BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)

BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)
Chapter 13


__ADS_3

Batu yang keras masih bisa terkikis oleh air


Dia yang hanya keras kepala juga akan terkikis oleh Rindu



☘☘



Meski mereka duduk berhadap hadapan sejak menit ke sepuluh tapi keduanya masih setia membisu, Rindu dengan kesibukan nya dan Baskara dengan game nya. Tidak ada yang membuka suara seolah mereka tengah setia menanti diantara mereka yang akan membuka suara lebih dulu.



Baskara menguap lebar, lalu memposisikan kepalanya untuk bersandar di meja. Matanya sempat terpejam tidak lama setelah Rindu menyentuh rambutnya, bukan, jangan berfikir Rindu mengelus puncak kepala Baskara, tapi gadis itu menyentuh menggunakan bolpoinnya.



"Bangun, nanti ada yang ngeliat" kata Rindu membuat Baskara mengangkat wajahnya



"Gue ngantuk, semalam tidur jam 3 pagi" Baskara mendesah lalu kembali memainkan ponselnya.



"Baskara, kamu bisa gak sih gak usah bikin onar dikelas?"



Itu bukan pertanyaan tapi sebuah perintah yang di bungkus dalam pertanyaan. Baskara memutar matanya malas, lalu menggebrak meja dengan pelan



"Gak bisa" jawabnya sarkatistik "gue gak bisa diem, diem itu jadi penyakit buat gue"



"Maksud kamu dengan memotret mahasiswa lain?"



"Itu kan bukan kerjaan gue, itu kerjaan Alan sama Rama yang emang mesum" jawab Baskara penuh kejujuran, Rindu mencoba menilik manik manik matanya tapi hasilnya lelaki itu memang berkata jujur.



"Setelah pulang, kita kerumah papa, kamu udah lama gak kesana"



Bunyi kursi bergeser membuat Rindu mengalihkan pandangan menuju Baskara yang bersiap pergi.



"Lo aja, gue males" jawabnya hendak berlalu



"Baskara" Rindu melepaskan kaca matanya lalu menatap Baskara yang juga menoleh menunggunya menyelesaikan kalimat.



"Saya tahu kamu kecewa sama papa kamu, tapi gak begini" nasihat Rindu



"Lo kalau mau bahas masalah keluarga mending dirumah aja deh, gue lagi males"



Brakkk



Ponsel yang berada disakunya dilempar tepat diatas meja, Baskara menyunggingkan senyum



"Gue males ketemu papa gue, kalau lo mau kesana silahkan" Baskara hendak pergi tapi saat tangannya menggantung di knop dia melanjutkan kalimatnya "ponsel gue ,lo aja yang pegang. Nanti anak anak makin curiga sama kita"



Dia berlalu begitu saja meninggalkan Rindu yang menatap handpone Baskara dengan bingung.



**



Meski tanpa Baskara, Rindu tetap menemui Arya setelah menyelesaikan pekerjaan nya dikampus, padahal jadwal pembukaan olahraga akan segera dilakukan tapi dia harus sering sering menemui Arya.



Pukul 4 sore Arya sudah pulang sembari berleha dibelakang kolam. Matanya selalu terfokus pada pusat kolam, seperti tengah merenung menatap kumpulan air yang berliuk liuk.



"Pa" panggil Rindu dari belakang. Lelaki itu cepat menoleh untuk tersenyum ke arah Rindu dengan lebar.



"Papa gak dingin duduk diluar?" tanya Rindu sembari memberikan kopi hangat padanya



"Kamu sudah dari tadi?" tanya Arya pada Rindu.



"Lumayan, Rindu udah masak buat papa"



Rindu hendak pergi tapi suara berat Arya membuatnya menghentikan langkah.



"Baskara kemana?"



Meski pertanyaan itu terdengar sederhana tapi buat orang yang bertanya, kalimat itu lebih besar dari ungkapan cinta sekalipun. Rindu ******** senyum lebih tulus dari yang pernah dia berikan pada siapapun.



"Dia lagi banyak tugas diluar" dusta Rindu.



Entah kesekian kali keberapa dia berdusta seperti itu pada Arya. Tapi melihat Arya yang selalu murung selepas mendengar jawabannya membuat jantung Rindu hampir mencelus.



"Dia selalu sibuk sampai tidak pernah menyempatkan untuk menjenguk Papanya" suara Arya melemah sembari melangkah menuju meja makan.



"Dia udah banyak berubah pa, sekarang rajin masuk kelas, ngerjain tugas, beresin rumah" dustanya Lagi.

__ADS_1



"Ha ha benarkah" wajah Arya lebih cerah dibandingkan tadi. Kini sembari memasukan nasi kedalam mulutnya dia menatap Rindu untuk memintanya menceritakan tentang Baskara.



"Emm, dia sekarang aktif diorganisasi"



"Dia masih suka menghindari acara organisasi"



"Dia sering bantuin Rindu nyetrika baju, masak, nyuci piring, beresin rumah"



Kenyataannya dia sering marah marah kalau bajunya gak disetrika, selalu merengek minta dimasakin, selalu mengotori piring, mengotori rumah



"Dia baik sama kamu?" tanya Arya dengan wajah lebih antusias dari biasanya



"Baik, dia baik sama Rindu"



Tidak, dia tidak baik dengan Rindu



"Kalian sudah saling mencintai?"



Pertanyaan Arya membuat Rindu menghentikan makannya, dia menatap butiran nasi diatas piring. Entahlah seperti apa cinta itu, yang di rasakan Rindu adalah dia merasa terluka saat Baskara mengacuhkannya, berkata kasar, selalu pulang larut malam, dan selalu mendahulukan Sisil dibandingkan dirinya.



Dia hanya ingin, sebatas ingin. Dia ingin lelaki itu duduk dirumah, membantunya menyelesaikan pekerjaan rumah, mengelusnya ketika dia mau tidur dan selalu memperioritaskan dia.



Apa itu cinta? Kalau bukan seperti apa cinta? Apa seperti perlakuan Baskara ke Sisil atau sebaliknya.



Melihat menantunya terdiam Arya mengangguk paham tidak secepat itu menumbuhkan cinta dipernikahan hasil perjodohan, semua butuh proses.



"Tidak apa apa, semua butuh proseskan , papa yakin Baskara akan mencintaimu dan sebaliknya kamu juga akan mencintainya"



Rindu melempar senyum ke arahnya meski dengan rasa tercekat luar biasa



"Papa dengan ibu dulu seperti itu, kami tidak kenal, tapi cinta yang memperkenalkan kami. Rindu hanya perlu sabar mengahadapi Baskara. Batu saja bisa cair oleh air, masa Baskara yang manusia gak bisa cair sama Rindu"



Ucapan Arya membuat semangat Rindu kembali naik level, dia memiliki semangat kembali untuk membuat suaminya jatuh cinta padanya meski itu 0,01% kemungkinan.



**




"Bas, mending lo udahan deh minumnya. Lo udah habis banyak"


Bukan menurut ucapan Alan, Baskara justru menuangkan bir keedalam gelasnya lalu meneguk hingga tandas.



"Lo ada masalah apa sih Bas?" tanya Rama yang mulai jenuh melihat sahabatnya hanya diam sembari meminum habis semua bir.



"Lo ada masalah sama bu Rindu?" tanya Rama "atau karna HP lo yang di sita bu Rindu?" terkanya lagi



"Bas lo kan bisa beli lagi HP, gak usah pakek mabuk segala" bujuk Pandu kepada sahabatya yang justru menuang kembali bir ke dalam gelas.



Baskara menyunggingkan senyum, sembari bangkit dengan sempoyongan yang akhirnya tumbang, Baskara masih tertawa tak jelas.



"Lo mau tahu rahasia besar gak?" ucap Baskara dengan nada suara yang terdengar ngelantur dan tidak jelas. Aksennya justru terdegar aneh.



"Gue udah nikah" katanya tanpa bisa berdiri tegak, bahkan tubuhnya dibopong oleh Alan dan Rama.



"Gue nikah sama Rindu" Baskara memainkan jari telunjuknya kearah muka Pandu.



"Iya iya terserah elo deh" kata Pandu merogoh saku celana Baskara untuk mecari kartu kredit



"Gue nikah sama dia, tapi dia gue siksa"


Baskara tertawa nyaring ditelinga teman temannya.



"Busyet dah ini anak, berdiri tegak gak becus ngomongin nikah" timpal Rama yang susah payah membopong tubuh Baskara.



"Lo harus percaya sama gue kalau gue udah nikah sama si triplek datar"



"Yaelah ni anak, HP kesita langsung ngimpi nikahin dosen" cela Alan sembari menyeret tubuh Baskara keluar club.



**



Lima belas menit yang lalu Alan , Pandu dan Rama mengantarkan Baskara menuju apartemen, karena cowok itu sejak didalam mobil selalu berkata mau pulung ke apartemen dan menolak diantar pulang kerumah papanya.


__ADS_1


Baskara keluar dari dalam mobilnya dengan sempoyongan, dia menolak untuk dibantu teman temannya.



"Lo semua mending pulang deh, gue gak mau lo ketemu istri gue"


Rancau Baskara tidak jelas



"Mau istri lo kek pembantu lo kek gue gak peduli" kata Alan hendak mendekat kearah Baskara.



"Stooopp, jangan mendekat, sampai sini aja. Gue bisa masuk sendiri"



Alan hanya bisa mendegus pasrah, lercuma dia membujuk Baskara yang keras kepalanya ngelebihi semen 3 roda.


Mereka hanya mematung sembari melihat punggung sahabatnya menghilang dibalik lobi apartemen.



Sampai didepan pintu Basakara langsung masuk dengan jalan sempoyongan.



"Rinduuu Rinduuu"


Baskara memanggil Rindu saat dirinya masih berada dipintu apartemen, dia melepas sepatunya asal.



"Rinduuuu gue hauuusss" kata Baskara duduk di pinggir sofa. Dia mengacak rambutnya kasar



"Rinduuu, lo kemana sih"



Pintu ruangan perpustakaan terbuka menampakan gadis cantik dengan kaos pink. Rindu mendekati Baskara dengan mendeguskan hidungnya untuk mencium aroma Baskara





"Kamu mabuk?" tanya Rindu menatap Baskara yang juga menatapnya dengan tatapan tidak jelas.



"Ambilin gue minum, gue haus" katanya sembari membaringkan tubuhnya disofa sedangkan kakinya masih menjalar dibawah



Rindu memilih menuruti Baskara untuk mengambilkan dia segelas air putih. Saat melihat gelas penuh air putih Baskara langsung meraih gelas itu seperti orang yang tidak minum selama seminggu.



"Kamu mabuk?" tanya Rindu yang sedari tadi belum mendapatkan jawaban.


Mata Baskara memejam, tapi bukan Rindu namanya jika dia tidak berhasil mendapatkan jawaban dari Baskara



Rindu duduk jongkok didepan Baskara sembari mencium aroma lelaki itu.



"Kenapa kamu mabuk?" tanya Rindu lagi, Baskara membuka matanya, saat dia membuka matanya dia langsung menatap wajah Rindu yang tengah meneliti wajahnya.



Baskara bangkit lalu menangkup wajah Rindu tiba tiba membuat Rindu tidak sempat mengelak.



"Muka lo kecil banget"



Kayaknya ni orang kalau gak nyela gak bahagia deh



"Hidung lo kecil"



Cupp



Sebuah ciuman mendarat di hidung Rindu membuat siempunya terdiam memaku.



"Mata lo kecil"



Cupp



Rindu masih menegang tanpa bisa bereaksi apa apa.



"Pipi lo kayak bola pingpong"



Cup



Ya Tuhan apa yang di lakukan Baskara pada Rindu, dan kenapa Rindu hanya diam memaku tanpa melakukan apapun



"Bibir lo" Baskara menghentikan kalimatnya sembari mengelus bibir Rindu dengan ibu jari miliknya



"Gue suka bibir lo"


Baskara hendak mendekatkan bibirnya ke bibir Rindu tapi gadis itu langsung berdiri begitu saja.



"Saya tidak mau melakukannya saat kamu mabuk"



Kata Rindu langsung lari kearah perputakaan

__ADS_1




__ADS_2