
Mereka berhenti di cafe dekat apartemen, soalnya Baskara sedari tadi mengeluh lapar. Padahal di mobil dia masih sempet nyemil, gak tau perutnya itu terbuat dari apa.
Mereka memasuki cafe yang masih sepi pengunjung, setelah memilih pesanan ,Baskara permisi ketoilet katanya sih dia kebelet gak tahu kalau mau nelfon Sisil buat cari alasen dulu.
Makanan mereka sudah berada diatas meja tapi Baskara belum kembali dari toilet, jadi Rindu memilih menunggu kembalinya Baskara saja.
"Bu Rindu"
Suara itu membuat Rindu menoleh, hampir tejingkat tapi buru buru Rindu membuat wajahnya sebiasa mungkin.
"Hai" jawab Rindu kikuk, siapa sih yang gak sekikuk ini kalau ketemu teman dari suaminya. Iya, yang baru saja menyapa Rindu adalah Rama teman Baskara, dia kesini gak sendiri ada Pandu dan Alan yang juga tersenyum kearahnya
"Sama siapa bu?" tanya Alan sekedar basa basi ke dosen, siapa tahu kan Rindu jadi inget namanya dan ngasih nilai A
"Sendiri"
Ucapan Rindu seketika langsung menjadi boomerang buat dirinya sendiri
"Kok pesen makan nya dua porsi?"
"Uhukk" Rindu tidak sengaja terbatuk mendengar penuturan Pandu yang spontan
"Saya makannya banyak" kata Rindu menutupi rasa malu karena salah jawab pertanyaan.
"Ooh, selamat makan bu" kata mereka bertiga lalu memilih berjalan kearah cafe dekat jendela. Lumayan jauh tapi tetap akan ketahuan kalau Baskara duduk di hadapan nya.
Rindu membuka ponselnya lalu mendial nomor Baskara.
"Apa sih, gue lagi kencing nih"
"Jangan kesini, ada temen temen kamu"
"Ha, temen temen gue?" suara Baskara diujung seberang sangat keras mampu membuat Rindu menjauhkan telinganya dari ponsel
"Iya, carilah celah untuk kabur, saya tunggu dimobil"
Rindu menutup panggilannya cepat cepat, takut ketahuan dia mengangkat tangannya sedikit lebih rendah tapi cukup membuat Barista cafe mengetahui panggilannya.
"Ada yang bisa saya bantu mbak?"
"Saya minta, ini dibungkus ya sekalian billnya"
Setelah makananya dibungkus dan membayar tagihan, Rindu langsung pergi begitu saja tanpa memperdulikan Baskara, untungnya mobil mereka berada agak jauh dari cafe karena parkir dihalaman cafe sudah tidak cukup alahasil Baskara parkir cukup jauh, jadi tidak diketahui teman teman Baskara.
Kalau Baskara, sekarang dia justru berfikir keras bagaiamana cara dia kabur dari teman temannya, agak mencurigakan kalau tiba tiba dia lari gitu aja kan.
Mana pintu keluar toilet itu melewati meja mereka bertiga, huh Baskara meruntuki dirinya yang tidak membaca chat dari ketiga temannya. Padahal mereka meminta Baskara nongkrong di cafe ini.
"Aneh gak ya kalau gue bilang gue numpang ketoilet disini" gerutu Baskara pelan didalam toilet.
"Kalau gue gak nyapa mereka, mereka justru nambah curiga ke gue"
Persetan dengan idenya dia memilih berjalan santai tanpa memperdulikan teman temannya, kalau diantara mereka ada yang mengenali Baskara, tinggal disapa dan bilang dia beliin makanan buat papanya.
"Woy kodok korek" mata Pandu emang paling jeli kalau nyari orang, masih jauh dari meja mereka dia sudah memanggil sembari melambaikan tangannya.
"Wooyy ada kadal panggang disini" Baskara menutupi kegugupannya dengan nyengir kuda.
"Kita tunggu tungguin dari tadi, lo muncul dari wc, jin ya lo?" goda Rama
"Ngapain lo nungguin gue?" Baskara memasang tampang cengo, kayak orang yang gak tahu apa apa
"Busyet ni anak, kan kita udah kirim chating di grup" timpal Alan
"Sorry gue gak baca" Baskara celinguk kanan kiri mencari sosok Rindu.
"Lagian lo udah disini, gimana kalau kita karaoke" ide Pandu terceletus begitu saja tanpa didasari dari yang lainnya, semuanya mengangguk setuju tapi tidak dengan Baskara
__ADS_1
"Sorry sorry gue gak bisa" Baskara nyengir kuda "gue tadi nemenin bokap kesini, sekarang dia udah nunggu di mobil"
"Bokap lo seneng ke cafe sekarang, perasaan dia seneng makan di restoran"
"Uhuk uhuk" Baskara terbatuk batuk mendengar ucapan Pandu, ni anak kenapa sih pinternya kalau nyari kesalahan orang.
Merasa dejavu Pandu melirik ke arah meja Rindu
"Eh kita tadi ketemu bu Rindu, tapi dia udah pulang" kata Pandu sembari mengingat dimanakah dia mendengar ucapannya bisa membuat orang terbatuk batuk
"He he, apa iya?" Baskara nyengir kuda andalannya
"Eh gue harus buru buru nih, bokap nelfonin terus"
Tanpa mendengarkan ucapan teman temannya dia berlalu begitu saja meninggalkan temannya di cafe.
**
"Cilll, bantuin gue ngerjain tugasss"
Baskara memekik dari ruang tamu, padahal Rindu ada di dapur sedangkan dia di meja ruang tamu jaraknya itu gak jauh kita juga bisa ngeliat dapur dari ruang tamu
"Berenti kamu panggil saya Kecil" suara Rindu membuat Baskara setengah kicep
"Rinduuu bantuiin gue ngerjainnn tugasssss" dia kembali berteriak
"Baskara jangan teriak teriak"
Rindu menghentikan tangannya ketika memotong buah.
"Yaudah buruan, gue keburu ngantuk nih"
Udah minta tolong pakek teriak teriak sekarang nyuruh cepet cepet. Kudu kesabaran tingkat apa untuk menghadapi manusia macam Baskara ini?
Rindu berjalan sembari memberikan potongan buah yang dia minta tadi, sedari tadi Baskara bilang mau mengerjakan tugas tapi tidak ada satupun tugas yang dia sentuh.
"Tugas apa?" tanya Rindu sembari duduk disofa diatas Baskara yang memilih duduk lesehan
"Heh" Rindu memukul lengan Baskara pelan membuat siempunya justru terkekeh geli.
"Saya bantuin ngerjain tugas Pak Bandi dan Pak Dodit tapi tugas dari saya kamu kerjakan sendiri"
"Lo jahat bener sih"
"Sini tugasnya"
Baskara memberikan tugas dari Pak Bandi kepada Rindu, setelah membaca soal soalnya Rindu berjalan untuk mencari buku yang cocok untuk Baskara.
"Nah ini" Rindu menujuk poin dimana dia akan mulai menjelaskan "ini kamu pahami contoh soalnya setelah itu kamu masukan cara ini kedalam soal kamu, kalau gak bisa pakai cara pertama coba kamu pakai cara kedua"
Rindu menjelaskan dengan detail kepada Baskara membuat yang dijelaskan mengangguk
"Biasanya kalau keuangan dia gak pernah jauh jauh dari dua cara ini" jelas Rindu
Rindu mencomot buah yang sudah dia potong untuk dimasukan kedalam mulutnya. Matanya masih menatap Baskara yang masih menatap lekat sembari mengoret oret bukunya.
"Kayak gini gak?" tanyanya menyodorkan kertas oret oretan miliknya
Rindu memeriksa hasil dari pekerjaan Baskara.
"Nah ini bisa" kata Rindu sembari tersenyum kearah Baskara.

"Uhuk uhuk" Baskara tersedak potongan buah yang dia makan, sembari memukul dadanya dia langsung meminum air putih diatas meja hingga tandas.
"Lo jangan senyum kayak gitu kearah gue"
Seketika itu senyum Rindu pudar berganti wajah datar biasa biasa aja seolah tidak ada masalah apapun
"Nakutin tau gak!! " cela Baskara.
__ADS_1
"Udah kayak kuntilanak aja lo senyum ke gue kayak gitu"
Ya udah kali Bas kalau gak suka senyum Rindu gak usah pakek dibahas dari soal pertama sampai soal ketiga.
"Gila nih pak Bandi ngasih soal udah sama anak cucunya aja"
"Soal tiga bisa beranak coyy"
Baskara mengibaskan bukunya karena sudah selesai dengan mata kuliah manajemen keuangan. Ternyata mengerjakan pekerjaan miliknya sendiri itu memuaskan hasilnya.
"Rin" panggil Baskara
"Hmmm"
"Lo kenapa sih, selalu ngomong saya- kamu, bukan aku-kamu atau elo-gue?"
Rindu mengalihkan matanya dari buku tebal manajemen keuangan milik Baskara.
"Kamu kerjain dulu tugas pak Dodit, tugas saya juga belum kan? "
"Yaelah lo ngingetin aja sama beban hidup gue" gerutu Baskara meraih buku paket tebal akutansi biaya diatas meja
"Gak usah cemberut, namanya juga kuliah, kan tujuannya pengen belajar, kalau mau belajar ya dikasih tugas kan"
"Tapi gak tiap hari juga, mahasiswa juga butuh liburan" kilah Baskara sembari membalik halaman buku dengan asal. Tangan Rindu menahan lembar buku agar tidak dibalik oleh Baskara lebih jauh
"Ini kayaknya tugas pak Dodit, saya tadi baca sekilas kayaknya tentang ini deh"
"Tukeran otak yuk, gue pengen pinter sehari aja"
Sambil merengek Baskara menidurkan kepalanya di sofa samping Rindu, membuat gadis itu terkekeh.
"Udah dikerjain dulu, nanti baru males malesannya"
"Tugas elo gak usah ya"
"Kerjain, emangnya kamu mau dapet nilai C"
"Yaelah Rin, kan gue yang punya universitas, masak lo tega sih sama anak pemilik yayasan" Baskara masih berusaha membujuk Rindu agar membatalkan tugas tugasnya
"Saya malah menantu pemilik yayasan, gimana dong?"
Nih kalau orang dari lahir udah nyebelin jadinya kayak Rindu, udah orang pusing karna tugas kuliah gak kelar kelar eh dia malah nambah tugas yang semakin membuat Baskara pusing.
"Lo mau bantuin kan ngerjain tugas elo?"
"Saya bantuin tugas dari dosen lain ,kalau tugas saya, saya akan minjami buku refrensi buat membantu kamu"
Rindu memilih bangkit untuk menuju perpustakaan.
"Dasar kecil, boncel, triplek datar, kanebo kering, kulkas berjalan. Ini namamya elo nyiksa suami eloooo"
Suara Baskara menggema diseisi apartemen.
Mungkin kalimat julukan itu sering diberikan Baskara pada Rindu jadi Rindu tampak santai saja sambil membawa 4 tumpukan buku tebal yang lebih cocok untuk bantal tidur.
"Nih, itu semua ada"
Rindu hendak berjalan menuju perpustakaan untuk tidur
"Kerjain, besok bakal ada kuis dadakan"
"Ha, kuis, lo gak niat ngasih kisi kisi buat suami lo sebagai wujud pengabdian kepada suami sebagai istri"
"Maaf saya tidak berminat"
Mendengar jawaban Rindu, Baskara mendegus kecewa. Memang susah sih kalau negosiasi sama dosen model Rindu
__ADS_1