
Rencana terbaik untuk bertemu dalam keadaan baik
π£π£π£
"Bas Bas lo udah denger kabar?" Suara Pandu menggema diseisi kelas. Laki laki itu berlari tergopoh gopoh mendekati Baskara.
"Pandu Abdiansyah lo bisa gak sih gak usah teriak teriak. Kuping gue belum budek"
Laki laki itu berdecak, dengen gestur menyuruh Pandu duduk, wajahnya masih terlihat kesal.
"Cosmos Arya Bayu Baskara anaknya bapak Thomas Arya" Pandu mendelikkan matanya "gue ada pengumuman penting nih" kata dia menggeretakkan giginya gemas.
"Iya apa gue dengerin"
"Ada dosen baru dikampus kita, namanya kangen" kata Pandu antusias. Baskara menaikan alisnya.
"Kangen? Ngaco lo pagi pagi" Baskara hendak bangkit tapi langkahnya terhenti ketika semua mahasiswa berbondong bondong memasuki kelas. Suara teman teman nya ricuh saat ada seorang wanita memasuki kelasnya.
Semuanya duduk, tidak lupa dengan saling berbisik. Mereka membicarakan dosen baru yang digosipkan Pandu barusaan. Tampilannya sih terlihat lebih muda dari dosen dosen yang ada dikampus Baskara. Dengan tatanan rambut rapi dan balutan kemeja kotak kotaknya. Perempuan itu tidak tersenyum tidak juga terlihat marah, wajahnya datar.
"Selamat pagi"
Dia mengucapkan satu kalimat yang membuat semua mahasiswa bersorak riuh
"Gila gila, gue gak bakal bolos kelas lagi" rancau Alan dari meja ujung.
Semua teman kelasnya memberikan umpatan " huu " secara kompak pada Alan, tapi Wanita ini dia tetap tenang seolah tidak ada hal lucu yang harus membuatnya tertawa.
"Saya Deolinda Rindu Mahaswari, mulai sekarang saya akan menggantikan mata kuliah pak Yuda"
Seisi kelas bertepuk tangan ria. Mereka pikir setelah digantikan dosen baru mereka tidak perlu membuat resume dan penelitian yang terkesan mebingungkan.
"Bu"
Rama yang tiba tiba duduk di kursi depan mengangkat tangan, seisi kelas sudah menaruh curiga padanya. Pasalnya sih Rama ini anaknya agak gak beres kalau ngomong.
"Kita manggil ibu apa ya? , bu Deolin, Rindu atauuuuu Sayaanggg"
Suara kelas kembali ricuh, tak terkecuali Dimas yang duduk disebelahnya langsung menjitak kepala Rama dengan keras.
Dosen itu tidak senyum tidak juga marah. Dia masih saja seperti tadi, ekspresinya tidak berubah. Seisi kelas menjadi sunyi mungkin mereka merasa candaan Rama tadi dianggap garing oleh dosennya.
__ADS_1
"Panggil saya Rindu" katanya langsung mengambil buku paket yag ada di meja.
"Baik saya dengar ada tugas dari Pak Yuda. Jadi presentasi kita mulai sekarang"
Kelas kembali gaduh. Ini mah bukanya ngurangi dosen kayak Pak Yuda yang killer dan tertibnya naudzubillah malah nambah anak cucunya Pak Yuda. Baskara mengacak rambutnya frustasi, apanya yang kayak bidadari ini mah peri sejenis iblis.
"Cantik ya" kata Pandu yang langsung dipelototi Baskara.
"Lo bego ya, cewek yang tingginya 149 kayak dia lo bilang cantik" Baskara menonyor dahi Pandu sedangkan yang ditonyor mengaduh kesakitan sembari mengelus dahinya
"Eh lo gak bisa liat, dia tu seksi, mungil, gue aja demen meskipun dikelas ini bertahun tahun"
Baskara memutar matanya malas, yah berdebat dengan Pandu yang otaknya sebelas duabelas sama Rama emang susah.
Jam kuliah telah selesai, Baskara justru merasa jenuh ketimbang teman temannya yang lain. Dia punya firasat jika nantinya urusan mata kuliah Rindu tidak akan semudah yang dibayangkan teman temannya.
Mereka duduk dikantin kampus, tentu saja dengan perhatian yang terfokus diantara mereka.
"Eh lo tahu gak bu Rindu, gila dia cantik bener" puji Rama sembari menyesap minumannya.
Alan menggelengkan kepalanya lalu menepuk bahu Rama keras keras
"Sama sob, gue berasa liat bidadari"
"Eh Bas, lo gak tertarik sama bu Rindu?" Tanya Alan kepada Baskara yang masih sibuk menyesap rokoknya.
"Gue B aja" jawab Baskara santai.
π£π£π£
Rindu duduk di kursi dengan membalikan kertas kertas yang sempat dia Print di mesin cetaknya. Pintunya diketuk, mata Rindu mendongak saat melihat mahasiswa yang berdiri kikuk dipintu, membuatnya menatap tajam.
"Ada apa?" Tanya Rindu tanpa basa basi, dia kembali melanjutkan mengumpulkan kertas kertas hasil print outnya.
"Anu bu ini, eee" laki laki itu mengenakan alamamter kampus dengan tas ransel besar dan sepatu kets hitam. Rambutnya panjang, dia berusaha tersenyum dengan manis sayangnya justru senyum aneh yang dipancarkan dari bibirnya.
Dia berjalan mendekati meja Rindu. Mengeluarkan sebuah bingkisan yang diletakan di atas meja. Mahasiswa itu tersenyum.
"Nama saya Aldi, saya mahasiswa Ekonomi, semoga ibu senang dengan hadiah perkenalan dari saya"
Aldi buru buru keluar dari ruangan Rindu, tentu saja meninggalkan lipatan dahi yang terpantri di wajahnya. Ponsel diatas nakas berbunyi Rindu segera menggeser tombol untuk mengangkatnya.
"Halo" sapa Rindu pada sipenelpon
__ADS_1
"Rindu, kamu dimana nak?" Itu suara Lina, mama Rindu yang sangat baik padanya, itu menurut Rindu.
Perempuan itu tidak bisa terbantahkan meski kadang saat marah ataupun tidak masih sulit untuk dibedakan, karena aksen pengucapannya kental dengan jawa.
"Di kampus" jawab Rindu singkat.
"Pulang dari kampus kamu bisa mampir kerumah Pak Arya"
"Memangnya ada apa?" Tanya Rindu sembari merapikan Print outnya
"Ada yang mau dia omongin sama kamu, jangan lupa ya"
Setelah itu panggilan terputus begitu saja
π£π£π£
Baskara masih duduk di kantin kampus seorang diri, sejak kelasΒ berakhir, lelaki laki itu enggan untuk beranjak dari kursinya. Matanya menatap kekanan dan kiri, tapi dia malas untuk bangkit padahal kampus sudah sepi, hanya ada beberapa mahasiswa yang tengah perbaikan nilai atau juga tengah berkumpul organisasi.
Saat Baskara bangkit, seorang wanita berjalan mendekat kearah kantin. Wanita mungil dengan balutan kemeja kotak kotak itu selalu terlihat datar dan kaku. Tangan kanannya penuh dengan makalah, tangan kecil yang seharusnya tidak membawa beban sebanyak itu.
Baskara menatap lekat, ternyata itu Rindu, dosen baru yang sebentar lagi akan menganggantikan predikat pak Yuda si dosen menyebalkan. Rindu berjalan menuju penjual roti, dia memesan dua buah roti dan air mineral lalu membayarnya dan berlalu begitu saja. Sempat mata keduanya beradu tapi langsung teralihkan begitu saja.
Wajah datar itu tetap sama seperti saat Rindu masuk ke kelasnya tadi pagi, saat dia bertemu di koridor kampus dan saat dia berada di kantin.
Baskara mencoba masa bodo lalu melangkahkan kakinya untuk memilih pulang, rasanya tubuhnya terasa pegal. Ketika dia memainkan kunci mobil yang berada digenggamannya tak sengaja Baskara menabrak seseorang yang tengah berjalan dikoridor
Wanita itu terjatuh dengan tumpukan makalah yang berserakan di lantai. Baskara ikut berjongkok membantu membereskan beberapa makalah yang berada dilantai, dia merasa bersalah dengan wanita itu.
"Lain kali kalau jalan jangan sambil ngelamun" kata Rindu sarkatistik.
Ya wanita yang ditabrak Baskara adalah Rindu, ku ingatkan sekali lagi. Rindu dosen yang akan menggantikan predikat menyebalkan milik pak Yuda.
Baskara menyunggingkan senyum, seolah dia baru saja menyesal telah merasa bersalah karena menabrak Rindu. Saat ini dia merasa memang Rindu perlu untuk jatuh jika perlu jatuh ke dasar paling bawah.
"Bukannya ibu ya yang jalan gak liat liat karna ketutupan tumpukan makalah" ledek Baskara.
Rindu menatap Baskara dengan tajam, demi planet EXO, Rindu merasa dongkol dalam hati.
"Saya tidak merasa begitu" katanya tetap dingin.
"Maaf bu, kalau punya badan agak tinggian biar enak kalau jalan. Jadinya semua orang bisa ngeliat ibu"
Baskara menyunggingkan senyum sembari berjalan melewati Rindu begitu saja tanpa rasa takut sedikit pun.
__ADS_1