia sangat menyukai Baskara.
Baskara melirik kearah Rindu, dia ragu kalau sampai Rindu nantinya terluka karena jawaban yang diucapkan, sebagai istri dia ingin Baskara menjawab bahwa Rindu adalah istrinya.
"Sepupu tan"
Demi Tuhan, Baskara tidak bermaksud menyakiti Rindu. Tapi mulutnya yang tidak singkron untuk mengatakan bahwa Rindu adalah istrinya
"Ih cantik banget, kenapa gak dikenalin ke tante"
Lily mengelus pipi Rindu, tanpa tahu bahwa hati Rindu sangat teriris mendengar jawaban Baskara. Dia juga kecewa, kenapa jawaban itu yang diberikan Baskara.
"Kamu lama gak main kerumah tante, sisil murung terus beberapa hari ini" cerita Lily pada Baskara.
"Dia sakit, udah ada satu minggu, kemarin baru dibawa pulang dari rumah sakit" Lily menjeda kalimatnya "kata Sisil kamu ke Jepang jenguk sepupumu, gimana keadaan sepupumu? "
Oh ghost Sisil memperburuk keadaan dengan tidak mengatakan kalau hubungannya sudah berakhir. Rindu tersenyum sambil mengambil alih troli yang digenggam Baskara.
"Tante saya lanjutin belanja dulu ya, silahkan di lanjutkan obrolannya dengan kak Baskara"
Sengaja Rindu menekan kata "kak Baskara" biar dia lebih paham
Dia tidak ingin lama lama berada diantara keduanya, sampai di rak makanan instan, fikiran Rindu masih tertuju ke Baskara, bahkan lelaki itu tersenyum bahagia. Seolah dia senang bertemu mama Sisil. Padahal si Baskara kalau di ajak pulang kerumah Lina dia selalu punya banyak alasan.
Rindu melanjutkan belanjanya, dia mengambil beberapa mie istan, saos, kecap, saat dia mengambil snack yang berada dirak paling atas, dia berjinjit.
Cukup menggetkan saat ada tangan yang mengambilkannya dari arah belakang, snack itu sudah berada diatas troli, tidak usah dicari tahu siapa pelakunya, pasti Baskara.
"Udah beli sabun?" Tanya Baskara mengambil alih troli yang di dorong Rindu.
Dia diam saja sambil berjalan, saat berada di sabun ,Rindu langsung mengambil acak sabun yabg ada dirak. Fikirannya tidak singkron, sungguh. Saat ini otaknya sedang kacau.
__ADS_1
Tangan Baskara menggenggam tangan Rindu saat hendak mengambil sabun reffil.
"Lo gak pernah makek sabun ini"
Baskara mengambil sabun bermerk lain yang ada disebelahnya
"Kenapa, marah?"
Kalimat Baskara bernada lembut tidak teriak teriak seperti dirumah.
"Buat apa saya marah, saya gak punya hak apa apa" kata Rindu sambil melanjutkan belanjanya.
Baskara mendegus, dia tahu Rindu tidak akan mengatakan bahwa dia marah tapi melihat sikap Rindu yang langsung mengurangi kapasitas bicaranya, Baskara bisa menebak kalau gadis itu marah padanya
**
Selesai belanja Baskara membawa belanjaannya didalam mobil karena dia mengajak Rindu mutar mutar di mall dulu sebelum pulang. Setelah meletakkan belanjaan dibagasi Baskara kenbali ke dalam mall.
Dia menemukan Rindu duduk di kursi sambil menyesap jus. Dia memainkan ponsel, wajahnya terlihat cemberut.

Baskara mengambil duduk di kursi depan sambil bertpang dagu. Melihat istrinya cemberut begitu Baskara tidak suka.
"Suaminya gak di pesenin minum?"
What? Suami, tadi dia bilang sepupu. Rindu hanya menatap Baskara sekilas lalu menatap ponselnya kembali.

Baskara mengambil paksa ponsel Rindu, dia kembali bertompang dagu dan menatap wajah Rindu yang menyesap minum.
"Dengerin gue" jelas Baskara "tante Lily"
"Dia tante kamu?" Potong Rindu langsung lebih ganas dari saat dia dikelas.
"Mama Lily"
"Dia mama kamu?" Tanyanya lagi.
Baskara mendegus sambil mengacak rambutnya , dia mencondongkan tubuh mendekat kearah Rindu.
"Mamanya Sisil punya penyakit jantung, dia suka banget sama gue. Kalau gue bilang, gue sama istri gue. Elo bisa bayangin gimana reaksi dia ngeliat anaknya di tinggal nikah orang brengsek kayak gue" jelas Baskara lebih melembut.
Baskara meraih tangan Rindu "gue gak perah malu ngakuin elo sebagai istri gue"
Baskara mengecup tangan Rindu, dia menatap Rindu sambil melempar senyum
"Maaf ya"
Rindu mengangguk meski masih dengan tampang datar.
"Senyum dong"
Mendengar ucapan Baskara Rindu tersenyum. Penjelasa sederhana tapi ini yang dimau Rindu, menjelaskan tanpa suara teriak teriak. Kadang diposisi seperti ini Baskara terlihat dewasa.
Setelah membayar minuman mereka berjalan berdua. Rindu selalu tertinggal dibelakang tapi kali ini Baskara lebih memperpendek langkahnya, dia menggenggam tangan Rindu.
"Mulai sekarang, elo kudu jalan disamping gue" kata dia
"Kenapa?"
"Biar elo gak belok sana sini, bisa rugi banyak gue kalau elo belanja mulu"
Rindu meninju pelan perut Baskara sampai Baskara terkekeh geli "kenapa? Elo pengen gue bilang" Baskara menjeda kalimat "jalan disamping gue karena elo pasangan gue, jangan jalan di belakang karena elo bukan pembantu gue, jangan didepan karna elo bukan bos gue. Gitu?"
Rindu menarik senyumnya. Kadang kadang sikap kekanak kanakan Baskara selalu bisa membuatnya senang, dia punya cara sendiri membuat hati Rindu luluh dengan kata katanya.
__ADS_1