
Puas jalan jalan di mal mereka kembali ke apartemen. Rindu membantu membawa barang yang berbeban ringan kalau yang berat menjadi tugas Baskara. Setelah sampai didalam apartemen Baskara mulai bermain gasing yang dia beli tadi.
Gak tau apa maksudnya, katanya dia pengen main gasing.
"Rindu maen yuk" ajak Baskara memutar gasing dengan malas.
"Saya bakalan kalah kalau maen sama kamu" katanya sambil memasukan sayur sayuran kedalan kulkas.
"Kan belom dicoba"
"Secara fisika, mekanisme itu digunakan untuk mendeskripsikan berat barang dan putaran barang. Jika berat barang ini semakin berat maka putaran akan semakin berat, jika putaran berat tapi kekuatan kecil jadi___"
"Ah bodo mau secara fisika atau secara Baskara yang penting elo coba dulu. Sini"
Setelah memotong ucapan Rindu tanpa rasa bersalah dia justru menarik tangan Rindu untuk duduk didepan meja.
"Hitungan ketiga mulai ya" ajak Baskara bersiap memutar gasingnya. Rindu tampak fokus pada gasing yang berada ditangan.
Sambil memutar dengan penuh tenaga gasing Rindu berputar diatas meja seperti penari sedangkan milik Baskara, karena dia memutarnya tidak pakai tenaga jadi langsung ambruk.
Rindu bertepuk tangan karena dia berhasil memenangkan permainan, seperti anak kecil yang baru bermain gasing. Baskara menarik senyumnya.
"Teori Cinta kalau seseorang mau mengalah, pasangan satunya akan menang" kata Baskara.
"Kamu ngalah sama saya?" Tanya Rindu.
Handpone yang berada dimeja berbunyi, Baskara meraihnya dan menatap siapa nama yang menelfon. Ternyata Sisil, awalnya Baskara enggan mengangkat, tapi entah hati sebelah mana yang membuat Baskara justru menggeser tombol angkat
"Halo" sapa Baskara dengan nada lirih. Rindu menatap kearah Baskara.
"Bisa temui aku di taman"
Suara Sisil terdengar sesegukan, hampir membuat Baskara kaget. Dia tidak pernah menangis sebelumnya kecuali masalah yang memang membuatnya menangis.
"Tolong" suara itu lirih penuh permohonan. Baskara mematikan panggilan dan menatap wajah Rindu.
"Gue keluar bentar, mau nemuin temen"
Baskara mengecup pipi Rindu, supaya nantinya ketika bertemu Sisil tidak ada godaan setan yang membuatnya harus kembali pada pesona mantan kekasih.
"Temen? Emangnya temen temen kamu belum berangkat magang?"
Rindu bertanya bukan karena dia curiga tapi memang Rama, Alan dan Pandu dia magang diluar kota.
"Teman kelas lain" kata Baskara tidak sepenuhnya bohong.
"Jangan pulang larut larut" pesan Rindu.
Baskara mengangguk dan hilang dari balik pintu. Perjalanannya menuju taman terasa panjang, ada rasa khawatir yang masih terasa mesti tidak sepenuh sebelunnya.
Sampai di taman Baskara melihat sosok Sisil yang menangis sesegukan ditengah taman. Bahunya naik turun, pakaiannya sudah tidak terurus, Sisil bukan tipe orang seperti itu. Melihat kedatangan Baskara gadis itu berlari memeluknya.
Itu pelukan pertama dari perpisahan yang mereka lalui. Sisil menangis di dada Baskara, tanpa dibalas pelukan oleh Baskara Sisil terus nenangis. Dia meraung raung tanpa bercerita apa masalah yang membuatnya menangis seperti ini.
Baskara menggenggam erat tangannya, dia tidak ingin menghiantai Rindu.
"Ada apa?" Akhirnya suara pertama itu muncul dari mulut Baskara.
Lelaki itu berusaha menjauhkan tubuhnya dari Sisil, sehingga pelukan itu terlepas. Baskara menyeka air mata yang membanjiri wajah Sisil.
"Ma _ ma_mama" suaranya masih sesegukan. Baskara membimbing Sisil untuk duduk dibangku, bagaimana pun Sisil pernah membuatnya bahagia, pertolongan itu setidaknya menebus rasa bersalah karena dia menikahi Rindu.
Dia mengelus bahu Sisil, melemparkan senyum agar gadis itu tertolong oleh senyumnya.
"Ada apa?" Baskara mengulang pertanyaan
Perlahan lahan meski butuh waktu lama Sisil mengusap air matanya. Dia sedikit lebih tenang.
"Mama masuk rumah sakit" ceritanya dengan bibir gemetar.
"Ha, bukannya tadi abis ketemu gue di mall"
"Tadi sore" air mata Sisil kembali meluncur kali ini dengan ritme yang lebih deras. Baskara mengelus lengan Sisil.
__ADS_1
"Tadi sore papa minta cerai ke mama, papa bilang dia udah nikah sama wanita simpanannya" dengan terbata bata Sisil berusaha meluapkan kesedihannya "dan papa sekarang pergi ninggalin kita"
"Lo tahu papa elo dimana?" tanya Baskara sedikit menuntun. Sisil menggeleng, air matanya sudah banjir sedari tadi. Lagi lagi Sisil memeluk Baskara dengan erat.
"Aku gak tau mau cerita ke siapa" suara Sisil melemah.
Sampai pukul 11 malam Baskara menenangkan Sisil dan akhirnya berhasil, gadis itu sedikit susah untuk ditenangkan emosinya. Untungnya Baskara sudah hafal dengan sikap Sisil. Baskara mengantarkan Sisil sampai didepan rumahnya, tapi gadis itu justru tertidur sambil memeluk lengannya.
Karena tidak enak membangunkan akhirnya Baskara membopong tubuh Sisil menuju kamar, pembantu dan satpam sudah cukup hafal dengan Baskara karena lelaki itu sering kesini.
"Nitip Sisil ya bik" ujar Baskara pada bibik bibik bertubuh gembuk yang berdiri didepan kamar Sisil. Bibik itu mengangguk.
"Tuan pergi dari rumah" cerita Bibik
"Saya udah denger dari Sisil" tukas Baskara sambil menuruni undakan tangga.
"Keadaan tante Lily gimana?" tanya Baskara
"Belum sadarkan diri den"
"Saya pamit bi ya, kalau ada apa apa telfon saya"
Ini adalah kalimat kesalahan yang diucapkan Baskara malam ini meski dia belum menyadarinya. Baskara membawa mobil menuju apartemen setelah membunyikan klakson untuk menyapa satpam Sisil.
Sampai di aprtemen Rindu masih duduk disofa sambil menonton acara tv.
"Belum tidur?" tanya Baskara sambil menutup pintu.
"Nungguin kamu" kata Rindu.
Basakara ******** senyum, sungguh dia merasa sudah menghianati Rindu.
"Udah makan?" tanya Rindu.
Bukannya menjawab Baskara justru memeluk Rindu, tubuh tinggi itu sedikit menunduk. Dia menyesap aroma Rindu dari tekuknya.
"Untuk?"
"Semuanya" Baskara mempererat pelukan.
Dia bingung, kenapa bisa sesulit itu melepaskan Sisil, selalu ada perasaan bersalah yang membuat dirinya tidak bisa melepaskan Sisil. Padahal dia tidak mencintai nya lagi.
Rindu mengelus puncak kepala Baskara, hal yang palinh disuka dari lelaki itu.
"Lo tahu? Dulu saat gue nangis ibu selalu ngelus kepala gue" kata dia "sekarang gue punya ibu"
Baskara mempererat pelukan.
"Makan yuk" ajak Rindu.
Pelukan itu sedikit mengendor tidak sekencang tadi sampai pelukan mereka terlepas.
"Lo belum makan?"
"Kan nungguin kamu" kata Rindu sambil berjalan menuju meja makan.
Mereka menyantap makan malam sambil diam menikmati hidangan yang sudah mendingin. Baskara ingin jujur tentang Sisil, tapi bagaimana jika Rindu marah padanya ?
Mengenai Sisil sebenarnya dia tidak ada hubhngan apa apa, dia hanya membantu Sisil untuk menyelesaikan masalah, mencari papanya dan berjuang melewati ini.
Tapi bagaimnaa dengan Rindu? Bagaimana jika dia tahu kalau Baskara tadi menemuinya. Bagaimana jika salah satu orang yang mereka kenal melihat Baskara di taman bersama mantan kekasihnya.
"Rin" panggil Baskara terdengar ragu
Rindu mendongak dengan gestur mengatakan kalimat "apa" dia kembali menyantap makan malamnya.
__ADS_1
"Sebenarnya" ucapan Baskara terhenti kala bunyi handpone miliknya bergetar, Alan menelfon dirinya.
"Bentar" kata Baskara sambil berdiri.
"Halo" sapa Baskara pada Alan
"Ngapa lo nelfon gue ,kangen?" Tanya Alan dengan suara kepedean diatas radius 90 derajat
"Bangke, siapa juga yang kangen"
Kata Baskara sambil berjalan masuk kamar.
"Gue mau minta tolong" kata Baskara melemah
" kayak sama siapa aja elo jing , pakek acara minta tolong segala"
"Ini soal Sisil" suara Baskara merendah takut kalau Rindu mendengarkan pembicaraannya dengan Alan "papanya kabur dari rumah, dan mamanya masuk rumah sakit"
"Ha demi apa, keluarga yang keliatannya adem bisa kabur juga,"
Ya berita kaburnya papa Sisil sebenarnya juga membuat Baskara kaget. Lelaki itu selalu terlihat penuh kasih sayang dengan Sisil maupun Lily.
"Gue gak tahu ceritanya gimana, yang jelas dia kabur sekarang"
"Iya gue bantu ngelacak posisi papanya Sisil, bdw gak papa nih?"
"Maksud lo?"
"Gak papa elo bantuin Sisil, takutnya bu Rindu marah?"
Baskara terdiam sejenak, apa yang diucapkan Alan sepenuhnya benar. Apa Rindu mengijinkan dia membantu Sisil.
"Gue gak tahu"
"Kasih tahu lah Bas, elo kan suami istri" nasehat Alan.
"Jangan lupa cari"
Tut
Panggilan langsung diputus oleh Baskara ,lekaki itu memejamkan mata. Dia bingung sungguh, tadi dia memiliki kepercayaan untuk mengatakan masalah ini pada Rindu, tapi dia ragu, kembali ragu. Akankah tidak ada perdebatan pada rumah tangganya. Baskara ingin menebus kesalahannya pada Sisil karena membuat gadis itu terluka, tapi dia juga tidak ingin kehilangan Rindu.
Saat ini Rindu berarti dalam hidupnya. Pintu kamar terbuka, dengan gerakan lambat Baskara membuka mata yang sempat tertutup.
"Makannya gak dilanjutin? " tanya Rindu sambil duduk disamping Baskara.
Lelaki itu ******** senyum sambil memeluk perut Rindu
"Udah kenyang" katanya. Dia membawa tangan Rindu diatas kepala
"Elus" katanya
"Manja banget sih" Rindu terkekeh sambil mengelus penuh kasih sayang kepada Baskara.
"Tadi mau ngomong apa?"
Mata tertutup Baskara terbuka, benar tadi pembicaraan mengenai Sisil tertunda karena Alan. Apa sekarang Baskara mengatakan sejujurnya saja mengenai Sisil, atau tidak usah.
Elusan itu semakin membuat Baskara takut, dia tidak sanggup membuat Rindu terluka, dia tidak mau kehilangan Rindu. Toh ini kebohongan pertama , dia janji tidak akan menemui Sisil lagi.
"Besok gue kan berangkat" kata Baskara "malem ini bikin adek yok"
Baskara menegakkan tubuhnya untuk ikut duduk disamping Rindu. Sebaliknya Rindu , dia justru cepat cepat menutup buku dan membaringkan tubuh membelakangi Baskara.
"Besok saja" kata Rindu malu malu.
Baskara ikut berbaring sambil memeluk Rindu dari belakang. Dia berbisik ditelinga Rindu, bisikan menggoda
"Gak nyesel, seminggu lagi gak ketemu. Gak bisa cium ciuman"
Helaan nafas Baskara mengenai kulit tekuk Rindu. Cukup berhasil membuatnya merinding, ditambah Baskara yang dengan mudah membalikan tubuh Rindu. Dia menindihi tubuh Rindu dan mengecup bibirnya.
__ADS_1
"Gue sayang sama elo“ bisik Baskara saat bibir nya masih tertempel di bibir Rindu.