BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)

BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)
Chapter 54


__ADS_3

Yang banyak menguatkan disaat tidak ada yang menguatkan adalah diri sendiri


☘☘


Malam malam mereka duduk lesehan sambil push rank menggunakan handpone masing masing, meski fokus pada Handpone tapi percakapan mereka masih mengalir seperti aliran air.


Rindu tidak keluar sedari tadi, masih sibuk dengan buku-buku yang memanjakan mata. Baskara memainkan Char (ikon atau player dari permainan) dengan tatapan tajam, dia tidak ingin dikalahkan oleh siapapun. Sambil menggeser layar handpone dia mencomot snack yang ada disampingnya.


"Berapa hari lo pada disini?" mata Baskara tidak bergerak sedikitpun dari layaar.


"3 hari"


Jawab Alan ikut bergerak kesamping sesuai charnya. Gerakan reflek yang dilakikan Alan memang lucu tapi itu spontan mengikuti pergerakan char .


"Lo beneran mau lanjut S2 di Havard?" Pandu menyelangi permainan dengan bertanya tanpa menoleh sedikit pun.


Terdengar deheman dari Baskara, sambil meneguk soda dia mengumpat pelan "si bocah ngapain elo ke sini"


Dia menendang kaki Pandu keras untuk memberi kode supaya memeperhatikan permainan.


"Sory kehilafan" kata dia santai


"Emang elo bisa lolos di Havard?" giliran Alan yang membuka suara sambil mulut mengunyah


"Lo pada ragu sama gue?"


Baskara mengalihkan pandangannya kearah mereka yang masih terpaku kelayar


"Ragu sih enggak, cuman gue bener bener gak yakin"


"Elo ngatain gue kalo gue bego gitu?"


Baskara melempar kaleng soda yang sudah kosong hingga mengenai kepala Pandu.


"Gak ada Rama jadi gue yang elo bully"


Pandu mengelus dahinya yang terkena lemparann kaleng.


Baskara tidak menanggapi , dia sibuk meng hit (menyerang) musuh dari balik tembok.


"Gue niat sih gak ada masuk Havard, cuman kalo gue gak lanjut S2 disini, gue malu sama Rindu. Masa istri gue S3, lah gue lulusan S1 yang IPK pas pasan"


Alan meneguk soda hingga setengah, dia mulai menyerang ke sisi selatan, sedangkan Baksara tengah Drop item ( mengambil barang musuhnya yang telah di bunuh), Sebuah senjata dan peledak dia dapatkan dari ransel sang musuh.


"Kalo difikir fikir omongan elo bener juga sih. Bu Rindu pinter gak ketulungan, nah elo begonya gak abis abis"


Karena jauh, Baskara hanya memelototi Alan yang masih sibuk meneguk soda sambil menggerakkan carh.


"Lo berdua gak ada niatan lanjut?"


"Gue belum kepikiran abis ini mau kemana?" Pandu memasukan snack j

__ADS_1


Kedalam mulut. Suara kriuk kriuk itu terdengar renyah ditelinga.


"Gue palingan nerusin bisnis bokap"


Alan menyenderkan bahu di kaki sofa


"Bukak cabang baru bokap dia" kata Pandu memberitahu


"Gas terus bisnis bokap elo"


Selanjutnya mereka sibuk pada handpone masing masing, Baskara meraba karpet untuk mencari soda. Saat dilihat soda sudah ludes habis.


"Rama kemana?"


Karena tidak menemukan hal yang membuat dia sedikit santai bermain, Baskara membuka suara.


"Dia pulang kampung. Katanya sih mau coba buka usaha" jawab Pandu


Baskara mengangguk agukan kepala sambil mulutnya membentuk huruf "o"


"Mau nyaingin Kaesang dia" tambah Alan dari belakang.


"Kaesang? Siapa dia?"


Baskara sedikit memutar matanya untuk mengistirahatkan dari fokus layar


"Itu, penjual pisang goreng"


"Jangan lama lama kalian disini, ganggu gue aja"


Baskara mengatakan itu tidak benar benar tulus, mereka juga tahu kalau Baskara hanya bercanda.


"Kita gak bakal ngintip elo nananena , kecuali ada desahan dari kamar lo" kata Alan sambil meneguk soda.


Baskara terdiam, bahkan char nya ikut terdiam. Fikirannya kembali pada saat Rindu menolak untuk disentuh. Bahkan reaksi yang diberikan Rindu terlihat berlebihan, tidak seperti dulu saat pertama dia menyentuh Rindu.


Pandu yang melihat tidak ada gerakan dari sahabat nya langsung menatap Baskara, pandangan Baskara maish tertuju pada Alan, tapi yang ditatap malah tidak merasa. Kaki Pandu menendang kaki Alan untuk membuat laki laki itu menghentikan fokus pada layar handpone.


"Kenapa lo?" suara Pandu mengembalikan fokus Baskara pada keadaan sekitar. Dia menggeleng berusaha menyembunyikan fikirannya, tapi dia tetap tidak bisa karena sorot mata kedua sahabatnya menatap dengan lekat.


"Rindu gak mau gue sentuh" suara Baskara terdengar lirih


"Kok bisa?"


Alan justru meninggikan suara, antara kaget dan menahan tawa. Seumur umur, Baskara tidak pernah ditolak saat mau menyentuh lawan jenis


"Gue juga bingung sampe sekarang" suaranya masih terdengar lirih.


"Dia trauma kali sama kegugurannya kemaren"


Pandu kembali menatap layar, mencoba acuh dengan masalah Baskara.

__ADS_1


"Trauma kenapa coba?"


"Namanya juga ibu Bas, kalo anaknya meninggal, juga bakal ninggalin rasa sakit yang dalam, emangnya elo anak gak ada bukannya khawatir malah ngawatirin orang lain"


Perkataan Pandu talak mengenai dirinya. Dia terdiam sampai memilih keluar dari permainan. Meletakkan handponenya hingga membunyikan suara, Pandu dan Alan menatap Baskara bergantian.


"Gue gak bermaksud nyinggung elo Bas"


Tau kalau Baskara tersinggung, Pandu merasa tidak enak. Bahkan mereka berdua langsung keluar dari permainan bersamaan.


"Enggak kok, yang elo omongin bener"


Dia menunduk menyembunyikan wajahnya.


"Nyokap gue dulu gitu, pas keguguran adek gue, dia gak mau disentuh papa, sampe mereka berdua sering berantem" tutur Pandu


Baskara mendongak menatap butiran mata Pandu. Tidak ada kebohongan dari sorot matanya.


"Seius lo?"


"Ya elah Bas, emang gue pernah bohong"


"Sereng" Alan dan Baskara kompak menjawab pertanyaan Pandu.


"Santai kali, trauma pasca keguguran emang sering terjadi sama ibu ibu tapi gak pernah disadari sama suami" kata Pandu mulai menjelaskan dengan serius


"Bisa jadi bu Rindu trauma karena kegugurannya, apalagi pas dia keguguran elo gak disamping dia"


Selesai mendengar ucapan Pandu. Baskara bangkit menuju kamarnya. Dia membuka kamar dengan cepat tanpa mengetuk terlebih dahulu.



Rindu masih menatap buku yang ada dimeja tanpa mengalihkan pandangannya saat pintu terbuka.


"Rin" suara Baskara melemah ,berharap Rindu menoleh menatapnya.


Rindu hanya berdehem tanpa mengalihkan arah pandang sedikitpun.


Merasa di abaikan Baskara langsung menutup paksa buku yang sedang dibaca Rindu. Baskara mendegus sambil berharap Rindu akan menatapnya. Dan benar, Rindu langsung menatap wajah Baskara yang jauh lebih tinggi karena dia tengah duduk .


"Ada apa?" suara Rindu masih terlihat santai dengan ekspresi tidak sedatar dulu. Dia **** senyum meski tipis.


Baskara mencondongkan wajahnya sehingga dua tangannya mengipit tubuh Rindu.


"Ada apa?"


Rindu mendorong tubuh Baskara untuk menjauh, tapi laki laki itu tetap pada posisinya. Rindu memejamkan mata, ada ketakutan saat Baskara mendekatkan wajahnya kearah bibir. Hingga hembusan nafas milik Baskara mengenai kulit bibirnya. Tubuh Rindu kaku dengan ketakutan yang luar biasa. Dia bahkan mencengkram lengan Baskara kuat kuat.


Posisi ini masih sama, Baskara mencoba mencium bibir Rindu tapi gadis itu menolehkan wajahnya cepat. Bukan Baskara kalo hanya menyerah dengan keadaan seperti ini. Dia mencengkram rahang Rindu dengan lembut untuk menatap matanya.


Rindu mengeluarkan air mata, sambil nafasnya memburu, bahunya naik berulang ulang. Tangisnya langsung pecah diikuti ambruk nya tubuh Rindu kelantai.

__ADS_1


__ADS_2