BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)

BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)
Chapter 44


__ADS_3

Dicintai dengan mendalam oleh seseorang memberimu kekuatan, dan mencintai seseorang dengan mendalam akan memberimu keberanian


☘☘


Rindu benar benar mendiami Baskara, yang dia lakukan hanya terbaring sambil bersembunyi dibalik selimut pernah sekali Baskara memaksa untuk membuka Selimut Rindu, tapi hasil nya sia sia, gadis itu selalu memejamkan mata.


Baskara pasrah dengan semua yang di berikan Rindu padanya. Sambil memijat pelipis Baskara melangkahkan kaki menuju kampus, ini adalah pertama kalinya dia menginjakan kaki dikampus setelah berbulan bulan dia mengurus Sisil. Baskara juga sudah janjian dengan Alan, Pandu dan Rama untuk nongkrong di kantin.


Skirpsi? Oh ayolah, kau lupa Baskara siapa, dia bisa melakukan apapun untuk wisuda tepat waktu di kampusnya sendiri. Melanggar aturan memang diperlukan sebab aturan dibuat untuk dilanggar. Kalau tidak ada kenapa repot repot peraturan itu dibuat.


Peraturan tidak selalu benar, contohnya memaksa siswa memakai jilbab yang sama selama lima hari berturut turut bukankah itu konyol.


Lupakan soal peraturan, Baskara duduk sambil menatap skripsi yang sudah di acc pak Dodit. Minggu depan sidang akan dilakukan.


"Ngelamun aja lo tong" Alan melempar kaleng soda kearah Baskara.


Dengan sigap dia menangkap kaleng itu, dibukanya kaleng itu dan diteguk dengan cepat.


"Gue bakal nemuin bokap Sisil sebelum sidang skripsi" kata Baksara


"Lo serius?" Rama yang duduk disebelahnya ikut menimpali.


"Bukannya bu Rindu baru aja keguguran,?" Rama mengecilkan volume suaranya


Baskara menjawab dengan anggukan, sepeti orang acuh pada berita yang di jelaskan Rama


"Bas. Family tau keluar sebelum 40 hari dari keguguran istri elo" kata Rama menceramahi.


"Kata Siapa lo?" Pandu ikut menyela


"Di adat gue kayak gitu, orang meninggal kalau belum 40 hari arwahnya masih ada disekitar kita"


Angin berhembus kencang memberi ritme mengerikan di antara mereka. Pandu mengusap lengannya berusaha menghilangkan kemerindingan yang menimpa.


"Cuman bentar, lagian gue ngelakuin ini juga buat Rindu. Setelah masalah Sisil selesai gue bakalan fokus ngurusin Rindu" kata Baskara


"Lo yakin?" Pandu menepuk bahu Baskara.


**


Rindu sudah memutuskan langkah mana yang akan dia ambil, dia akan menyerah pada semuanya mungkin inilah jalan yang terbaik yang harus dia lakukan.


Rindu sudah mengurus semuanya, saat ini dia berdiri diapartemen sambil menatap sekeliling. Memeriksa apakah ada perubahan selama dia tidak kembali disini, hanya ada satu yang berubah rasa hangat itu tidak dia temukan disinu.


Rindu mendial nomor Baskara di handponenya, setelah dua kali panggilan terhubung suara Baskara menyambutnya


"Halo" sapaan itu terdengar sedikit ragu. Mungkin untuk memastikan apakah sipenelfon benar benar Rindu atau bukan


"Temui saya di apartemen"


Panggilan langsung terputus begitu saja, cukup lama Rindu menatap walk in closet dimana semua barang barangnya ada disana.

__ADS_1



Sepatu miliknya dan Baskara yang terjejer rapi membuat air matanya menetes, dia tidak pernah berfikir akan sampai dititik ini. Titik yang sangat menakutkan untuk dirinya.


Sambil merapikan sepatu dia menangis sesegukan, berat rasanya keputusan ini harus dia ambil, apalagi perasaan itu masih terlanjur dalam untuk Baskara.


Panjang umur orang yang dibicarakan sudah mucul dibalik walk in closet. Dia sudah menjelajahi seluruh ruangan dan tidak menemukan Rindu sama sekali. Setelah mendengar suara kegaduhan di wlak in closet dia langsung menuju kesini


"Sedang apa?"


Baskara mendekat dengan seulas senyum yang cerah. Dia berfikir semuanya sudah baik baik saja.


Rindu berjalan keluar ruangan menuju dimana tas kecilnya tadi berada, dia mengeluarkan secarik kertas. Di sodorkan nya dengan perasaan terluka luar biasa.


"Saya minta cerai"


Deg


Baskara memaku, ucapan Rindu benar benar meruntuhkan dunianya, dia tidak percaya kenapa Rindu bisa mengucapkan kalimat se menakutkan itu.


Surat itu dia pandangi dengan teliti. Surat yang berisi tentang permintaan perceraian begitu mengoyak hatinya. Baskara menatap manik manik keyakinan mata Rindu. Tidak ada gestur ragu di dirinya, dia terlihat mantap.


"Gue gak mau"


Baskara mencengkram surat surat itu.


"Saya tidak peduli, kita bisa menikah tanpa persetujuan dari masing masing, kenapa untuk bercerai kita harus meminta persetujuan"


"Masalah ini bisa kita bicaran baik baik Rin"


"Masalah kita gak akan selesai dengan bicara baik baik, lagipula masalah kita sudah selesai dibicarakan"


"Tapi gak dengan cerai kayak gini"


"Untuk apa Bas kita mempertahankan rumah tangga yang gak kita inginkan sama sekali"


"Gue yang nginginin rumah tangga ini tetap utuh" Baskara menaikan kalimatnya


"Enggak, kamu yang gak pengen runah tangga kita utuh"


Rindu mengambil tasnya dan berlalu pergi, urusannya sudah selesai. Masalah barang barang miliknya lebih baik dia urus bersama orang tuanya.


Grep


Baskara memeluk Rindu dengan erat. Dia tidak ingin pisah, dia masih mencintai Rindu.


"Gue gak mau Rin. Gue gak mau"


Air mata itu lolos dari sudut mata Baskara. Dia tidak pernah membayangkan akan ada di posisi ini dengan perasaan yang remuk.


"Saya tidak butuh persetujuan kamu Bas"

__ADS_1


Rindy melepaskan cengkraman Baskara.


"Kita sudah tidak ada hal yang perlu diselesaikan lagi"


Rindu berlalu meninggalkan Baskara yang terjatuh di lantai. Hatinya benar benar remuk.


Sampai di koridor apartemen pun, tubuh Rindu terjatuh, dia sudah tidak mampu menegakkan tubuhnya. Tulang tulang kakinya terasa lemas.


Rindu merasakan seluruh tenaganya sudah hilang.


H


atinya seperti diremas remas, oksigen seperti dicuri, dia terkunci pada ruangan kosong yang memaksa nya untuk tinggal sendirian disana, tanpa udara, tanpa air dan tanpa cahaya.


Rindu menangis terisak isak, sungguh, ini hidup yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Dia tidak ingin berpisah dengan Baskara, tapi memaksakan anak itu tetap hidup dengannya, hanya akan membuat Baskara menderita.


Baskara lebih mencintai Sisil, itu kenyataan yang harus dia terima, selama apapun pernikahan mereka, hati Baskara tetap untuk Sisil, bukan untuk Rindu.


**


Rindu mendorong knop pintu rumah dengan sedikit tenaga. Tio dan Lina sudah duduk di meja makan. Wajah Lina tampak terkejut melihat mata bengkak Rindu serta wajah yang kusut.


Rindu langsung mengambil duduk didepan mamanya. Dia tidak ingin bercerita apa apa hanya ingin menangis.


Lina tahu bagaimana watak Rindu, anak itu tidak ingin dipaksa untuk bercerita jika bukan kemauannya. Sambil mengambil nasi yang diletakan dipiring Rindu, Lina melirik Tio sekilas.


Rindu memakan nasinya dengan rasa hambar. Dia tidak berselera , sambil air matanya terjatuh Rindu tetap melanjutkan makannya


"Saya bercerai"


Ucapan itu menjadi tamparan untuk Tio dan Lina. Mereka hanya terdiam menatap anak semata wayangnya yang sesegukan sambil memasukan nasi. Bahkan nasi itu hanya dikunyah dalam 4 kali kunyahan, langsung ditelan meski tidak selembut biasanya.


Lina mengambilkan sayur yang ada dimangkuk untuk di bawa ke piring Rindu.


"Makanlah" kata Lina.


Lina dan Tio tidak akan membahas masalah ini, mereka tahu hati Rindu pasti terluka memilih keputusan ini.


Selesai makan, Rindu langsung naik keatas dimana kamar nya berada, dia langsung menangis sambil sembunyi dibalik selimut. Sedangkan Lina dia memilih duduk di sofa tanpa memaksa Rindu bercerita, biarkan Rindu menangis malam ini, besok dia akan bertanya apa penyebabnya.


Terdengar ketukan dari pintu depan, Lina bangkit untuk membukkan pintu. Baskara berdiri dengan tampang kusut dan mata merah. Lina menghela nafas sambil menarik senyum


"Ma, Baskara ingin ketemu sama Rindu"


Baskara menunduk sambil menyembunyikan mata sembabnya.


"Lebih baik besok saja, malam ini biarkan Rindu sendiri"


Baskara masih menunduk sambil bahunya naik turun. Lina menepuk bahu Baskara


"Mama gak tahu ada masalah apa antara kalian, mama berharap kalian bisa nyelesaiin ini baik baik"

__ADS_1


Baskara masih menunduk sambil menangis "kamu pulang aja, besok baru bicarakan baik baik. Malam ini kalian saling renungkan kesalahan masing masing"


__ADS_2