BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)

BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)
Epilog


__ADS_3

Kadang kamu harus merasakan kehilangan supaya kamu tahu arti berharga


☘☘


"Memangnya kalau saya sudah delapan bulan kenapa?"


"Ih cape ngomong sama elo"


Baskara membanting pintu, merasa kesal dengan Rindu. Dia menolak untuk meminum susu, padahal ini dilakukan untuk anak mereka.


Bosan dan malas dirumah Baskara pergi ke restoran Alan. Lelaki itu pasti ada disana , mengoceh oceh dengan karyawannya.


Sampai di restoran, Baskara membanting pintu kantor Alan, cukup keras.


"Enggak elo, enggak Pandu, kalau dateng pasti banting pintu" cicit Alan.


"Kenapa lagi? "


Alan merapikan berkas berkas dimeja beralih ke komputer. Dia tidak mengalihkan arah pandang, tetap menatap komputer tanpa tertarik menyaksikan wajah cemberut Baskara.


"Gue sebel sama Rindu, masak dia gue suruh minum susu nolak terus" curhatnya


"Terus?" Alan menaik turunkan alis


"Kalau anak gue gak kecukupan nutrisi gimana?"


"Tinggal elo ganti sama nutrisi yang lain" jawab Alan cepat


"Emangnya ada?"


Alan mendegus, meletakkan kacamata dimeja. Menemui wajah polos Baskara saat bertanya seperti ini, membuat Alan ingin mengumpat.


"Elo bisa mengganti makanan yang mengandung Asam Folat (Folic Acid), karbohidrat dan serat atau yang lainnya"


"Elo kok lebih paham dibanding gue yang mau jadi bapak sih?"


Alan memutar mata malas "gue kerja di restoran Bas, jadi gue harus paham hal gituan"


"Jadi gak papa Rindu gak minum susu?"


Baskara justru mendekatkan kursi untuk memandang wajah Alan. Dia merasa tertarik oleh pengetahuan Alan soal makanan.


"Elo tinggal ganti sama sayuran berdaun hijau, telur, ikan, jus jeruk"


"Emngnya sayuran ada yang gak punya daun warna hijau?"


Emang dasar Baskara itu bego, kayak gini aja dia gak tahu ,harus dijelaskan dulu sama Alan.


"Gue gak nyalahin kenapa dulu elo gak keterima di Havard"

__ADS_1


Mendengar kalimat Alan, Baskara berdecak, dia mengumpat lirih.


"Asu, gak usah dibahas juga, udah kadarluasa itu"


"Lo emangnya gak ngerti masalah beginian?" Alan mencondongkan tubuhnya


"Kalau gue tahu, gue gak nanya" Baskara memutar mata


"Elo kan calon bapak seharusnya elo yang lebih paham"


"Kalau elo nanya gimana cara investasi ke perusahaan asing , gue paham"


Handpone disaku celana bergetar, dengan malas Baskara menekan panggilan. Bi Ijah pembantunya menelfon.


"Tuan, nyonya Rindu masuk rumah sakit"


Grek


Suara kursi digeser dengan keras, Baskara bangkit dengan tampang cemas. Alan menilik wajah Baskara yang seketika berubah cemas secepat itu.


"Dimana dia sekarang?"


Dengan terburu buru Baskara membuka pintu kantor Alan, dia langsung melangkah pergi.


Usai mendapatkan informasi keberadaan Rindu, Baskara langsung menuju alamat rumah sakit yang di sebutkan bi Ijah.


Disana bi Ijah berdiri dengan wajah cemas, daster kumuh, rambut yang di gelung asal asalan ,sandal jepit membuat Baskara yakin kejadian ini sangat dadakan. Bukan sebuah kejadian kontraksi biasa.


Baskara masih ingat saat dia datang ke lorong rumah sakit dengan gemetar. Saat itu keadaan hampir sama, dengan ketakutan yang sama.


Berharap hanya kontraksi atau tanda tanda melahirkan dari Rindu. Tidak ada fikiran lain selain itu.


"Tiba tiba nyonya pendarahan"


Jawaban dari Bi Ijah cukup berhasil membuat tulang kakinya bergetar. Seperti ditikam belati, Baskara membisu.


Pintu ruangan ICU berdenyit, menampakan dokter dengan rambut tembaga keluar ruangan. Dia menatap wajah Baskara yang menunjukan kecemasan


"Anda suaminya?" adalah kalimat pertama yang begitu menggetarkan.


Baskara mengangguk, hanya itu yang bisa dia lakukan.


"Bisa ikut saya sebentar"


Rasanya Baskara ingin memaki orang dihadapannya kalau bukan dia adalah dokter. Kenapa harus mengikuti dia untuk keruangan, sedangkan dia belum tahu kondisi Rindu saat ini.


"Jadi begini" Dokter itu mebenarkan letak duduknya ketika mereka sudah berada diruangan


"Bu Rindu menderita Plasenta previa"

__ADS_1


Plasenta previa adalah kondisi ketika plasenta tertanam terlalu dekat dengan serviks atau mulut rahim.


"Maksud dokter?"


Ingat, Baskara bukan orang pandai seperti Rindu yang dengan cepat paham akan sesuatu, dia terlalu sulit mencerna hal hal yang baru dia ketahui.


"Plasenta previa adalah kondisi ketika ari-ari atau plasenta berada di bagian bawah rahim, sehingga menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir. Selain menutupi jalan lahir, plasenta previa dapat menyebabkan perdarahan hebat, baik sebelum maupun saat persalinan, biasanya Plasenta Previa hanya di derita oleh wanita umur 35 keatas, bukan hamilan pertama, pernah keguguran atau bayi kembar "


Sedikit paham, Baskara mengangguk, meski kerongkongannya tercekat.


"Penyebab utama pasien mengalami plasenta previa kemungkinan karena pasien mengandung bayi kembar"


"Sekarang apa yang harus saya lakukan?"


"Kita akan melakukan operasi caecar" ujar dokter itu cepat


"Sebenarnya mengalami plasenta previa atau tidak pasien harus tetap melakukan operasi caesar. Tinggi pasien sangat kurang menyebabkan sempitnya bagian pinggul"


Baskara mengangguk paham, dia sudah mendengar soal operasi caesar yang kemungkinan dialami Rindu ketika persalinan. Tapi untuk lahir prematur dan mengalami Plasenta previa, Baksara tidak pernah menduga.


"Lakukan apapun yang bisa menyelamatkam istri saya"


Dokter menyerahkan sebuah map berisi surat surat perstujuan.


Rasanya matahari cepat menggelincir, semua rasa tumpah dalam lorong ini. Lina dan Tio duduk menunggu dengan wajah sama gelisahnya. Bi Ijah sudah diminta pulang, menyiapkan apa apa saja yang nanti dibutuhkan Rindu.


Baskara paham operasi ini bisa merenggut nyawa Rindu, bisa terjadi pendaharahan hebat atau pembekuan darah. Tapi Baskara tidak akan memikirkan kemungkinan kemungkinan yang akan menimpanya.


Baskara masih berdiri dengan ketakutan yang senantiasi mendampingi. Rasanya satu menit berdiri disini terasa panjang, helaan nafas pun terasa melelahkan. Baskara tidak tahu kalau semua ini akan terjadi.


Suara dentingan jam dari benda bulat yang melingkar ditangan Baskara berbunyi, seperti alunan musik rok di suasa seperti ini. Baskara mengehal nafas.


"Tolong. Gue gak pengen kehilangan siapapun dari hidup gue, siapapun itu"


Baskara mengatakan kalimat itu lirih, untuk diri sendiri. Dia tidak sanggup untuk melakukan apapun ,hanya berdiri disebelah pintu dengan harapan harapan yang dia lambungkan.


Ketakutan itu semakin mencekat kala seorang suster membuka pintu, berlari terburu buru, entah mengambil apa.


Pancuan jantung Baskara semakin terdengar jelas, didepan ruangan operasi, menunggu istrinya membuka mata, mencium anaknya dan berkelahi dengan Baskara lagi.


"Gue janji, gak bakal marah marah, gue janji bakal jadi suami yang dewasa"


Satu suster yang keluar dengan wajah pucat, mengenakan seragam operasi, membawa sekantung darah di tangan, semakin membuat jantung Baskara melemah, memikirkan saat itu rasanya dia benar benar tidak sanggup.


Baskara hanya berdoa. Menunggu jawaban Tuhan atas istrinya. Dia tidak ingin berfikir buruk meski itu tetap dia fikirkan. Meski fikiran buruk itu tetap berjalan melintasi kepalanya. Meski fikiran itu selalu terasa nyata di setiap hembusan nafas, meski ketakutan itu selalu membuatnya ingin menangis.


Baskara tidak tahu hidupnya akan menjadi apa jika kehilangan Rindu. Dia hanya menggantungkan hidupnya pada wanita itu. Jika tidak ada Rindu, seperti apa lagi dia akan menjalani hidup.


Suara itu, suara dari dalam ruangan membuat tubuh Baskara ambruk. Seolah mimpi, dia tidak menyangka ini akan terjadi pada hidupnya, tidak pernah. Air matanya mengakhiri semua, mengakhiri hari hari panjang bersama Rindu, berdua.

__ADS_1


Suara tangisan bayi dari dalam membuat Baskara menyeka air mata, semua sudah berakhir disini, selanjutnya akan ada cerita mereka, Rindu, Baskara dan anak anaknya


belum tamat


__ADS_2