BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)

BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)
Chapter 53


__ADS_3

Baskara masih berusaha mengejar Rindu dengan kekuatannya. Dingin ini benar benar brengsek untuk membuat Baskara mengalami flu.


"Rinnn" akhirnya lengan Rindu berhasil dia cekal. Hidung Baskara sudah memerah karena banyak bersin


"Kamu demam?"


Rindu menempelkan tangannya di dahi Baskara, meski dengan berjijit tapi terbantu karena Baskara yang langsung merendahkan tubuhnya.


"Sedikit" jawab Baskara mengusap hidung dengan jari jempol


Rindu melanjutkan jalannya tanpa menoleh Baskara.


"Gue sama Octavia kan udah putus lama"


Baskara berusaha menjelaskan setengah mati pertemuan tidak sengajanya dengan Octavia.


"Saya itu gak ngerti sama kamu. Berapa banyak mantan pacar kamu sih?"


Baskara memutar mata, seolah olah berhitung dia memainkan jarinya seperti anak kecil.


"Lupa"


"Kalau mantan pacar kamu bisa dikiloin, mungkin saya udah jadi orang kaya"


"Elo pengen ngejual mantan gue?"


Ekspresi Baskara terlihat serius dengan lipatan dahi hingga alisnya bertautan.


Rindu mendegus, meski selanjutnya Baskara melempar senyum manis.


"Kalau demam jangan pergi keluar"


"Gue demam karna elo"


Baskara mendorong bahu Rindu dari belakang, sehingga mereka terlihat seperti anak TK yang sedang bermain kerata keret an.


"Baskara"


Rindu menjauhkan tubuhnya saat dorongan Baskara justru semakin menguat.


"He he" sambil membentuk huruf V, Baskara membuat tanda damai.


"Udah minum obat?"


Basjara menggeleng sambil menggesekan kepalanya di lengan Rindu. Langkah Rindu terhenti saat di perempatan jalan menuju apartemen.


"Kenapa?" tanya Baskara menjauhkan kepala dari lengan Rindu.


"Saya beli obat dulu kamu tunggu di apartemen"


"Ikutttt"


Baskara mengayun ayunkan tangan Rindu. Lelaki itu bersin meski tidak sekeras tadi. Hidungnya benar benar merah dengan mata yang basah.


Rindu mengelus rambut Baskara yang dijatuhi salju.


"Gak usah. Kamu tunggu dirumah"


Rindu mengelus rambut Baskara dengan lembut membuat lelaki itu memejamkan matanya sebentar.


"Ikuuttt" rengek Baskara.


"Tunggu di rumah"


Rindu melotot tajam. Berhasil membuat Baskara melepaskan tangannya dari lengan Rindu. Dia **** senyum kecewa, sambil berdada pada Rindu dia melangkah mundur.


Rindu berjalan dengan cepat menuju apotik. Kebetulan apotiknya tidak terlalu jauh dari gang sini. Setelah membeli obat obatan dan juga makanan hangat. Rindu membawa itu dengan langkah santai.


Salju itu masih turun dengan membawa butiran putih jatuh ketanah, membasahi rambut Rindu dan membekukan tubuh gadis itu. Rindu menggigil, dia tidak tahan dengan dingin, meski sudah mengenakan mantel dan switer, tapi dingin itu masih bisa menembus kedalam tulang belulangnya.

__ADS_1


Setelah sampai di apartemen. Dia segera di sambut dengan kehangatan. Hangat ruangan dan api yang dibakar ditungku. Kalau di apartemen Amerika gaya modern , akan ditemui perapian model begini.


Baskara sudah duduk dengan berselimutkan selimut Rindu. Selimut warna biru muda gambar doraemon.


Rindu meletakkan makanan diatas meja sambil membawa mangkuk.


"Makan dulu, baru minum obat"


Baskara malah bangkit mendekati Rindu, dia meniup telapak tangannya lalu diletakkan persis di pipi Rindu.


"Pipi lo merah, kedinginan?"


Baskara mendekatkan bibir nya di pipi Rindu, tapi gadis itu memberi perlawanan dengan dorongn kecil dari tangannya. Matanya justru memerah dengan getaran aneh, kepala Rindu teras berat, nafasnya sesak.


"Lo kenapa?"


Baskara menjauhkan wajahnya sehingga dia bisa melihat wajah kecemasan Rindu.


"Saya masih takut" suara nya lirih dengan ujung kalimat yang bergetar


"Why?"


"Saya belum siap untuk berhubungan"


Ini adalah kalimat kedua yang diberikan Rindu pada Baskara. Semalam saat dia menindihi dan berniat mencium bibir Rindu, gadis itu memberi perlakuan yang sama, dengan nafas yang tiba tiba memburu dan wajah yang pucat. Padahal sebelumnya dia baik baik saja.


Baskara hanya menjauhkan tubuhnya dan meninggalkan Rindu yng masih memegangi dada. Dia kembali duduk untuk menyantap makanan yang dibeli Rindu tanpa banyak komentar. Dia tidak ingin membahas masalah ini.


**


Sekitar pukul 04 sore hari, suara bel apartemen berbunyi. Baskra tidak membuat janji dengan siapa siapa? Tapi entah, jika itu Rindu, bukankah barang barang Rindu sudah diantar pengngkut barang tadi siang. Baskara membuka pintu dengan keterkejutan yang luar biasa.


Temannya si Pandu dan Alan menyeret koper sambil mengenakan mantel hitam dan kaca mata. Gayanya udah ngelebihi bule.


"Hello friend" Pandu dengan lebay melambaikan tangan


"Ngapain elo kesini?"


Pandu menggerutu sambil menyingkirkan tangan Baskara yang menghalangi pintu masuk


"Weh ada selimut doraemon"


Pandu langsung membuang asal selimut yang diletakkan Baskara di atas sofa.


"Selimut siapa Bas?"


Baskara mengernyitkan dahi, dia merasa dejavu dengan keadaan seperti ini.


"Rindu" jawabnya langsung ikut duduk disebelah mereka.


"Lo udah baikan sama bu Rindu?"


Mendengar nama Rindu disebut Pandu langsung membenarkan letak duduknya.


"Wagelah, rumah lo yang di Amrik bagus juga"


Alan masih sibuk menilik setiap sudut rumah Baskara, dia enggan kehilangan satu momen pun. Alan itu penyuka seni, dia memiliki jiwa seni yang luar biasa, kadang dia mampu melihat satu benda dengan harga dan tahun nya. Sayangnya papa Alan memasukan Alan ke Ekonomi untuk melanjutkan bisnis keluarga.


Baskara tidak sempat memperhatikan Alan yang sudah berjalan lebih jauh, menatap perapian dan pada deretan guci koleksi Arya.


"Lo mau nginep dimana?"


Baskara langsung melempar pertanyaan pada Pandu kala lelaki itu sibuk mengotak atik handponenya. Maklum dia rindu dengan sosial media yang tidak bisa di pindah akun.


Baskara menendang kaki Pandu, karena pertanyaannya diacuhkan begitu saja.


"Apa?" Pandu mendongakkan dagunya


"Elo mau nginep dimana?"

__ADS_1


Pandu kembali fokus pada handponenya "disini" dia menjawab asal tanpa berniat mengalihkan pandangan ke Baskara.


"Gue dirumah sama Rindu bangsat"


"Terus kenapa?"


Pandu menaikan alisnya tanpa menatap Baskara. Merasa diacuhkan laki laki itu menonyor kepala Pandu.


"Anjing" umpat Pandu akhirnya menoleh ke arah Baskara.


"Lo kalo diajak ngomong, liat orangnya bego"


"Lah, gue lagi sibuk buka Whatshapp anying"


"Kenapa gak lo pindah aja ke HP gue?"


"Gue gak apal sandinya"


Pandu sibuk mengetik pesan di handpone tanpa mengalihkan pandangan ke Baskara.


"Lan, sini lo"


Baskara memanggil Alan yang masih sibuk mengelus guci koleksi Arya.


"Apa?" Alan tidak banyak menggubris, dia masih sibuk meneliti setiap lukisan yang ada di guci


"Woy sini kampret"


Alan menoleh lalu membuang muka dan malah berjalan ke arah lukisan.


"Ya Allah, kenapa punya temen gini amat" Baskara mengusap wajahnya kasar.


"Kita nginep sini Bas, emangnya kenapa sih? "


Pandu menimpali kekesalan Baskara dengan santai


"Gue dirumah sama Rindu anjir"


"Ya kita tahu, terus kenapa emangnya?"


"Elo ganggu gue"


"Lah, kamarnya kan ada dua, gue tidur sama Alan, elo tidur sama bu Rindu"


Pandu masih sibuk mengetik pesan "apa elo mau tukeran, gue tidur sama bu Rindu elo sama Alan?"


Baskara menonyor kepala Pandu lebih keras


"Kalo ngomong ati ati dong"


Pandu nyengir sambil menyenderkan bahunya pada sofa


"Kita capek Bas ,kalo mau nyari hotel keburu malem, ini udah jam 5 "


"Lagian kalo mau kesini kabar kabar" kata Baskara lebih keras


Pintu dari kamar terbuka menampakan Rindu yang memakai celana santai dengan kaos biru.


"Kalian di sini?" Rindu menyapa singkat sambil berjalan menuju pantry untuk mengambil minum. Dia melintasi Alan tapi tetap acuh dengan kehadiran mereka.


"Bu, kita nginep sini ya?"


Pandu berteriak sambil tersenyum mengejek ke arah Baksara.


"Boleh"


Rindu menjawab singkat sambil membawa segelas air putih kedalam kamar. Di ambang pintu dia berkata


"Nanti tidur di kamar sebelah, kalau mau makan beli, saya gak sempet masak. Kamar mandi ada dua, jaga kebersihan, abis makan buang sampat ditempatnya"

__ADS_1


Rindu menutup pintu tanpa menatap wajah frustasi Baskara.


Lelaki itu menjambak rambutnya berulang ulang, dia mengutuk kehadiran dua temannya. Untungnya si Rama gak ikut. Kalau ikut bisa tambah gila dia.


__ADS_2