BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)

BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)
Chapter 34


__ADS_3

Sore pukul 4 , Rindu mengantarkan Baskara ke bandara. Awalnya lelaki itu menolak dia tidak tega membiarkan Rindu pulang sendiri. Arya sudah menunggu kedatangan mereka bersama sekretarisnya. Baskara tersenyum kearah Rindu sambil memeluk erat.



"Pasti bakal kangen " kata dia


"Lo gak pengen ikut gue ke Paris?"



"Saya kan harus ngajar, lagian saya ikut kamu mau ngapain?"



"Jadi asisten gue lah" jawab Baskara asal.



"Gue males ke Paris tanpa elo" dia mengeratkan pelukan.



Pemandangan didepan membuat Arya tersenyum, anaknya memiliki sifat manja yang jarang ditunjukan ke siapapun, termasuk dirinya. Tapi saat ini terang terangan dia menunjukan sifat manja kepada Rindu.



Rindu melepaskan pelukan mereka, dia mengusap rambut Baskara sambil berjinjit.



"Hati hati ya, jaga kebersihan" pesan Rindu.



"Kalau gue buang sampah sembarangan elo mau nyusul gue?" Baskara nyengir



"Udah sana, papa nungguin tuh"


Rindu mendorong punggung Baskara untuk berjalan kearah Arya yang menunggu mereka sambil mengamati jam



"Udah siap Baskara?" Tanya Arya



"Pa, Baskara gak usah ikut ya?" Katanya



Arya menarik senyum, anaknya ini memang selalu bersikap semaunya



"Gak bisa, kamu mau investor papa bantalin ngasih dana ke perusahaan?"



"Kenapa harus bawa Baskara sih pa? , kan papa bisa" rengek Baskara sambil memeluk Rindu dari belakang. Rindu menunduk karena malu atas perbuatan Baskara yang memeluknya didepan umum



"Kamu lupa, kamu kan pemilik saham tertinggi di perusahaan"



Oh ghost, Baksara melupakan itu, kalau dirinya adalah pemilik sah perusahaan. Arya lah yang telah memberikan perusahaan itu setelah pernikahan mereka digelar.





"Gue berangkat" pamit Baskara sambil mengangkat tangannya untuk dicium Rindu.


Mereka berjalan meninggalkan Rindu menuju pesawat.



Baskara berbalik dia berjalan menuju Rindu yang sempat ingin mutar balik untuk pulang. Dia memeluk Rindu sangat erat, seolah esok dia tidak akan bertemu dengan anak itu.



"Geu sayang elo" kata Baskara, lelaki itu mengecup Rindu sesekali. Lalu kembali berjalan seolah tidak terjadi apa apa. Tentu saja itu menarik senyum Rindu lebih lebar.



**



Di ruangan kantor, Rindu sibuk menyalin data yang di berikan kaprodi padanya, dia juga sibuk menyalin mata kuliah apa saja yang akan di gantikan Rindu selama semester ini.



Dia mendapatkan tugas membimbing mahasiswa tingkat akhir untuk melakukan skripsi. Rindu sibuk berkutat pada layar laptop sebelum suara pintu membuatnya mendongak



"Masuk" kata Rindu kembali terfokus pada layar laptopnya.



Seorang lelaki dengan ransel dan pakaian sedikit lebih bruntal dari Baskara masuk dan langsung duduk.



"Ada yang menyuruh kamu duduk? "



Rindu menyambungkan jari jarinya membentuk jembatan, dia bertompang pada jembatan tangan itu.



Mahasiswa itu dengan canggung langsung berdiri, di tapan dosennya dengan tatapan tajam tanpa senyum, tentu siapa yang tidak langsung kicep.



"Nama?" tanya Rindu sambil menatap layar laptopnya.



"Andhika"



"Ada keperluan apa?" tanya Rindu langsung to the point. Perlu diingat Rindu tidak suka basa basi.



"Saya mahasiswa bimbingan skripsi" kata Dika sambil menunduk.



"Silahkan duduk"



Dika mengambil duduk di depan Rindu sambil tangannya sedikit gemetar, gengster kok takut sama dosen.



"Mahasiswa yang dibimbing saya dengan pak Edwar?"



"Iya bu"



"Mana judul skripsi kamu?"


Tanya Rindu to the point.



Lelaki itu gelabakan dia mengeluarkan kertas yang memuat judul skripsi.

__ADS_1



Beberapa kata dicoret Rindu tanpa perasaan .



"Saya tidak setuju semua judul yang kamu berikan ke saya, silahkan kembali lagi saat sudah menemukan judul yang baru" kata Rindu tanpa melirik Dika yang pucat.



Lelaki itu keluar dengan cepat tanpa membalikan tubuh untuk melihat Rindu.



Rindy masih berkutat pada lembaran lembaran yang membuatnya sibuk, dia ingin mengalihkan fikirannya tentang Baskara. Suara ketukan pintu terdengar, kali ini Zaky yang masuk dengan membawa tumpukan map.



"Bu Rindu, ini titipan dari pak Edwar" kata Zaky.



"Pak Edwar, kenapa beliau memberi saya ini?"



"Ini data mahasiswa bimbingan beliau yang diserahkan ke ibu" kata Zaky.



Rindu hampir menganga, apa Pak Edwar sejenis dosen yang suka makan gaji buta, kenapa mahasiswa semuanya diberikan kedia.



Rindu belum menguasai tentang bisnis, dia hanya menguasai akutansi dan ekonomi. Meski mata kuliahnya bersebrangan tapi dalam menilai skripsi tidak semudah saat dia menilai tumpukan makalah.



Rindu memijat pelipisnya, baiklah sepertinya menjadi dosen junior memang selalu diperlakukan seperti ini.



"Baik terimakasih" kata Rindu



Zaky pamit undur diri, setelah kepergian Zaky, seorang mahasiswa cantik masuk kedalam ruangan, sama seperti Dika. Mahasiswa ini sedikit lebih rapi dengan jilbab yang melilit kepala.



"Ada perlu apa? " tanya Rindu tanpa menatap mahasiswanya.



"Bimbingan skripsi bu" ujar dia lemah lembut



"Nama?"



"Renanta"



"Silahkan duduk"



Rindu menatap wajah mahasiswanya sedikit lebih teliti, dia menyunggingkan senyum. Dia sangat cantik dengan celana kullot yang dipadukan dengan kemeja monalisa yang akhir akhir ini sangat trend.



"Mau ngambil judul skripsi apa?" tanya Rindu sedikit melempar senyum.



" Manajemen Modal kerja terhadap profitabilitas perusahaan"




"Saya acc judul kamu" kata Rindu



"Bener bu" Renata tampak antusias.



Mendengar dosen meng acc skripsi itu bagaikan mendapat tumpukan uang secara cuma cuma. Apa ya, kalau mau dideskripsikan seperti keberkahan tersendiri, rasanya mendapat anugrah besar dari Tuhan.



Rindu mengangguk "sesuai jadwal ya, temui saya hanya saat saya berada dikampus, selain itu tidak ada bimbingan" kata Rindu "oh ya, kalau saya berhalangan hadir , emailkan saja skripsi kamu" tambah Rindu.



"Baik bu"



Renata pamit undur diri diikuti Rindu yang bangkit sambil merapikan meja. Hari ini sudah dulu kegiatannya dikampus, dia akan kembali ke apartemen. Tapi sedikit berbeda, kali ini Baskara berada jauh darinya. Apalagi besok dia libur, pasti lebih membosankan.



Setelah sampai apartemen, keadaan apartemen bersih, tidak ada yang mengotori apartemen. Rindu jadi kangen sama Baskara, padahal kalau anak itu ada dia selalu marah marah pada Baskara.



"Cuma seminggu" kata Rindu.



Dia meletakkan tas di meja, sambil memasak mie instan. Fikiran lagi lagi terpnuhi tentang Baskara. Kenapa bisa serindu ini sama anak itu? .



**



Satu minggu, satu minggu itu Rindu selalu memeriksa hasil skripsi dan judul dari mahasiswanya ,kadang dia mengajar. Duduk di kantor lebih lama dan pulang lebih larut supaya fikirannya tidak melulu tentang Baskara. Saat dirumah dia juga hanya membaca novel novel yang dia beli saat belanja bersama Baskara, membersihkan rumah, mencuci baju, dan mengulangi kegiatan itu berurutan.



Satu minggu juga komunikasi keduanya berjalan baik, Baksara sering mengajak video call meski Rindu masih malu malu, anak itu juga sering menelfon dengan marah marah dan ujungnya mengatakan kalau dia merindukan Rindu.



Hari ini Baskara akan pulang ke Indonesia, sengaja Rindu memasakkan masakan favorit Baskara, terutama udang. Meski tangan Rindu sudah memerah saat memasaknya, apalagi mengirup aroma dari udang.



Selesai masak Rindu langsung membereskan rumah, dia mandi lebih cepat dan berdandan.



Dia memoles wajahnya sangat tipis dengan mengenakan dres diatas lutut. Rindu ******** senyum, dia merindukan Baskara selama seminggu ini.



"Rinduuuuuuuu"



Suara itu membuat Rindu menarik senyum dia buru buru membuka pintu tapi ternyata lebih cepat Baskara dibanding dirinya.



Baskara langsung memeluk Rindu dan melumut bibirnya, dia membawa Rindu mendekat keatas ranjang. Jasnya sudah dilepas Baskara dan dilempar secara asal. Lumutan itu berlangsung lama dengan buas, bahkan dengan sekali hentakan Baskara menarik dres burkat milik Rindu sampai sobek. Dia ingin melampiaskan semuanya, melampiaskan rindu nya dan melampiaskan keinginan.



Baskara melepaskan pungutan dan berpindah ke leher Rindu. Dia mengecupi leher itu dengan buas, kemeja milik Baskara sudah lepas memberikan pemandangan dada bidang dengan roti sobek sobek yang menggoda.



Baskara sedikit mendorong Rindu hingga terjatuh di kasur dan dia menindihi tubuh mungil itu sambil mengelus dengan lembut wajah istrinya.

__ADS_1



"Gue kangen" Baskara mendusel didada Rindu sambil mengecup dengan lembut.



**



Baskara dan Rindu berpelukan diatas kasur. Mereka saling bercanda gurau meski tubuh telanjang itu ditutupi selimut



"Gue pas di Paris ngeliat cewek body, buehhhh seksy" cerita Baskara sambil memeluk Rindu



Gadis itu hanya terkekeh, dia tahu Baskara hanya bercanda tidak benar benar serius.



"Gue gak bisa tidur gara gara elo" cicit Baskara "elo sebagai istri seharusnya ikut kemanapun gue pergi" tambahnya



"Saya sibuk bimbing mahasiswa skripsi"



"Cariin gue judul skripsi Rin" rengek Baskara.


Baskara mengangkat kepalanya "apa gue bikin skripsi, menghamili dosen dengan benar"



Baskara sontak mendapat cubitan diperut dari Rindu, tanganya berusaha mencegah tangan Rindu untuk mencubit lebih dalam



"Aaa iya iya gue minta maaf" kata Baskara sambil tertawa.



"Kamu gak laper?" tanya Rindu



"Lo laper?"



Bukan menjawab dia justru balik bertanya dengan tampang menggoda khas Baskara.



"Iya, tadi saya belum sempet makan"



"Lo kebiasaan, telat makan terus"



"Kan nungguin kamu"



Baskara langsung mengecup pipi Rindu, dia mencubit pipi Rindu dengan gemas.


Setelah berganti pakaian mereka duduk dimeja makan, menyantap makanan dengan bercanda gurau.



"Lo masak udang?" tanya Baskara saat dia memasukan satu biji udang ke mulut.


Rindu mengangguk sambil memakan sayuran yang ada dipiring.



"Bukannya elo alergi?"


Rindu menunjukan telapak tangannya yang sudah memerah


Baskara langsung meraih tangan itu dan mengecup telapak tangan Rindu dengan lembut



"Lain kali kalo alergi gak usah dipaksaiin buat nyenengin gue, biar gue delivery aja" kata Baskara.


Rindu tersenyum, sambil membereskan makanan nya dia menuju wastafel. Baskara juga sudah selesai menyantap makanan dia duduk di sofa sambil memecet stik ps.



"Rinduuuuuuu hauus"



Haus itu ambil minum sendiri Bas, kayaknya memang seromantis apapun Baskara hanya bertahan 15 menit selebihnya dia akan kembali kehabitat semula.



Rindu mengambilkan air dan duduk diatas sofa, sedangkan Baskara dia bertumpu pada kaki sofa.


Getaran hadpone dimeja membuat Rindu melirik, tapi Baskara justru sibuk dengan ps nya.



"Ada yang nelfon" kata Rindu menepuk bahu Baskara.



"Angkatin" kata dia



Rindu menggeser tombol angkat lalu meletakkan handpone itu di telinga Baskara



"Halo, siapa nih?" sapa Baskara



"Saya den, bibik. Nyonya Lily meninggal"



"Apa?"


Baskara langsung merebut handpone nya dan melepar stik ps asal.


Wajahnya langsung berubah pucat, demi Tuhan kabar ini sangat dadakan.



"Baru satu jam ini nyonya Lily meninggal, dan non Sisil tidak sadarkan diri den. Bibik bingun"



"Saya bakal kesana bik" ujar Baskara



"Ada apa?"


Melihat perubahan raut wajah Baskara yang menegang membuat Rindu ikut khawatir



"Mamanya Sisil meninggal" kata Baskara sambil berjalan masuk ke kamar yang diikuti Rindu


"Gue mau melayat, lo mau ikut?"



Kesalahan terjadi malam ini, saat Baskara meminta Rindu ikut dan dia mengiyakan ajakan suaminya.



__ADS_1


__ADS_2