BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)

BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)
Chapter 56


__ADS_3

Kenapa sesuatu yang singkat begitu mengikat dengan kuat


☘☘


Satu bulan ternyata cepat berlalu, serangkaian tes sudah dilakukan Baskara, kini saat nya menunggu hasil pengumuman yang akan diumumkan melalui websaite resmi Havard.


Baskara memang tidak ada niatan untuk masuk ke Havard , tapi setelah dia bekerja keras selama satu bulan rasanya dia akan menangis kalau gagal masuk Havard.


Sambil berulang ulang merefresh websaite, dia mengigiti ujung kuku, Rindu duduk sambil memakan es cream, sesekali dia menyuapi es cream itu kepada Baskara.


Laki laki itu masih terus merefresh websaite, dia tidak ingin mengalihkan fokusnya pada layar.


"10 menit lagi pengumuman, untuk apa kamu merefresh seperti itu?"


Rindu mencomot es cream tanpa melihat ekspresi kegugupan Baskara.


"Kalau gue gak keterima gimana?"


Baskara gugup setengah mati, padahal selama ini dia masa bodo dengan apapun yang dia kerjakan, tapi untuk ini, rasanya dia akan benar benar sakit hati kalau sampai gagal.


"Kan masih ada harapan di Cambridge University"


Rindu menjawab dengan santai, karena Baskara memang tidak hanya mendaftar di satu universitas melainkan dua.


Sudah ada sepuluh menit Baskara di lema kegugupan , sampai saat dia merefresh websaite sebuah pesan langsung mendarat di akunnya.


Dia menutup mata sambil merapalkan doa, selama tangannya menggeser clusor , mulutnya tak henti henti berkomat kamit.


Klik


Tulisan dihadpannya membuat Baskara memaku, sejenak dia membaca berulang ulang kata itu. Dia masih tidak percaya dengan apa yang di tuliskan dilayar.


Rindu **** senyum, sambil menepuk bahu Baskara. Dia mengelus rambut Baskara, membuat anak itu langsung menyembunyikan wajah di paha Rindu.


"Gak papa, kita bisa coba lagi"


Suara Rindu menenangkan , sampai membuat Baskara masih menyembunyikan wajah di paha Rindu.


Rindu mengelus rambut Baskara penuh sayang, dia tahu Baskara akan kecewa setelah melihat hasilnya, apalagi dengan nilai tes serendah itu.


"Gue udah belajar mati matian sebulan ini Rin"


Suaranya masih tertutup oleh celana pendek Rindu.


"Kan masih ada satu lagi"


Meski dengan kecewa Baskara mengangkat wajahnya, dia menatap wajah Rindu yang masih tersenyum.


"Kalau gue gak lulus?"


Wajah Baskara benar benar terlihat kecewa, Rindu tidak tega melihat wajah lucu itu menampakkan kekecewaan.


"Kan belum dilihat hasilnya"


Baskara hampir menyerah, dia meletakkan kepalanya di paha Rindu, dengan keadaan duduk dibawah kaki sofa , Baskara menyembunyikan wajah di paha Rindu.


"Jalan jalan yuk"


Baskara mendongak dengan sisa wajah kecewanya, Rindu bangkit lalu mengambil mantel dan mengganti celana.


Dia juga mengambilkan mantel untuk Bakara.


"Kemana?" suara Baskara masih lemas.


"Emmmm ke jembatan matematika"


Baskara menaikan alis "emang ada?"


"Ada"


Mereka keluar apartemen meski cuacana masih terasa dingin.


Setelah sampai di jembatan Baskara hanya menilik nya dengan sekilas tanpa melihat lebih detail, dia justru merasa kedinginan di tengah salju ini


"Yah ketutup salju"


Rindu berjalan untuk berdiri ditengah tengah jembatan. Sambil merentangkan tangan dan menghirup udara, dia menatap Baskara yang enggan bergerak.


The Wooden Bridge yang terletak di Queen's College Cambridge ini merupakan jembatan yang menggunakan teknik dan prinsip matematika. Jembatan ini dibangun oleh James Essex dan dirancang oleh William Etheridge pada tahun 1749. Pembuatan jembatan ini bertujuan untuk menjadi penghubung antara satu bangunan di Queen's College Cambridge.



"Gue masih gak ngerti kenapa jembatan ini di sebut jembatan matematika? "


Dia berjalan mendekati Rindu sambil memasukan dua tangannya kedalam saku


"Jadi teknik pembuatan jembatan ini dengan penyusunan kayu yang menggambarkan garis singgung sebagai busur dan mengikatkan garis singgung kayu dengan bagian kayu lain , sehingga kayu ini menjadi kokoh, dan kuat. Teknik ini digunakan juga pada pembuatan jembatan dari batu."


Rindu menjelaskan dengan detail, meski begitu Baskara justru tidak paham. Dia masih kalut dalam kekecewaan nya, smapai dia menarik tangan Rindu untuk pergi dari kawasan sini.


Tujuan mereka selanjutnya adalah cafe bernuansa eropa dengan warna coklat yang berpadu putih. Di cafe mereka memesan dua coklat panas. Rindu meniup niup sambil mendekatkan uap panas dipipi.

__ADS_1


"Kalau gue gak keterima di Cambridge gimana?"


Baskara masih belum bisa untuk mengalihkan dari kegagalan dia masuk ke Havard.


"Kuliah itu gak harus di Amerika, kamu bisa di Indoneaia atau dinegara manapun"


"Tapi gue gak mau pisah sama elo"


Rindu mengelus punggung tangan Baskara, dia meniuo niup tangan itu tanpa menatap pemiliknya


"Baskara, kita masih bisa ketemu kan"


"Tapi gue gak bisa pisah sama elo Rin"


Baskara memainkan jari tangan dibibir gelas, dia masih belum menyentuh coklat panas yang sebentar lagi mendingin


"Terus kamu mau menunggu saya selama 4 tahun disini? "


"Ya Enggak"


"Saya pengen punya suami yang bertanggung jawab sama hidup saya" suara Rindu terdengar lirih sambil mengalihlan arah pandang untuk menembus kaca. Saat nya dia jujur akan keinginan tentang rumah tangga yang selama ini coba dia kubur demi memahami ego Baskara.


"Selama ini kamu terlalu bergantung sama saya, sampai saya gak punya tempat bersandar saat saya lelah"


Baskara menatap wajah serius Rindu


"Kamu terlalu banyak bermain main sama hidup mu Bas, kamu lupa kamu sudah menikah dan seharusnya kamu fokus sama masa depan kamu dan istri kamu"


Rindu **** senyum tulus, tidak ada niatan untuk melukai perasaan Baskara dalam kalimatnya, sebisa mungkin dia menyampaikan kalimat itu agar tidak menyinggung Baskara.


"Tapi sejauh ini kamu hanya memikirkan masa depan kamu sendiri"


Baskara menunduk, apa yang dikatakan Rindu memang benar. Dia belum pernah berfikir untuk mencari uang dengan usahanya sendiri, membawa tanggung jawab dalam urusan keluarg. Dia masih bergantung pada Arya.


"Gue belum dewasa ya?"


"Dewasa bukan tentang umur"


Rindu menarik sudut bibirnya untuk tersenyum, itu dia lakukan agar tidak menyakiti Baskara lebih jauh, dia takut Baskara tambah terlika dengan kalimatnya.


"Sebenatar lagi pengumuman, kita pulang yuk"


**


Sampai di apartemen Baskara langsung mengambil laptop untuk login ke websaite. Dia tidak pernah sesemangat ini dalam menunggu sesuatu apalagi menunggu hasil dari pendaftaran S2.


Mereka duduk di sofa sambil mengamati hasil pendaftaran. Berbeda dengan tadi, kali ini Baskara dan Rindu tidak perlu menunggu lama. Hasil sudah bisa dilihat, Baskara masih membaca tiap detail kata. Selesai membaca, dia langsung menutup laptop dengan kecewa. Dia benar benar kecewa.


"Semua orang gak sama, dia punya porsi sendiri sendiri di hidupnya, mungkin belajar bukan porsi kamu"


Baskara masih diam, dia tidak bisa menjawab apapun dari kalimat Rindu.


"Gue gak mau pulang ke Indonesia Rin"


"Bas, kalau kamu kuliah di Jakarta kan bisa sekalian belajar ngurus perusahaan"


Rindu mengelus punggung Baskara, dia tidak ingin melihat laki laki itu terluka sedikit pun.


"Gue gak mau pisah Rin"


"Hanya 4 tahun"


Baskara menyenderkan kepalanya di paha Rindu. Dia menghela nafas berkali kali, sambil memainkan celana Rindu.


"Rin"


Panggilan itu membuat mata Rindu teralihkan dari fokus menatap handpone.


"Kalau gue pergi, elo janji ya gak bakal kecantol sama bule bule"


"Yang ada itu kamu !!!"


Baskara mengangkat wajahnya, meski dia masih kecewa dengan hasil tes setidaknya kehadiran Rindu membuatnya terhibur.


"Gue gak playboy ya !"


"Mantan playboy maksudnya" ralat Rindu cepat.


Baskara mengambil handpone di atas meja. Dia mendial nomor Rama, Pandu, dan Alan.


Panggilan vidio itu langsung diangkat ketiganya selang beberapa detik.


Alan masih mengucek mata sambil membenarkan letak tidur, sedangkan Pandu dia terlihat menatap laptop dengan Kacamata bulat. Rama, lelaki itu berada di sebuah ruangan, dengan  wajah penuh chat.


"Woyyy"


Baskara menyapa mereka dengan mengangkat tangan,


Alan berdecih keras


"Si guguk, nelfon orang subuh subuh"

__ADS_1


Baskara tertawa karena dia lupa kalau di Indonesia masih jam lima pagi.


Sambil terkantup dan menguap Alan memaksa matanya terbuka


"Apa Bas?"


Pandu membenarkan letak kacamatanya yang miring


"Kangen ya lo nyet?"


Rama membersihkan cat dengan tisu basah.


"Weh lagi ngapain lo Ma?"


"Biasa, besok gue naga barang di toko"


Rama terlihat senang dengan toko barunya, niat membuka bisnis sudah dia gapai sekarang.


"Niat banget lo bikin usaha"


Pandu menimpali sambil melepas kacamata


"Iya lah, biar besok anak cucu gue bisa makan enak"


"Emangnya elo gak bisa makan enak?"


Baskara menatap satu persatu temannya, kalau Alan jangan ditanya kemana perginya , gambar miliknya sudah tertimpa kain. Itu artinya anak itu tertidur tanpa sadar.


"Enggak lah, gue kan punya temen yang kaya kaya"


Rama tertawa terbahak bahak, sampai membuat tawanya menular ke Pandu dan Baskara.


"Lo gak nanya gue lagi apa?"


Pandu yang merasa diacuhkan melambai lambaikan tangan ,supaya fokus kedua temannya teralihkan ke dia


"Lagi apa emang elo?"


"Gue mau alih profesi"


Pandu mengusap wajah berulang ulang


"Lah. Emang elo udah punya profesi?" celetuk Rama


"Ai bocah, kagak ngarti ngarti dah"


Pandu menggaruk rambutnya


"Maksudnya tuh, gue mau alih profesi dari S.E ke SH " tutur Pandu


Baskara dan Rama sontak memekik, dia setengah tidak percaya dengan penuturan Pandu.


"Serius lo nyet?" tanya Baskara memastikan kebenaran


"Lo gak lagi mabok kan Pan?" Rama ikut ikutan


"Gue beneran"


Dia nyengir


"Emang ada yang salah dari gelar elo?"


Rama yang merasa gelar S.E bukanlah gelar yang buruk dan justru suatu yang dia senangi, justru tidak disenangi Pandu adalah sesuatu yang aneh.


"Gue baru sadar sewatu balik dari Amrik, gue pengen jadi Jaksa"


Perkataan itu sontak membuat Baskara tertegun


"Lo yakin?" tanya Baskara memastikan


"Gue yakin, gue udah daftar buat alih profesi, setelah itu gue bakal ngelanjutin S2 jurusan Hukum"


Kalimat itu diucapkan penuh kemantapan oleh Pandu.


"Sayangnya Pan, lo udah 4 tahun sekolah, dan pindah jurusan gitu aja"


Rama sedikit tidak setuju dengan keputusan dadakan Pandu


"Awal nya gue juga mikir gitu, tapi makin kesini, gue makin yakin sama keputusan gue"


"Lo gimana? Keterimaa di Havard?"


Baskara terdiam mendengar pertanyaan Pandu. Dia menggeleng sambil memberikan ekspresi sedih.


"Ha ha ha ha"


Pandu tertawa terbahakk bahak diikuti Rama


"Turut berduka ya Bas" kata Rama sambil mengelus layar sehingga kameranya hanya menyorot telapak Rama


"Taik lo pada" umpat Baskara keras keras.

__ADS_1


__ADS_2