BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)

BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)
Chapter 12


__ADS_3

Pagi pagi Baskara sudah menggedor daun pintu perpustakan Rindu, sambil mengomel terusan menerus.



"Cill bantuin gue napa"





Sembari memajukan bibirnya Rindu mengucek matanya pelan. Rasanya dia masih mengantuk sejak semalam dia harus menemani Baskara menyelesaikan tugasnya.



"Ada apa?" Rindu menjawab masih dengan suara serak khas orang bangun tidur



"Gue belum mandi, mana gue belom ngeprint tugas elo lagi" dumel Baskara dari arah luar


"Print in tugas gue kebo, gue mau mandi nih"



Udah minta tolong pakek ngatain segala kayaknya kalau gak Baskara gak ada lagi deh. Rindu bangkit dengan sisa kemalasannya, padahal dia yang beri tugas tapi suaminya justru merepotkan dia.



Baskara tidak terlihat di ruang tamu mungkin dia sudah mandi, saat dikamarpun yang dia lihat hanya lah kertas sudah berserakan dilantai.



Rindu langsung mengeprint begitu saja tanpa melihat bahan yang akan dia print, setelah selesai dia langsung menjilidnya.



Selesai dengan tugas suaminya yang sedari pagi merengek kembali merengek setelah keluar dari kamar mandi, sedangkan Rindu, dia membuat dua roti panggang dan susu.





"Gue buru buru" katanya pada Rindu, dia meminum susu hingga tandas lalu menyelipkan roti panggang dibibirnya tanpa dimakan dulu



"Gwue mwau jwempwut Swiswil, kwalwau twelwat bwiswa dwiwanwuk gue" karen rotinya belum dihabiskan Jadi suara Baskara sedikit gak jelas.



"Ditelan dulu" ujar Rindu tegas. Baskara menurut dia menjauhkan roti dari bibirnya dan mulai berucap



"Gue mau jemput my baby hany dulu, kalau telat bisa diamuk gue"


Dia berjalan menju rak sepatu



"Rinduuuuu sepatu hitam gue mana?"



"Baru saya cuci kemarin"



"Lo kok gak ngomong sama gue, kalau kayak gini kan gue gak meching pakek bajunya" rengek Baskara



"Pakai sepatu seadanya aja"



"Ogah, gue mau beli baru. Dasar istri gak pengertian"



Sembari keluar Baskara membanting pintu agak keras, sebenarnya kurang pengertian apa si Rindu, dia sudah sabar dengan segala rengekan Baskara belum lagi kalau laki laki itu mengeluh minta semua yang dia inginkan dituruti. Rasanya seperti menuruti kemauan bayi besar yang tahunya merengek.



**



Baskara sampai didepan rumah Sisil ketika jarum jam menunjukan pukul 7 padahal dia belum pernah bangun sepagi ini meskipun dia tinggal bersama dosen yang selalu tepat waktu.



"Sayang" itu suara Sisil sembari membuka pintu mobil



"Udah lama?"



Tak menjawab pertanyaan Sisil , Baskara justru menguap lebar.



"Kenapa sih minta jemput pagi bener, gue masih ngantuk nih" protes Baskara yang membuat Sisil mencembikan bibirnya



"Kamu gak iklas jemput aku?" terka Sisil



"Astaaga Silvi Margareta anaknya bapak Bamayu Dirgantara, gak usah kayak anak kecil deh" sungut Baskara memprotes pertanyaan Sisil

__ADS_1



"Kamu mau kerumah sakit atau kampus?" tanya Baskara tanpa menoleh Sisil lagi



"Ke rumah sakit lah, kan aku lagi praktik"



Iya Baskara juga udah tahu, makanya dia nanya dulu. Dia udah paham gimana Sisil, kalau dia gak nanya dulu langsung bawa gitu aja udah ngomel ngomel anaknya.



Baskara memutar mobil menuju rumah sakit Kemayoran Jakarta. Rumah sakit ini rumah sakit swasta kabarnya sih rumah sakit milik keluarga Nugraha Wirawan. Tapi entah kebenarannya sampai sekarang belum terbukti. Setelah memarkirkan mobil, Baskara ikut turun mengantarkan Sisil ketempat praktiknya.



Baskara mengernyitkan dahi, bentar deh itu yang lagi jalan sama seorang dokter Baskara kenal. Cewek mungil yang tingginya cuman 149 cm, itu Rindu.



Baskara mendegus dengan keras membuat Sisil menoleh menatapnya



"Kamu kenapa? Gak iklas nganter aku"


Baskara menoleh, rasanya dia mulai jenuh dengan sikap Sisil yang selalu merengek manja padanya. Padahal dia punya supir dirumah, kenapa mesti minta jemput, lagian dia bukan anak orang gak punya, dia anak orang kaya yang bisa melakukan apapun sendiri. Sepertinya Sisil gak bisa hidup tanpa Baskara karena apapun gadis itu selalu minta tolong padanya.



"Bukan gitu" jawab Baskara asal. Dia merasa marah melihat Rindu berjalan beriringan dengan Wirawan



"Gue langsung balik, ada presentasi jam pertama"



Tanpa menoleh kearah Sisil, Baskara sudah menutup pintu mobilnya keras keras. Padahal yang menghancurkan moodnya bukan Sisil, tapi Rindu, kenapa gadis itu langsung pergi kerumah sakit tanpa bilang dulu.



Yang aneh tuh, kenapa dia lebih cepet dari Baskara, iya sih Baskara tadi naik mobilnya pelan, tapi secepat apa sih sampai Rindu cepet banget kerumah sakitnya.



Baskara membanting pintu mobil ketika sampai di parkiran kampus. Untung keadaan masih sepi.



"Woy tokek belang" suara Pandu nyaring menggema diseisi koridor. Baskara menoleh ke belakang, ternyata Pandu dan Rama sudah ada dibelakangnya.



"Gue liatin mood lo lagi buruk nih" terka Rama ketika langkah mereka sudah seimbang



Baskara mengacak rambutnya, lalu berdecak sebal.




"Huss pakek Bu, lo mau dia denger terus lo diomelin"



Asataga dia lupa kalau ini kampus, untung temen temennya gak curiga.



"Lagian lo kenapa sih bisa sesebel itu sama Bu Rindu?" tanya Rama sembari mencomot cemilan yang dibawa Pandu.



"Karna dia kecil gitu?" terka Pandu ikut ikutan memojokan Baskara.



"Lagian gue yang balik nanya. Apa yang buat lo semua suka sama Rindu?"


Baskara balik bertanya dengan sorot tajam dari matanya.



"Woyyyy geng kecoa hidupp"


Tiba tiba dari arah belakang Alan merangkul Rama dan Baskara.



"Apa nih pagi pagi udah ghibahin orang" kata Alan.



"Tau nih si makhluk astral, pagi pagi ngedumelin bu Rindu" timpal Pandu



"Ati ati lo Bas, biasanya cinta itu berawal dari benci" kata Alan menasehati



"Sejak kapan bapak lo ganti nama?"



Alan mengernyitkan dahinya, dia merasa bingung dengan pertanyaan Baskara yang tidak jelas



"Bapak lo ganti nama jadi Teguh ya? " jelas Baskara sembari berjalan meninggalkan ketiga temannya yang bertampang cengo.


__ADS_1


"Anjer sibebek goreng, bikin gue kesel aja" hina Alan dari arah belakang.



**



Sekitar jam 8 Rindu sudah berada dikelas dan siap memulai mata kuliahnya. Tapi di barisan belakang, 4 orang mahasiswanya justru cekikikan, dia menertawakan yang entah menurut mereka lucu.



Rindu bersidekap, dia terus menatap ke empatnya agar cepat sadar, sayangnya sampai menit ke tiga pun mereka tetap cekikikan sambil menatap layar handpone masing masing.



Kalau kemarahan bisa dijarumi sekarang kemarahan Rindu sudah naik level 5.



"Itu yang belakang kalau gak mau ikut mata kuliah saya silahkan keluar"



Mereka mendongak tapi tidak dengan Baskara, lelaki itu justru menatap ponselnya dengan menaikan volume tawanya



"Ha ha ha"



"Cosmos Arya Bayu Baskara" panggil Rindu dengan nada tegas dan dingin. Tentu semua mahasiswanya diam sambil menatap Baskara yang tengah mendongak kikuk. Dia merasa semua mata menyudutkannya, apalagi tatapan Rindu ke Baskara yang semakin tajam



"Kamu mau saya keluarkan dari kelas saya?"


Itu sebuah pertanyaan yang secara tidak langsung juga perintah untuk diam. Baskara ******** senyum paksa. Sedangkan teman temannya sudah kicep sendiri sendiri.



Rindu berjalan mendekati Baskara yang masih memegang handponenya.



"Mana ponsel kamu?" pinta Rindu pada Baskara.



Baskara berusaha menyembunyikan handponenya sayangnya tangan Rindu sudah lebih dulu cekatan untuk mengambilnya. Rindu mengecek apa yang sedari tadi membuat tawa mereka.



Ternyata sebuah foto yang dikirimkan Alan dan Rama di sebuh grup chat mereka. Foto itu adalah foto rok mahasiswi dikelasnya. Mereka sengaja memotret gambar bokong dan payudara mereka



Rindu mendegus, dia mulai sebal dengan tingkah Baskara yang semakin tidak jelas setiap harinya.



"Khusus mata kuliah saya, mulai minggu depan mahasiswa perempuan diwajibkan pakai celana dan handpone akan dikumpukan dimeja saya"



Perintah Rindu langsung mendapat sorakan dari semua mahasiswa tapi tidak berlangsung lama ketika Rindu mulai membuka suaranya "Baskara, saya akan panggil papa kamu untuk menemui saya"



Rindu berjalan sembari membawa ponselnya, belum ada empat langkah suara Baskara membuatnya berhenti



"Heh, lo gak bisa gitu dong, balikan gak ponsel gue"



"Pakai bahasa yang baik dan sopan“



"Gue minta baik baik, balikin gak ponsel gue" suara Baskara naik satu oktaf tapi tidak membuat Rindu kicep sama sekali, justru dia menatap Baskara dengan penuh kebencian.



"Besok ketika wali kamu datang menemui saya"



"Rindu, gue paling gak suka dikayak gini in"


Tangan Baskara mencekal pergeleangan Rindu dengan kuat, entah kekuatan apa Tapi Rindu berhasil menepis tangan Baskara.



"Yang sopan sama dosen kamu" bentak Rindu kuat.



Baskata sedikit menoleh kekanan dan kiri, dia merasa malu setelah membentak Rindu dengan keras didepan teman temannya, dia kira dia masih ada dirumah.



Yang membuat Baskara marah sebenarnya bukan karena itu, tapi karena dia marah melihat Rindu berdua an bersama Wirawan pagi ini.



"Maaf bu, saya kelepasan" kata Baskara sembari menunduk



"Silahkan duduk" kata Rindu melemah.



"Setelah mata kuliah saya selesai, temui saya diruangan"

__ADS_1




__ADS_2