
Tidak ada kebohongan yang bertahan lama
☘☘☘
Senyum Baskara masih mengembang sempurna tidak pudar sekalipun, padahal tadi dia sudah mendapatkan suprise dari Sisil mantan kekasihnya yang masih dia sukai. Entah kenpa mendapatkam hadiah sesederhana ini dengan cara Rindu membuatnya tetap tersenyum.
Baskara memakan kue nya sembari melihat Rindu yang mengerjakan pekerjaannya. Emang dasar tuh si Rindu acara kayak gini seharusnya romantis romantisan bukannya malah ngerjaiin tugas.
"Elooo, nyiapin ini buat gue?" tanya Baskara dengan sendok masih menggantung di bibir. Rindu hanya berdehem, tatapannya masih terfokus pada buku yang dia baca dan layar laptop yang lebih menarik dibandingan wajah Baskara.
"Elo kapan masak kuenya ?"
"Tadi" jawab Rindu singkat.
Baskara membanting sendok diatas meja sehingga menghasilkan suara yang cukup keras, tapi tetap tidak mengalihkan fokus Rindu.
Gini nih derita punya istri kulkas berjalan, dinginnya ngalahin musim salju.
"Bodo Rin bodo"
Baskara berdiri sembari melempar bantal sofa kearah Rindu. Tepat mengenai kepala Rindu, gadis itu melirik tapi yang diliriknya sudah buru buru lari masuk kamar.

Rindu kembali memfokuskan seluruh fikirannya di tugas tugas yang akan dia kumpulkan besok. Karena minggu depan UAS akan dilaksanakan.
Ting tong
Bel depan berbunyi, Rindu langsung bangkit tanpa menaruh curiga sama sekali pada sitamu. Begitu pintu terbuka, Rindu setengah gugup, sungguh mereka adalah Alan, Pandu dan Rama yang nyengir sembari membawa kue.
"Kejuttt" mereka berteriak bersama tapi langsung berhenti dan merubah ekspresi mereka dengan bingung
"Taann" terus mereka lemah.
"Du kita gak salah apartemen kan?" tanya Rama masih dengan tampang cengo. Pandu mengintip di pintu untuk mengecek nomor apartemen
"Bener kok" jawab Pandu.
Alan, Pandu dan Rama saling berpandangan, mereka tidak mampu mengatakan sepatah apapun. Sungguh, bagaimana jika kalian diposisi mereka, bertamu ke rumah teman tapi yang membukakan dosen paling dingin dan killer.
"Bu Rindu ngapain disini?" akhirnya Pandu memberanikan diri membuka suara meski dengan nada canggung dan tentu pelan.
"Ini rumah saya" jawab Rindu masih sama, dingin dan tidak memiliki ekspresi semacam "oh rahasianya akan ketahuan" tidak dia bereaksi seperti biasa.
"Rumah ibu"ulang Alan "ohhh Baskara ngejual rumahnya sama ibu ya?" Alan menyengir mengatakn kalimat itu meski ragu.
"Tidak, saya tidak beli rumah ini pada siapa saipa?"
Oh ghost, aku yakin saat ini mereka bertampang cengo dengan fikiran berkalut kalut yang membingungkan. Rama menggaruk tengkuknya, Alan masih setia memegang kue sedangkan Pandu dia berulang ulang menutup mulutnya yang setengah menganga.
"Ibu saudara nya Baskara?" Rama membuka asumsi yang jauh tidak masuk akal, karena mereka sudah mengenal keluarga dari Thomas Arya. Keluarga Baskara semuanya laki laki kecuali sepupunya yang tinggal di Jepang, tapi memiliki tubuh tinggi dan mereka pernah bertemu dengan sepupunya itu.
Tidak, tapi Rama tidak ingin berfikir bahwa mereka kumpul kebo atau Baskara main belakang dengan Rindu. Siapa tahu Rindu menikah dengan sepupu Baskara yang entah siapa?
"Bukan. Saya istrinya"
Ini lebih mengejutkan dari pada kejutan yang akan mereka berikan. Ini seprti mereka tersetrum listrik atau mendapat goncangan gempa bumi. Yang lebih parah dari kuis dadakan dan tiba tiba dosen menagih tugas ketika mereka tidak mengerjakan tugas.
"Ha ha ha ha" mereka kompak tertawa.
__ADS_1
"Ibu nge prank kita?" kata Rama masih dengan cengiran kaku "wahh ibu youtuber ya?" tambahnya
"Chanel apa bu? Beauty vloger, vlog atau prank?" kata Pandu meski setengah ragu. Orang kayak Rindu gak mungkin punya youtube secara gak mungkin kan dia nyapa subcribernya "saya sudah di kampus" kaku tanpa ekspresi meski wajahnya mendukung.
"Ashiiapppp, ngalahin Atta Halilintar dong bu" canda Pandu.
"Rinduuuuu ambilin gue airr gue auuss"
Rindu membuka pintunya lebar memberikan pemandangan Baskara dengan celana bokster tanpa baju tengah keluar kamar.
Mereka bertiga menganga dengan mulut terbuka sedangkan Baskara juga sama terkejutnya. Dia memaku tidak bisa berkata apa apa lagi
"Masuk" ajak Rindu.
Ragu ragu, mereka masuk dan duduk di sofa dengan rapi bagaikan anak TK yang melihat guru galak tengah marah.
Baskara berjalan kearah mereka setelah Rindu memberikan kaos yang dia ambil dari Walk in Closet.
"Mau minum apa?" tanya Rindu
"Gak usah bu, biar nanti kita ambil sendiri" jawab Rama yang mendapat senggolan dari Alan.
"Lo bego, dia nyonya rumah ini" bisik Alan tertahankan.
"Terserah ibu aja" sahut Rama takut takut
"Santai aja, saya gak akan ngebunuh kalian"
Rindu berjalan kearah dapur untuk membuat jus apel. Sedangkan Baskara langsung mendapatkan plototan dari teman temannya
Baskara mengacak rambutnya, dia duduk di sisi sofa. Menunggu Rindu meletakan jus apel yang dia ambil dari kulkas. Rindu langsung pergi karena dia tidak ingin mengganggu Baskara dan teman temannya.
Setelah melihat Rindu menghilang dibalik pintu Baskara mengambil nafas untuk menjelaskan pada teman temannya.
"Jadi gini"
"Apa?" segak Pandu
"Bentar dulu coek, dia lagi mau jelasin"
Pandu mendapatkan jitakan sayang dari Rama.
"Bentar bentar, kalian duduknya bgapain paha di jejerin, tangan dirapiin diatas paha, kalaian mau dipanggil guru biar cepet pulang"
"Kelamaan lo" Rama mengganti posisi duduknya seprti biasanya
"Sebenarnya gue pengen ngasih tau ke kalian, tapi gue gak nemu waktu yang pas" cerita Baskara
"Gue dijodohin sama Rindu 3 bulan yang lalu"
Mereka bertepuk tangan kompak "wah lo mau jadi youtuber, prank lo berhasil men" kata Rama
"Gue gak bohong anjing" umpat Baskara "kalo lo gak percaya gue tunjukin fotonya"
Baskara memberikan foto pernikahan Rindu dan dia yang di lakukan 3 bulan yang lalu di Singapura.
Mereka terdiam, saling pandang dan menunggu Baskara melanjutkan ceritanya.
__ADS_1
"Gue bingung mau cerita ke kalian dari mana dulu, karena banyak yang gue simpen" kata Baskara menunduk.
"Anjing, taik, babi lo" umpat Rama. Lelaki itu berdiri sambil berkacak pinggang
"Lo temen kita Bas, kenapa masalah sepenting ini bisa lo sembunyiin dari kita?" tambahnya.
"Ram tenang Ram" Pandu menenangkan Rama. Dari mereka memang yang memiliki emosi paling tinggi adalah Rama, dia mudah terpancing emosi tapi Rama adalah teman paling setia.
"Gue gak bisa tenang Pan, bisa bisa nya dia nyembunyiin masalah ini dari kita"
"Gue tau gue salah Ram. Tapi gue gak ada pilihan lain buat nyembunyiin ini"
"Jadi lo nganggep kita sahabat cuman buat seneng doang?" hina Rama
"Lo kenapa nyolot sama gue"
Baskara ikut menaikan kalimatnya, bahkan wajahnya sudah berubah tegang.
"Udah woy udah, kita bisa selesaiin ini semua dengan baik baik" lerai Alan
"Gue kecewa sama lo Bas, gue kira gue bener bener temen elo. Ternyata banyak yang gak gue tau dari elo" sindir Rama talak.
"Gue tahu gue salah dengan nyembunyiin pernikahan gue dari kalian, tapi gue juga punya alasan buat nyembunyiin ini semua" jelas Baskara.
"Apa alasan itu smape elo bohong sama kita kayak gini?" tanya Rama
"Gue cuman malu, kalau sampe kalian ngeledekin gue karena sumpah sumpah gue selama ini"
Terdengar helaan nafas dari Rama. Lelaki itu mengacak rambutnya frustasi.
"Lo gila ya, kita sering ledek ledekan. Tapi bukan berarti kita gak ngedukung elo" ucap Alan
"Bas, kita temen, apapun masalah nya elo harus cerita ke kita" tambah Pandu.
"Gue gak suka elo nyembunyiin apapun dari kita" tambah Rama akhirnya merendah
"Jadi kalian udah gak marah?" tanya Baskara
"Masiiihh" jawab mereka kompak
Detik selanjutnya yang terdengar hanyalah tawa dari mulut mereka.
"Anjing lo udah married" ujar Pandu menonyor dahi Baskara
"Nikah sama dosen cantik lagi" tambah Alan.
"Niatnya ngasih kejutan malah kita yang terkejut" kata Rama sembari tertawa.
"Sebagai permintaan maaf, gue mau elo nraktir kita" teriak Rama mulai pada sifat aslinya
"Asuu masih sempet sempetnya ngomongin makan" Alan menonyor dahi Rama.
"Jancukk" umpat Rama.
"Ha ha ha ha"
Beginilah persahabatan, gak penting sejauh mana kalian bertengkar, sekasar apa kalian saling mengumpat, tapi masih ada waktu berikutnya yang membuat kalian berbaikan seolah tidak terjadi apa apa pada persahabatan kalian.
__ADS_1