
Kepulangan Rindu disambut kegaduhan didalam kamar, padahal pagi tadi dia sudah berpesan pada Baskara untuk jangan membuat ulah selama dia kuliah. Ternyata, lihatlah apa yang dilakukan anak kecil ini.
Dia memajang gambar dirinya di seluruh sudut kamar. Bahkan juga diruang tamu yang dipajang gambar pernikahan, padahal gambar itu tidak terlalu disukai Basakra, karena dia
Berekpresi flat, Baskara yang enggan menatap kamera dan senyum Rindu yang tidak ketara. Mereka seperti dua pasangan yang akan foto KTP
"Apa yang kamu lakukan?"
Sambil meletakkan tas nya, Rindu mendekati Baskara yang tengah memilih foto foto
"Masang foto gue"
Dia menjawab dengan acuh sambil membenarkan letak fotonya.
"Segini banyaknya?"
Masalahnya foto ini berukuran besar besar dalam jumlah banyak.
"Iya, biar kalau gue ke Indonesia, elo gak lupa sama muka gue"
Baskara masih sibuk menatap setiap letak gambar, dia seperti tengah serius untuk hal sekonyol ini
"Saya gak mungkin melupakan wajah kamu"
Rindu mendektai Baskara sambil membatu lelaki itu memasang foto

Baskara membersihkan telapak tangannya. Lalu tersenyum puas.
Tidak terlalu lama Rindu menyodorkan coklat panas yang baru dia buat sambil menatap gambar, Baskara yang dipajang di dinding.
"Kapan pulang ke Indo?"
Rindu meniup coklat panas itu dengan pelan, dia tidak masalah dengan ide lucu dari Baskara. Anak itu memang selalu ajaib dengan tingkah anak anak.
"Besok"
Baskara menjawab masih menatap pajangan dinding.
"Gue keliatan ganteng gak sih?"
Baskara manggut manggut, gelas itu diletakkan di meja, dia berjalan untuk membentuk kotak dengan jari sebagai simbol memotret.
"Wahh gue bener bener ganteng"
Rindu menangapi dengan datar, dia sudah lelah mendengar Baskara memuji dirinya sendiri.
"Kamu serius mau pulang besok, kenapa dadakan?"
"Gue mau daftar S2 bareng Dimas"
Baskara masih menatap pajangan dinding sebagai pengalihan dari mata berkaca kaca, dia akan berpisah dengan Rindu besok. Kalau dia menatap wajah gadis itu, bisa dipastikan air mata akan meluncur dari matanya.
"Mendadak banget?"
"Tes masuk universitasnya lusa, jadi gue harus sampe Indo sebelum tes"
Rencana dadakan masuk S2 bareng Dimas memang baru dia fikirkan tadi pagi. Ini saatnya Baskara berubah menjadi orang yang dewasa, Rindu benar, Baskara saat ini adalah suami yang tanggung jawabnya dua kali lebih besar.
"Ngambil jurusan apa?"
Rindu duduk di atas kasur sambil meneguk coklat panas
" keuangan"
Baskata tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun, jujur, tenggorokannya terasa kering, dia berusaha keras menahan air mata agar tidak memeluk Rindu dan menupahkan tangisnya. Ini hanya perpisahan selama empat tahun ,bukan untuk selama lamanya.
Terdengar hembusan dari arah belakang. Rindu sedikit tidak iklas melepas Baskara pulang besok, tapi ini dilakukan demi masa depan keduanya. Rindu tidak menuntut Baskara menyelesaikan studynya, dia hanya perlu menjalankan perusahaan dan perannya sebagai suami.
__ADS_1
"Kamu yakin mau ngelajutin S2?"
"Gue udah yakin"
"Kalau keyakinan kamu muncul karna saya ngambil S3, kamu gak perlu ngelakuin itu, pendidikan gak pernah penting dalam rumah tangga"
"Gue kepala keluarga, udah seharunyanya gue ngelanjutin S2 agar seimbang sama pendidikan elo"
"Bas, saya gak masalah kamu lulusan apapun, sebagai apapun dan lulusan apapun kamu, kamu derajat tertinggi di keluarga"
Baskara menghela nafas, dia menghembuskan secara perlahan sambil memutar badan dan tersenyum
"Gue gak terpaksa ngelajutin S2, selama orang tua gue mampu dan gue bisa, gue rasa gak ada salahnya gue nuntut Ilmu"
Baskara berlalu begitu saja meninggalkan Rindu yang duduk diatas kasur. Perasaan Rindu bersalah muncuk atas keputusannya melanjutkan S3, gimana pun seolah dia tidak bertanggung jawab sebagai istri, tugas istri adalah melayani suami, bukan membuat Baskara merasa terbebani dengan pendidikan tinggi Rindu.
**
Duduk bersampingan di dalam mobil sambil menautkan jari jemari erat. Mereka dilanda kesunyian lama, Baskara masih berusaha meneguhkan hatinya untuk meninggalkan Rindu, sedangkan Rindu, dia mati matian untuk melepas Baskara meski sulit
"Apa saya berhenti kuliah saja? "
Rindu menarik lengan Baskara saat lelaki itu menatap jalanan dari kaca mobil
Baskata menoleh sambil teesenyum
"Rin, S3 adalah mimpi elo"
"Tapi, saya ngerasa gak jadi istri yang baik buat kamu"
Baskara mengelus rambut Rindu, membawa anak rambut kebelakang telinganya. Dia masih menarik sudut bibir dengan tulus, Baskara benar benar menyayangi Rindu.
"Gue gak pernah ngerasa kayak gitu, kejar mimpi elo, gue gak mau ngehalangi mimpi mimpi elo"
"Tapi saya___"
Baskara menarik Rindu kedalam pelukannya, mereka berpelukan sangat erat.
Dia mengusap rambut Rindi, tetasan bening itu jatuh dari pipi Rindu, dia benar benar jatuh cinta dengan Baskara. Lelaki itu bisa membuat dia jatuh cinta dengan caranya. Rindu menangis dalam pelukan Baskara, meremas kemeja suaminya dengan erat, mencoba menghentikan laju waktu dengan pelukan itu.
Mobil yang mereka tumpangi berhenti didepan Bandara, mereka Keluar dengan bergandengan tangan. Rasanya tidak iklas kalau berpisah seperti ini.
Baskara memandangi wajah Rindu dengan sendu. Aliran darah seperti berhenti saat ini, dia ingin waktu bisa dia hentikan, Baskara ingin berlama lama memandangi wanita mungil di hadapannya
"Selama gue gak ada, elo harus rajin terapi"
Terapi yang dimaksud Baskara adalah dengan mendatangi psikiater yang selama satu bulan ini dilakukan Rindu.
Gadis itu tersenyum sambil menggenggam kemeja Baskara.
"Saya akan merindukan kamu"
"Belajar yang rajin ya"
Baskara mengacak rambut Rindu. Sebenarnya dia ingin mencium gadis itu, tapi terapi yang dilakukan Rindu belum berkembang baik.
"Sampai jumpa empat tahun lagi"
Baskara mengacak rambut Rindu, lalu berputar balik. Rindu melambaikan tangan meski dengan perasaan tidak rela.

Rindu menghela nafas berulang ulang saat melihat punggung Baskara semakin menjauh. Punggung itu akan selalu dirindukannya, airmata Rindu menetes, dia menangis sambil menyekanya.
Sial, air mata itu semakin deras terjatuh, Rindu sesegukan sambil menatap kepergian Baskara.
**
Turun dari bandara Baskara disambut ketiga sahabatnya dengan wajah gembira. Mereka membawa tulisan berupa
__ADS_1
SELAMAT ATAS GAGALNYA MASUK HAVARD
Memalukan!! Sambil menutup wajah dengan telapak tangan, Baskara ingin bersembunyi dari mereka bertiga. Tapi sayangnya Pandu langsung berteriak saat melihat Baskara.
"Sobattt"
Pandu berlarian kearah Baskara diikuti Alan dan Dimas.
"Woooyyy" Alan ikut merentangkan tangan.
Sumpah, demi naruto yang rambutnya kuning, Baskara benar benar malu saat ini. Apalagi papan tulisan itu terbentang luas, memperlihatkan kalau Baskara gagal dalam ujian masuk Havard.
Belum lagi Alan dan Pandu yang ingin memeluknya berlari sangat dekat.
Baskara hanya pasrah menjadi pusat perhatian. Tidak ada yang bisa dilakukan selain diam, kalaupun dia kabur justru mengundang banyak perhatian. Gak lucu kan kalau mereka kejar kejaran di bandara.
"Stoopp"
Baskara langsung mencegah mereka ketika jarak ketiganya berdekatan.
"Kangen"
Pandu mencondongkan bibir berniat mencium Baskara, tapi langsung ditampol keras olehnya.
"Bego" cicit Baskara berjalan meninggalkan mereka.
Didalam mobil pun Pandu, Alan dan Dimas sibuk membahas tentang kegagalannya masuk Havard.
"Gue udah bilang kalau elo bakal gagal masuk Havard, eh gak percaya dia"
Pandu memutar setir menuju apartemen Baskara.
"Apa salah nya positif dulu" kata nya sambil bersender pada kursi pengemudi.
"Tapi ya Bas, dengan ditolaknya elo masuk Havard, ada hal postif yang bisa kita dapat"
Alan yang berada di kursi belakang mencondongkan tubuhnya
"Apa?"
"Elo jadi punya waktu ngumpul sama kita kita"
Mereka tertawa, tapi dibalas dengan pukulan kerasa dari Baksara.
"Seneng kalo liat temennya susah"
Pandu dan Alan nyengir sedangkan Dimas justru sibuk membalas pesan dari mamanya.
"Tes nya jam berapa Mas?"
Baskara bersidekap sambil menutup mata
"Sekitar jam 2 siang"
"Sibuk balas pesan mamanya dia"
Alan memberitahu Pandu dengan menyenggol bahunya.
"Masih aja mama lo posesif"
komentar Pandu yang langsung mengundang tawa Baskara
"Anak segede bagong masih aja di tanyain balik jam berapa"
Goda Alan
"Namanya mama gue sayang sama gue. Emangnya elo berdua, balik gak balik gak bakal ditanyain" kilah Dimas cepat
"Kita kan udah gede, emang kayak elo anak mami"
__ADS_1
Baskara tertawa sambil meenendang kaki Pandu keras. Saat seperti ini dia bersyukur punya teman yang gila. Setidaknya empat tahun kedepan dia tidak merasa kesepian