BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)

BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)
Chapter 46


__ADS_3

Peduliku keterlaluan itu sebab nya aku sering terluka sedangkan kau bisa baik baik saja


☘☘


Sidang skripsi itu bagaikan kita tengah diwawancarai malaikat pencabut nyawa, deg deg an nya lebih dari jatuh cinta atau bertemu mertua, seluruh tubuh Baskara sudah keringat dingin, dia takut kalau ketahuan membuat skripsi asal asalan tepatnya memerintah dosennya untuk membuat itu.


Saat sidang teman temannya sudah menunggu dengan gusar, mereka mencemaskan bagaimana kalau Baskara pingsan diruang Sidang.


Baskara membuka pintu dengan sisa tenaganya, dia sudah lemas dengan pertanyaan pertanyaan mengerikan dari dosen, apalagi yang namanya pak Zainudin, ngasih pertanyaan udah kayak nanya dialam kubur.


"Gimana? Sukses?" Alan langsung menghampiri Baskara begitu tahu temannya keluar dengan wajah pucat.


"Gimana?" Pandu ikut antusias


"Lulus kaga?" Rama sudah tidak sabaran.


"Mereka titisan malaikat Izrail ya? , aura kematiannya lengket banget"


Komentar Baskara sambil mengambil duduk di sebelah pintu ruangan sidang.


Rama menyodorkan sebotol air mineral, tanpa melihat kemasan Baskara meneguknya hingga tandas.


"Ditanyain apa aja sama dosen?" tanya Alan yang duduk disebelah Baskara.


"Seputar skripsi" jawabnya lemah


"Gak ditanyain udah ceria belum kan sama bu Rindu?"


Baskara menatap Rama yang nyengir, gak tahu kenapa hari ini Baskara ingin ngebunuh Rama deh, bila perlu di kubur hidup hidup ditengah lapangan.


"Maaf maaf, gue cuman becanda"


Rama mebentuk hurf V dijarinya, dia berusaha melempar senyum saat tahu pelototan dari Baskara.


"Kebiasan nih si anak kucing garong gak bisa bedain yang mana becanda sama serius"


Pandu menonyor sayang dahi Rama.


Sambil mengusap usap dahinya Rama justru gencar menggoda Baskara sambil mengedipkan mata


"Rindu kemana?" tanya nya lirih saat dia menyadari tidak ada Rindu di samping mereka


"Gak tahu pergi tadi sama dosen" jawab Alan


Alan langsung fokus pada handponenya tentu handpone miring kebanggaan anak itu selalu menjadi pusat perhatian.


"Masih lemes gue"


Baskara merosot kan tubuhnya, fikiran saat di ruangan sidang benar benar membuat dia gemetar, apalagi pertanyaan yang gak kunjung abis abis


"Mereka nanya udah kayak mau nyabut nyawa gue aja"


Baskara mengelus dada


"Untung gak beneran dicabut" timpal Pandu


"Pak Zainudin nanyanya gak selo. Pakek nanya teori segala" cerita Baskara


"Ditanyain gak skripsinya yang buat siapa?"


Pandu menggesek hidungnya dengan jari sambil menunggu jawaban Baskara

__ADS_1


"Enggak lah, gila aja kalau dia sampe nanya. Gue pecat bener deh"


"Selow kali anak pemilik yayasan, maen pecat aja" sergah Rama menaikan suaranya


"Lagian nanya udah kayak mau nyabut nyawa orang, merinding gue asal dia buka suara"


Baskara mengusap lengannya


"Yaudah lah yang penting udah kelar, tinggal nunggu hasil kan" kata Alan.


"Lo santai amet si Lan, emang sidang lo lancar?"


Alan dan Rama udah sidang dari hari kemarin. Sidangnya diacak enggak berdasarkan absen tapi dosen pembimbing, jadi mereka yang satu dosen pembimbing mah enak enak aja. Mereka dapet pak Zainudin meski skripsi kudu bolak balik dan revisi terus tapi setidaknya gak ketemu pak Zainudin pas sidang.


Nah si Pandu dapet pak Andi jadi skripsinya enak tapi nemuin dosennya yang agak susah. Kalau di minta bimbingan banyak alasan sampe harus nyusul dia ke Jogja cuman minta tanda tangan doang.


Si Baskara mah dapet pak Dodit secara dosen muda yang enakan jadi bisa lah kongkalikong masalah pembuatan skripsi , pas sidangnya harus ekstra ngafalin materi biar dikira beneran dia yang buat.


Sambil menghela nafas handpone Baskara bergetar, nama Sisil terpampang dilayar.


Alan melirik handpone yang hanya dilihat terus terusan tanpa dijawab oleh Baskara


"Sisil udah keluar dari rumah sakit?" tanyanya masih menatap layar handpone


"Udah seminggu yang lalu" jawab Baskara


"Angkat Bas, siapa tahu penting"


"Palingan juga gue disuruh kesana"


Baskara menggeser panggil tolak dilayar.


"Tumben elo ngacangin Sisil, biasanya paling cepet soal dia"


"Soalnya dia udah kena karma jadi udah males ngeladeni Sisil" timpal Rama


"Ha ha iyak iyak betul itu" Pandu berhigh five ria bersama Rama.


Baskara meloto menatap kedua mata mereka


Handponenya bergetar, ada notifikasi pesan dari Sisil.


Silvi Margareta


Bas, aku ada di luar kampus. Buaruan kesini , malu aku diliatin yang lain


Pesan itu membuat Baskara melotot, kenapa sih cewek ini harus dateng nemuin dia, bukannya dia udah ngejelasin ribuan kali.


"Gue mau nemuin Sisil dulu"


Baskara berdiri sambil memberikan setumpuk salinan skripsinya ke Alan.


"Eh si anjir maen pergi ninggalin skripsi" Alan mengumpat


"Karma belum nyamperin lagi, inget Bas ada yang nunggu tanda tangan elo" Rama berteriak lantang


Baskara justru acuh, dia berjalan begitu saja tanpa memperdulikan komentar teman temannya, sebenarnya mereka harus prihatin dengan kondisi Baskara saat ini bukannya bikin guyonan soal perceraian Baskara.


Mungkin mau ngehibur tapi yah setidaknya Baskara gak perlu takut buat ngadepin kenyataan gugatan cerai dari Rindu, dia semakin yakin saat temannnya menyinggung soal perceraian, setidaknya dia semakin mantap untuk tidak meninggakkan Rindu.


Sisil melambaikan tangan, dia tersenyum sambil menatap kearah Baskara lekat. Tangannya membawa bunga sweet pea.

__ADS_1


Sisil memeluk Baskara saat jarak kedua nya dekat. Dia tersenyum sambil meneteskan air mata.


"Sil malu diliat orang"


Baskara berusaha menjauhkan tubuhnya


"Enggak mau, ini buat pelukan perpisahan"


Air mata itu lolos dari sudut mata Sisil, meski gadis itu tersenyum tapi hatinya benar benar sakit.


"Maksud lo?"


Dorongan Baskara melemah saat suara sesegukan dari bibir Sisil keluar.


"Rama udah ceritain semua ke aku" dia masih memeluk Baskara sambil menangis.


"Dia ceritaiin semua tentang apa yang gak bisa kamu sampein"


Baskara menarik sudut bibirnya, dia cukup paham dengan ucapan Sisil. Senyum itu bertambah merekah kala Sisil melepaskan pelukan.


"Nih, selamat udah sidang skripsi"


Suara Sisil kembali normal sambil dia menyeka air mata


Bunga sweet pea sering di maknakan sebagai ucapan perpisahan. Baskara paham, dia pernah membelikan  Seseorang sebelum akhirnya memilih Sisil untuk jadi pacar dia.


"Sweet pea" Baskara mengucapkan kata  sambil merima bunganya


"Sebagai tanda berakhirnya hubungan kita"


Sisil mengusap wajah Baskara.


"Makasih ya udah pernah hadir sebagai orang spesial di hidup ku"


Sisil mencium bibir Baskara dengan singkat, kecupan perpisahan sebelum hubungan mereka menjadi seorang sahabat.


Baskara memeluk Sisil dengan tersenyum merekah, lebih indah dari senyum biasanya. Tapi saat dia menatap kearah lurus senyum dia memudar ketika melihat punggung Rindu. Buru buru Baskara melepas pelikannya.


"Lo tunggu bentar disini ya, gue nemuin Rindu dulu"


Sambil berlari membawa bunga sweet pea, Baskara berusaha mengejar Rindu.


Tapi langkahnya berhenti saat dia melihat Wirawan dan Rindu berdiri di depan pintu ruangan sidang.


Langkahnya berhenti bukan karena keberadaan Wirawan tapi karena lelaki itu mengeluarkan kotak brudu yang berisi sebuah cincin berlian. Rindu menarik senyum saat menatap cincin berkilatan itu, senyum yang mempesona lebih dari biasanya.



Atau ini hanya perasaan cemburu Baskara, sambil menggenggam erat bunga yang ada ditangnnya, rahangnya mengeras, dia ingin meninju Wirawan sekarang juga tapi tidak, dia tidak ingin Rindu semakin membenci dirinya.


"Menikah"


Suara itu lamat lamat masih terdengar ditelinga Baskara, suara yang di ucapkan Rindu terlalu lantang sambil menutup mulutnya tidak percaya.


Reaksi seperti baru saja dilamar oleh kekasih, apa ini yang diinginkan Rindu sebenarnya.


😆😆


**jadi kalian dukung Rindu sama Baskara apa Rindu sama Wirawan sih?


jangan sampe ada yang gak iklas ya.

__ADS_1


tambahan nih


ayok spam komen biar aku tambah semangat, aku suka di spami jangan diem diem aja ya**


__ADS_2