BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)

BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)
Chapter 61


__ADS_3

Suara detingan jam mengisi ruang tamu, memberi tanda bahwa ruangan itu tengah sepi. Mata sang pemilik terasa malas untuk menatap sekeliling, dia hanya meletakkan kepala di sofa sambil menyender, malam sepi seperti ini terasa menyekatnya. Apalagi diluar tengah hujan, rintik hujan itu menampar jendela sehingga membuat tirai sedikit tergeser karena celah jendela yang tidak di tutup rapat.


Baskara hanya menatapnya tanpa berniat menutup dengan benar, hujan itu turun lebih deras seperti perasaan yang tengah gundah.


Air air dari hujan sedikit masuk melalui celah, mengotori lantai putih sehingga bewarna sedikit coklat.


Baskara hanya menatapnya tanpa berniat bergerak sedikitpun. Perut keroncongan, dan fikiran prustasi semakin membuat ingin mati. Malam malam begini kalau mau nyari makan dimana? Diluar hujan deras, Alan dan Pandu masih di club.


Persediaan di kulkas sudah habis sejak dua minggu lalu.


Kalau ada sesuatu yang bisa menemani, sepertinya malam seperti ini tidak akan membuatnya merasa sepi.


Diluar, suara petir berkilatan menyambar. Karena jendela sedikit terbuka suara itu sedikit jelas terdengar. Baskara malas malas bergerak menutup jendela.


Glep


Lampu apartemen padam. Baskara tertegun, demi apapun yang ada dibumi, Baskara takut dengan kegelapan. Dia tidak mampu bergerak kemanapun, tidak ada cahaya sedikitpun disini.


Rasanya Baskara berkeringat, suara suara semakin jelas terdengar, suara jam, nyanyian cicak di dinding atau apapun yang bersuara.


Penambahan ketakutan terbaik saat petir bergemuruh diluar. Baskara menelan baik baik salivanya, yang perlu dia lakukan adalah mencari pencahayaan. Tapi dimana handponenya?


Dia membuang asal saat sampai di apartemen.


Sambil meraba benda benda sekitar untuk membawanya ke sofa.


Dia dikejutkan dengan sesuatu yang lumer.


Baskara memekik, apa itu ? Itu seperti benda bergerak.


"Cit cit"


Baskara terdiam, tidak mungkinkan itu tadi tangan orang?


Rasanya begitu menakutkan malam seperti ini, sambil hati hati dia meneruskan langkahnya.


"Cit cit"


Suara itu kembali terdengar lagi, kali ini seperti merayap dikakinya. Dengan gemetar dia merapalkan kalimat kalimat aneh


"Tiga kali empat, tiga kali dua, tiga kali tiga, jangan ganggu gue. Gue gak ganggu elo"


Kenapa hitung hitungan Bas? Memangnya kamu ujian matematikan.


Itu sebuah kebiasaan Baskara kalau sedang ketakutan. Jangan heran, lelaki itu memang selalu ajaib.


Ada cahaya di bawah meja, itu handponenya, dengan langkah seribu Baskara mencoba mendekati handpone.


Dukk


Kakinya menendang sesuatu, sangat terasa sampai rasanya ubun ubun Baskara akan lepas. Dia merintih kesakitan sampai terjatuh


"Siapa sih yang narok kursi di sini"


Makinya


Cahaya itu meredup, sial, dengan berjongkok Baskara meneruskan langkahnya.


Dia meraba raba sekitar bawah meja, beda pipih itu ditemukan dalam keadaan dingin.


Dia membuka tombol kunci, menghidupkan senter sambil terus merapalkan perkalian.

__ADS_1


Duarrr


Suara petir langsung menyentaknya hingga jatuh ke lantai. Kalau ditanya, didunia ini apa yang ditakutinya, kehilangan Rindu dan berada di situasi seperti ini.


Duarrr


"Satu kali satu, dua kali dua, tiga kali tiga tolong gueee Tuhannn"


Dia memekik sambil memejamkan mata.


Baskara butuh bantuan, setidaknya sampai listrik menyala. Dia mendial nomor Rindu. Entah hanya gadis itu yang ada di otaknya


Panggilan pertama langsung diangkat Rindu dengan cepat.


"Rindu Rindu tolong gueeee"


Teriakan Baskara membuat Rindu menyahut lebih cepat


"Ada apa? Ngomong yang jelas"


"Gue takuuuttttt"


Sungguh Baskara tidak enyah dari posisinya, dia masih terpaku di bawah meja sambil berjongkok.


Kaki dingin serta tangan dingin semakin membuat ketakutannya bertambah


"Kenapa? Ada apa?"


Rindu ikutan khawatir mendengar deru nafas Baskara yang tidak beraturan


"Mati lampuuuu"


"Ada lilin di samping kulkas"


Suara Rindu lirih dan lembut, meski begitu, Baskara tetap memejamkan mata sambil berjongkok. Kakinya kesemutan serta ketakutan yang justru semakin menjadi.


"Gue gak berani, ada bunyi cit cit tadi"


Isakan Baskara semakin melemah, dia menyeka air mata meski sambil terpejam


"Gak ada apa apa" Rindu mencoba menenangkan Baskara dengan kalimatnya


"Gak ada apa apa gimana sih, ada bunyi cit cit tadi"


Baskara menaikan suaranya, dia tu gak bisa diginiin. Lagian kenapa apartemen mahal kayak gini bisa ada acara mati lampu segala sih.


"Cuma tikus" Rindu masih mencoba meredamkan ketakutan Baskara.


"Mana ada tikus di apartemen"


"Kamu kan jorok, jadi banyak tikus"


Emang bisa ya tikut masuk ke apartemen. Bodo, Baskara tidak mau memikirkan dari mana datangnya tikus. Pokoknya dia butuh cahaya. Dia paling takut sama kegelapan.


"Gue takuuuttt" rengeknya


"Dengarkan saya Baskara" suara Rindu menenangkan masih dengan wibawa yang baik.


"Sekarang kamu pergi ke lemari samping kulkas, disitu ada lilin yang saya siapkan buat kanu"


Sedikit demi sedikit Baskara menyalakan senter handpone, sambil berjongkok, dia berjalan menuju lemari kecil samping mesin pendingin. Dia membuka lemari itu, dan benar ada banyak lilin yang masih rapi terbungkus.

__ADS_1


Baskara menyalan lilin nya sambil membawa dengan pelan kearah meja.


Glepp


Sial nya lampu apartemen menyala, dia mengumpat keras keras dengan petugas apartemen.


"Bangsat, giliran gue nemu lilin, lampunya nyala"


Baskara meniup lilin lalu berjalan dan pergi menyusuri anak tangga. Pangggilan itu masih terambung, bahkan Baskara harus membuat Rindu menunggu.


"Mbak kok bisa mati lampu sih?"


Setelah menemukan petugas apartemen, Baskara langsung menyemprotkan kekesalan tanpa ampun


"Maaf mas, ada kesalahan tadi"


"Gue udah bayar mahal mahal ya, gue gak suka mati lampu" bentak Baskara


Percuma juga Baskara mengeluarkan kekesalannya pada mbak mbak yang gak tahu gimana tersiksanya Baskara dirungan tadi.


Memilih pergi saja ketimbang memperpanjang masalah, Baskara mendekatkan handpone di telinga.


"Rin" panggilan itu masih bernada merengek.


"Apa?"


Suara gaduh didalam telfon membuat Baskara mengernyit, sekarang jam berapa sih? . Sangking takutnya dia sampai gak sadar.


Melirik pergelangan tangan, dia dibuat terkejut, masih pukul sebelas malam, itu berarti pukul dua belas disana.


"Kamu lagi makan?"


Biasanya jam dua belas Rindu akan pergi kekantin untuk makan. Dan saat itu palingan dia hanya mengirim pesan pada Baskara.


"Waktu makan sudah selesai, ini saya mau ke lab"


"Elo udah makan?"


"Belum"


Ucapan Rindu membuat Baskara diselimuti rasa bersalah.


"Gara gara gue ya? "


Suara tawa renyah Rindu justru membuat Baskara tambah bersalah.


"Enggak, saya takut kamu kenapa napa tadi"


Baskara pernah berkata pada Rindu, sebesar apapun masalahnya mereka boleh bertengkar tapi harus kembali lagi pada satu sama lain. Sepertinya kalimat itu benar benar terjadi, beberapa jam tadi mereka adu mulut, sekarang hanya karena listri padam dan hujan, pertengkaran itu usai dengan cara manis.


"Lucu ya" Baskara mengakhiri dengan tawa


"Apa yang lucu?"


"Elo sama gue cepet baner baikannya"


Kalimat Baskara disambut dengan tawa, entahlah akhir akhir ini Rindu banyak tertawa oleh kalimat kalimat sederhana dari Baskara.


Akhirnya part yang aku senengi bisa di up juga


Ini menerutku karakter Baskara keliatan banget manjanya

__ADS_1


__ADS_2