
Terserah kamu, saya tidak memaksa. Mau menikah atau tidak dengan kamu saya tidak ada ruginya
🐣🐣🐣
Rindu duduk di sofa ruang tamu sembari berteman dengan tumpukan buku yang membuat semua orang akan merasa jengah, tapi tidak untuk gadis satu itu. Dengan kaca mata bulat dia terus fokus pada bacaannya.
Terdengar suara bel dari pintu depan, Rindu segera menutup bukunya, dan langsung melangkah menuju Pintu, disana sudah berdiri Pak Arya dengan gagah. Lelaki itu menyunggingkan senyum, Rindu hanya tersenyum tipis hampir tidak terlihat oleh Pak Arya.
"Masuk Pak" ajak Rindu, mereka duduk di kursi ruang tamu, Rindu bangkit lalu berjalan untuk memanggil mama dan papanya.
Lina dan Tio menyambut kedatangan temannya dengan suka cita. Wajahnya berseri, seolah benar-benar terlihat mereka tengah gembira.
"Kenapa gak bilang kalau mau kesini?, kan kita bisa siap-siap dulu" ucap Tio dengan menepuk bahu Arya.
"Ha ha kau ini seperti sama siapa saja" ucapnya.
"Mana anakmu?" Tanya Lina karena tidak melihat Baskara ikut bersama Arya. Laki-laki itu tersenyum
"Pasti dia lagi maen game didalam mobil, sebentar saya panggilkan dulu" kata Arya hendak bangkit dari duduknya
"Gak usah, biar Rindu saja yang manggil" Lina bangkit dari kursinya lalu melangkah menuju ruang televisi dimana Rindu tengah membaca dengan suara televisi yang mengisi ruangan
"Rindu, mama minta tolong" kata Lina masih berdiri, Rindu mendongak
"Sana kamu panggil anaknya Pak Arya, dia di dalam mobil, ajak masuk" kata Lina lalu berjalan menuju ruang tamu.
Mau tidak mau Rindu menurut, inilah poin terbaik dari Rindu, gadis itu memang sangat sopan dan penurut. Dia berjalan pelan menuju mobil pak Arya yang berada diterasnya.
Dia mengetuk kaca mobil belakang. Didalam ada Baskara yang tengah memasang earphone sembari kakinya terangkat dan memainkan game, tentu ketukan dari luar jendela tidak membuatnya mengalihkan pandangan.
Rindu mendegus, anak ini selalu saja menyusahkan, tidak di kampus juga di luar kampus. Rindu mengetuk kaca mobil dengan sedikit lebih keras. Karena merasa ada seseorang yang menatap nya, Baskara menoleh, dia setengah terkejut menatap gadis dengan rambut pendek menyerupai dosen bermuka triplek berada di samping mobilnya.
Baskara reflek menutup matanya, teriak ketakutan.
"Hwaa setannnn" teriak Baskara.
Rindu mengernyitkan dahi, memberi kode pada Baskara untuk segera turun. Laki-laki itu masih saja bergeming ditempatnya sembari melirik kekanan dan kiri, mungkin dia tengah memastikan apakah Rindu itu hantu atau memang dia benar-benar manusia.
Baskara membuka pintu mobilnya, lalu berjalan keluar.
Baskara melipat dahinya, dia merasa heran kenapa bisa dosen yang wajahnya datar kayak triplek bisa ada disini?, dia kan cuman nemenin papanya buat kerumah temennya. Kenapa dia bisa ketemu dosen yang mukanya kecil, pendek , nyebelin, dan datar?.
__ADS_1
"Ngapain lo disini, ngikutin gue ya?" Tuding Baskara menunjuk wajah Rindu. Gadis itu hanya memutar matanya malas lalu berjalan meninggalkan Baskara yang masih berdiri penuh tanya
"Disuruh papa kamu masuk kedalam" kata Rindu sebelum benar-benar berlalu.
Entah sejak kapan, tapi Lina mamanya Rindu sudah menyiapkan makan malam untuk Pak Arya dan anaknya. Mereka kini duduk di meja makan bersama-sama menyantap makan malam.
"Baskara inget tante gak?" Tanya Lina
Baskara mendongak menatap wajah ibu-ibu dihadapannya dengan berusaha mengingat sesuatu. Tapi akhirnya dia memilih menggeleng
"Ingatan dia cukup payah Lin" kata Arya membenarkan kalau Baskara sama sekali tidak ingat dengannya.
"Rindu, kamu ngajar kelas Ekonomi juga?" Tanya Arya kepada Rindu yang masih menyantap makannya. Rindu hanya mengangguk, seperti biasa cewek itu akan selalu menampilkan wajah datarnya.
"Baskara kalau dikelas seperti apa?" Meski perawakan Arya gagah dan ganas tapi sebenarnya dia adalah papa yang perhatian. Rindu menatap Baskara sekilas lalu menatap Arya yang menunggu jawabannya.
"Tolong jangan bilang yang jelek jelek tentang gue" batin Baskara dalam hati
"Dia sering telat, gak pernah ngerjain tugas, sering absen dan maen hp di kelas" kata Rindu mematahkan harapan Baskara. Cowok itu menatap tajam Rindu, yang justru tampak acuh dengan tatapan Baskara.
Setelah selesai makan ruangan kembali hening. Baskara sempat mencuri-curi pandangan kearah Rindu. Kalau dilihat-lihat, Rindu itu cantik juga. Hanya itu yang ada di pikiran Baskara sampai papanya mengambil suara.
"Jadi gini Yo kedatangan aku kesini, mau ngejodohin Rindu sama Basakara" kata Arya
"Wait?" Baskara reflek menatap Papanya yang justru acuh.
"Iya Baskara, jadi niat papa, nanti kamu akan papa nikahkan sama Rindu"
"No no, papa sakit ya? " tanya Baskara dengan wajah tak terima "mana mungkin aku nikah sama dosen yang udah tua dan gak nikah-nikah, mana badan nya pendek pula"
Baskara kelepasan mengucapkan kata sejahat itu dihadapan orang tua Rindu, tapi sepertinya Rindu tetap acuh, dia hanya menatap Baskara tanpa berkedip.
"Baskara jaga ucapanmu" bentak Arya
"Pa, papa gak bisa gini dong. Emangnya sekarang jaman purba apa pakek ngejodoh jodohin segala. Baskara udah punya pacar pa" kata Baskara ngotot untuk menolak perjodohan ini.
Lina dan Tio memilih diam, dia tidak ingin ikut dalam perdebatan anak dan ayah yang sama sama keras kepala.
"Lagian emang si kecil itu mau?"
"Baskara" kali ini Arya membentak dengan suara menaik, sempat membuat Baskara kicep. Semua ruangan menjadi hening, Arya melepaskan kaca matanya lalu memijat matanya sebentar, setelah itu kacamatanya kembali di gunakan.
"Papa udah bicarakan masalah ini sama Rindu dan dia setuju"
Oke. Hal yang membuat dunia Baskara hancur adalah pertama ketika ibunya meninggal saat usianya 6 tahun dan itu sudah cukup membuatnya menangis, tapi kali ini saat mendengar Rindu menyetujui perjodohan mereka, rasanya dunia Baskara benar-benar sudah berakhir. Dia tidak ingin menangis tapi ingin membunuh makhluk yang tingginya hanya dibawah pundah Baskara.
__ADS_1
"Aku enggak mau pa, aku gak pernah punya cita-cita dapet istri pendek kayak dia, apalagi mukanya datar banget kayak triplek"
Kali ini Rindu mendegus, dia merasa jengah melihat perdebatan didepannya. Apalagi kata-kata Baskara sudah menohok hatinya, dia ingin menangis, sejatinya Rindu juga manusia, dia bisa terluka, apalagi dia adalah seorang wanita yang hatinya sangat lembut. Sejak kecil Rindu selalu kesulitan untuk mengekspresikan keinginannya, tidak semudah Baskara yang bisa terang-terangan mengatakan kalau dia tidak mau atau dia ingin itu.
"Oke, gak masalah kalau kamu nolak perjodohan ini. Tapi semua fasilitas yang papa kasih akan papa cabut sekarang juga, dan mulai besok kamu akan dicoret dari kandidat penerus perusahaan" ucapan Arya membuat Baskara lagi-lagi memanas, dia menatap Rindu dengan belis, bisa-bisanya dalam siatuasi seperti ini gadis itu masih bisa menampakkan wajah datar dan tidak cemas sama sekali.
"You kidding me?" Baskara ingin marah tapi dia tidak mampu melawan Arya, dia tahu itu.
"Ma Rindu permisi ke belakang sebentar"
Lina menatap anaknya dengan kasihan, meski Rindu terlihat tenang, tapi Lina tahu kalau gadis itu pasti terluka dengan ucapan Baskara,h hanya saja dia tidak tahu cara mengungkapakannya bagaimana. Rindu sudah berjalan menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya.
Melihat itu Baskara bangkit, dia menatap Rindu yang hilang dibalik pintu. Baskara menatap papanya lalu menatap Tio dan Lina bergantian
"Permisi saya mau bicara dengan Rindu"
Baskara melangkah menaiki anak tangga untuk menyusul Rindu, ketika dia membuka pintu, yang di lihat adalah Rindu tengah menatap pantulan cahaya dari Jendela. Wajahnya tampak santai, tidak menampakkan wajah khawatir sama sekali. Baskara membalikan tubuh Rindu, dia menatap kedua bola mata gadis itu.
"Lo gila ya, udah setuju sama rencana papa?" Ucapan Baskara masih saja terdengar menyakitkan untuk Rindu, tapi gadis itu hanya menatap Baskara sekilas lalu dia berjalan untuk duduk di meja kerjanya.
"Saya tidak gila, saya menyetujui itu karena orang tua saya juga setuju"
Kalimat Rindu benar benar semakin membuat Baskara memanas, alasan sepele seperti itu bisa membuatnya menerima pernikahan dengan lelaki yang tidak dia kenal sama sekali.
"Heh emangnya lo gak malu nikah sama mahasiswa elo sendiri?"
"Saya lebih malu kalau saya mempermalukan orang tua saya"
"Lo denger gue, sampai kapan pun gue gak bakal mau nikah sama cewek kayak elo"
"Terserah kamu, saya tidak memaksa. Mau menikah atau tidak dengan kamu saya tidak ada ruginya"
Rindu membuka laptopnya untuk mengecek e-mail. Baskara benar-benar muak dengan gadis ini, dia sama sekali tidak merasa cemas atau takut dengan perjodohan ini, justru dia tenang dan malah memilih membuka laptopnya. Baskara menggebrak meja dengan keras. Laki-laki itu sudah marah.
"Lo cewek macam apa sih sampe lo masih bisa tenang di kondisi kayak gini"
Rindu mendongak, dia menatap Baskara dengan tatapan datar, Rindu tidak bisa marah tapi dia juga bisa terluka.
"Kalau kamu gak setuju sama rencana papa kamu, tinggal kamu lepasin semua aset yang udah papa kamu kasih"
Baskara menyunggingkan senyum dengan menundukkan kepalanya lalu tatapannya menghunus kearah Rindu. Gadis itu kini menatapnya juga hingga tatapan keduanya sama-sama bertemu.
"Segitu gak lakunya ya lo, sampe sampe lo nerima perjodohan ini dengan mudahnya !! "
Baskara merapikan kaosnya, dia menatap kearah Rindu dengan sunggingan iblis.
__ADS_1
"Oke, gue mau nikah sama elo, lagi pula gak ada ruginya buat gue nikah sama cewek kayak elo. Itung itung gue baru ngadopsi pembantu buat ngurusi gue"
Baskara berlalu sembari mebanting pintu kamar Rindu. Kepergian Baskara benar benar membuat Rindu terluka, apa sebegitu hinanya Rindu dimata laki laki itu