
Awal membenci untuk mencintai dengan pasti
š£š£š£
Rindu masih tidak mengerti dengan mahasiswa songong yang menabraknya dan tidak merasa bersalah sedikitpun, justru laki laki itu malah mengomentari tubuhny. Emang sih tubuh pendek Rindu sering menyulitkan, contohnya mengambil buku di rak tinggi ketika dia di perpustakaan.
Rindu menghepaskan tumpukan makalah diatas mejanya hingga terdengar bunyi dum. Meski hatinya dongkol tapi dia harus menampilkan sikap biasa saja.
Setelah pekerjaan selesai, Rindu keluar kampus dengan mobil sedan warna merah, dia berniat langsung menuju rumah Pak Arya. Sebenarnya rumah pak Arya sejalan dengan rumahnya. Pak Arya adalah teman papa nya Rindu sejak berada di bangku SMA, tapi semejak Rindu melanjutkan studi S2 nya di luar negri wanita itu jarang sekali bertemu dengan Pak Arya.
Setelah berada di depan pintu rumah Pak Arya, Rindu menekan bel rumah, Rindu berdiri sembari menjinjing tas mungilnya.
Seorang pembantu rumah tangga keluar dengan senyum manis yang dia sunggingkan.
"Pak Arya ada?" Tanya Rindu
"Ada masuk non"
Rindu mengekori pembantu itu dan setelahnya dia duduk diruang tamu menunggu kedatangan Pak Arya. Ada lima menit tapi Pak Arya belum juga muncul, setelah cukup lama akhirnya laki laki itu berjalan dengan pakaian santai. Wajahnya sumringah ketika dia melihat Rindu yang masih sama seperti kali terakhir bertemu dengannya. Rindu dan Pak Arya berjabat tangan.
"Apa kabar Rindu?" Tanya pak Arya dengan menyunggingkan senyum.
Rindu mengangguk tanpa membalas senyuman dari pak Arya lalu dia berucap "Baik"
"Ada apa memanggil saya kemari pak?" Itulah Rindu, dia sulit untuk sekadar basa-basi dengan orang lain, dia lebih senang langsung pada inti permasalahan.
Pak Arya mengulum senyum. Dia meneguk minuman yang ada diatas meja.
"Kamu masih sama ternyata" kata pak Arya menatap Rindu penuh arti. "Begini kamu tahu anak saya, Baskara?"
Rindu menganggukan kepalanya, seingat dia Baskara yang diceritakan pak Arya adalah teman kecilnya. Saat itu umur Rindu masih 10 tahun dan Baskara berumur 5 tahun. Hanya itu yang ada di kepala Rindu, bukan bayangan Baskara yang gagah dan tampan.
"Saya berniat untuk menjodohkan kamu dengan anak saya, Baskara"
Ucapan Pak Arya begitu membuat Rindu terkejut, tapi sungguh, wajahnya tetap terlihat biasa saja, tidak seperti dia baru saja mendengar sebuah kabar buruk yang harus di sesali. Tapi wajahnya santai seperti dia tahu bahwa temannya baru mendapatkan hadiah dari pacarnya, tidak seluar biasa yang akan orang lain ekspresikan jika tahu mengenai perjodohan ini.
"Bukankah Baskara dengan saya terpaut lima tahun, saya juga lebih tua dibandingkan anak bapak. Apa itu tidak masalah?" Tanya Rindu
"Menurut saya tidak masalah, saya menginginkan hidupnya ada yang mengurus, selama ini anak itu tidak bisa dikendalikan. Dia selalu berbuat seenaknya" wajah Pak Arya terlihat murung.
Apalagi saat bayangan terputar pada saat Baskara mabuk berat hingga terkelulai di lantai ruang tamu, bahkan perbuatan seperti itu tidak pernah dia lakukan sama sekali di masa mudanya. Perbuatan Baskara sangat memukul hati Pak Arya, belum lagi utuk membesarkan seorang diri tanpa dampingan istri, begitu menyulitkannya
"Saya sudah membicarakan masalah ini dengan orang tua mu, tapi saya meminta mereka untuk tidak membicarakan masalah ini dengaanmu, takutnya nanti kamu keberatan dengan perjodohan ini"
Rindu masih diam, sejujurnya hatinya begitu sakit ketika mendengar perjodohan ini, tapi dia tidak cukup berani untuk menolak keinginan Pak Arya yang sudah banyak membantu keluarganya. Apalagi kalau orang tuanya sudah menyetujui, Rindu tidak ingin mempermalukan kedua orang tuanya.
Masalah hati, sebenarnya gadis itu belum memiliki kekasih, tapi rasanya akan terasa aneh saat dia bangun tidur dan disampingnya terbaring lelaki yang tidak dia kenal dengan baik sebelumnya. Rindu menghela nafas berat.
"Hanya perjodohan kan, bukan karir. Tidak apa apa Rindu"
__ADS_1
Rindu mengulum senyum
"Kalau orang tua saya sudah menyetujuinya, saya akan melaksanakan perjodohan ini"
š£š£š£
Rindu sudah berada di kelas saat sebagian mahasiswa masih berada diluar, padahal ini sudah jam masuk. Rindu bersidekap sembari memainkan jarinya diatas lengan. Dia menunggu semua mahasiswanya full, dari empat puluh mahasiswa hanya ada tigapuluh delapan.
"Kita mulai saja kuliahnya" kata Rindu.
Baskara membuka pintu dengan tergesa-gesa, dia sadar saat ini Baskara sudah telat mata kuliah Rindu.
"Maaf bu saya telat"
Rindu menatap sekilas Baskara tanpa ekspresi.
"Kenapa telat?" Tanyanya datar
"Macet bu"
Rindu mengambil absen miliknya. Disini Rindu tidak seperti pak Yuda yang memberikan absen berupa tanda tangan, tapi Rindu menyebutkan nama satu persatu mahasiswanya sehinga tidak ada yang namanya titip absen.
"Siapa nama kamu?" Tanya Rindu tanpa mengalihkan pandangannya pada layar monitor laptop yang berada diatas meja.
"Cosmos Arya Bayu Baskara"
"Baskara, apa anak ini yang akan di jodokan pak Arya dengan saya? "
Rindu langsung mengalihkan arah pandangannya ke mahasiswa yang lain.
"Silahkan kerjakan kuis itu, saya beri waktu setengah jam" kata Rindu menegaskan tanpa mempersilahkan Baskara duduk.
Laki laki itu masa bodo, justru dia berjalan dengan santai kearah kursi yang berada di sebelah Pandu. Dia menghempaskan tasnya begitu saja, membuat Rindu menatapnya geram, meski begitu ekspresinya tetap datar.
"Baskara apa ada yang menyuruh kamu duduk?" Tanya Rindu pada Baskara, bahkan dia sudah melangkahkan kaki untuk mendekati tempat duduk Baskara.
"Saya kira ibu nyuruh saya duduk tadi"
Ucap Basakara tanpa rasa takut
"Tidak masalah kalau ingin duduk, tapi tidak masalah juga kalau nilai kamu C "
Rindu melangkah kembali kearah mejanya. Setelah setengah jam Rindu bangkit dan berdiri ditengah kelas.
"Silahkan kumpulkan tugas beserta kuis yang saya berikan"
Baskara yang duduk disebelah Pandu mengacak-acak tasnya untuk mencari tugas yang dikerjakan semalam, bahkan sampai membuatnya begadang, maksudnya membuat Rama begadang dirumahnya, dia sih cuman nemenin Rama.
__ADS_1
"Mampus gue, gue lupa bawa tugasnya bu Rindu" ujar Baskara lirih pada Pandu
"Mampus lo Bas, nilai lo bener-bener C"
"Ada Yang belum mengumpul tugas?" Suara Rindu tiba tiba terdengar menggema di telinga Baskara.
Apa karena efek dia yang tidak membawa tugas jadi seolah suara itu mengatakan "kenapa kamu lupa bawa tugas?" . Baskara mengacak rambutnya frustasi. Akhirnya dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Kenapa kamu tidak mengumpulkan tugas?" Tanya Rindu sambil membereskan seluruh barangnya untuk meninggalkan kelas.
"Lupa bu" kata Baskara terlihat sedikit gelisah meski tidak sepenuhnya laki-laki itu merasa begitu.
"Temui saya diruangan saya" kata Rindu sembari melangkahkan kaki meninggalkan kelas.
Baskara mendegus pelan, lalu beranjak untuk menyusul Rindu. Gadis itu berjalan cepat bagi Rindu, tapi tidak untuk Basakra, karena lelaki itu sudah menyusulnya dibelakang. Ketika berada di ruangan, Baskara langsung duduk tanpa dipersilahkan.
"Siapa yang nyuruh kamu duduk?" Tanya Rindu tajam kearah Basakara.
Laki-laki itu acuh , dia justru menatap Rindu dengan tatapan angkuh. Seolah dia berkata "kenapa?, masalah buat elo?. Ini kampus milik bokap gue"
Rindu mendegus kesal melihat sikap Baskara saat ini. Apalagi bayangan perjodohan dengannya tiba-tiba terlintas begitu saja.
"Ada tugas pengganti untuk kamu" katanya sembari memeriksa makalah yang baru saja di kumpul tadi dikelas Baskara.
"Nanti saya kirim tugasnya lewat e-mail" kata Rindu
"Terus ibu kenapa nyuruh saya kesini?, cuman mau bilang kalau ibu mau ngirim tugas ke saya lewat e-mail?" Kata Baskara jengah.
Rindu mendongak menatap semburat kemrahan diwajah Baskara.
"Tulis nama e-mail kamu" titah Rindu menyodorkan kertas dan pena kearah Baskara.
Setelah e-mail tertulis laki-laki itu langsung berlalu tanpa salam apapun, dia berjalan menuju kekantin untuk menemui teman-temannya
"Gimana urusan sama bu Rindu?" Tanya Rama yang selalu antusias kalau tentang Rindu
"Dikasih tugas pengganti" Baskara berdecak kesal
"Santai dong Bas, lo juga aneh. Udah gue kerjain tugasnya malah gak elo bawa" kata Rama sembari menyeringai
"Atau jangan jangan elo modus ya sama bu Rindu" timpal Pandu yang langsung dijitak spontan oleh Baskara.
"Gila lo ya, mana mau gue sama cewek pendek kayak dia. Tujuh turunan juga gue ogah" timpal Baskara mengeluarkan unek-uneknya
"Ati-ati lo kalo ngomong, dapet jodoh kayak bu Rindu kelar idup lo" sumpah Rama yang diangguki teman-temannya
"Mampus aja gue ketimbang dapet jodoh orang kaku kayak triplek gitu"
Mendengar umpatan Baskara yang spontan mengudang gelak tawa teman-temannya. Padahal sih tidak ada yang salah dari Rindu kecuali memang ekspresinya yang selalu datar.
__ADS_1