
UAS sudah akan dilakukan besok dan sekarang Baskara harus terjebak di perpustakaan Rindu. Bahkan Rindu tidak mengijinkan Baskara barang memegang Handpone sekalipun, tentu Rindu menggunakan cara akan mengadukan Baskara pada Arya.
Rindu memberikan buku Analisa dana, Neraca, Aktiva,Anggaran, dan Penagihan. Sedangkan Baskara tentu saja dia protes mati matian
"Ya Allah Rin, Tuhan itu gak pernah ngasih umatnya cobaan s
sebanyak ini" keluhnya
"Saya bukan Tuhan"
"Tapi elo lebih kejem dari setan"
"Mau belajar gak?" tanya Rindu sembari melotot
"Belajar, tapi gak sebanyak ini. Otak gue gak bakalan mampu ngingat segini banyaknya"
"Baskara, saya sudah beli buku managemen keuangan banyak sekali"
"Siapa yang nyuruh? Elo aja yang baca gue ogah"
Baskara menarik selimut yang dia gunakan untuk menutupi punggungnya. Dia menatap langit langit perpustakaaan sembari menghayal, andai buku tidak pernah ditemukan didunia, andai tidak ada kata UAS di kampus, mungkin hidupnya akan tenang.
"Kalau kamu seperti ini terus , nanti kamu mau jadi apa?"
Rindu merapikan bukunya, ini sudah jam 10 malam, sejak jam 7 Baskara sudah dia sekap di perpustakaan.
"Gue pinter atau pun enggak tetep aja bakal nerusin perusahaan bokap" jawabnya ketus
"Kamu tahu" suara Rindu terdengar menenangkan "banyak orang yang bingung setelah lulus sarjana dia akan bekerja dimana? Sebagai apa? Apakah cita citanya bisa terwujud dengan sempurna atau enggak"
"Salahin mereka kenapa gak lahir dari keluarga kaya" kata Baskara meledek kalimat Rindu
"Mungkin, kalau saya dan mereka bisa memilih saya akan memilih lahir menjadi kamu. Hidup berkecukupan, apapun yang kamu mau bisa tergapai dengan mudah"
"Gak semua yang orang fikirin tentang gue itu sama"
Basjara menarik selimut hingga menutupi wajahnya. Bayangan akan kematian ibunya masih terus menghantui hingga saat ini
"Memangnya sesulit apa hidupmu dibandingkan mereka yang sulit mencari...."
"Setidaknya mereka masih punya ibu" potong Baskara dengan suara serak.
"Sejak kecil gue selalu ditinggal kerja papa gue, sampe ibu gue meninggal, papa ngajak gue pindah ke Amerika tanpa gue mau"
"Papa kira ketika gue ke Amerika, gue bisa ngelupain semua kenangan tentang ibu dan gak kesepian lagi. Tapi papa gak tahu apa yang gue rasain, gue semakin kesepian karena menunggu kepulangan papa, gue selalu dikucilkan dari teman teman gue karena kulit gue lebih cerah dibandingkan mereka"
Dari suara Baskara ada rasa luka yang berusaha dia telan mentah mentah, ada hal yang selama ini tidak pernah Rindu ketahui. Suara Baskara kian melemah diujung kalimat, suara serak melantun untuk menyuarakan isi hatinya. Apa Baskara menangis?
__ADS_1
"Lo boleh ngomong hidup gue mudah, gue punya segalanya. Tapi gue kesepian, gak pernah punya temen sampai gue pindah kuliah di Indonesia"
"Gue pengen jadi Astronot Rin" ujar Baskara melemah "gue pengen ngejar cita cita gue. Selama itu gue berusaha keras untuk belajar agar jadi Astronot"
"And you know? Papa gak pernah setuju buat keputusan gue"
"Enggak!! bukan gak setuju papa gak pernah nanya apa yang gue pengen lakuin setelah lulus SMA"
Suara Baskara bergetar, dia terdiam cukup lama. Angin berhembus malam itu, rintik hujan menampar di jendela , membuat suara gaduh sedikit menemani mereka. Rindu tidak tahu ucapannya bisa memancing Baskara sejauh ini.
"Gue mau tidur gue ngantuk" ujar nya menhembunyikan air mata yang menetes dari pelupuk.
**
UAS di lakukan dengan tertib, semua mahasiswa di cek kelengkapannya. Baskara yang duduk dibelakang sudah siap dengan strateginya dan gengs kecoa sudah menyembunyikan handpone mereka.
Hari ini mata kuliah pak Dodit tapi yang mengawas adalah Rindu. Mungkin sebagian mahasiswa berfikir jika Rindu yang mengawas akan membuat mereka bisa leluasa menyontek. Bukan, tapi jika gadis itu yang mengawas satu gerakan saja bisa membuat merek fatal.
Rindu tidak berdiri di depan saat kertas ujian dibagikan, tapi dia berdiri dibelangkang dengan melipat tangannya didada. Itu lebih menakutkan daripada saat berdiri di tepi jurang atau saat bermalam di tengah hutan. Karena jika itu terjadi maka tidak ada yang akan mengeluarkan contekan maupun handpone. Kursi sempit bewarna putih juga menjadi hal yang membuat jenuh Baskara, karena salah gerak sedikit saja bahaya akan mendatanginya.
Ada 30 menit tapi kertas jawaban Baskara belum ada satupun yang terisi. Baiklah semalaman dia tidak mengikuti anjuran Rindu untuk belajar semalam.
Pelan pelan Baskara mengeluarkan handponenya di samping kertas jawaban. Dia menutup dengan rapat sembari menunduk jadi tidak memberi celah untukk Rindu melihatnya.
Alan tidak senekat itu, dia mengeluarkan kertas yang sudah dia gulung di balik kemeja panjangnya.
"Absen ditaruh didepan atau di kasih ibu?"
Emang ya Pandu itu gak bisa liat temennya lagi usaha biar nilai bagus malah dia manggil Rindu untuk mendekat.
Rindu mengambil absen yang ada ditangan Pandu, tanpa ekspresi dan kalimat apapun dia kembali menilik kelas. Pandangannya tidak ke Baskara, dia justru menatap Rama yang malah tertidur saat ujian.
"Rama" panggil Rindu menganggetkan seisi kelas. Iyalah kan lagi khusuk buat nyontek malah suara dosennya menggelegar
Rama langsung mengangkat wajahnya, dia menoleh kearah Rindu yang juga menatapnya.
"Iya bu" jawabnya santai
"Enak ya, ujian malah tidur?"
Itu bukan pujian tapi sebuah hinaan yang meleset untuk menampar Rama agar dia tidak main main saat ujian.
"Saya sudah selesai bu" ucapan Rama membuat seisi kelas langsung tersentak.
Rama memang kadang oon tapi kalau urusan pelajaran, anak ini emang paling jago. Pandu menggelengkan kepalanya, gak setia kawan.
__ADS_1
"Kumpulkan nanti saat waktunya sudah selesai" kata Rindu kembali berjalan kebelakang.
Alan yang jaraknya bersebelahan dengan Rama berbisik sangat pelan
"Woy pap woy"
"Gimana mau pap bangsat, bu Rindu dibelakang" balas Rama tak kalah pelan.
Seorang dosen masuk kedalam kelas untuk meminta absen dan tanda tangan Rindu. Gadis itu tentu berjalan kearah depan meninggalkan mahasiswa barisan belakang yang sudah krasa krusuk ingin memulai aksi.
Ketika dosennya tengah menandatangi berkas pengawas ujian. Rama memulai aksinya untuk menfoto jawaban miliknya.
Drtt drttt
Suara ponsel mereka bertiga kompak berbunyi, Rindu tidak menaruh curiga pada mereka.
Mereka menyalin jawaban dengan santai tanpa buru buru. Setelah waktu selesai semua mahasiswa mengumpulkan lembar jawaban dimeja Rindu. Tentu diiringi dengan high five ria dari keempat nya.
Pandu, Alan, Baskara dan Rama kompak mengumpul di urutan belakang. Biar jawabannya diliat Rindu pertama kali.
"Jawaban gue nih"
Ujar Baskara dengan sombong
Rindu hanya melirik kearahnya lalu merapikan tas dan lembar jawaban yang tidak terususn dengan rapi.
"Mau gue bantuin gak?" Tanya Baskara masih belum ikut keluar bersama teman temannya kekantin
"Rin budeg lo ya?"
Rindu mendongak, melirik Baskara dengan lirikan tajam
"Ini kampus" sahutnya
Mata Baskara menoleh dengan malas "nenek nenek juga tau kalau ini kampus"
"Bas, ngantin gak?" Teriak Pandu dari ambang pintu, maklum teman temannya lagi siaga menjaga Baskara yang tengah menggoda Rindu.
"Yoii"
Baskara melangkah menuju Pandu
"Katanya mau bantuin" kata Rindu
Baskara melambaikan tangan tanpa membalik badannya
"Ogah, elo kan dosen masa minta tolong sama mahasiswa"
__ADS_1