BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)

BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)
Chapter 36


__ADS_3

Sekitar jam 1  lebih 25 menit Sisil sadarkan diri, dia menatap sekeliling dengan tatapan linglung. Pertama kali yang dia lihat adalah Baskara, Sisil langsung memeluk Baskara sambil menangis.



Baskara hanya membalas perlakuan Sisil karena dia pernah ada diposisi anak itu, dia pernah kehilangan ibunya.



Sekitar setengah jam menenangkan Sisil, Baskara pamit pada bibik yang menjaga Sisil, dia pergi bersama teman temannya untuk mengambil mobil di rumah Sisil.



"Eh gue lupa tadi"


Dipertangahan jalan Pandu menepuk dahi



"Bu Rindu dari tadi nungguin elo" lanjut Pandu.



Baskara menghela nafas, dia bersandar pada kursi. Tatapannya layu pada jalanan di depan



"Gue bingung" lirih Baskara



"Bingung apa lagi elo?" Tanya Rama sambil mencondongkan tubuh di sisi kursi pengemudi



"Kemarin saat gue belum ketemu Sisil perasaan gue ke Rindu semakin jelas, sekarang gue ketemu dia, perasaan gue ke Rindu makin gak jelas, gue bingung yang gue artikan sayang itu ke siapa? Ke Rindu atau Sisil?" Keluh Baskara sambil mengusap wajahnya



"Jangan terlalu egois Bas, sebesar apapun elo sayang ke Sisil, elo adalah suami Rindu" ujar Pandu.



Terjadi hening sangat lama sebelum handpone milik Alan bergetar. Alan merogoh saku celana sambil memecet nomor yang tidak dia kenal



"Ini den Alan temennya den Baskara?" Tanya sipenelpon dari seberang



"Iya, ini siapa?"



"Bibik pembantunya non Sisil" suara itu terdengar sedikit gemetar penuh nada ketakutan "bilangin den Baskara non Sisil teriak teriak"



Panggilan itu langsung terputus sepihak, membuat Alan mengerem mendadak mobilnya. Pandu dan Rama tentu langsung melayangkan protes tanpa tahu apa yang sedang terjadi



"Sisil teriak teriak dirumah sakit" tukas Alan membuat Baskara langsung menoleh.



"Puter balik kerumah sakit" katanya membentak



Mobil langsung banting setir menuju rumah sakit, keadaan Sisil saat ini sangat tidak bisa di prediksi. Sampai di parkiran rumah sakit Baskara langsung berlari menuju ruangan Sisil, hal yang dia lihat adalah suster suster berusaha menghentikan teriakan Sisil.



Wajahnya sungguh berantakan dengan pakaian yang compang camping, rambutnya juga sudah acak acakan , di tangan kanan Sisil ada pisau buah yang di letakkan di lengan, sudah bayak sayatan pisau di tubuhnya.



Baskara mendekat dengan hati hati.



"Sisil what are you doing?" tanya Baskara sambil maju mendekati Sisil



"Baskara" suara itu melemah



"Jatuhin pisaunya ya, kita bicarakan baik baik" kata Baskara mencoba menenangkan Sisil



"Mama udah pergi, kamu juga pergi. Aku sendiri, untuk apa aku hidup?"


__ADS_1


"Gak Sil, aku disini buat kamu"



Sisil menggeleng sambil menangis, "kamu bohong tadi kamu pergi kan"



"Aku janji gak bakal ninggalin kamu"  Baskara lebih melangkah mendekat "sekarang dengerin aku, jatuhin pisaunya"



Sisil akhirnya menurut dan menjatuhkan pisaunya, Baskara langsung memeluk Sisil dengan erat. Biarkan gadis itu menumpahkan air matanya di pelukan Baskara.



**



Sisil bisa tertidur sekitar pukul 4 pagi, sambil meenunggu pskiater datang Baskara mengusap wajah Sisil.



"Gue cabut Bas ya" kata Pandu menepuk bahu Baskara



"Makasih ya" kata Baskara lemah "gue minta tolong cariin bokap Sisil"



"Tenang aja kita bakal bantuin elo"



Setelah kepergian teman temannya hening terasa diruangan. Dingin mencekat diantara Baskara, detingan jam bernyanyi menemani kesunyian hati Baskara.



Entah kenapa diposisi seperti ini Baskara hanya teringat Rindu. Handpone nya ditinggal di dasboar mobil, dia tidak membawa handpone sama sekali.


Apa Rindu masih menunggunya? Atau dia sudah pulang dan tertidur sambil menunggu kepulangan Baskara?



Sungguh sepagi itu Baskara habiskan hanya untuk memikirkan kemungkinan kemungkinan perihal Rindu. Pukul 9.30 psikiater yang dipesan Baskara sudah datang. Perawakannya cantik dengan jas dokter yang melekat ditubuhnya.




"Hay Sisil" sapa dokter itu


"Kenalin aku  Icha" dokter itu mengulurkan tangan yang hanya ditatap oleh Sisil.



"Kamu cantik, kuliah jurusan apa?"


Icha menuangkan air putih di gelas kemudian dia sodorkan pada Sisil.



"Kedokteran" jawab Sisil masih memakan bubur nya



"Wahh senang nya ketemu sama calon dokter" wajah Icha tampak bersinar seolah ada cahaya yang menerangi dibalik wajah tirus itu



"Ini siapa?"



Meski Icha tau siapa Baskara tapi dia hanya mencoba mengamati seberapa besar ingatan Sisil tentang kejadian yang menimpanya beberapa hari ini.



"Pacar aku"



Icha manggut manggut sambil menatap Baskara. Dia meminta persetujuan atas jawab Sisil, dan Baskara tentu menggeleng, memang iyakan mereka sudah putus bebrapa bulan lalu.



Icha mengambil duduk di kursi sebelah brangkar Sisil.


"Aku punya vidio bagus" kata Icha mengeluarkan handponenya



"Gak tertarik nonton vidio"


__ADS_1


"Coba diliat dulu, vidio nya bagus"



Dia memutar vidio yang memancing Sisil untuk meluapkan emosinya. Dan benar tepat saat adegan seseorng meninggal , Sisil melempar mangkuk bubur ke lantai sambil tangannya menjambak rambut, dia berteriak lantang dan mengatakan "enggak enggak, mama masih hidup" seperti itu terus menerus.



Baskara mencoba menenagkan dengan memeluk Sisil lebih erat



"Bas mama masih hidup kan?" pertanyaan itu dilontarkan sambil mengigit jari kukunya hingga berdarah.



Sisil tidak mudah ditenangkan jika kondisinya seperti ini hal pertama yang dilakukan adalah dengan menyuntikan obat bius.



"Baskara bisa temui saya di ruangan" kata Icha saat setelah Sisil terlelap. Baskara mengekori Icha seperti anak kecil yang mengikuti mamanya belanja.



Diruangan , Baskara hanya duduk sambil menatap Icha yabg membuat kan teh untuk Baskara.



"Kondisi Sisil saat ini sulit untuk saya deskripsikan lebih pasti" kata Icha memulai pembicaraan


"Kemungkinan saat dia menyakiti dirinya dia mengindap Self harm/self injures (Self injury adalah suatu perilaku yang dilakukan seseorang untuk mengatasi rasa sakit emosional dengan cara melukai diri sendiri)"


"Kemungkinan paling besar adalah dia depresi karena kehilangan orang yang dia sayangi"



Icha meneguk tehnya lalu melanjutkan kalimat "kalau saya boleh tahu sebelumnya Sisil pernah melukai diri sendiri?"



Baskara coba mengingat ingat apakah dia pernah mencoba melukai dirinya "saya rasa dia gak pernah senekat itu, Sisil pribadi yang lemah lembut dan ceria"



"Berarti dia sedang depresi berat sehingga berfikir unfuk melukai dirinya"


"Obat yang mujarab untuk Sisil adalah kehadiran orang yang dulu membuatnya bahagia"



Icha menatap Baskara kebih dalam "contonya kamu, saya lihat dia akan mulai tenang jika ada kamu"



Baskara mengusap wajahnya, dia benar benar pusing dengan keadaan ini. Kenapa mesti terjadi seperti ini



"Saya maklumi kalau orang sekitar akan ikut depresi melihat orang yang dia kenal seperti itu" Icha menjeda kalimatnya "kemungkinan besar perubahan keharmonisan keluarga yang membuat mental Sisil sedikit terganggu"



Baskara mendegus "tapi bisa disembuhkan kan dok?"



"Bisa, kita akan mencoba memberi terapi yang menangkan, tapi saya juga membutuhkan bantuan dari kamu dan teman teman Sisil"



Baskara mengangguk paham



"Perubahan emosi Sisil tidak bisa kita deteksi kapan akan terjadi, lebih baik mengantasinya, kamu jangan jauh jauh dari Sisil, itu bisa membahayakan dirinya"



Baskara keluar ruangan dengan langkah limbung, dia hampir terjatuh kalau tidak berpegangan pada kursi tunggu.


Apa yang harus dilakukan Baskara saat ini, menelantarkan Sisil yang tidak tahu kemana papa nya? Atau mengurusi mantan kekasihnya disaat dia sudah memiliki istri.



"Rindu apa yang harus gue lakukan?"


Baskara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, ini benar benar menyulitkan untuk memilih salah satu diantara mereka.


Saat seperti ini Baskara ingin bercerita dan meminta pendapat Rindu, gadis itu selalu pandai dalam menyikapi sebuah masalah.



Tapi apa dia bisa sejahat itu menceritakan mantan kekasihnya pada istri?



__ADS_1


__ADS_2