
Berputar putar mengelilingi Havard benar benar menguras tenaga, bahkan rasa dingin itu sedikit hilang kala Baskara berkeringat.
Rindu masih menggantungkan permintaan maaf Baskara, dia berjalan dibelakang Baskara tanpa mau berjalan di sampingnya. Setelah bertanya tanya pada mahasiswa yang masih berlalu lalang, Baskara akhirnya sampai di pagar fakultas hukum
Entah bagaimana caranya dari gedung bussiness school bisa menjelajah sampai di fakultas hukum.
Didepan pagar fakultas hukum ada sebuah ayat alquran yang di gunakan sebagai arsitek seni.
Ayat Alquran itu diukir di tembok yang menghadap pintu masuk utama Fakultas Hukum Harvard. Seperti ditulis Ajel, Harvard mengabadikan ayat tersebut sebagai kata-kata terbaik tentang keadilan.
Mereka berhasil keluar , Baskara langsung mencari taksi dan mengatakan alamat tujuannya.
Mereka berhenti pada sebuah apartemen kecil yang ada dilantai dua. Padahal jaraknya tuh gak jauh, kalau jalan cuman deket, tapi dasar Baskara anaknya aneh jadi apa apa serba mau instan
"Apartemen?" Rindu bertanya karena benar benar belum paham
"Lo lupa, sejak ibu gue meninggal gue sama papa tinggal di Amerika, tepatnya di sini"
Bagus, Rindu melupakan satu point itu. Setelah memberikan identitas Baskara kepada resepsionis apartemen , mereka memberikan kunci apartemen kepada Baskara.
"Saya lupa untuk itu" ucap Rindu mengikuti Baskara dari belakang
"Gak perlu lo inget" katanya membuka pintu.
"Udah lama gue gak balik ke sini, sebenarnya gue gak suka Amerika"
Baskara membanting tubuhnya di sofa. Gaya apartemen ini sama seperti gaya rumah rumah Amerika.
Aturan di rumah Amerika adalah jumlah kamar tidur harus sama dengan jumlah kamar mandinya. Interior rumah didesain cozy dan tampak mewah, terutama pada bagian depan rumah di mana tamu biasanya duduk.
Meski di bungkus dalam bentuk rumah tingkat tapi tetap meninggalkan kesan mewah, dengam menggabungkan gaya modern dan Amerika klasik, apartemen ini terlihat sangat luar biasa. Sebagai tambahan aksesoris yang menarik diberikan art yang mencolok di ruang keluargnya yang otomatis menjadi vocal point dalam apartemen. Apartemen ini didesain dengan palet warna hangat untuk membuat nuansa yang nyaman dan homey
Rindu masih menjelajahi apartemen Baskara tanpa bosan
"Kenapa, elo kaget?"
Bukan kaget soal apartemen ini tapi kaget atas kekayaan yang dimiliki Baskara, sebenarnya dia tahu perusahaan milik Arya memang terkenal, dia memiliki cabang di Paris dan Indonesia. Tapi soal Amerika, Rindu ragu, dia malah tidak mengira Arya sekaya itu sampai punya apartemen dengan fasilitas kebersihan yang laur biasa.
"Papa gue ngerintis karirnya di Amerika"
Cambridge terletak di barat sungai Carles, merupakan kota pendidikan yang memiliki 3 perguruan tinggi terkenal, Rindu masih tidak menyangka bahwa papa mertuanya punya kekayaan sebegini banyak, dia yang hanya anak biasa biasa saja tidak menyangka akan mendapatkan suami sekaya Baskara.
Baskara berjalan mendekati Rindu sambil melingkarkan tangannya di pinggang Rindu. Mendapat perlakuan seperti itu, Rindu melepaskan tangan Baskara.
"Saya belum memaafkan kamu sepenuhnya" kata Rindu menjelaskan.
Baskara menyembikan bibirnya.
"Gue mau jelasin semuanya"
__ADS_1
Baskara duduk disofa sambil menarik tangan Rindu untuk duduk di sofa.
Mereka terdiam cukup lama, lima detik tetap terdiam sampai detik kesepuluh suara deheman Baskara membuat Rindu menoleh.
"Jadi gini___ "
Mata Rindu yang menatap Baskara justru membuat Baskara malah gugup bukan main, berulang ulang dia mengusap hidungnya. bahkan dia mengigit bibir dalam untuk menstrealisirkan kegugupan.
"Gue sama Sisil udah putus lama, maksudnya Sisil kena depresi berat"
"Kamu sudah menjelaskan itu" Rindu memotong ucapan Baskara "Bagian yang saya tidak bisa pahami adalah kenapa kamu selalu meninggalkan saya hanya untuk dia?"
Baskara mengusap tengkuknya, dia menyisir rambut dengan jari jemari.
"Mama nya Sisil anak tunggal dari seorang pembisnis, dan keluarga papanya Sisil punya hutang besar ke mamanya Sisil. Jadi pihak keluarga menjodohkan papa Sisil dan mamanya"
"Sebentar" Rindu memotong ucapan Baskara lagi
"Kenapa orang yang punya hutang malah nikah sama orang yang meminjamkan uang, seharusnya pada kasus hutang piutang sering terjadi pembunuhan karena gak sanggup ngebayar"
Alasan untuk memotong ucapan Baskara masuk akal juga. Baskara mendegus, ngomong sama Rindu kalau gak dijelaskan mendetail suka susah memang
"Mereka satu Universitas dulu, papa Sisil itu pintar, yah, kalau dibilang cukup terkenal lah meski dia anak orang gak punya. Dan si mama nya Sisil itu suka sama om Bamayu"
"Bentar om Bamayu itu siapa?"
Sumpah demi Upin Ipin yang cuman punya dua setel baju, ini Rindu banyak tanya banget sih.
"Ya saya mana tahu nama papa nya Sisil siapa? Kamu kalau menjelaskan yang bener, jangan berbelit belit begitu"
Ini yang bego si Rindu atau Baskara sih. Ya ampun Baskara menepuk jidat saat ingat wanita didepannya ini adalah dosen yang kalau ngasih tugas kudu dengan riset jelas.
"Nama papanya Sisil om Bamayu, dan mamanya tante Lily" Baskara menjelaskan bagaikan anak kecil. Rindu mangut mangut
"Lanjut gak?"
"Singkat aja"
"Pokoknya intinya tu tante Lily minta buat dinikahin sama om Bamayu, karena paksaan, yah keduanya nikah. Tapi si om Bamayu punya pacar di kampung halaman. Sampe om Bamayu gak bisa lupa dan milih ninggalin semua kekayaan yang dikasih tante Lily demi pacarnya"
"Jadi inti dari kamu ninggalin saya adalah om Bamayu pergi ninggalin tante Lily?" Rindu menaikan alisnya
Dia gak ngerti sama pertanyaan yang diberikan ke Baskara dan jawaban yang dikasih sama Baskara.
"Ya gak, gue itu ngebantu dia buat mulihin kondisi, dia terlalu shock karena ditinggal orang yang dia sayangi berutur turut"
"Pengaruh kamu dikesembuhan Sisil apa?"
"Dia masih naganggep gue pacarnya, demi Tuhan gue gak ada maksud apa apa selain ngebantu Sisil buat ngobati depresinya"
__ADS_1
Baskara mengatakan kalimat itu dengan sungguh sungguh seperti anak kecil yang kepergok maling.
"Lama kelamaan kondisi Sisil jauh lebih baik, dia bisa nerima kepergian mamanya dan dia juga tahu alasan papanya ninggalin dia. Saat kenyataan itu, Alan, Pandu dan Rama ngebantu gue buat nemuin Sisil sama papanya" Baskara menarik nafas "Sisil akhirnya ngelepas gue dan mutusin buat tinggal sama papanya di kampung, yah, gue gak tahu sih keputusan itu datang dari mana"
Rindu menghela nafas, penjelasan ini memang bisa dia terima dengan baik. Tapi keputusan Baskara yang lebih memilih Sisil ketimbang dirinya benar benar membuatnya bingung.
"Soal gue ngebentak elo waktu itu, gue kalap emosi, gue gak suka elo deket sama laki laki lain. Apalgi elo pelukan didepan jalan sama Wirawan"
Rindu menoleh, dia mencoba mengingat kejadian dimana dia keluar dari rumah Sisil dengan tangis yang menbanjir. Kesalahan itu dimulai dari situ rupanya.
"Gue udah jelasin semuanya sekarang giliran elo"
Suara Baskara itu kayak anak kecil, ekspresi saat dia menjelaskan benar benar kayak anak SD yang bercerita sama mama nya.
"Jelasin apa? Saya gak punya kejadian yang ngebuat saya dan kamu salah paham?"
Duh kenapa gak disingkat jadi kita aja sih Rin pakek aku kamu segala.
Rindu tetap santai seolah tidak punya kesalahan apa apa, dia melipat tangannya bersidekap sambil menatap lurus.
"Tentang Wirawan sama Dokter Icha"
"Rosa?" Rindu mengulang nama lain dari Icha
"Terserah elo nyebutnya gimana?"
"Bukannya udah jelas"
Oh ghost, Baskara menggeretakan giginya, dia benar benar gemas dengan tingkah gadis satu ini.
"Lo makin lama makin nyebelin ya"
Baskara berteriak dengan nada keras.
"Rosa sama Wirawan satu kampus waktu pendidikan kedokteran. Rosa udah suka sama Wirawan sejak lama, saya gak tahu soal kedekatan mereka, saya tahu saat Wirawan minta saya nilai cincin yang dia pakai untuk lamar Rosa udah cocok apa enggak" Rindu menjeda kalimatnya
"Wirawan cerita banyak tentang Saya ke Rosa, jadi kami saling tahu kalau dunia itu sempit"
Dia menoleh menatap Baskara "jadi behenti berfikir kalau saya punya hubungan khusus sama Wirawan, semua murni karena saya anggap dia teman!! "
Oh jadi waktu Wirawan menyodorkan cincin itu bukan untuk Rindu tapi untuk Icha. Baskara mangut mangut sambil tersenyum
"Semuanya udah jelas sekarang" dia menarik senyum, kepalanya dia miringkan untuk di senderkan di bahu Rindu. Tahu kalau Baskara akan menyenderkan bahunya, gadis itu langsung bangkit sehingga Baskara terjatuh disofa.
"Aduh" dia memegangi kepalanya yang tidak sakit sama sekali
"Saya belum memaafkan kamu sepenuhnya" kata Rindu berjalan untuk tidur dikamar.
"Rin" Baskara memanggilnya, membuat Rindu berhenti
__ADS_1
"Lo gak usah tinggal di asrama. Tinggal disini aja, gue bakal ngambil S2 di Havard"
Rindu tersenyum renyah "saya gak yakin soal Havard, kayaknya Universitas itu gak cocok buat kamu"