BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)

BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)
Chapter 24


__ADS_3

Luka seperti apa yang paling parah


Melihatnya dihina sementara kau bisa membelanya


Tapi kau memilih diam tidak berbuat apa apa


☘☘




Senja menyambut keduanya dengan membawa warna jingga merona. Mereka sama terdiam menatap sunset yang hampir tenggelam, duduk di atas pasir dengan gelombang pantai yang tenang. Mereka tidak mampu berucap lebih memilih menikmati sunset yang sebentar lagi mengucapkan "selamat tinggal" pada keduanya. Hari yang indah untuk Rindu menyandarkan kepalanya di bahu Baskara. Tidak ada penolakan seperti sebelum belumnya atau tidak ada rasa canggung yang selalu mengucapkan kata "hai" lebih lama.



Mereka menikamati sunset dengan saling membisikan kalimat cinta dalam hati. Karena mulut masih terasa kaku memulainya , biarkan hati yang membuat mereka hanyut. Angin pantai berhembus untuk memeluk mereka kala kedinginan.



Membiarkan mungkin untuk tinggal lebih jauh dari mereka. Mungkin teman teman sedang mencari mereka, mungkin ada yang tahu soal hubungannya dan mungkin esok hubungan mereka akan kembali seperti semula. Kembali untuk perang seperti tom dan jerry yang selalu kejar kejaran.



"Pulang yuk"



Rindu meletakkan dagunya dilengan Baskara. Ditoleh Baskara dengan tatapan hangat, lelaki itu mengacak rambut istrinya. Cukup berhasil untuk memberi getaran cinta yang membuat Rindu seperti orang asing pada dirinya sendiri.



Mereka berjalan sembari bergandeng tangan, hampir seperti orang mau nyebrang dengan keadaan kaos tipis yang membalut tubuh Baskara dengan kemeja kotak kotak kebesaran yang membalut tubuh Rindu.



Mereka berpisah setelah mengucapkan "selamat malam" yang belum pernah mereka ucapkan sebelumnya. Rindu kembali kelantai atas dimana kamarnya berada. Persetan dengan komentar atau tanya kemana dia sehari ini.



Sepertinya dewa keberuntungan tidak bertahan lama. Seperti kata orang orang , bahagia enggan tinggal terlalu lama,mungkin dia takut nyaman.


Sisil melempar koper milik Rindu di arah koridor hotel, tentu suara itu cukup mengusik orang orang yang berada di dalam kamar untuk keluar.





Bukan Rindu kalau kalah dengan keadaan. Dia tidak panik seperti dugaan Sisil atau dia ketakutan seperti dugaan orang orang yang mengintip dibalik pintu.



"Apa yang kamu lakukan?"


Diposisi ini Rindu lebih berhak ketimbang Sisil, dia adalah dosen yang patut di hormati siapapun.



"Lo masih nanya apa yang gue lakuin"


Nada Sisil tidak selembut biasanya bahkan aksennya sudah berubah sedikit bruntal



"Lo orang yang tiba tiba datang buat ngerebut Baskara dari hidup gue. Seharusnya elo pantes mendapatkan ini semua"


Sepertinya Sisil sengaja mengeraskan suaranya, agar orang lain mendengar. Ucapannya sukses membuat orang orang berbisik dan mengeluarkan suara gaduh yang berhasil menganggu Rindhu



"Perlu saya jelaskan siapa saya disini?" suaranya masih lembut dan dingin tidak terlihaat getaran ketakutan disana.


__ADS_1


"Perlu gue peduli? "



"Saya mau mengingatkan, kalau kamu lupa, saya adalah dosen disini"


Sengaja Rindu menekan kalimatnya "dan saya istri Baskara yang sah secara hukum dan agama" untuk kalimat ini dia sedikit merendahkan suaranya.



Sisil menilik penampilan Rindu, sebuah kemeja kotak kotak yang dia berikan dulu. Bagaiama rasanya kadomu di gunakan wanita lain?


Sisil menarik kerah kemaja Rindu dengan kuat, satu sentakan cukup membuat kemeja itu robek.


Setan apa yang merasuki Sisil sampai dia berhasil merobek bersama dengan kaos hitam yang Rindu gunakan. Cukup, itu cukup membuat BH nya terlihat.



Rindu menangkis cepat untuk menutupi bagian intim itu, perlu diingat ini hotel bukan asrama perempuan, jadi semua wanita dan laki laki campur jadi satu.



"Gue baru tahu, ada dosen murahan yang ngejual diri ke mahasiswanya"


Sisil tersenyum sinis "kenapa? Lo sepengen itu naik jabatan jadi Dekan sampe sampe elo mau dijodohin sama Baskara"



Mungkin kata orang benar, manusia yang kalut oleh emosi kekuatannya bisa dua kali lipat dsri biasanya. Sungguh, Rindu belum pernah diperlakukan seperti ini. Cukup memalukan untuk jabatannya sebagai dosen.



"Heh pelacur, ngebayar berapa elo ke Pak Arya sampe dia mau ngejodohin anaknya sama orang yang gak jelas kayak elo"



"Kamu pengen tahu dengan apa saya mendapatkan Baskara?" Rindu maju satu langkah sembari tangan kiri nya memegang kemaja yang robek.




"Pelacu..."



"Brengsek" suara berat itu bukan keluar dari mulut Rindu tapi dari arah belakang yang semakin mengundang orang untuk mengeluarkan komentar komentar



"Seneng, ada suami elo yang dateng buat ngebelaiin elo" Sisil berkacak pinggang dengan wajah pias.


"Lo semua, mahasiswa ARABA, lo pengen tahu hubungan Rindu sama Baskara apa?" Sisil melempar pertanyaan itu ketika Baskara sudah mendekat



"Iya, Deolinda Rindu Maheswari adalah istri gue, kenapa? Elo gak terima karena gue tinggal nikah diam diam"



Semuanya histeris hampir tidak percaya. Untung sebelum Baskara diberi tahu Pandu kalau Rindu dan Sisil berkelahi dia sempat berganti baju dengan kaos hitam dan switer. Baskara melepaskan Switernya.



Switer itu langsung dia kenakan di tubuh Rindu, tangan Baskara memegang Rindu lebih kuat.



"Setelah liat kelakuan elo, gue tambah yakin kenapa Tuhan ngadirin Rindu secara tiba tiba dihidup gue"


Baskara tersenyum smirk.



"Gak ada alesan lagi buat gue mempertahanin manusia kayak elo" Baskara duduk untuk memunguti barang Rindu yang dilepar sembaran oleh Sisil. "Gue kasih tahu, awalnya gue gak kepengen mempermalukan elo atas kandasnya hubungan kita, tapi setelah gue fikir fikir"

__ADS_1


Baskara beridiri setelah barang Rindu selesai dia bereskan



Dia tersenyum licik "gue seneng ternyata istri gue bukan orang yang mau gue tiduri sebelum jadi istri sah gue"



Baskara menggenggam tangan Rindu lebih kuat, dia menarik koper Rindu untuk menjauh di koridor hotel.



"Kita pulang" ajak Baskara kepada Rindu. Gadis itu hanya menurut dia menunduk sepanjang perjalanan.


Sampai di arah lift Pandu, Alan, dan Rama mengacungi jari jempol kearah Baskara.



**







Rindu sesegukan didepan bandara, dia tidak bisa mengatakan apa apa hanya menahan air matanya sampai leher Rindu terasa tercekat.


Baskara yang tahu bahu Rindu naik turun langsung membawa Rindu kepelukannya.



"Lo kalau mau nangis nangis aja" ucap Baskara sembari mengelus punggung Rindu.



"Maaf" ucap Rindu ditengah sesegukan



"Untuk?"



"Karena saya, hubungan kita jadi ketahuan"



"Gue gak peduli, elo istri gue, dan gue harus mengakui itu didepan semuanya. Seharusnya ini gue lakuin sejak dulu" Baskara menjeda "maaf, membuat mu menunggu"



Tangisan Rindu terpecah mendengar penuturan Baskara, dia tidak pedui dimana dia, yang jelas pelukan Rindu semakin mengencang membuat Baskara justru tersenyum. Gadis itu menangis dalam pelukan Baskara.



"Mulai sekarang andalin gue setiap elo ada masalah"


Baskara mengecuk puncak kepala Rindu.



"Saya sa saya "



"Udahhhh elo gak perlu ngerasa gak enak gitu, udah kewajiban gue sebagai suami negelindungi elo"



__ADS_1


__ADS_2