BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)

BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)
Chapter 10


__ADS_3

Cinta tidak melulu berawal dari rasa senang


Mengawali cinta dari benci adalah pemulaan Cinta penuh kejutan



☘☘



Sejak Baskara sudah duduk di depan Rindu, matanya tak henti henti memandang keatas sekali kali memandang Rindu, begitu seterusnya.



"Ini tugas pengganti untuk kamu" ujar  Rindu tanpa menatap Baskara yang saat ini menatap balik kearahnya.



"Tugas mulu hidup lo nih. Peka dikit lah, kalau mahasiswa gak mau ngerjain tugas itu tanda dia udah bosen sama tugas elo" cela Baskara.



"Tolong gunakan bahasa yang baik, saya disini dosen kamu"



Baskara menggaruk tekuknya yang tidak gatal, padahal dia berniat menggoda Rindu biar acara pengganti tugas gagal dibuat.



"Maksud saya gini bu. Masa tugas terus, sekali kali penggantinya yang lain kek"



"Yasudah gimana kalau penelitian dengan format skripsi dan pakek bahasa inggris" Rindu menghentikan kalinatnya " oh ya satu lagi, tugas itu kamu kumpulkan hari Rabu besok"



Rindu bangkit dari duduknya sembari menyambar tas yang berada diatas meja.



"Mau kemana lo?"



"Disini saya dosen kamu" tegas Rindu



"Tapi gue suami elo"



Rindu menoleh lalu mendegus



"Kalau dirumah kamu suami saya, tapi di kampus kamu adalah mahasiswa saya"



Rindu berlalu begitu saja, masa bodoh dengan Baskara yang masih memaku diruangan Rindu. Toh anak itu selalu senang dengan apapun yang dia lakuin.



Berbeda dengan Baskara lelaki itu tampak kesal jadi dia memilih keluar dari ruangan Rindu sembari membanting pintu. Dia tahu Rindu sibuk tapi dia lebih sibuk dari Rindu, seenaknya saja anak itu main pergi ninggalin tugas. Mending dia mau bantuin Baskara, la ini.



Sesampai dikantin, Rama, Pandu, Alan dan Dimas sudah duduk menyantap makanan mereka.



"Laper nih"


Datang tiba tiba Baskra langsung mencomot tempe yang ada di piring Pandu.



"Eh bisa gak sih, dateng itu salam dulu, bukan Main maling tempe orang" gerutu Pandu



"Eh lo mau tau gak, semua makanan ini gak ada yang tahu"



Krik krik



Pandu, Rama, Dimas dan Alan justru melanjutkan makan mereka tanpa menyahuti candaan Baskara.



"Malam ini kita mau kemana?" tanya Baskara sembari menyantap makanan yang baru dia pesan



"Dirumah lah ngerjain tugas" sahut Alan tegas



"Kalau gue mah pasti biasa, nongkrong didepan kostan" timpal Rama sembari memainkan ponselnya



"Lo Du?" tanya Baskara sembari menatap Pandu



"Gue mau ngerjain tugas"



"Sok banget lo, biasanya juga malesan" sergah Baskara.



"Lo gak nanya gue?" tanya Dimas yang sedari tadi memang di acuhkan oleh Baskara



"Males ngajak lo, nanti tengah permainan lo ditelfon mama lo disuruh balik"


Membayangkan peristiwa bulan lalu saat mereka mengajak Dimas pergi ke club membuat Baskara menggidik ngeri, bayangan ditengah acara Dimas merengek minta pulang, karena mamanya mengoceh tidak jelas. Belum puas disitu, saat acara Pesta ulang tahun Popy gebetan Alan minggu kemarin, Mama Dimas datang keacara pesta dan marah marah pada Baskara dan yang lainnya. Intinya mah Dimas anak mami banget.



"Ha ha ha" semuanya tertawa melihat ekspresi Dimas yang berubah curam.



"Gue pengen nongkrong nih, males balik kerumah" kata Baskara sembari menyesap jusnya.



"Etsdah, lo kan banyak tugas. Kerjain dulu kek baru maen" ujar Pandu mengingatkan.


Baskara menggeleng lalu menatap Alan yang masih fokus dengan makananya. Merasa ditatap lelaki itu mendongak sembari menaikan sebelah alisnya



"Apa lo liat liat?" tanya Alan merasa ada yang tidak beres



"Yah, kan elo biasanya yang ngerjain tugas gue"



"Gak bisa kali ini. Kita banyak tugas" kata Alan menjeda kalimat dengan menyesap jus miliknya "tugas Pak Bandi, Pak Dodit belum lagi dari bu Rindu, semunya harus dikumpul besok"



"Please lah Lan, gue bayar berapapun deh" pinta Baskara dengan wajah memelasnya



"Gak bisa Bas, lagian lo kan double ngerjain tugas Bu Rindu" tolak Alan



"Tega bener sih lo sama gue"

__ADS_1


Baskara mencembikan wajahnya, pura pura marah siapa tau Alan mengasihinya.



"Gak usah sok sok an marah deh, udah kayak cewek aja lo"


Bukannya dikasihani malah dimaki sama Pandu, Rama sedari tadi sibuk dengan Dimas. Entah apa yang mereka sibukkan.



"Eh tokek, lo homo ya?" terka Baskara menujuk Dimas dan Rama



Rama dan Dimas sontak menggeleng.



"Bohong lo, dempet dempetan mulu dari tadi"



"Tu mulut pedes banget udah kayak rujak mang Idam " cerca Rama tak terima.



Drrt drrtt



Ponsel Baskara yang ada di atas meja berbunyi, dia langsung menjawab ponselnya tanpa melihat dulu siapa si penelfon



"Hal"



"Temenin saya belanja"



Kalau nada panggilan saya ke diri sendiri itu kalau gak Rindu gak ada lagi, secara dia itu gak hafal vocabulary jadinya dia gak pernah tau siapa yang dia ajak bicara dengan menyebut dirinya "saya"



"Heh, salam dulu kek, main asal perintah aja" cela Baskara tajam



"Selamat sore"



"Sore kembali dengan siapa?" goda Baskara sembarj terkikik geli



"Nanti temani saya ke supermarket beli bahan makanan"



"Mana mau gue nganterin orang yang gak gue kenal"



"Saya Rindu"



"Iya gue tahu"



"Terus kalau tahu kenapa nanya"



"Biar rame aja, tapi gue mager nih ke supermarket, lo sendiri aja ya" kata Baskara sembari menjauh dari teman temannya.



"Yaudah kalau kamu gak mau, saya lapor ke papa kamu"




"Sejak hari dan mulai hari ini, setiap kamu menolak permintaan saya. Saya akan melaporkan sama papa kamu"



"Cil, lo nyebelin ya“



"Saya tunggu diparkiran sekarang"



"Gue gak..."



Tut tut tut



Astaga nih orang udah datar kayak triplek, kanebo kering, kulkas berjalan masih aja ngeselin.  Hobi banget ya ni orang bikin Baskara naik fitam.



"Gue cabut ya, mau nganterin pembantu gue belanja dulu" kata Baskara sembari mengambil kunci mobil yang tergeletak diatas meja.



"Tumben lo baik" cerca Pandu



"Biasalah, takut sama bokap dia" goda Alan



"Ha ha ha"



Baskara langsung berlalu tanpa memperdulikan omongan teman temannya, apalagi saat ini Sisil masih sibuk sibuknya dengan kuliah, banyak prakter di rumah sakit yang mengaharuskan dia tidak di kampus.



Untungnya parkiran sudah sepi jadi kehadiran Rindu dan Baskara yang masuk dalam satu mobil tidak diketahui yang lainnya.



"Gue kan udah pernah bilang ke elo. Tugas elo, lo selesaiin sendiri, tugas gue biar gue selesaiin" kata Baskara begitu mobil sudah meninggalkan Pekarangan kampus.



"Memangnya tugas kamu apa?"



"Gangguin lo lah" ucap Baskara tanpa rasa bersalah sedikit pun dan itu jelas membuat Rindu menoleh tajam kearaahnya.



Ternyata keputusannya mengancam Baskara dengan papanya berbuah hasil buktinya dia mau mengantar Rindu ke supermarket, meski masih mencak mecak sepanjang jalan. Mulutnya Baskara tuh kadang kalau ngomong suka gak difikir dulu, jadi asal ngomong gitu aja. Padahal dia cowok, Rindu yang cewek gak gitu amat perasaan.



Rindu berjalan sembari mengambil troli, dia mendorong troli tanpa menunggu Baskara yang melangkah dibelakangnya.



Blukk



Baskara melempar 10 mie instan keranjang troli membuat Rindu menghentikan dorongannya dan beralih menatap Baskara dengan tatapan tajam penuh kebencian.



"Gue cuman bantuin" ucapnya enteng dan berlalu begitu saja.

__ADS_1



Mereka berjalan menuju makanan instan, tentu saja Baskara yang memilih jenis cemilan favoritnya karena dirumah yang doyan nyemil itu Baskara.



"Gantian dorong dong" keluh Rindu merasa kelelahan



"Yaelah dorong segitu aja udah ngeluh, cemen lo"



Iya kalau udah bilang cemen itu dibantuin bukan malah jalan kearah sayuran tanpa membantu Rindu mendorong troli.



"Baskara" panggil Rindu



"Apa?" Baskara menoleh menatap butir keringat Rindu yang mengalir dipelipis



"Kan tadi saya yang mau belanja, kenapa semuanya yang milih kamu" protes Rindu mulai tak terima.



"Lo tu gue bantuin, malah dumel aja. Sini trolinya"



Akhirnya setelah pemaksaan yang cukup panjang Baskara mengalah dengan membawakan troli. Dia mendorong dibelakang Rindu masih dengan sumpah serampahnya.



"Eh Kecil, beli tomat biar sehat"



"Tomat masih dikulkas"



"Beli wortel, gue gak mau ya setelah nikah sama lo mata gue jadi bermasalah karna gak pernah lo kasih wortel"



Sebenarnya tuh kalau mata dia bermasalah bukan karna Rindu tapi karna Baskara yang suka pilih pilih makanan. Kalau wortel gak di tumis Baskara mana mau makan wortel.



"Eh lo kan tau gue gak suka kentang" seru Baskara ketika melihat Rindu mengangkat kentang kentang segar diatas rak.



"Tapi saya suka"



"Lo tu sebenarnya masakin siapa sih? Masakin suami atau masakin diri sendiri" sindir Baskara.



"Gue mau daging, lama gue gak makan daging, dirumah cuman dimasakin sayur doang"



Hmm tukan Dia mulai lagi, padahal kemarin Rindu habis bikin rendang. Kok dia seenak nya bilang gak pernah dimasakin daging



"Itu ambil kepiting, gue pengen kepiting rebus"


Dia menujuk kearah kepiting segar dengan enteng seolah tengah merengek sama mamanya.



"Udang udang"



Rindu menoleh kearah Baskara yang masih menunjuk kearah udang dibawah rak kepiting



"Saya alergi udang" kata Rindu dengan nada rendah



"Tapi gue gak" kilah Baskara cepat



"Siapa nanti yang masak"



"Gue"



"Kamu suka bohong? Kamu emang bisa masak? "



"Lo gak percayaan banget sih sama suami, durhaka lo. Mau masuk neraka"



"Baskara, tapi saya alergi udang"



"Yang alergi kan elo bukan gue"



Rindu mendegus keras keras, lalu dia memilih berlalu tanpa mengambil udang pilihan Baskara. Demi Nobita yang gak pinter pinter, Rindu menyesal sudah mengajak anak ini belanja, kalau tahu begini jadinya mendingan dia pergi belanja sendiri



"Cil, lo udah beli pasta gigi"



Rindu mengangguk, sumpah kakinya sudah pegal sedari tadi mondar mandir menuruti kemauan Baskara



"Gue pengen beli buah"



"Huftttt"



"Baskara saya lelah, kenapa gak bilang dari tadi pas kita masih di rak sana"


Mata Rindu menunjukan kemarahan, demi apapun dia benar benar ingin marah "sekarang kita udah didepan kasir Baskara"



Rindu menghentakan kakinya berulang ulang membuat pengunjung supermarket menatap kearah mereka



"Gue gak peduli, gue gak bisa makan kalau gak ada buah" nada bicara Baskara sedikit melemah, dia menunduk seperti anak kecil yang ketahuan berbuat salah oleh mamanya.



"Tunggu disini, saya ambilkan"


Rindu berjalan menuju deretan buah buahan. Dia hanya memilih buah dengan asal, seperti apel, pir, manggis, pisang, dan jeruk.



Sesampai di meja kasir Baskara tersenyum lebar seolah dia baru saja mendapatkan hadiah dari mamanya.



Setelah membayar mereka memasukan belanjaan dibagasi mobil ternyata belanja untuk keperluan rumah tangga benar benar banyak hampir bagasi mereka tidak cukup.

__ADS_1




__ADS_2