
Getaran aneh yang pernah saya rasakan adalah saat kamu memeluk saya
☘☘
UAS sudah dilaksanakan seminggu yang lalu, saatnya menunggu hasil, nilai sementara sudah di tempel dimasing masing kelas sebelum di input kedalam KHS (Kartu Hasil Study) . Saat nilai di tempel saatnya mahasiswa yang kurang beruntung memperbaiki nilainya dengan dosen yang berhubungan.
Baskara sudah berada dikumpulan teman sekelasnya untuk melihat hasil UAS.
Dan "shiitt kenapa nilai gue bisa dapet C"
Oh ghost seperti nya wajah Baskara sudah merah oleh kemarahan.
"Amazhing nilai gue juga C" keluh Alan di samping Pandu.
"Wait kenapa gue juga bisa C?" Rama bertanya dengan suara lantang dari arah samping
"Pandu C+"
Mereka menoleh kearah Pandu ,dengan tatapan berkobar mereka meneliti wajah Pandu yang saat ini tengah nyengir kuda
"Beda plus doang, gue juga perbaikan" katanya
Demi Chanyeol yang jangkung, Nobita yang gak pinter pinter dan upin ipin yang gak besar besar. Mereka mendapatkan nilai C pada mata kuliah Rindu, hanya Rindu sedangkan mata kuliah yang lain aman meski hanya mendapatkan nilai B tapi cukup melegakakn dibandingkan harus perbaikan nilai.
"Istri lo ada dendam apa sih Bas sama kita?" Tanya Alan yang menyisir rambutnya kebelakang
"Masa cuman masalah dedek Miyabi sampe dia tega nulis C" tambah Pandu tak terima
"Lo kan C plus" Rama membenarkan ucapan Pandu
"Yaelah ketambahan plus doang dibelakangnya pakek diprotes segala" celetuk Pandu.
"Gak tau gue, apa isi otak manusia satu itu?" gerutu Baskara
"Dia dendam kesumat apa sama kita, sampe harus perbaikan nilai segala" tambahnya dengan gertakan gigi
"Samperin aja lah, jangan banyak bacot" ajak Pandu
Sampai diruangan Rindu, Baskara langsung membuka pintu dengan tidak bersahabat. Istrinya yang baik hati itu masih menatap laptop dengan kacamata yang bertengger dihidungnya. Kalau boleh muji sih dia cantik, tapi eits bukan itu tujuan Baskara, dia disini mau protes kenapa nilainya bisa C.

"Rin" panggil Baskara dengan nada menaik "kenapa nilai gue bisa C?" Tanyanya langsung ke inti. Rindu mendongak menatap sederetan laki laki yang berwajah pias dengan kemarahan masih yang dipendam tapi tidak untuk Baskara karena dia sudah meledakkan satu kalimat dengan nada tinggi barusan.
"Kamu tahu kamu dimana sekarang?" Tanya Rindu melemparkan pertanyaann
"Ruang dosen" jawab Baskara ketus
"Kamu tahu saya siapa?"
"Dosen" jawabnya tidak santai
"Kalau sudah tahu, ketuk pintu sebelum masuk, ucapkan salam dan bicarakan maslah dengan baik baik"
Rindu sengaja menekan setiap kalimat, supaya si Baskara bisa sedikit tenang. Maksudnya dia tidak marah secara bruntal bruntalan seperti ini.
Baskara mendegus, dia memutar bola matanya malas. Membicarakan jarum kemarahan, saat ini jarum kemarahan Baskara sudah melebihi angka 10.
"Kalian ingin tahu kenapa kalian semua dapat nilai C di mata kuliah saya?"
Rindu menujuk mereka dengan ujung pena yang dia pegang.
"Pertama jawaban kalian no 3, 4,dan 5 sama semua dari kalimat ke kalimat"
" Kedua jawaban no 1 berdasarkan searching"
" yang ketiga jawaban kalian no 2 tidak menurut pendapat tapi kalian kutip pedapat para ahli, Baskara kamu mengutip dari Richard G Lipsey, Alan dari Samuekon dan Pandu dari Von Neumann dan mogenter, kecuali Rama"
Rindu menghela nafas, dia menatap mahasiswanya satu persatu. Sembari melipat jari jarinya membentuk jembatan dia menilik wajah Baskara yang terlihat pucat.
"Saya bisa menebak, dari mana kalian bertiga menjawab soal soal saya. Otaknya adalah Rama kan? "
"Apa teori yang saya ucapkan tadi bisa kalian bantah"
Rindu mencondongkan dagunya untuk meminta mahasiswanya menjelaskan sebenarnya. Semuanya menunduk sepertinya mereka kicep oleh jawabam yang diberikan Rindu.
"Baskara" panggil Rindu "ada yang ingin kamu tambahkan? "
"Kita mau perbaikan nilai" ujarnya pelan.
__ADS_1
Brukk
Rindu memberikan satu buah kertas yang di letakkan di atas meja.
"Itu adalah tugas dari saya, kumpulkan besok. Saya tidak mau tahu"
"Gak bisa dua hari bu?" Nego Rama
"Kamis depan itu nilai harus di input di KHS, kalian mau jadwal study tour kalian ditunda" ucap Rindu tajam
**
Mereka duduk dikantin dengan wajah ditekuk. Rama yang paling kesal karena dia hanya korban dari teman temannya.
"Gue nyesel nyontekin elo semua" keluhnya sembari meletakkan kepala diatas meja
"Banci amet si lo, baru dapet nilai C udah ngeluh" hina Baskara
"Gue nyesel temenan sama elo Bas" kata Pandu melongo" ini semua tu karena elo yang gak bisa baikin istri elo ,jadi kita kena imbasnya"
Alan menjentikan jari, dia menepuk bahu Pandu. "Gue setuju"
"Banci banci banciiii" teriak Baskara.
Rama membuka handponenya, dia membaca kalimat ke kalimat.
"Eh nama dosen pembimbing study tour udah di share, fakultas kita kebagian bu Erma, Pak Dodit sama Pak Ishak"
"Pendaftaran terkahir hari ini, hari kamis kita pembagian kamar, karena udah di reservasi sama pihak kampus" tambah Rama.
"Jadi gimana kita ikut gak?" Tanya Pandu
"Itung itung refrrsing" tanbah Rama
"Emang lo ikut kadal?"
"Ikutlah gue, masak calon presiden kagak ikut"
Rama menepuk dadanya seolah membanggakan dirinya pada teman temannya.
"Lo gimana Bas?" Tanya Rama pada Baskara yang justru menatap depan dengan tatapan kosong
"Ikut aja Bas, kapan lagi kita liburan. Itung itung perpisahan sebelum pembekalan KKN"
"Rindu gimana?" Tanya Baskara dengan volume melemah
"Titipin sama bokap elo, kalau gak sama orang tuanya. Bilang elo diwajibin ikut study tour" ujar Pandu memberi ide
"Yaudah lah iya"
**
Rindu masih berkutat pada laptopnya setelah mendengar suara Baskara teriak teriak dan tidak terdengar lagi Rindu memilih memasang earphone. Dia masih menatap tugas tugas mahasiswa nya yang perbaikan nilai.
Drttt drttt
Suara ponsel berdering membuat Rindu menghentikan aktifitasnya. Dia menatap nama sipenelpon.
"Halo" sapa Rindu
"Bu Rindu ini saya Annam" suara diseberang memperkenalkan dirinya. Dia Annam dekan dikampusnya yang bertubuh gendut dengan tampang wibawa.
"Oh ada apa pak?" Tanya Rindu langsung ke inti. Perlu dingat Rindu bukan tipe orang yang senang berbasa basi.
"Gini, minggu depan jadwal keberangkatan Study tour mahasiswa, dan bu Erma minta izin ke saya untuk tidak bisa ikut" jelasnya "anaknya lagi dirawat" tambah Annam
Rindu mengangguk meski dia tahu anggukannya tidak bisa dilihat oleh Annam.
"Saya ingin ibu yang menggantikan bu Erma" suara Annam menjeda, dia menarik nafas untuk melanjutkan ucapannya "saya mengabari malam malam karena besok saya ada pelatihan" ucapnya.
"Oh iya pak, saya sudah dengar pelatihan bersama bu Manda wakil bapak kan" Rindu memperjelas kalimat Annam
"Iya betul, semua dosen sibuk sibuknya mempersiapkan pembekalan mahasiswa. Saya tahu ibu seorang legan (singgle) jadi bisa mengantikan bu Erma"
__ADS_1
"Iya pak saya bisa"
"Maaf bu mengganggu, selamat malam"
"Malam"
Rindu meletakkan handponenya di atas meja. Sebenarnya ikut tidak ikut dia dalam acara kampus tidak merubah minatnya, dia sudah memiliki list jadwal yang akan dia lakukan di liburan semester ini. Seperti mengunjungi teman SDnya, menginap dirumah orang tuanya dan berjalan jalan keperpustakaan nasional.
Rindu tahu Baskara sudah mendaftar dalam acara ini, dan dia tidak keberatan menurutnya dia bisa memeberi Baskara waktu untuk bersenang senang sebelum dia mulai KKN.
Baskara keluar dari dalam kamar dengan wajah ditekuk. Tidak ada senyum atau kalimat yang memancing Rindu marah.

Sembari berjalan dia mengenakan kaos putihnya, dia tidak menatap kearah Rindu, hanya berjalan kearah dapur sembari membuka kulkas.
"Mencari apa?" Tanya Rindu yang sudah berdiri dibelakang Baskara.
"Susu"katanya rendah
"Mana saya buatkan"
Rindu memindahkan susu yang dibawa Baskara ketangannya, dia membuatkan susu untuk laki laki itu. Gak tau kenapa tapi Baskara itu mirip bayi besar, dia harus minum susu meski gak setiap hari.
Rindu menyodorkan segelas susunya diatas meja, tangan Baskara menerima nya meski tidak langsung diteguk. Jari jarinya bermain dilingkaran gelas, tatapannya mengarah ke susu yang belum tersentuh. Lama sekali mereka terdiam, tidak ada ucapan yang membuat mereka sibuk, hanya ada dentingan jarum jam yang menggema diruangan.
"Kamu kenapa?" Tanya Rindu pada Baskara yang sedari pulang tadi memilih diam, berteriak pun hanya sekali tidak seperti biasanya dia akan berteriak jika sampai dia menyahutnya. Bukan karena dia memberi perbaikan nilai tempo lalu kan.
"Gak papa"
Dia menjawab singkat tanpa menatap Rindu. Gadis itu tahu meski mereka tidak tinggal lama dengan Baskara tapi dari gerak geriknya, dia sedang menyembunyikan sesuatu.
"Kamu marah?" Tanyanya meski ragu
Memangnya apa yang membuat dia harus marah? Karena tugas? Itukan sudah kewajiban Rindu memberikan tugas perbaikan nilai bagi mahasiswanya.
Baskara hanya menggeleng, dia meneguk susunya hingga tandas.
"Besok kamu akan berangkat study tour ya?" Ujar Rindu memilih mengalihkan topik
"Kamu mau saya siapakan snack atau saya buatkan cenilan untuk perjalanan?"
Baskara tidak menjawab dia justru menunduk, menyembunyikan wajah gelisahnya. Rindu berjalan kearah walk in closet, dia tahu mungkin laki laki itu butuh waktu sendiri.
"Saya mau menyiapkan pakaian kamu" ujarnya sebelum benar benar meninggalkan Baskara.
**
Rindu memindahkan beberapa helai pakaian yang akan diperlukan Baskara nantinya di Bali dan jogja. Beberapa kaos, celana pendek, panjang, pakaian dalam, kemeja, handuk dan beberapa peralatan mandi. Rindu melipat itu semua untuk dia masukan kedalam koper.
Grepp
Saat tangannya sibuk melipat pakaian, sebuah pelukan dirasakan diarea pinggangnya. Rindu merasakan elusan hidung yang bersembunyi ditekuknya. Rindu sempat memaku merasakan berat tubuh dibelakangnya.
"Lo gak ikut bener study tour?"
Suara Baskara melemah, entah kenapa tapi dia merasakan khawatir dan takut saat meninggalkan Rindu.
"Kan cuman sebentar, lagian saya belum melihat jadwal"
Iya Rindu sengaja belum memberitahu Baskara kalau dia akan menggantikan Erma sebagai dosen pembimbing fakultas Ekonomi.
"Gue takut Rin" Baskara mengambil nafas dari tekuk Rindu "gue takut kalau gue gak bisa jauh dari elo"
Sungguh demi alien yang ada dimuka bumi, demi winnie the pooh yang tidak pernah kenyang. Jantung Rindu berpacu capat, ada ritme yang sulit dia jelaskan. Ada getaran yang membuat tubuhnya kian memaku.
"Kenapa begitu"
"Elo bego ya, gue kan tiap hari minta elo ngurusi gue. Kalau elo gak ada nanti siapa yang bakal ngurusi gue"
Pacuan jantung Rindu kian memudar setelah mendengar jawaban Baskara. Buru buru Rindu melepaskan pelukan Baskara dari tubuhnya.
"Kamu udah besar, gak usah manja" ujar Rindu langsung berlalu meninggalkan Baskara
"Emangnya ada yang salah dari ucapan gue" teriaknya
__ADS_1