
Selesai kegiatan di jogja tujuan mereka adalah Bali, mereka sampai di Bali sekitar pukul 3 pagi, jadi mereka langsung menuju kamar dan beristirahat. Malam ini Baskara juga sama dengan malam malam kemarin dia tidur bersama Rindu meski tidak satu ranjang, tapi Baskara lebih sering tidur di kamar dosennya ketimbang bersama Pandu.
"Kamu mau tetep tidur disini?" Tanya Rindu pada Baskara.
"Nanti kalau ada hantu siapa yang mau ngusir" rancau Baskara sembari membenarkan letak tidurnya.
"Gak bakal ada hantu disini"
"Lo gak tau, kalau disini itu banyak banget leak. Mereka itu suka sama cowok ganteng kayak gue"
Baskara menarik selimutnya sedada, sebari menambahkan bantal dengan tangannya dia menatap langit langit kamar yang bewarna putih.
Tok tok tok
Suara ketukan membuat keduanya saling pandang, tidak. Mereka tidak mungkin ketahuan dalam keadaan seperti ini kan.
Rindu memilih keluar untuk melihat siapa orang yang mengetuk pintunya. Ternyata Wirawan dan Dodit. Mereka tersenyum setelah melihat Rindu keluar dari kamar.
"Ada apa ya?" tanyanya langsung ke inti
"Gini bu, ada mahasiswa saya baru menyusul karena dia harus ikut praktek persalinan kemarin" Wirawan mulai bercerita "kebetulan dia tidak kebagian kamar. Bisa ibu tidur berdua dengan dia?" tanya Wirawan lagi
Rindu sempat berfikir, kalau dia tidak mengijinkan akan menaruh curiga pada banyak orang, tapi bagaimana degan Baskara. Anak itu sudah mulai lelap dalam tidurnya.
"Emm bisa, tapi saya bereskan kamar saya dulu" ujarnya.
"Anaknya saya suruh naik kesini" kata Wirawan dengan snyum tulus.
Mereka langsung pergi begitu mendapatkan jawaban Rindu. Saat pintu dibuka Baskara sedang berada didekat pintu, entah apa yang dia lakukan.
"Kamu tidur dikamar kamu sana"kata Rindu
"Kenapa? Elo ngusir suami elo"
"Bukan, bukan gitu" Rindu kesulitan menjelaskan saat Baskara sudah bersiap membuka suara.
"Dengerkan saya dulu" potong Rindu sata Baskara bersiap membalas ucapannya "ada mahasiswa yang bakalan tidur sama saya"
"Siapa?"
"Saya gak tau, udah sana keluar" sambil mendorong bahu Baskara keluar Rindu membuka knop pintu.
Sayangnya pergerakan mereka berhenti saat menatap gadis cantik tengah memandang mereka. Matanya berkaca kaca membuat Rindu menurunkan tangannya dari bahu Baskara.
"Kalian tidur satu kamar?" Suara itu terdengar teecekat. Air matanya sudah lolos, sungguh kalau orang paling jahat didunia ini nenurutku adalah Baskara.
Lelaki itu masih berdiri tegap seolah tidak memiliki rasa bersalah sedikitpun, iya. Dia tidak setakut dulu, dia tidak seterluka dulu saat memilih berpisah dengan wanita ini.
"Bas jawab aku" Sisil menaikan kalimatnya satu oktaf, cukup membuat Rindu menatap mereka bergantian.
"Iya"
Itu kalimat yang mampu meruntuhkan dunia Sisil. Lelaki ini bertampang biasa saja tanpa rasa bersalah, dia hendak berlalu meninggalkan Baskara.
Greppp
Sisil memeluk Baskara dari belakang. Pelukan yang tidak sama seperti dulu, pelukan yang hanya dirasakan hangat oleh Sisil.
Rindu mematung dia tidak bisa mengatakan apapun, dia juga tidak mampu untuk marah. Siapa Rindu? , dia hanya orang yang berhak atas Baskara diatas surat bukan atas hati. Rindu memilih masuk kedalam kamar tanpa menatap keduanya.
**
Pagi ini acara mereka mengunjungi pusat prasejarah di Bali. Rindu berjalan berisisihan diantara mahasiswanya. Dia melihat Baskara dan Sisil yang berjalan bersisihan. Mungkin mereka sudah baikan semalam, iyalah sudah dipeluk begitu bagaimana mereka tidak balikan.
__ADS_1
Rindu tidak ingin menatap mereka, sungguh menatap punggung Baskara yang berjalan gagah beriringan dengan Sisil yang tinggi semampai membuat jantungnya berdenyit nyeri. Rindu menunduk, hampir tidak sadar saat matanya sudah berkaca kaca.
Alan, Rama dan Pandu yang berjalan dibelakang Rindu juga tahu. Tahu bahwa Rindu akan menangis. Tapi mereka tidak berhak atas hubungan keduanya meski di posisi ini Baskara orang paling jahat tapi Rindu bisa dikategorikan jahat karena dia yang memberi jarak keduanya. Dia yang membatasi diri antara dia dan Baskara.
Sampai di Mandala suci Wenara Wana Rindu berdecak takjub.
Mandala Suci Wenara Wana atau disebut juga Monkey Forest Ubud merupakan sebuah tempat cagar alam dan kompleks candi yang terletak di desa Padang tegal Ubud, Bali. Di tempat ini mempunyai kurang lebih 749 ekor monyet ekor panjang.
Diam diam Baskara menatap Rindu yang masih menganga karena takjub, ada desiran aneh yang menjalar ditubuhnya. Tanpa sadar Baskara menarik senyumnya. Dia senang melihat Rindu mengembangkan senyum yang tipis seperti itu.

"Bu Rindu suka monyet?"
Suara itu tiba tiba menyentak Rindu, dia langsung memudarkan senyumnya ketika melihat Wirawan. Bukan karena wajah Wirawan tapi lebih karena tatapannya langsung bertemu antara Baskara dan dia. Rindu hanya menanggapi dengan anggukan dia tidak berselera bercerita lebih jauh.
"Mau kesana"
Wirawan mengajak Rindu untuk menuju ketengah jembatan. Melihat alir yang mengalir dengan daun daun menghijau membuat Rindu merasa dimanjakan.
Rasanya sudah lama Rindu melupakan liburan kala dia sibuk bekerja. Tidak banyak orang disana karena mahasiswanya sibuk berfoto ria. Rindu menatap aliran air yang terlihat segar.
"Kamu suka " Ucapan Wirawan menggantung saat melihat bibir Rindu terangkat. Diam diam dia mengeluarkan kamera dan memotret Rindu.
Rambut Rindu bergoyang goyang saat angin behembus semilir. Udara segar dengan pemandangan hijau seperti ini membuat semua orang merasa nyaman. Wirawan menggerakkan tangannya untuk merapikan rambut Rindu.
"Monyet monyettttt" suara Baskara tiba tiba nyaring terdengar dibelakang Rindu dan Wirawan. Keduanya kompak menoleh.
"Lo kenapa sih Bas teriak teriak gak jelas?" Protes Alan yang berada dibelakangnya.
Rindu menatap mereka berempat bergantian, entahlah namun yang jelas tidak ada Sisil diantara mereka.
Ada Alan, Pandu dan Rama juga mungkin salah satu strategi agar tidak ketahuan oleh mahasiswa yang lain.
"Kenapa lo gak masuk?" Tanya Baskara langsung ke inti.
Rindu hanya meletakkan dagunya diatas meja. Dia malas menjawab pertanyaan Baskara barusan.
"Congek, lo budeg"
Ucapan Baskara membuat teman temannya menggeleng.
"Jangan gitu Bas. Nanya nya kayak gini. Dedek Rindu kenapa gak masuk"
Ujar Rama membenarkan ucapan Baskara.
Rindu menggeser kursi nya untuk melangkah mengambil makanan di meja prasmanan yang sudah di siapkan oleh pihak hotel. Rindu acuh dengan Baskara yang menatapnya. Dia berjalan untuk mencari meja. Saat dia menemukan meja yang cocok, Baskara memindahkan piring ke tangannya. Tanpa rasa bersalah dia berjalan mendahului Rindu
"Lo ambil lagi ini buat gue" katanya tanpa menoleh kearah Rindu.
**
Rindu keluar dengan mengenakan kaos krop warna hitam dan celana diatas lutut yang sangat mini. Dia turun dari hotel dan menuju pantai kuta saat semua mahasiswa dan dosennya sudah lebih dulu kesana. Rindu berjalan santai sembari memegang handpone. Dia tidak berselera sungguh untuk pergi menyelesaikan study tour.

Mata Rindu sempat bertemu dengan Baskara dan yang lainnya. Belum sampai kawasan pantai, Baskara berjalan dengan cepat kearah Rindu.
Dia menarik tangan Rindu dengan erat.
"Ada apa Bas" Rindu mencoba melepaskan tangannya, sayangnya usahanya gagal.
Dibibir jalan mereka bertemu dengan Sisil dan dua temannya, tapi Baskara memilih acuh dan tetap membawa Rindu menjauh.
"Aww Baskara kaki saya sakit" rengek Rindu saat mereka berjalan kearah selatan. Tidak menuju hotel tapi menuju kearah selatan.
"Lo kenapa makek baju kayak gini" Baskara berkata setengah membentak. Ini pertama kali dilakukannya dengan tampang seserius itu.
__ADS_1
Rindu menunduk, dia tidak berani menatap Baskara yang semarah ini.
"Rindu, kalau ada orang yang ngajak elo ngomong tatap matanya"
Baskara menggoncang bahu Rindu.
"Memangnya saya harus pakai pakaian apa? Celana panjang? Atau gamis"
"Apapun, tapi gak yang gini"
Baskara melepaskan kemeja kotak kotaknyaa. Dia memakaikan kemeja itu pada Rindu. Hanya tersisa kaos putih tipis di badannya, itu lebih baik daripada membiarkan Rindh menjadi tontonan lelaki lain
"Gue gak suka elo buka aurat didepan umum" ucapnya melemah.
Rindu mendongak menatap Baskara yang saat ini menatapnya dengan tatapan teduh. Tidak semarah tadi.
"Bas, sandal saya hilang"
"Kok bisa?"
"Kan kamu tadi narik saya, jadi sandalnya lepas di jalan sana"
Baskara menatap kaki telanjang Rindu yang sudah kemerahan oleh terik matahari dan panasnya tanah. Baskara berjongkok
"Naik" katanya
"Ha"
"Sebelum gue berubah fikiran, elo mau naik enggak"
Rindu menuru,dia naik dipunggung Baskara. Mereka sama sama diam saat langkah Baskara mulai menyusuri jalanan sekitar pantai.
Tanpa sadar Rindu menarik senyumnya
"Mulai sekarang elo gak boleh jauh jauh dari gue" ucap Baskara terdengar lirih. Untungnya masih bisa didengar Rindu dengan baik
"Memangnya kenapa?"
"Lo bego? Lo kan istri gue. Namanya istri gak boleh deket deket sama cowok lain"
"Iya"
Rindu menyembunyikan wajahnya dipunggung Baskara.
"Gue gak suka"
Rindu mengangkat kepalanya "gak suka sayang nyender di bahu kamu?"
"Bukan"
"Terus apa?"
"Gue gak suka elo deket deket sama Wirawan. Dia cowok gak baik, dia cuman mau modusin elo. Nanti kalau elo deket sama dia terus pernikahan kita ketahuan gimana? "
Yang ada tuh pernikahan nya ketahuan karena Baskara sering nempel ke Rindu.
"Kamu masih dekat sama Sisil?"
Baskara terdiam saat Rindu melemparkan pertanyaan barusan. Apa sesulit itu menjawab pertanyaan Rindu?.
"Pokoknya gue gak suka elo deket deket sama Wirawan"
"Iya iya"
__ADS_1