
Hari ini di Singapore menjadi saksi dimana Baskara dan Rindu akan melaksanakan ijab kabul. Dia mengenakan jas hitam dan kemeja putih yang membuatnya terlihat gagah dan tampan. Suasananya sudah haru mengingat ijab kali ini Baskara tidak ditemani ibunya. Dia memandang kaca jendela hotel, meski suasana pesta yang dibuat semegah mungkin dan para pengusaha yang sudah memadati tempat acara, tapi Baskara laki laki itu menatap kearah jendela. Dia merasa sedih, tidak ada ibunya yang akan memberikan wejengan tentang pernikahannya.

"Kalau ibu masih ada mungkin dia akan memuji mu, kamu tampan hari ini Bas"
Arya menepuk pundak Baskara untuk memberi kekuatan terbaik sepanjang hidupnya. Baskara hanya diam, dia berusaha mempertahankan dirinya agar tidak menangis, tidak ada hal yang jauh lebih buruk dibandingkan saat menikah tapi tidak ada ibu yang mendapingi.
"Kalau ibu ada apa ibu akan mengijinkan perjodohan ini tetap dilaksankan?" Tanya Baskara tanpa mengalihkan arah pandangnya.
"Mungkin keadaannya akan sedikit berbeda dari sekarang"
Baskara menoleh menatap Arya yang sudah semakin tua. Tidak ada senyum untuk hari ini meski dia kecewa dengan Arya tapi Baskara tidak bisa membenci laki laki itu. Hanya dia yang dimiliki Baskara saat ini di dunia.
"Ayo, acara akan dimulai sebentar lagi" kata Arya kepada Baskara.
**
Acara pernikahan telah selesai, saat ini Rindu dan Baskara tengah berada di kamar hotel temegah di singapore. Baskara menatap jendela dengan sendu, rasanya dada nya sesak ketika mengingat pernikahan ini. Pernikahan yang tidak pernah di inginkan sebelumnya, sungguh ini benar benar menyiksa Baskara. Laki laki itu mengusap wajahnya kasar, dia ingin marah tapi dia bingung melampiaskan kemarahannya pada apa.
Rindu yang masih berada dikamar membuat Baskara memilih menghampiri wanita itu, siapa tahu dia bisa menenangkan Baskara. Laki laki itu membuka pintu, pertama kali yang dia lihat adalah Rindu tengah menatap monitor laptopnya dengan serius.
Ohh Tuhan apa itu yang lebih berarti dibandingkan kondisi mereka saat ini, rasanya Baskara ingin marah. Tenyata ijab yang mereka lakukan tadi bukan apa apa bagi Rindu. Wanita itu justru berkutat pada pekerjaannya padahal dia tengah mengambil cuti. Ohh gosh Baskara murka, dia menghempaskan pintu sampai membuat Rindu terjingkat, dia menoleh menatap wajah Baskara yang sudah merah padam.
"Lo tahu, hal paling buruk dalam hidup gue apa?" Tanya Baskara mendekat dengan menghunuskan tatapannya tajam. Kalau tatapan bisa membunuh seseorang mungkin Rindu sudah mati saat ini dan mayatnya akan tergeletak diatas lantai.
"Pertama saat ibu gue meninggal dan keduaa...." Baskara menghentikan kalimatnya, dia menyungingkan senyum "menikah sama elo"
Baskara lebih mendekat, bahkan saat ini jarak wajahnya dan Rindu sangat dekat.
__ADS_1
"Lo tahu itu adalah hari yang gue pengen buat gak pernah ada, nikah sama elo adalah hal yang paling buruk buat gue"
Saat mereka masih bertatapan pintu hotel terdengar ketukan. Baskara memilih membukakan pintu, diluar ada Arya yang sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian sopan. Arya berjalan dan duduk di sofa sedangkan Baskara laki laki itu masih berdiri.
"Bas sampai kapan kamu mau berdiri terus sini duduk dekat papa" titah Arya yang langsung di setujui Baskara.
"Rinduuuu sini dulu nak" teriak Arya memanggil Rindu, yang dipangil keluar dengan wajah basah, Rindu berjalan dengan mengelap wajahnya dengan handuk.
Rindu memilih duduk di sisi Baskara meski mereka berdua sama sama bungkam tapi melihat keduanya duduk bersebelahan hati Arya merasa senang.
"Bas, sekarang kamu kan sudah jadi suami. Jadi papa harap kamu bisa menjaga istri kamu dengan baik, gak ada yang namanya kekanak kanakan lagi" ucap Arya sembari mengelus pundak anaknya, Baskara masih bungkam
"Ini, ada kartu kredit dan atm. Atm itu setiap bulannya akan papa transfer uang penghasilan saham perusahaan. Karna seluruh saham papa sudah papa alihkan atas nama kamu, jadi sekarang papa yang bekerja untuk kamu"
"Untuk apartemen papa sudah membelikan semuanya lengkap beserta prabotan jadi kalian cukup tinggal disana, untuk barang barang Rindu tadi papa udah bilang sama papa Tio jadi udah diurus apa aja yang biasa kamu perlukan" Arya tersenyum pahit, merasakan kepahitan akan segera berpisah dengan anaknya "nanti kalau kalian sudah punya anak papa akan siapkan rumah yang layak untuk kalian sementara kalian tinggal di apartemeb dulu"
"Bas"
Baskara mendongak menatap Arya yang terlihat menahan tangisnya
"Kamu tadi nanya sama papa, kalau ibu masih ada apa dia akan terima dengan perjodohan ini?"
"Dia akan mensetujuinya, sejak dulu pilihan ibu mu adalah Rindu. Kamu ingat Rindu anaknya tante Lina, dia adalah temanmu saat kecil dulu sebelum kamu ikut papa Ke Amrik" Arya menarik napas panjang lalu melanjutkan ucapannya "papa gak tau kenapa tapi sejak pertama ibu mu lihat Rindu dia udah suka sama anak itu, Rindu berbeda dari anak anak lainnya. Kamu mungkin belum sadar itu, tapi papa harap lambat laun kamu akan nyaman dengan pernikahan ini"
Arya mengulas senyum melihat Baskara yang hanya mengagguk, lelaki itu sudah menahan air matanya susah payah.
"Kunjungi papa sesering mungkin, papa akan merasa kesepian saat tidak ada orang yang menyambut papa pulang nantinya"
Arya bangkit dan merapikan bajunya, dia menepuk bahu Baskara pelan. Lalu tersenyum menatap Rindu. Untuk pertama kalinya wanita itu menarik senyum hingga ketara.
__ADS_1
"Tolong jaga Baskara" kata Arya langsung berlalu begitu saja.
Saat Arya sudah tidak terlihat Baskara kehilangan pertahannya dia terisak sesekali tapi masih dia tahan. Baskara tecekat untuk mengingat ucapan Arya.
Rindu mengelus punggung Baskara lembut, untuk pertama kalinya kedua nya berinteraksi. Mendapat perlaukan seperti itu Baskara menangis terisak isak meski dengan tatapan menunduk.
**
Pagi ini Baskara terbangun dari tidurnya diatas sofa sedangkan Rindu dia tidur di kamar. Setelah mengucek mata untuk memastikan apakah ada orang atau tidak Baskara memilih berjalan menuju kamar, didalam sana Rindu sudah bersiap siap mengepak pakaian mereka didalam koper.
Baskara baru ingat pagi ini mereka akan terbang ke Jakarta dan melakukan rutinitas seperti biasa. Baskara memilih tidak melakukan honeymoon, lagipula itu percuma menurutnya karena dia akan tetap sama berada di satu ruangan bersama cewek kecil bermuka triplek.
"Pesawat take off jam berapa?" Tanya Baskara Pada Rindu yang masih sibuk menyusun pakaian. Baskara membaringkan tubuhnya diatas kasur tepat disebelah koper dimana Rindu tengah menyusun pakian mereka.
"Jam 9 " jawab Rindu datar.
"Bangunin gue kalo udah jam 8"
Katanya memulai tertidur kembali, belum setengah jam Baskara memejamkan mata, dia medengar suara berdenyit yang membuat hatinya nyeri. Baskara membuka mata, ternyata Rindu tengah memajat kursi untuk menutup tirai yang terjepit diatas celah jendela. Baskara menyunggingkan senyum melihat Rindu seperti anak kecil yang membuatnya gemas.
Coba gadis itu bersikap lembut dan manis seperti Sisil mungkin dia bisa jatuh hati padanya. Tapi nyatanya gadis yang dinikahinya kemarin adalah gadis yang datar dan sopan, tidak bisa bercanda dan hanya taunya kerja.
Baskara bangkit lalu menarik tirai yang terjepit di celah jendela dalam satu tarikan tanpa menggunakann bantuan benda apapun.
"Tinggi itu keatas bukan kesamping" bisik Baskara dekat dengan telinga Rindu.
Author minta tolong boleh 😊
Kalo kalian suka ceritanya jangan lupa dikomen dan tinggalin bintang
Kalau ceritanya bagus share ketemen temen kalian ya
Nanti author usaha in apdate tiap hari
__ADS_1