
Acara selesai pada jam sebelas malam,
tidak ada pesta alkohol diacaranya, hanya ada pesta dansa dan acara makan makan lebih tepatnya acara bisnis untuk mereka. Karena dari awal hanya ada kata kata kerja sama, saham dan menawarkan bebrepa jasa. Tidak tepat jika di sebut dengan pesta.
"Mama sama papa gak nginep aja disini?"
Rindu menatap kepergian Tio dan Lina dengan tidak rela. Sejak pulang ke Indonesia dia hanya bertemu saat dipesta tadi, itu pun tidak lama.
"Mama gak mau ganggu waktu kamu sama Baskara"
Lina menatap Baskara yang tengah berbincang dengan seorang lelaki tua, sepertinya itu adalah rekan bisnis Baskara.
"Mama sama papa gak ganggu kok"
Rindu masih berusaha membujuk Lina.
"Ayok ma, keburu malam"
Tio mengajak Lina untuk segera pergi
"Pa" rengek Rindu
"Kamu jadi manja sekarang"
Tio mengelus rambut Rindu, dia bahagia menatap anaknya sebahagia itu.
"Lain kali kami akan berkunjung"
Setelah mencium tangan Lina dan Tio. Rindu berjalan mendekati Baskara yang tengah berjabatan tangan dengan lawan bicaranya. Rumah dalam keadaan sepi, dan tamu tadi tamu terkahir yang disini. Selainnya hanya teman teman Rindu yang duduk di sofa sambil bercanda gurau.
"Papa udah pulang?"
Baskara merangkul pinggang Rindu posesif, sambil diciumi rambut Rindu.
"Udah, papa Arya titip salam sama kamu"
Arya sudah pulang sebelum Lina dan Tio. Katanya mau mengurusi burung burung peliharaan yang sudah menjabat sebagai anak angkat Arya.
"Besok kita kesana"
Baskara langsung bergabung bersama Alan, Pandu dan Rama. Sedangkan Rindu, Sisil dan Icha duduk di sisi kanan. Wirawan hanya duduk canggung menatap ke empatnya yang tertawa terbahak bahak dengan saling melempar umpatan.
"Lo kapan sah nya?" goda Baskara pada Rama
Rama mendekatkan jari telunjuk di bibir "ssttt lagi proses ini "
Mereka tertawa lagi, mengabaikan wajah kaku Wirawan. Baskara tidak banyak memperhatikan Rindu, biarkan gadis itu bersenang senang dengan Icha dan Sisil.
"Pak Wirawan diem aja, mau kopi"
Alan mengangkat gelasnya, menawarkan.
"Gak usah. Saya sudah banyak minum tadi" tolak Wirawan halus.
"Enak pak makanan nya tadi?"
"Enak"
"Kalau jadi nikah sama dokter Icha. Kabari saya. Saya siap antar ketring"
Rama dan Pandu yang mendengar promosi Alan langsung tertawa. Memang kalau ngomong sama Alan sekarang bau bau promosi terus.
"Elo ngetawain orang tua ,dosa" celetuk Alan pada teman temannya.
"Lagian promosi terus" timpal Pandu.
__ADS_1
"Mending gue promosi, la elo nawarin jasa pidana" hina Alan sambil tertawa.
Mereka sama sama tertawa menertawai Pandu yang justru memberi wajah masam.
Rindu tidak banyak bicara hanya tersenyum mendengarkan Icha dan Sisil yang asyik berbincang.
"Aku udah lupa kalau pernah terlibat masalah sama bu Rindu"
Sisil menggenggam lengan Rindu, wajahnya berseri seperti benar benar bahagia akan sesuatu.
"Aku udah gak inget. Maaf bu"
Kalimat itu terdengar tulus dari bibir Sisil, Rindu sudah lupa akan masalah di hotel atau masalah dipemakanan Lily. Dia sudah melupakan kejadian kejadian buruk bersama Baskara, hanya ada kenangan manis manis saja. Maksudnya saat Baskara merengek padanya, saat Baskara membuat kesal dengan ulah nya.
"saya juga sudah lupa"
Rindu tersenyum
**
Larut malam semuanya bersiap pulang, Baskara mengantar mereka sampai teras ditemani rengkuhan posesif yang melingkar di pinggang Rindu.
Wirawan dan Icha sudah pulang dulu sejam yang lalu, hanya ada teman Baskara yang berdiri bersama gadis gadisnya
"Kalian gak nginep aja?"
"Gak enak ,gue bawa anak orang" sahut Alan
"Biasanya juga gak pernah balik kalo bawa anak orang"
Mendengar kalimat itu Alan menendang tulang kering Baskara. Untungnya dia cepat menghindar, juluran lidah didapatkan Alan dengan kesal.
Pandu nyengir, karena lelaki itu yang tidak membawa pasangan, hanya melihat teman temannya sudah menggandeng gadis.
"Gue jomblo terhormat ya"
Pandu yang tidak terima langsung ngeles.
"Undang undang Ram kalau mau ngesahin" Baskara menatap wajah Sisil sekilas.
Sambil memberi kedipan manja ke Sisil, perlakuan itu langsung mendapat jitakan dari Rama.
Dengan tertawa Baskara melirik kearah Rindu
"Whueh"
Kaget. Itu yang didapatkan Baskara saat melihat lirikan tajam dari Rindu.
"Jangan gitu liatnya, berasa kayak dihakimi gue"
Selesai berdada ria, mereka semua pulang dengan mobil masing masing. Baskara berniat merangkul Rindu, tapi Rindu justru menghidar dan dengan cepat masuk kekamar.
Baskara mengekori sambil tertawa. Bisa cemburu juga cewek itu.
Dia merebahkan tubuh diatas kasur sambil menandangi Rindu yang berusaha membuka reseleting dres belakang.
Baskara masih diam mematung menunggu Rindu menyerah dan meminta bantuannya.
Rindu menoleh, menatap Baskara yang menatapnya terang terangan.
"Kenapa? Gak bisa?" dia menaik turunkan alisnya, menggoda.
Rindu melangkah mundur sambil menyampingkan rambut.
Tidak bergerak, justru memandangi leher jenjang itu, Baskara lagi lagi menarik senyum.
__ADS_1
"Buruan"
Rindu sudah tidak sabar, dres yang dipilih Baskara menurutnya tidak nyaman, hanya saja sebagai wujud menghargai dia mengenakannya.
Baskara bangkit dan menarik pelan pelan reseleting. Punggung mulus Rindu serta tali Bra yang ditampakkan dari belakang membuat pacuan nafsu Baskara memuncak.
Baskara memeluk Rindu dari belakang sambil menciumi tekuk Rindu.
"Saya lagi PMS"
Baskara berdehem sambil mundur halus. Dia hanya menatap kepergian Rindu.
Keluar dari kamar mandi, dia sudah melihat lelakinya tertidur pulas diatas kasur, masih memakai celana jeans, kemeja dan sepatu. Rindu mendegus. Katanya banyak berubah tapi tetep aja tuh.
Melepaskan sepatu Baskara dengan sabar, serta membuka celana dan kemejanya. Rindu hanya dibuat takjup oleh otot otot Baskara.
Dia mengambil tidur disebelah sambil menatap lelaki itu yang tertidur pulas. Mata kecil, alis tebal, rahang kokoh membuat kerinduannya terbayar sudah.
Rindu mengelus wajah Baskara, dia merindukan lelaki didepannya. Tangan kekar itu menarik pinggul Rindu untuk mendekat, di sembunyikan wajah kokoh itu pada leher Rindu. Dia mengusap usap dada Rindu.
"Gue kangen" kalimat Baskara lirih diucapkan
Pelukan itu semakin erat, Rindu tidak membalasnya hanya mengusap dada bidang Baskara. Mata tertutup Baskara perlahan lahan terbuka. Dia mengecup bibir Rindu sekilas. Tangan kekarnya merapikan rambut rambut yang menghalangi wajah Rindu.
"Gue kesepian gak ada elo"
Dia memandangi wajah datar nan manis sangat lama. Senyumnya masih melengkung dengan sempurna.
Mereka sama sama tersenyum, memperhatikan wajah sedekat ini tetap mengundang detakan jantung Rindu maupun Baskara.
"Lo beneran PMS? "
Rindu langsung merubah posisi tidurnya membelakangi Baskara. Pura pura marah.
Lelaki itu cengegesan sambil merengkuh perut Rindu mendekat, sehingga Baskara lebih leluasa menyembunyikan wajahnya di tekuk Rindu.
"Selama gue gak ada, Alan sama Pandu yang selalu ada buat gue"
Suara Baskara terbenam di tekuk Rindu, meski begitu Rindu masih bisa menangkapnya dengan baik.
"Gue berniat nikahin mereka malahan"
Baskara kembali cengegesan
"Sayangnya gue gak cinta sama mereka"
Dia mengusap usapkan wajahnya ditekuk Rindu.
Baskara melepaskan tangannya dan memutar tubuh Rindu untuk menatapnya. Dikecup bibir ranum Rindu sekali lagi.
Baskara meraih tangan Rindu, diletakkan tangan mungil itu di rambut Baskara.
"Elus"
Rindu tertawa. Kali ini dengan suara sampai deretan giginya terlihat.
Sebuah kebiasan yang hanya dilakukan Baskara kepada Rindu.
Tangan mungil Rindu naik turun mengelus rambut Baskara, lelaki itu memejamkan mata sambil memeluk Rindu.
"Kapan elo selesai PMS? "
Suara serak Baskara membuat Rindu tertawa kembali. Lelaki itu selalu bisa membuat Rindu tertawa dengan caranya.
Tidak butuh lama, Baskara sudah mendengkur halus di dada Rindu.
__ADS_1