BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)

BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)
Chapter 26


__ADS_3

Mereka duduk di lantai sembari bermain Ps. Rutinitas yang lama sekali di lakukan keempatnya. Setelah perdebatan panjang dan perubahan jadwal pembekalan kampus akhirnya Rama memutuskan untuk tidak pulang kmpung, dia duduk di depan televisi besar milik Pandu. Dengan cemilan yang banyak dan tentu berserakan, mereka menatap layar dengan serius



"Taikkk gue kalah“ umpat Alan. Rama memasukan snack kedalam mulutnya sembari terus memencet stik ps.



"Anjing anjing anjing si Baskara kaga selow mennnn" dia bergerak sedikit miring.



"Aaahhh kampret" umpat Pandu yang kalah dalam permainan. Giliran Rama dan Baskara yang masih bertarung.



"Es dah itu Rama kalo maen kaga selow" tukas Baskara sembari menendang paha Rama.



"Ram naik Ram naik" Alan menepuk pundak Rama sehingga si Rama langsung salah pencet.



"Kambing rendang, elo gangu orang maen" keluhnya "gue kalah kan jadinya"



"Alesan aja, maen gak bagus pakek nyalahin orang" Baskara melempar satu buah plastik snack yang belum terbuka.



"Maen apa lagi nih kita?" tanya Pandu mengaduk aduk snack.



"Bola Pan Bola" saran Rama. Baskara menyesap minumannya.



"Hubungan elo sama bu Rindu gimana?"


Alan langsung mengingatkan memori mereka pada kejadian tempo hari. Pandu menghentikan pergerakannya saat akan memasukan snack ke dalam mulut. 


Semua mata langsung menatap Baskara.



"Biasa aja matanya, berasa jadi teroris gue"


Baskara membaringkan tubuhnya diatas karpet.



"Biasa" jawabnya dengan mata tertuju atap putih



"Lo tahu, selain anak yayasan elo tenar sebagai suami dosen" kata Rama sambil menatap layar untuk mengganti program ps.



"Si Sisil langsung caw balik setelah elo balik" tutur Pandu



"Malu banget kalau gue jadi dia" tambah Alan.



"Gue sebenarnya gak pengen nyakitin dia. Gue pengen putus dengan baik baik" cerita Baskara


"Tapi dia yang mulai semuanya"



"Pilihan elo udah bener kok Bas, gue dukung elo 100% "


Rama mengigit sosis ketika selesai menyemangati Baskara.



"Gue rada sakit hati sebenarnya sama dia" kata Baskara "gue masih sayang sama dia" tambahnya



"Bas, mending elo fokus ke bu Rindu. Lupain si Sisil" saran Pandu "menurut gue selama ini bu Rindu baik sama elo"



"Gue bingung, kudu miih siapa. Hati gue masih sepenuhnya buat Sisil, tapi gak menuntut kemungkinan juga gue gak mau kehilangan Rindu" Baskara mengacak rambutnya "gue serakah banget gak sih?"



"Yooiii" ujar mereka kompak. Meraka tertawa bersama sama setelahnya sunyi mengambil alih.



Helaan berat dari Baskara terdengar. "Kalau bukan karena bokap gue gak mau ngejalani hidup kayak gini" tukasnya.



"Gini deh Bas, elo sebenarnya suka sama yang mana. Bu Rindu atau Sisi?" tanya Rama mulai terdengar serius.



Baskara menggeleng, tatapannya masih pada langit langit kamar.



"Saran gue mending elo pertahanin bu Rindu ketimbang Sisil. Elo udah ngerasain hidup sama bu Rindu, nah sama Sisil elo belom tahu apa dia bisa ngertiin elo setelah dia jadi istri" tambah Rama.



"Gue setuju sama si Rama, kadang kita terlalu menyukai milik orang lain padahal milik kita lebih baik dari milik orang lain" Pandu ikut menambahkan "kata orang Bas ya, jangan sampe elo nyesel setelah ngebuang berlian dengan sebiji krikil"



"Gue tanya sekarang. Sebagi laki laki, kita semua pasti pengen dapet istri yang baik dan sholehah meski kelakuan kita bangsat" Alan menepuk paha Baskara "yang kurang dari bu Rindu apa sebenarnya?"



Baskara membayangkan wajah Rindu, wajah yang selalu tenang dalam keadaan apapun, wajah yang tidak pernah menampakkan emosinya.


Baskara bangun sembari menatap teman temannya, dia mulai menghela nafas.



"Dia emang gak kurang apa apa selama ngelayani gue sebagai suami. Tapi gue juga laki laki, gue pengen dapetin cinta" Baskara sengaja menjeda kalimatnya "selama ini gue gak tahu gimana perasaan Rindu ke gue. Yang gue tahu dia baik sebagai istri. Tapi hatinya nobody knows! "



"Fungsi mulut itu untuk nanya Bas. Ya elo tanyalah ke dia, sebagai cewek, dia juga punya gengsi" jelas Pandu.



"Salah satu cara buat menjinakkan anjing adalah dengan elo mau di gigit untuk dia paham bau elo"


"Untuk ngejinakin bu Rindu elo harus ngebuang gengsi dan mau sakit hati buat paham apa yang dia mau, apa yang dia inginin" Alan menyelingi dengan menyesap minuman.



"Selama elo cuman kasih kode kode ke dia, dia gak bakal peka. Dia beda sama cewek lainnya" tutur Pandu.



"Gapang ngomongnya Bas, elo harus jadi pihak yang ngelunak buat bu Rindu. Elo harus jadi pihak yang mau ngungkapin isi hati elo lebih dulu. Nah yang namanya canggung bakalan ilang seiiring waktu" tambah Alan.


__ADS_1


"Percaya aja Bas, dia bakal luluh" kata Rama "elo yang selalu bolos kuliah aja bisa berubah seteah nikah sama bu Rindu. Apalagi bu Rindu"



"Gue ngerasa ikut seminar, kalian titisan Mario Teguh ya"



Mereka tertawa, Baskara meraih stik ps nya. Dia mengalihkan tatapan dan kembali fokus pada game. Perasaan hati memang tidak bisa di paksa tapi membiasakan hati dengan orang baru akan membuat perasan itu muncul tanpa terpaksa.



Yang perlu dilakukan Baskara adalah mengalah demi rumah tangganya, memang sulit. Tapi dia belum pernah mencobanya.



"Bdw elo sama Popy gimana Lan?" Baskara membuka suara, dia melirik Alan yang enggan menanggapi pertanyaan Baskara, sia malah semakin fokus pada permainannya.



"Ditolak dia" kata Rama menjawab pertanyaan Baskara.



"Kenapa tu cabe murah bisa nolak elo?"



"Ada yang lebih tajir yang miskin di tinggal" tawa Rama menggema di akhir cerita.



"Si anjing patah hati rupanya?" Baskara menendang kaki Alan.



"Udahh kita maen ps sepuasnya biar masalah kalian berdua selesai" kata Pandu menepuk bahu Alan dan Baskara bergantian.



Kadang lelaki hilang kontak itu bukan karena dia pergi dengan wanita lain. Tapi dengan cara berkumpul bersama teman untuk menghilangkan masalah wanita yang kadang sulit dipecahkan secara teori.



**



Rindu merapikan buku bukunya untuk dibawa ke kampus. Hari ini di kampusnya sedang ada acara pembekalan sekalian dia juga dipanggil pak Annam. Buku yang dibawa Rindu untuk dia kembalikan Ke perpustakaan, hari ini kampus mulai beroperasi untuk penerimaan mahasiswa baru.



Semalaman Baskara tidak pulang, entah apa yang dia lakukan bersama teman temannya. Rindu memutuskan untuk tidak membuat sarapan.



Setelah 30 menit Rindu sampai di kampus tanpa terburu buru, dia menuju ke perpustakaan. Perpustakaan ini terletak didekat dengan gedung kedokteran, dengan luas hampir 3x sekolahan, dipagari dengan rak rak buku. Rindu melangkah untuk menyapa wanita yang bertugas menjaga perpustakaan.



"Selamat pagi, saya ingin mengembalikan buku" kata Rindu memberikan 3 tumpuk buku.



Perpustakaan ini sudah ramai dipenuhi dengan mahasiswa, kebanyakan dari kedokteran, terlihat dari baju yanh dikenakan mereka.



"Bukankah itu bu Rindu" suara seseorang yang berbisik di belakangnya amat kencang, mungkin sengaja di keraskan supaya Rindu bisa mendengarnya.



"Iya, masih bisa ke kampus dia. Kalau aku udah malu, nikah sama mahasiswa yang umurnya lebih muda" timpal kawannya.



Wanita petugas perpustakaan memberikan tanda bukti kembali, rindu menerima dengan menyungingkan senyum tipis.




Sampai diruangan Rindu mengehela nafas. Untung dia pandai menyembunyikan ekspresi wajahnya.



Pintunya terbuka menampakkan wajah Wirawan yang tersenyum tulus padanya.



"Bisa kita bicara?" kata Wirawan sedikit canggung.



Rindu tahu, mungkin dia sudah mendengar berita pernikahannya dengan Baskara.


Wirawan mengambil duduk didepan Rindu. Dengan senyum canggung Wirawan menarik nafasnya.



"Saya tahu apa yang ingin kamu bicarakan"



Rindu memilih langsung memotong kecanggungan yang terjadi antara dirinya dan Wirawan.



"Saya sudah menikah dengan Baskara 7 bulan yang lalu" ujarnya.



"Mungkin terdengar aneh, bagi dosen untuk menikahi mahasiswanya. Tapi inilah yang terjadi dihidup saya" jelas Rindu



"Aku tahu, aku sudah mendengar ini semua dari mahasiswa" ada nada tidak terima di ucapan Wirawan "kalau boleh jujur aku sedikit gak terima sama berita ini"



"Karena?" Rindu menaikan alisnya



"Apa selama ini kamu tidak paham?" Wirawan memberi pertanyaan bukan jawaban atas pertanyaan Rindu barusan.



"Gak, gak usah difikirkan" wirawan memudurkan kursi, dia berdiri dengan menatap wajah Rindu "selamat atas pernikahanmu" ucapnya.



"Oh iya, kamu dipanggil pak Annam" tukas Wirawan ketika berada diambang pintu.



Rindu bangkit untuk menuju ruangan Annam, sampai disana pemandangan pertama kali yang dilihat Rindu adalah setumpukan dokumen dan pigura garuda yang memenuhi ruangan. Annam tersenyum dengan kerutan yang menghiasi wajahnya.



"Selamat pagi bu Rindu, maaf saya menganggu waktu liburan anda" sapa Annam dengan ramah



"Tidak masalah pak"ujarnya



"Saya langsung ke inti saja" Annam masih menyunggingkan senyum

__ADS_1


"Berita pernikahan bu Rindu dan Baskara sudah tersebar di seluruh Kampus, semua mahasiswa menuntut saya untuk memindahkan ibu ke fakuktas lain" Annam menjeda kalimatnya, dia menatap wajah Rindu yang tengah menatapnya tanpa ekspresi "mungkin sedikit sulit, karena ibu dosen baru yang baru saja mengajar disini" tambahnya



"Ini kami lakukan agar mahasiswa tidak merasa dideskriminasi"



Rindu ******** senyum tipis, dia tahu ini akan terjadi.



"Tidak masalah, dimanapun saya ditempatkan saya akan membawa kode etik dosen dengan baik" kata Rindu



"Sebenarnya saya salut dengan kinerja bu Rindu, tapi yah, ibu tau sendiri bagaimana watak mahasiswa"



"Kalau boleh tahu , saya akan di pindahkan pada fakultas apa?"



"Managemen Bisnis, itu cocok dengan jurusan ibu. Pindahan ini secara tiba tiba tapi saya harap bu Rindu bisa memahami saya sebagai dekan"  katanya



"Tidak masalah, saya menerimanya"



Annam memberikan selembar kertas yang sudah di tanda tangani dengan cap.


"Ini surat pindah fakultas, anda bisa melapor pada bagian kaprodi"



Rindu mengangguk, meski sebenarnya dia sedikit tidak rela. Tapi Baskara juga tidak akan ada dikampus, dia akan sibuk sibuknya magang.



"Besok ada pelatihan di Bogor, untuk dosen baru managemen bisnis. Saya sudah merekomendasikan bu Rindu dan pak Zaky untuk ikut. Ini surat tugas dari kampus"



Rindu menerimanya, dia mengangguk setelah mengatakan permisi dia pergi meninggalkan ruang dekan. Sepanjang hari Rindu hanya membereskan keperluan nya untuk pindah mengajar di fakultas lain. Seperti melapor pada kaprodi, meminta absen, dan yang jelas ruangan baru.


Sepanjang hari pula dia tidak bertemu dengan Baskara. Mungkin laki laki itu sibuk sibuknya pembekalan.



Rindu selesai membereskan ruangan barunya, mulai semester depan dia akan mengajar fakultas baru. Tidak ada yang mengecewakan, toh dia masih bisa bertemu Baskara di rumah.



"Permisi bu" suara seseorang mengintrupsi Rindu untuk menoleh. Dia menemukan lelaki dengan kacamata bulat. Tangan lelaki itu membenarkan letak kacamatanya, sembari tersenyum ramah.





"Anda bu Rindu?"



"Iya"



"Perkenalkan saya Sahlul Rozaky" dia mengulurkan tangan dengan senyum ramah



"Saya Rindu"


Rindu membalas jabatan itu



"Panggil pak Zaky" katanya "oh iya, ibu istrinya Baskara"



Tu kan beritanya udah kesebar, sampe sampe dosen yang keliatannya pendiem kayak dia bisa nanya gitu.



"Iya"



"Itu, Baskara lagi marah marah sama pak Annam atas pindahnya bu Rindu ke fakultas Bisnis"



What. Serius, terus kenapa ini orang ngomongnya selow banget.



"Terimakasih infonya"



Oh jadi mereka berdua satu spesies. Rindu berjalan sedikit cepat. Fikirannya masih pada Baskara, awas aja kalau ketahuan bakal dimarahin habis habisan sama Rindu.



Rindu membuka pintu ruangan, menatap Baskara yang sudah mencak mencak dengan Annam



"Bapak gak bisa gini dong, maen seenaknya mindahin dosen" wajahnya sudah merah oleh kemarahan, sata pintu terbuka Baskara menoleh kearah Rindu.



"Basakra, udah" Rindu menarik kemeja Baskara.



"Gue gak mau berenti sampe pak Annam ngasih keadilan buat elo" katanya



"Keadilan apa? Pak Annam cuman mindahin saya ke managemen bisnis, gak Ada ngaRuh apa apa ke karir saya" jelas Rindu



"Gue masih gak terima sama sikap dia yang maen mindahin elo seenaknya"



"Jaga sopaN santun kamu" Rindu melotot kearah Baskara.



"Maaf pak" kata Rindu kearah pak Annam yang wajahnya sudah pUcat. Mungkin takut pada Baskara.



"Lo denger ya, gue bakal aduin masalah ini ke bokap gue. Gue bakal bilang kalau elo deskrIminasikan dosen" tegas Baskara.



"Baskara" Rindu menarik paksa Baskara hingga dia mau melangkah keluar.


__ADS_1



__ADS_2