
Melangkahkan dan buat cerita untuk masa lalu mu
Agar kamu bisa mengenang indahnya masa lalu
☘☘
Autor Prov
Gemetar, aku duduk diam sambil terus memusatkan arah fokus pada layar. Tidak berani mendongak, apalagi saat iris mata kami bertemu. mata sipitnya, rahang kokoh, alis tebal membuat nyaliku semakin menciut.
Padahal lima belas menit yang lalu, aku hanya duduk dengan seorang bidadari tapi bertambah seorang laki laki dengan dua anak yang kini duduk menghimpitku.
Aku menoleh saat kaki seorang anak kecil berambut panjang coklat menedang betis ku. Tidak sakit hanya saja aku tidak menyukai anak kecil yang sejahil dia. Saat aku menoleh pun bukannya takut dia malah memelototkan matanya. Mengejek.

"Apa ceritanya banyak yang suka, saya gak yakin soal itu?"
Suara seorang wanita yang dari awal membuat janji dengan ku berucap, mengalun lembut.
Kupaksakan menarik senyum, sebenarnya aku ingin mengatakan kalau aku juga tidak yakin ceritanya akan disukai. Apalagi saat bagian pernikahan, lelaki yang bersidekap dihadpanku sudah mengambil alih cerita.
"Semoga saja" ragu ragu aku mengucapkannya. Tidak ingin membuat wanita itu kecewa.
"Ceritanya hanya sederhana, tidak sebagus yang kamu kira"
Sebenarnya aku ingin menjawab "tidak, kalau ibu yang bercerita, tapi kalau bapak bapak ini, ceritanya jadi absurd" tapi aku malah menjawab "tidak, ceritanya bagus"
Dug
Anak kecil ini menendang kakiku lagi, aku melotot menatapnya. Dia menyulurkan lidah, mengejek.
Tahu kalau aku memberi tatapan tajam pada anaknya, wanita itu langsung angkat bicara, memarahi.
"Baby, jangan seperti itu pada auty"
Aku tersenyum senang mendapat pembelaan itu
"Dia yang mulai dulu"
Suaranya naik, meski terdengar merdu tapi tetap bisa membuat telinga pecah.
Kalau bukan anak dari dosen ku sudah kucabik cabik dia.
"Baby jaga sopan santunmu pada auty, tiru kakakmu Brandon"
"don't call him Brandon, call him Ken. I'm Baby" dia menujuk kearah Ken, anak kecil yang dia tunjuk hanya menatap tanpa berniat membalas kalimat Baby.
__ADS_1

Aku tahu dia mirip siapa, sikap egois dan suka marah marah itu sepertinya diwarisi dari laki laki didepanku. Serta anak laki laki yang mengenakan pakaian rapi, duduk manis dan tidak banyak bicara ini pasti mewarisi ibunya.
Wanita itu hendak berucap sebelum suara dari suaminya menghentikan
"Rindu sudahlah cuman masalah sepele"
Kau benar, didepanku ini sosok Rindu dan Baskara yang duduk dengan kedua anaknya.
Brandon Arya Ken Jaskanendra, tidak mirip dengan nama ayahnya tapi tetap ada nama Arya disana. Anak laki laki dengan mata coklat, rambut coklat , rahang kokoh dan untuk tinggi aku tidak yakin dia akan mewarisi Baskara, papanya.
Dan untuk gadis kecil disebelahku, yang sedari tadi mengomel, dia adalah Baby Arya Kay Loovi. Dia begitu mirip dengan papanya, apalagi saat dia berteriak. Sepertinya dia egois. Dia tidak menyukai kalau Ken di panggil Brandon, katanya dia tidak mau memiliki abjad yang sama dengan Ken. Dia kurang menyukai Ken, saat ditanya apakah Ken kembarannya, dia akan menjawab "anak itu menumpang pada perut mama, tapi dia bukan anak mama dan papa, dia hanya anak pungut"
Entahlah dapat dari kalimat itu, yang jelas dia benar benar mirip papanya. Ken tidak banyak menjawab kalau Baby bersikap seperti itu, dia bersikap dewasa, tidak sakit hati, kalau ditanya kenapa dia tidak marah dia menjawab "Baby adikku, dia lebih kecil dariku, jadi dia masih anak anak"
Beruntung Tuhan tidak memberi mereka wajah mirip kalau mirip mungkin Baby akan protes terus. Mereka hanya kembar tapi tidak identik, istilahnya kembar dizigot
untungnya mereka dilahirkan mewarisi sikap yang sesungguhnya. Maksudku tidak seperti Baskara dan Rindu yang tertukar sifatnya.
Setelah Baskara ambruk di lorong rumah sakit karena mendengar tangisan dari anaknya tujuh tahun yang lalu. Dia sudah mengakhiri cerita mereka berdua, selanjutnya hanya akan ada cerita dari mereka berempat, keluarga Baskara sesungguhnya. Untuk janji Baskara akan bersikap dewasa, aku sedikit ragu mengatakan ini.
Yang kulihat didepanku Baskara masih sama. Seperti yang di jelaskan Rindu, meski kadang aku harus melihat mereka berdebat hanya untuk menyelesaikan cerita ini. Iris mata kebahagian dari Baskara benar benar membuatku kagum. Sorot mata itu benar benar mencintai istrinya.
Aku tidak ingin memuji, tapi Baskara benar benar tampan meski Rindu tidak mengatakan itu tapi aku yakin dia juga befikiran sama.
Sejurus kemudian aku merasakan ssesuatu hangat mengenai celanaku. Oh tidak, itu adalah air maninya Baby.
Aku langsung berdiri mengibaskan celanaku yang basah.
"Hey Baby, you stupid"
Itu bukan suaraku, melainkan suara Ken yang nyaring dari arah samping. Dia masih terlihat tenang dalam situasi seperti ini. Bahkan reaksinya tidak jauh berbeda dari wajah Rindu.
Rindu langsung menghampiri Baby, meminta karyawan Alan untuk mengelap kursi mereka. Meminta maaf pada karyawannya setelah itu aku harus menunggu Rindu mengganti celana Baby.
"Mungkin cerita kami tidak sebaik cerita cinta orang di luar sana" suara Baskara tiba tiba memecah keheningan. Aku langsung gelabakan, karena aku benar benar takut pada sosoknya.
"Tapi saya bingung mengatakan bagaimana rasa sayang saya pada Rindu, dia wanita yang luar biasa untuk saya. Meski saya selalu menyakiti dia tapi dia benar benar luar biasa, pokoknya sulit dijelaskan"
Baskara tersenyun
Soal ini aku yakin, dari binar matanya terpancar kejujuran. Tidak pernah aku menemukan lelaki sejujur dia.
Bahkan saat menulis ceritanya, aku selalu disuguhi dengan banyak canda. Kadang aku harus menitikan air mata saat melihat sorot mata mereka berdua, mengulang hal yang paling menyakitkan dari hidupnya.
Kelahiran anak mereka membawa hal baru untuk Baskara, seperti dia lebih giat bekerja, begadang dan lebih perhatian dengan Rindu.
__ADS_1
Sejak saat itu Baskara benar benar tahu apa arti Rindu untuknya. "Tidak bisa dijelaskan" itu jawaban dari dia saat aku bertanya sebesar apa cintanya pada Rindu.
Dan ketika aku bertanya pada Rindu sebesar apa cintanya pada Baskara, dia hanya menarik senyum tanpa menjawab. Mata mereka sudah memberikan jawaban tentang pertanyaanku. Meski kejadian itu sudah terjadi beberapa tahun yang lalu. Bahkan usia pernikahan mereka sudah tiga belas tahun, rasanya masih bisa dirasakan bagaimana cerita itu.
Kedatangan Rindu membuat Baskara dan Ken bangkit. Anak kecil penurut.
"Asih, terimakasih waktunya, saya jadi bernostalgia dengan cerita cinta saya"
Rindu malu malu menarik sudut bibir, aku membalas itu cukup lebar, karena aku benar benar senang untuk hari ini
"Seharusnya aku yang mengatakan itu bu"
"Saya harus pergi ke acara pernikahan Rama, pesawat sebentar lagi akan terbang"
Baskara menggendong Baby, sedangkan Ken tidak ingin di tuntun. Aku mengangguk, menatap keluarga mereka yang membuat ku iri.
"Maafkan Baskara yang selalu marah marah karena ceritanya kamu edit"
Mengingat itu aku tertawa, "tapi akhirnya ceritanya tidak saya edit"
Bagian yang ingin aku edit adalah tentang bagaimana Baskara menceritakan ciumannya atau saat proses mereka menghadirkan Bara, Ken dan Baby.
Bara anak mereka pertama yang harus lebih dulu bertemu Tuhan. Meski Bara tidak ada tapi karena dialah mereka bisa tahu bagaimana arti kehilangan.
"Titip salam buat Rama, Pandu dan Alan"
Aku mengatakan itu karena mereka bagian dari cerita ini. Rama akan melangsungkan pernikahan di Canada, kudengar dari Baskara bisnisnya lancar.
Sedangkan Alan, dia sudah membuka cabang di luar negri, Pandu sukses dengan karir menjadi jaksa.
Baskara sudah lebih dulu pergi, setelah aku menyalaminya. Ken mencium tanganku. Tapi Baby menolak untuk menyalamiku, katanya "aunty bau"
Aku jadi membencinya ha ha.
Tapi sudahlah semoga besarnya dia jadi anak yang baik. Mereka sudah pergi meninggalkan aku yang duduk menatap mereka dari kaca.
Aku menarik senyum, menutup laptop dan memahami dari naskah cerita mereka.
Mereka mengajari bahwa waktu tidak pernah bisa diputar, sesuatu yang seharusnya pergi akan tetap pergi, sesuatu yang dilakukan tulus akan kembali dengan bagus, dan sesuatu yang manyakitkan akan tetap membekas meski sudah diberikan obat terbaik sekalipun.
Aku akan merindukan cerita mereka, seperti Baskara yang terluka karen Rindu. Karena kehilanhannya, karena merindukan dia. Seperti Rindu yang sulit memberitahu kalau dia mencintai Baskara.
Aku akan merindukan Rindu, Baskra, Ken tapi tidak untuk Baby, meski aku juga sedikit rindu pada Baby tapi tidak banyak
tamat
besok ada extra part-nya, jadi yang belum paham sama endingnya tunggu besok ya
__ADS_1
jangan lupa baca ANKOT JAKARTA sama PASSAGE OF TIME yang lagi on going ya