
Bahagia dan duka
Selalu beriringan bersama dengan alunan waktu
☘☘
Sambil menggenggam handpone, berjalan menyusuri mall dia mendorong troli belanjaan.
"Yang mana gue gak tahu?"
Sudah berdandan semanly ini malah berujung di mall dengan belanjaan banyak, bahkan Baskara harus berputar putar untuk mencari susu hamil.
"Susu hamil itu banyak"
Dia masih berteriak teriak dengan Rindu.
"Kamu tanya kasirnya, susu ibu hamil usia 24 minggu"
Ya, usia kehamilan Rindu saat ini sudah memasuki dua puluh empat minggu. Tidak terasa bahkan begitu cepat.
"Yang mana, gue gak tahu"
Baskara berputar putar dari rak ke rak, troli belanjaan yang dia dorong mulai terasa berat padahal Baskara tidak pernah meninggalakn jadwal fitnes.
Dia menemukan susu ibu hamil pada deretan susu bayi. Sambil memilah milah produk mana yang menurutnya baik dikonsumsi, Baskara mendekatkan handpoe di telinga.
"Coklat atau vanila? "
"Coklat"
Biasanya masalah belanja seperti ini selalu dilakukan bik Ijah pembatunya, atau juga Rindu. Tapi karena bik Ijah pulang kampung dan pembatu satynya yang mengundurkan diri, alhasil Baskara menggantikan mereka.
"Ada lagi?"
Dia bertanya sambil mendorong troli, menunggu jawaban Rindu, berharap gadis mungil itu tidak menambah daftar belanja lagi.
"Sudah"
"Eh eh"
Baru mau di tutup suara Rindu kembali membuatnya mendekatkan handpone di telinga.
"Apa lagi?"
Menahan kesal. Baskara memilih mendorong troli untuk menuju kasir
"Saya mau buah, mangga sama manggis"
Dengan putaran malas dari mata Baskara, dia mendorong troli menuju rak buah. Mengakhiri panggilan dari Rindu sebelum gadis itu menambah daftar belanjaan yang semakin membuat kaki Baskara pegal
Selepas belanja, dia pulang saat matahari sudah kehilangan cahayanya. Membawa dua kantung belanjaan dan melihat istrinya duduk sambil memakan salad buah, Baskara hanya berdecak heran.
Selama kehamilan Rindu. Gadis itu menjadi pemalas, selalu minta tolong apapun, mengambilkan minum, membuat susu, kadang minta di gendong ke atas kasur.
Selesai meletakkan belanjaan didapur Baskara menghampiri Rindu, masih mengenakan setelan jas kantor.
"Mandi dulu, saya jijik lihat kamu belum mandi"
Rindu mendegus langsung pergi meninggalkan Baskara yang berniat duduk di sebelah Rindu.
"Sabar" gumam Baskara lirih.
Adalah dua puluh menit sampai dia keluar sudah rapi dan wangi, ikut berbaring disebelah Rindu. Tangannya naik turun mengelus gundakan perut Rindu yang semakin membesar.
"Udah minum susu?"
Rindu menggeleng, membuat Baskara langsung marah.
"Kenapa? Nunggu apa? Ada dua orang yang ada di perut elo, mereka butuh nutrisi"
__ADS_1
Dia bergeser berniat pergi untuk membuat susu. Benar, anak Rindu kembar, tidak diketahui jenis kelaminnya. Yang dia tahu dia memiliki anak kembar. Mereka sengaja tidak memeriksakan jenis kelamin, untuk kejutan esok saat persalinan Rindu
Baskara menyerahkan susu digelas, hanya dilirik Rindu tanpa berniat untuk diminum.
"Minum" titah Baskara terdengar galak.
Rindu menggeleng, malah membaringkan tubuhnya dan menarim selimut
"Rindu. Elo harus mikirin keadaan anak kita"
Penuh sabar, Baskara menarik selimut yang menutupi wajah Rindu. Gadis itu berdecak, membalikan posisi tidurnya.
"Saya gak mau minum susu"
"Anak kita gak cuman satu Rin, tapi dua"
Rindu duduk, mengusap perutnya. Manik mata kekesalan Rindu tidak dapat dibohongi.
"Sayang, kita gak mau susu kan?"
Dia kembali membaringkan tubuh dengan manja. Suatu prilaku yang kadang membuat Baskara ingin marah.
Kalau tidak hamil sudah dipastikan Baskara akan marah dan mengumpat tidak jelas.
Rindu menyebalkan selama kehamilannya, biasanya yang sering merengek Baskara sekarang justru Rindu.
Karena malas berdebat Baskara tidur mebelakangi Rindu. Cukup sering dia lakukan kala sikap Rindu semakin menyebalakan. Untuknya acara nyidam Rindu terbilang cukup mudah dituruti, tidak perlu pergi malam malam untuk mencuri mangga di pohon tetangga contohnya.
Yang penting Baskara harus rapi dan wangi, karena dia membenci sesuatu yang jorok. Beda dengan kehamilan Rindu pertama yang cenderung membenci bau harum atau parfum dari suaminya. Emosi Rindu kadang stabil kadang tidak, dia bisa menangis hanya karena Baskara lupa membeli nasi goreng saat pulang kerja.
Dia bisa nangis berjam jam dan marah pada Baskara, meskipun sudah dibelikan nasi goreng, itu tidak cukup membuat tangisnya berhenti. Kadang, dia tidak mau Baskara meninggalkannya, dan lagi lagi Baskara harus mengorbankan untuk tidak pergi bekerja.
Rindu egois, kalau Baskara libur kerja, dia justru tidak mau didekati Baskara, menjadi dingin dan tiba tiba membenci kehadiran Baskara. Sumpah, Baskara pernah berniat meninggalkan rumah, saat tiga hari berturut turut Rindu menolak bertemu Baskara, alasannya sepele hanya karena Baskara lupa membelikan es cream. Hal gila apa yang tidak dilakukan Baskara selama istrinya nyidam. Seperti membeli kulkas es cream dan meletakkan di rumah seperti orang berjualan, padahal Rindu hanya ingin es cream sekali, memasak mie instan lebih dari empat kali karena tidak sama dengan yang dimakan Rindu saat dia SMA. Memangnya Baskara tahu bagaimana rasa mie instan buatan kantin Rindu.
Rindu menyukai makanan makanan sederhana, contohnya jajan nabati yang harganya tidak lebih dari lima ratus perak. Tapi Baskara harus membeli itu sampai lima kali bolak balik dari mini market, karena lelah bolak balik dia membeli empat dus nabati yang dia simpan di mesin pendingin. Memang dasar Rindu, sudah dibelikan sebanyak itu dia malah tidak mau memakannya
Kalau memikirkan itu semua, rasanya jarum kemarahan Baskara bisa langsung menuju angka sepuluh.
"Den Baskara ini bibik"
Suara wanita diseberang membuat Baskara membuka mata dengan malas. Dipandanginya jam di atas dinding, pukul tiga pagi.
Dia menatap nama pemanggil, pembantu yang bekerja di rumah Arya. Ada apa dia memanggil Baskara sepagi ini?
"Tuan, terkena serangan jantung"
Deg
Kalimat itu langsung meruntuhkan Baskara, dia segera bangun.
"Dimana papa sekarang? "
Baskara berjalan menuju lemari mengganti pakaian tidur dengan kaos dan celana biasa. Setelah mengatakan alamat rumah sakit, bibik menutup panggilan.
Rindu duduk, mengucek mata dan menatap sorot kekhawatiran dari wajah Baskara.
"Ada apa?"
Dengan suara serak Rindu menatap Baskara yang gelabakan
"Papa masuk rumah sakit"
Satu kalimat mampu membuat Rindu dengan susah payah berdiri, dia langsung mengambil jaket denim.
"Lo gak usah ikut. Disini aja"
Meski sudah diminta menunggu dirumah, Rindu tetap menolak, dia ingin mendampingi Baskara kemanapun lelaki itu pergi.
Karena enggan berdebat, mereka langsung pergi menuju rumah sakit.
__ADS_1
Tio dan Lina rupanya sudah mendapat kabar. Baskara langsung berlari meninggalkan Rindu yang berjalan sambil menyangga pinggang. Lina menghampiri Rindu dan segera membantu anaknya.
"Keadaan papa gimana?"
Wajah khawatir Baskara tidak bisa dibohongi. Bibik menggeleng, wajahnya ikut pucat
Samar samar dia melihat dokter tengah memberi kejut pada jantung Arya. Demi apapun, tubuh Baskara lemas saat ini juga, nafasnya mulai habis.
Rindu memeluk Baskara dari belakang, pelukan yang tidak bisa dirasakan oleh Baskara saat ini.
Dokter yang menangani Arya, keluar dengan wajah kecewa. Bisa langsung Baskara tangkap maksudnya tapi dia tidak ingin psimis dulu.
"Maaf" adalah kata pertama yang semakin mencengkram hati Baskara.
"Kami tidak bisa menolong pasien"
Jleb
Baskara menghembuskan nafas, langsung berjalan dan menyingkirkan dokter yang menghalangi jalan.
Selang oksigen, alat pengejut jantung, sudah di bersihkan oleh suster.
Baskara tidak sekuat itu untuk tidak menangis, dia kehilangan pertahanan begitu di ambang pintu, tangis Baskara pecah. Mengingat bagaimana momen momen bertebrangan di kepala Baskara.
"Pa. No kidding"
Baskara menggoncangkan tubuh Arya. Butiran air mata itu lolos dari pelupuk.
"Paaa" Baskara berteriak sambil menggoncangkan tubuh Arya
"you will get a grandchild soon" kalimat itu terbata bata bersama cucuran air mata
"please wake up"
Baskara ambruk, tidak ada hal menyakitkan didunia selain kehilangan orang tua. Dia tidak memiliki ibu, kehilangan sosok itu saat umurnya menginjak enam tahun dan kala umurnya dua puluh enam tahun dia harus kehilangan papanya.
Rindu memeluk Baskara dari belakang, lekai itu sudah menangis tersedu sedu.
"Papa belum lihat cucu nya Rin"
Suara itu tersedat sedat.
Rindu mengelus rambut Baskara, berusaha menenangkan.
"Baskara"
Rindu mengelus kepala Baskara, mencoba menenangkan. Lelaki itu benar benar terisak dalam pelukan Rindu.
"Gue gak pernah nurut apa yang diomongin papa, bahkan untuk peemintaan ngunjungi papa sekalipun"
"Papa bakal ngerti kok"
Rindi mennyeka air mata Baskara , dia paling tidak bisa melihat lelaki ini terpuruk.
"Papa sampe melihara burung dan ngaggep itu anaknya karena gue gak pernah ngunjungi dia"
Air mata Baskara lolos, mengingat bagaimana bahagia Arya saat mengenalkan Deo dan Ratna sebagai anak angkatnya. Hal yang justru diteriaki Baskara lantang lantang.
Baskara mengusap wajahnya, dia memandangi tubuh lemas Arya. Bahkan Baskara sampai tidak tahu kalau rambut Arya sudah tumbuh uban. Hal yang baru disadari Baskara sekarang.
Kenapa dia bisa sebodoh ini untuk tidak menjaga miliknya? Dia pernah kehilangan anak karena sikap acuh Baskara dan sekarang kenapa dia juga harus kehilangan Arya karena sikap acuhnya.
**dari autor untuk kalian tercinta
tolong jangan bosen dulu ya, sebentar lagi mau tamat,
jadi mohon tetap setia menunggu upnya author
Follow ig nya autor @asiihsyd
__ADS_1
nanti author apdate cast Bara ####**