BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)

BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)
Chapter 14


__ADS_3

Setelah mencium Rindu, Baskara sudah tidur diatas sofa dengan dengkuran halus. Sedangkan Rindu dia bahkan sulit untuk memejamkan mata dan hanya memikirkan kejadian kejadian yang baru dialaminya.



Sampai pagi pun gadis itu belum memejamkan matanya dan hanya memikirkan bagaimana cara untuk menghadapi Basakara esok hari.



Baskaara menringis ketika tirai jedela dibuka lebar lebar untuk memberi celah sinar mentari masuk kedalam apartemen hingga menembus kornea matanya, sedangkan hidungnya mencium aroma makanan yang mampu membuatnya bangun dengan mata tertutup.



"Aww" rintihnya merasakan kepalanya yang berdenyut sakut.





"Rinduuuuu aiiiirrrr" teriak Baskara hampir menggema di seisi ruangan. Sepertinya Baskara gak bisa hidup tanpa Rindu, karena setiap pagi ada saja yang di cari anak itu dengan memanggil Rindu.



Rindu memberikan gelas yang berisi air putih ditangan Baskara yang masih terpejam. Karena merasa yakin dengan gelas yang dipegangnya dia langsung meminum hingga tandas.



Sembari mengucek matanya Baskara menatap sekeliling untuk mencari keberadaan Rindu.



"Rinduuuuuuu" teriak Baskara memanggilnya. Rindu keluar dari walk in closet sudah rapi dengan pakaian yang akan dia kenakan ke kampus.





"Kok lo udah rapi, mau kemana?" tanya Baskara menilik dari atas hingga bawah tubuh Rindu



"Kampus" jawabnya singkat dan padat sembari meneguk susu diatas meja.



Baskara ikut duduk didepannya, dia mengambil sehelai roti yang sudah diolesi dengan slai strawbarty.



"Pagi banget" keluh Baskara ketika menatap Rindu sudah rapi sepagi ini.



"Lo mau ketemu Wirawan ya?" tuduh Baskara langsung membuat Rindu menatapnya, tapi tidak berlangsung lama ketika seklebatan bayangan saat Baskara mencium nya terlintas di fikiran Rindu.



"Panggil dia pak"



"Bodo, dia bukan dosen gue" kilah Baskara cepat.



Baskara memakan rotinya begitu saja, ketika satu kunyahan.



"Hidung lo kecil"



"Uhuk uhuk" Baskara terbatuk batuk ketika bayangan saat dia menangkup wajah Rindu terlintas.



"Bibir lo" "gue suka bibir elo"



"Saya tidak mau melakukannya saat kamu sedang mabuk"



"Uhuk uhuk" Baskara terbatuk batuk lagi



"Minum" titah Rindu menyodorkan susu Baskara diatas meja.



Baskara mendongak menatap Rindu yang tengah menghindari bertatap muka dengannya, seketika itu sarapannya terasa hambar. Dia menaruh kembali rotinya dan langsung berlalu setelah menghabiskan satu gelas susu. Dia berlari cukup cepat menuju kamarnya.



**



Baskara sampai di kampus sekitar pukul 7.55. Dia masih mencerna kilatan kilatan memori saat dia tengah mabuk semalam.



"Apa gue nyium Rindu begitu aja?" tanya dia kepada dirinya.



"Pagiii gengssss" itu suara Rama yang langsung merangkul Baskara begitu saja. Sedangkan Alan dan Pandu sudah berjalan lebih dulu sembari membicarakan vidio porno yang baru dia beli semalam.



"Gimana keadaan lo bray?" tanya Rama pada Baskara yang mengernyitkan dahi.



Sesampainya dikelas, Baskara menidurkan kepalanya dengan berbatalkan lengan.



"Lo udah baikan?" sekarang giliran Alan yang bertanya kepada Baskara.



"Lo tahu gue mabuk semalam?" bukannya menjawab dia justru bertanya balik pada Alan dan Rama.



"Kita yang nganterin lo balik ke apartemen" sahut Pandu dari meja samping.



"Sejak kapan sih lo tinggal diapartemen?" tanya Rama yang sudah memendam rasa penasaran sejak semalam.



"Atau jangan jangan lo pulang kerumah orang ya?" tuding Alan.



"Bangsat, gue masih waras buat balik kerumah orang" kilah Baskara cepat.



"Gue kira lo udah gila sejak HP lo disita bu Rindu" cela Pandu



"Ha ha gue masih punya duit buat beli HP" tegas Baskara sarkatistik


__ADS_1


"Secara lo kan semalaman ngerancau gak jelas, lo bilang kalau lo udah nikahlah sama bu Rindu" kata Rama



"Wait? Gue ngomong gitu?" Baskara menoleh cepat kearah Rama yang masih memainkan ponselnya



"Emangnya muka gue keliatan boong?"


Dasar si Rama bukannya jawab malah balik nanya.



"Lo bukan cuman ngomong udah nikah sama bu Rindu tapi lo nyiksa dia selama kalian menikah"



"Uhuk uhuk"


Ajir ni Alan kalau ngomong gak dipikir dulu udah kayak cerebong asap omongannya jelek semua.



"Gue gak ngerasa ngomong gitu" kilah Baskara



"Yaiyalah lo gak ngerasa, secarakan elo lagi mabuk" jelas Pandu.



"Baskara Baskara segitu frustasinya HP lo disita bu Rindu sampai sampai lo ngimpi nikahin dia" Alan mencibir Baskara dengan tertawa kecil "kenapa? Lo pengen nilai lo dapet A ya?"



"Busyet, mending gue gak nikah ketimbang nikahin Rindu" jawab Baskara cepat



Padahal mah dia emang udah nikah sama Rindu, kadang Baskara kalau ngomong juga sama kayak Alan gak disaring dulu asal keluar gitu aja



**



Selesai jam mata kuliah Pak Dodit semua mahasiswa keluar menuju aula termasuk geng kecoa hidup. Alan, Pandu, Rama dan Baskara berjalan menuju aula, alasannya sih karena pengen liat rame rame. Gak ada alasan spesifik. Karena kampus mereka dijadikan tempat pembukaan olahraga se nasional jadinya persiapan banyak dilakukan.



Baskara melihat Rindu yang sudah berganti pakaian dengan rok mini, dia membawa balon yang diberikan Wirawan. Sembari di potret Wirawan, Rindu tersenyum sedikit tipis tapi cukup membuat Baskara tahu kalau dia sedang tersenyum.





"Bangsat, kenapa sih si boncel itu deket deket sama Wirawan" ucapan Baskara yang cukup lantang membuat Pandu, Alan dan Rama menoleh kearahnya. Mereka mengikuti arah pandang Baskara, ternyata laki laki itu tengah menatap Rindu dengan tajam



"Cemburu lo?" tanya Pandu kepada Baskara, laki laki itu menggeleng tapi masih dengan raut marah.



"Biasa aja mukanya mas, gak usah pakek dijelek jeleki"


Rama mengusap wajah Baskara yang langsung mendapatkan jitakan dari Baskara.



"Tapi ya, gue setuju kalau bu Rindu sama pak Wirawan"



Mendengar ucapan Alan, Baskara langsung menoleh "dia tuh cantik, pak Wirawan ganteng, mapan, dokter lagi. Sesuailah sama bu Rindu yang juga pinter" tambah Alan lagi.




"Sejak kapan ya?" Alan menaruh jari telunjuknya di bibir, matanya menatap keatas memberi gestur sedang berfikir kearah teman temannya "setelah gue fikir fikir ternyata ghibahin orang itu asyik juga"



Mendengar ucapan Alan, Pandu dan Rama langsung terkekeh. Sedangkan Baskara kembali menatap Rindu dengan tatapan benci.



"Balik yuk kekelas, ngapain kita kesini" ajak Rama



"Pembukaan masih dua hari lagi. Mending kita ngantin" ajak Pandu



"Lo aja, gue pengen disini"


Baskara melipat tangannya didada dengan tatapan tidak lepas dari Rindu



"Udah lah Bas, ngapain lo ngeliatin bu Rindu terus terusan. Naksir lo nanti" kata Alan ingin menarik tangan Baskara



"Katanya gak suka, tapi di liatin terus"



Baskara menghentakan kakinya lalu memilih berjalan mengikuti teman temannya. Hari ini tuh dia gak ada mata kuliahnya Rindu jadi Baskara gak ngeliat Rindu di kelas.



Malahan dia melihat Rindu lagi berduaan sama Wirawan, padahal Rindu sudah menjadi istri, apa Baskara kutuk jadi batu aja ya. Enggak enggak, itu kan rumus kutukan untuk emak emak yang perintahnya dilawan sama anak.



Kayaknya Baskara bakalan nyari rumus ngutuk istri. Sesampai dikantin, Baskara langsung memesan minuman. Tidak berselang lama datang seorang mahasiswa berkaca mata yang menghampiri mereka.



"Baskara, dipanggil bu Rindu" katanya pelan sembari menunduk. Mungkin dia takut dengan Baskara dan geng



"Ngapain dia manggil gue, ngajak gelud" kata Baskara menaik



"Woy santai aja cabe rawit" Pandu melempar Baskara dengan kulit kacang yang baru dia makan "mungkin dia mau balikin HP elo" tambah Pandu lagi



"sensi amet sih sama makhluk cantik ciptaan Tuhan" gerutu Rama.



"Perasaan tadi dipandangin terooss, giliran dipanggil mencak mencak. Mau mu apa sih mas?"


Sambil meninju pelan di dada Baskara, Alan ******** senyum seperti perempuan



"Lo kalo mau mangkal dipengkolan aja sono, jijik gue" kata Baskara bersiap bangkit



"Yang kamu lakukan ke aku itu jahad mas, jahad" Alan mendramatiskan keadaan.


__ADS_1


"Nanti malem kita main ya?" Teriak Pandu



Baskara memilih langsung pergi keruangan Rindu tanpa menyahuti kegilaan teman temannya, kalau dia terus terusan meladeni yang ada teman temannya akan bertambah gila.



"Ada apa?" tanya Baskara langsung keinti ketika dia melihat Rindu duduk diruangannya.



Kondisi hati Baskara sedang kacau karena dia masih sebal dengan Rindu yang berdekatan dengan Wirawan.



"Ini ponsel kamu"


Rindu mengeluarkan handpone Baskara ketika laki laki itu berniat duduk



"Lo ngusir gue?"


Ini bukan pertanyaan tapi sebuah bentakan yang Baskara berikan untuk Rindu



"Susah ngomong sama kamu" kata Rindu pelan berniat langsung meninggalkan Baskara di ruangannya



"Mau kemana lo?" suara Baskara membuat Rindu menghentikan langkahnya



"Kemarin saya kerumah papa kamu, dia menunggu kedatangan mu" tutur Rindu sedikit merendahkan suaranya



"Kamu bisa kan menemui papa kamu?"



"Gue sibuk" jawab Baskara asal



"Sesibuk apa kamu sampai tidak meluangkan waktu untuk menemui papa mu?"



"Pokoknya sibuk banget"



"Baskara" Rindu menghentikan Kalimatnya dia menghirup udara dalam dalam "saya tidak tahu ada masalah apa kamu sama papa kamu, yang jelas kamu gak boleh ngehindari papa kamu"



"Waw lo baru aja ngasih gue kultum"


Baskara bertepuk tangan untuk Rindu



"Sudahlah, saya banyak pekerjaan. Nanti kita bahas dirumah"



Baskara bangkit dan mencekal pergelangan tangan Rindu , membuat siempunya mengaduh kesakitan



"Baskara sakit"


Meski mendapat pelototan dari Rindu, Baskara tetap tidak melepaskan cekalannya



"Nanti pulang jam 5, gue gak butuh penolakan" katanya skartistik



Krekkk



Pintu ruangan Rindu terbuka menampakan Wirawan dengan tampang sedikit terkejut. Baskara melepaskan cekalan tangan nya, dia menatap Wirawan dengan pandangan tidak suka



"Oh maaf bu saya kira anda tidak ada tamu" kata Wirawan tersenyum kearah Rindu



"Saya sedang memberikan konsultasi pada mahasiswa saya" kata Rindu sembari melirik Wirawan



"Heh, lo dosen Kedoteran kan? , kenapa bisa sampe ke gedung fakultas Ekonomi?" pertanyaan kasar Baskara membuat Wirawan setengah terkejut, sama hal nya dengan Rindu



"Baskara jaga etika kamu" suara Rindu sedikit menaik



"Saya lupa kalau saya pernah belajar etika" kata Baskara masih menatap Wirawan dengan tajam



"Maaf, saya tidak tahu apa urusan kamu dengan saya. Tapi kebetulan saya ditugaskan mengurus pembukaan olahraga di kampus" jelas Wirawan dengan nada sopan dan halus



"Gue baru tahu, dokter yang sibuknya kayak elo masih bisa nemuin Rindu disela sela jadwal nya"



"Baskaraaa"


Rindu berusaha mencegah pertengkaran keduanya.



"Kalau boleh tahu, kamu siapa ya?"



"Kenalkan" Baskra mengulur kan tanganya dengan ketus "nama gue Cosmos Arya Bayu Baskara anak bapak Thomas Arya pemilik Elena Grup"



Itu seolah dia tengah menunjukan posisi dan jabatannya dikampus, kayak kata lain mengatakan "gue pemilik yayasan ini" tapi masih dengan cara menggandeng papanya.


Rindu mendegus, kali ini tingkah Baskara sungguh ajaib



"Maaf, mahasiswa saya yang satu ini masih labil" Rindu berusaha ******** senyum kearah Wirawan



"Gak papa bu, memang mahasiswa jaman sekarang rasa hormat nya agak menurun" sindir Wirawan "apalagi anak orang kaya seperti beliau"



"Saya permisi dulu, saya tunggu di aula"


Wirawan langsung pergi meninggalkan ruangan Rindu.



__ADS_1


__ADS_2