BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)

BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)
Chapter 55


__ADS_3

Baskara hanya duduk disamping Rindu semalaman. Setelah tidak sadarkan diri selama 2 menit, Rindu sudah bangun dan langsung istirahat. Perasaan terluka Baskara langsung muncul. Dia tidak menyangka kalau trauma yang dialami Rindu sebesar itu. Rindu memang terlihat biasa saja tapi batinnya dia merasa benar benar terpukul oleh kegugurannya.


Baskara keluar setelah pukul setengah sebelas, dia menatap teman temannya sudah tidur dikamar. Atau tengah main game disana. Sambil mengusap wajah, dia menekan nomor Icha. Kalau di Amerika pukul 11 malam berarti 13 jam selisih dari waktu Amerika, kurang lebih di Indonesia saat ini pukul 12 siang.


Dua dering dari panggilannya suara Icha langsung menyambut Baskara.


"Halo" sapaan Icha masih terdengar sama, melantun lembut


"Hay dokter Icha" Baskara ragu ragu menyapa, setelah dia tahu kalau Icha adalah teman Rindu. Seketika itu dia merasa canggung, kenapa dia bisa merawat gadis lain ketika dia menjadi suami temannya


"Ada apa? Aku denger kamu di Amerika sekarang?"


Terdengar suara gaduh di ujung telfon.


"Iya, dari mana dokter tahu?"


"Rindu sering nelfon aku"


Baskara menunduk, salah satu cara untuk membuat Rindu pulih adalah dengan konsultasi pada psikiater. Baskara tahu Rindu akan menolak itu.


"Masalah Rindu, ada yang mau saya bicarakan"


Baskara memang senang menggunakan bahasa formal dengan orang yang lebih tua dibandingkannya, kecuali Rindu. Karena wanita itu selalu memiliki pengecualian dalam dirinya.


"Ada masalah apa lagi?"


Suara diujung telfon langsung hening, mingkin Icha berpindah posisi agar lebih nyaman untuk ngobrol dengan Baskara.


"Saya rasa Rindu mengalami trauma pasca keguguran" suara itu melemah, tapi masih bisa di terima Icha dengan baik.


Meski panggilan via media sosial, untungnya jaringan keduanya mendukung sehingga tidak harus menunggu suara diterima lalu kita bisa menjawab dan menuggu kembali, Menyebalkan !!


"Trauma?" Icha mengulang kalimat itu


"Bukannya dia baik baik saja, selama komunikasi sama aku, gak ada masalah sama dirinya. Dia juga gak cerita apapun"


"Awalnya saya fikir begitu, tapi berubah saat saya ingin melakukan hubungan intim, tapi reaksi yang diberikan Rindu terlalu berlebihan"


Icha terdiam, sangat lama sampai Baskara harus memanggilnya untuk memastikan apakah panggilan masih terhubung.


"Reaksi berlebihan maksud kamu seperti apa? "


Baskara mendegus "seperti orang aneh yang mau diperkosa orang"


Kalimat itu muncul di selingi detakan jam semakin terdengar keras, jantungnya berdenyit nyeri bersama hembusan nafas.


"PTSD" kalimat Icha terdengar lemah


"Maksudmu?"


"Aku gak bisa jamin dia mengindap PTSD atau enggak, yang jelas trauma itu muncul karena sesuatu yang menakutkan  dihidup Rindu"


Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) menyerang mereka yang pernah mengalami kejadian mengejutkan, menakutkan atau membahayakan di dalam kehidupan. Rasa takut adalah respon yang wajar muncul di saat kita sedang atau telah mengalami kejadian serius. Beberapa orang menunjukkan reaksi yang berbeda-beda dalam menghadapi kejadian traumatis, dan kebanyakan akan berangsur pulih secara perlahan atau bertahap.


Baskata mengusap wajahnya saat mendengar penjelasan Icha. Masih tidak bisa dia terima dengan cara apapun, kenapa Rindu bisa mengalami gejala seperti itu


"PTSD bisa dialami siapa saja yang terkena tekanan mental. Biasanya sering menyerang orang yang melakukan aborsi tanpa kemauannya, aku rasa Rindu mengalami itu karena dia harus kehilangan anaknya"


Nafas Baskara tercekat, dia meneteskan air mata sambil menutup dua kelopak mata


"Aku gak bisa memastikan kalau gak bertemu Rindu secara langsung, tapi dari yang kamu ceritakan PTSD kemungkinan dia alami"


"Apa bisa sembuh?"

__ADS_1


"Semua penyakit ada obatnya Bas" suara Icha setidaknya membuat Baskara menghela nafas lega


"Dia harus sering konsultasi dengan pskiater"


"Saya gak yakin soal itu"


"Kamu coba bujuk dia dengan alasan yang jelas. Aku yakin Rindu akan mau melakukannya"


Panggilan itu harus diakhiri karena Icha ada pasien. Dengan wajah kusut Baskara menjambak rambutnya pelan. Kenapa dia tidak mengkhawatirkan kondisi Rindu saat dia meninggalkan gadis itu demi Sisil? . Kenapa baru sekarang Baskara menyesali perbuatannya?


**


Mereka duduk di meja makan dengan cengiran. Sudah 3 hari mereka di Amerika, dan akan segera kembali ke Indonesia hari ini


Rindu menuangkan sereal ke mangkuk ketiganya, seperti mengurusi tiga anak besar bersamaan. Akhir akhir ini sikap Baskara sedikit berubah, dia tidak merengek, selalu mengerjakan semuanya dengan baik termasuk menuruti kemauan Rindu.


"Abis ini, balik elo, jangan keisni lagi"


Baskara mencomot sereal Pandu yang langsung dihadiahi plototan


"Kebiasaan kalau makan selalu gangguin temannya"


Rindu memberi komentar karena Baskara selalu mencicipi makanan orang lain.


"Gue mau ngerasain punya si Pandu, manis gak?"


Dia menyendok sereal Alan tanpa dosa


"Sama aja semuanya" kata Rindu sambil menyuapkan sereal ke mulut


"Siapa tahu elo pilih kasih, ngasih susu yang banyak ke Pandu"


Baskara kembali ke mangkuknya dimana sereal itu masih terkumpul banyak.


Dia mengaduk aduk sereal  sambil menganggu mangkuk Rindu. Pekerjaan lain dari Baksara selain belajar.


Alan memberitahu Baskara tanpa dipedulikan orang itu


"Eh coeg kita lagi ngomong ini"


Pandu menaikan suaranya karena merasa diacuhkan


"Ya balik tinggal balik , susah amet" komentar Baskara sambil mendelik.


Alan dan Pandu kompak mengelus dada. Melihat kelakuan Baskara seperti itu , Rindu menarik senyum, Baskara itu lucu, seperti anak kecil yang membuat Rindu merasa kangen saat berjauhan.


"Gue gak bisa nganter kalian berdua ke bandara" kata Baskara santai sambil meengigit ujung sendok


"Gue mau belajar abis ini"


Alan dan Pandu acuh, mereka sibuk pada handpone dan sarapan.


"Gak papa, gue doain elo keterima"


Alan menggeser layar sambil menyendok sereal untuk dia masukan kedalam mulut.


"Gue sebenarnya gak yakin kalau elo bakal lulus, tapi SEMANAGAT"


Pandu mengangkat tangannya sebagai simbol semangat.


Baskara nyengir yang mengundang tawa Rindu. Meski sekilas dia menarik tawa tapi tawa itu mengundang Baskara untuk memandangi Rindu lebih teliti.


Selesai sarapan Rindu dan Baskara akan belajar ke perpustakaan Havard. Meski dengan malas, Baskara tetap akan pergi kalau itu dengan Rindu. Dia melingkarkan tangannya di lengan Rindu, tubuh jangkung itu selalu bisa melihat puncak kepala Rindu. Sesekali Baskara mengusapnya untuk menghilangkan salju yang berjatuhan.

__ADS_1


"Rin" Baskara memanggil Rindu saat keduanya berada di zebra cros untuk menyebrang.


Rindu tidak menyahut, dia masih fokus untuk menyebrang, membawa Baskara yang selalu mengandeng tangannya. Kebalik gak sih biasanya kan yang cewek yang digandeng. Kalau Baskara mah gak peduli, pokoknya dia yang harus ngikut Rindu kemanapun.


"Apa?"


Setelah sekian lama Rindu baru menyahuti panggilan Baskara.


Baskara melongo karena bingung.


Ni cewek dari tadi diem tiba tiba ngomong "apa"


"Kamu tadi manggil saya ada apa?"


Rindu menghentikan langkahnya saat berada di depan cafe, sambil menatap Baskara, dia menggesekkan kakinya untuk mengusir dingin.


Baskara menggesekan telapak tangan kemudian di tempelkan di pipi Rindu. Dia juga meniup niup telapak tangan Rindu supaya dingin itu bisa diatasi.


Baskara menggeleng saat melihat senyum Rindu mengembang, dia tidak ingin meminta Rindu konsultasi pada psikiater saat seperti ini.


**


Selesai belajar, keduanya langsung duduk disofa sambil menikmati coklat hangat. Kaki Baskara diletakkan diatas meja, sambil menggeliat di tekuk Rindu dengan manja.


"Rin"


Rindu menoleh sambil meniup niup coklat panas ditangan


"Apa?"


"Kalau besok kita ke rumah sakit buat konsultasi kamu mau gak?"


Meski sedikit ragu akhirnya Baskara bisa mengatakan kalimat itu setelah susah payah.


"Memangnya ada yang sakit?"


Baskara membenarkan letak duduknya, sambil menggenggam tangan Rindu, dia mengelus pipi Rindu dengan tangan kanan. Dia tersenyum, menatap manik mata kegugupan Rindu


"Kita konsultasi sama Pskiater"


Rindu menaikan alis, pskiater? Bukankah itu untuk orang gang terkena gangguan.


"Saya yang kamu maksud?"


Maksudnya apa Rindu yang harus konsultasi.


Baskara mengangguk, Rindu tidak mudah emosi dia bisa mengendalikan emosinya dengan baik. Jadi sambil menarik nafas dia menatap Baskara lebih lekat


"Kenapa saya harus ke psikater?"


"Gue udah nanya masalah elo sama Icha, dia bilang kemungkinan besar elo kena PTSD "


Rindu bukan orang bodoh yang tidak tahu istilah itu. Karena sejak Baskara kembali ke hidupnya dia sudah mencari mengenai gejala yang dia alami setiap akan berhubungan dengan Baskara. PTSD memang selalu menjadi jawaban atas pertanyaan Rindu selama ini, tapi mengetahui kalau Baksara sudah tahu membuat dia sedikit miris, dia tidak mau di kira lemah oleh siapapun.


Baskara menantap layar televisi didepannya, dia mengusap wajah berulang ulang tanpa menatap Rindu.


"Kesalahan ini dimulai dari __"


"Bass" Rindu mengelus punggung tangan Baskara


Dia membenci saat lelaki itu harus menyalahkan diri atas kegugurannya.


"Saya sudah iklas tentang masalah kemarin"

__ADS_1


Ada keteduhan di nada bicara Rindu "saya akan konsultasi sama dokter untuk masalah ini"


Baskara memeluk Rindu erat sambil menciumi puncak kepalanya.


__ADS_2