BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)

BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)
Chapter 38


__ADS_3


Rindu memijat pelipisnya, sekitar jam 1 siang dia sudah terbangunh dan mendapati dirinya seorang diri di apartemen. Air matanya langsung meluncur begitu saja saat dia tahu bahwa Baskara tidak pulang. Ini sudah beberapa jam dari tadi pagi, kenapa anak itu tidak pulang.



Apalagi kepalanya begitu berat untuk ditegakkan, dia hanya bisa menangis sambil menutup tubuh dengan selimut. Rindu benar benar dibunuh oleh kesepian yang mencengkram dirinya di apartemen, tidak ada teman dan tidak ada siapa siapa.


Dia menekan digit nomor Baskara di handponenya


Suara dering langsung menyambut tapi suara Baskara tidak kunjung terdengar.



Rindu kembali menangis, sesakit ini mempertahankan rumah tangganya? Kenapa lelaki itu selalu bersikap seenaknya?



Rindu hendak bangkit tapi tubuh lemasnya tidak mampu menompang Rindu, Sampai dia harus terjatuh di bawah ranjang. Benar benar memuakan, sampai memebuat Rindu menangis terisak isak.



Rindu mencoba untuk bangkit sekali lagi, bagainana pun dia tidak boleh lemah sebagai perempuan. Seyukurlah tubuh itu bisa diajak bekerja sama oleh Rindu, melihat keadaan kulkas yang kosong. Rindu mendegus, kapan terakhir dia berbelanja? Oh saat Baskara akan ke Paris, dan sekarang sudah lebih dari seminggu. Rindu meminum air putih, menatap kosong jendela didepannya, seolah tengah menembus dimensi waktu.



"Dia pulang, dia tidak akan pulang, dia pulang dia tidak akan pulang, dia pilang dia tidak akan pulng" Rindu berkata seperti itu berulang ulang mengikuti detingan jam.



Sudahlah berlama lama dirumah hanya kan membuat Rindu teringat Baskara, dia memutuskan untuk berbelanja saja sekalian mencuci otaknya.



Setelah menempuh perjalan dua puluh lima menit Rindu sekarang berdiri dideretan sayur sayuran untuk memilih sayuran mana yang segar.



"Bu Rindu" sapaan seseorang membuat Rindu mendongakkan kepalanya. Wirawan denga troli penuh belanjaan menghampiri Rindu, dia tersenyum, senyum yang sama seperti pertama kali mereka bertemu.



"Hai, apa kabar?"


Kenapa Rindu menanyakan kabar Wirawan? Kan kemarin malam dia habis bertemu dengannya.



"Baik" senyum Wirawan " belanja?" Tanya Wirawan



Ya iya lah belanja, menurut kamu?



Eh kok Rindu jadi berani ngegas sih, ya meski dalam hati. Tapi biasanya dia lemah lembut dan terkesan cuek.



"Iya"



Wirawan mendorong troli miliknya sambil memilih wortel yang ada di rak, sedangkan Rindu diam diam dia melirik kearah Wirawan.



Setelah selesai belanja Wirawan menawarkan untuk mengantar Rindu ke apartemen, sebenarnya Rindu menolak tapi diperjalanan keluar mall tiba tiba dia merasa pusing dan mual. Jadi lebih baik dia kembali bersama Wirawan



Sampai didepan lobi Rindu langsung membawa belanjaannya naik ke apartemen, Wirawan menawarkan bantuan tapi di tolak halus oleh Rindu.



"Terimakasih"katanya langsung berlalu untuk naik ke apartemen. Didalam suara televisi mengisi ruangan, itu artinya Baskara sudah pulang.



Baskara hanya melirik Rindu tanpa membantunya membawa kantong belanjaan. Dia masih menatap televisi sambil fikiran melayang memikirkan antara Sisil dan Rindu.



Melihat Rindu mengeluarkan balanjaan Baskara mendekat, dia meminum segalas air putih sambil memandang Rindu.



"Rin" panggil Baskara.


"Kalau semisal gue gak pulang elo marah gak?"



Pertanyaan Baskara membuat Rindu menoleh, dia menatap wajah Baskara yang kusam.


Pertanyaan itu sebenarnya tidak perlu untuk di jawab, sudah pasti jawabannya dia akan marah.



"Kamu mau kemana?"



Baskara terdiam sambil memainkan jarinya dibibir gelas. Dia setengah ragu untuk mengatakan kalau akan merawat Sisil beberapa hari ini sampai Sisil keluar rumah sakit, atau setidaknya dia menemukan papanya.

__ADS_1



"Sisil" saat Baskara mengucapkan nama Sisil, Rindu langsung menghentakkan piring diatas meja sampai bersuara detuman keras. Dia hendak berlalu sebelum suara berat Baskara membuatnya mengurungkan niat



"Dengeri penjelasan gue" kata Baskara mencegah Rindu pergi



"Gue tahu yang gue lakuin ini salah, tapi dengeri gue sampai selesai" katanya



"Sisil mengalamai depresi tingkat berat, dia selalu merasa kalau tidak ada orang yang menginginkannya, dia selalu melukai diri sendiri, selain itu dia terkena amnesia disosiatif, dia akan membuang memori yang membuatnya trauma termasuk__" suara Baskara melemah diujung kalimat


"Termasuk kenyataan kalau gue udah nikah sama elo, bahkan gue gak ngejamin dia ngenali elo"



Amnesia disosiatif terjadi ketika seseorang memblok suatu informasi tertentu, biasanya berhubungan dengan peristiwa stres atau trauma, namun hal ini menyebabkan dirinya tidak dapat mengingat informasi pribadi yang penting. Dengan gangguan ini, tingkat kehilangan memori melampaui lupa normal dan meliputi kesenjangan memori jangka panjang atau kenangan yang melibatkan peristiwa traumatik.



Rindu mendegus sambil menarik sudut bibirnya



"Jadi maksud kamu apa?"



"Gue mau ngerawat Sisil sampai dia nemuin papanya, gue janji setelah itu gue bakal jauhi dia"



Rindu tertawa getir, tanpa menjawab kalimat Baskara dia langsung masuk kamar dan mengunci diri disana.


Ketukan dari daun pintu tidak membuat Rindu menghentikan tangisnya, sebegitu perdulikah Baskara pada Sisil? Sebegitu berartikah Sisil di hidup Baskara?



Merawat katanya? Bagaiamana dengan nasib Rindu kalau dia merawat Sisil. Apa dia tidak berfikir kalau selama ini Baskara tidak merawatnya dengan baik



"Rin, Rin" suara Baskara sedari tadi terus mengisi kekosongan fikirannya.



Sampai suara itu tidak lagi terdengar, digantikan suara pintu luar apartemen yang tertutup, itu artinya Baskara pergi lagi.



Rindu menangis sejadi jadinya, kepalanya langsung berdenyut nyeri, dia merasa mual yang luar biasa sampai tidak bisa menahannya.




Sambil berpegangan pada dinding untuk mencapai kasur, Rindu menutup matanya. Kepalanya benar benar berdenyut nyeri, dia selalu merasa mual setiap saat.



Handpone di atas nakas bergetar menampkan nama Rosalicha.


Rindu menekan tombol angkat di layar handponenya.



"Rinduu apa kabar?"


Suara lembut perempuan langsung menyapanya. Dia adalah sahabat Rindu yang berpindah tugas di Jakarata, pada musim libur kemarin Rindu berniat menemui gadis itu tapi gagal karena dia di tugaskan membimbing study tour dadakan.



"Tidak terlalu baik" kata Rindu sambil merebahkan tubuhnya diatas kasur.



"Ada apa ? "



"Saya lagi sakit Ros"



"Ya ampun, dimana suamimu? Kenapa gak kerumah sakit?"


Pertanyaan Rosa berutun, seperti kakak yang khawatir dengan adiknya.


Suami, kemana suaminya? Oh Rindu lupa suaminya sedang bersenang senang dengan wanita lain.



"kamu sudah di Jakarta?"



"Sudah tiga minggu yang lalu, bahkan aku sudah mulai bekerja"



"Kenapa gak bilang? , saya kan bisa menemui kamu"

__ADS_1



"Takut ganggu" suara kekehan dari seberang membuat sudut bibir Rindu terangkat.



"Boleh aku main ke rumahmu, sekalian kenalan sama suamimu? "



Rindu menarik senyum, masalah pernikahannya Rindu memang memberitahu pada Rosa. Tapi dia belum mengirim gambar bagaimana wajah suaminya.



"Dia lagi gak ada" kata Rindu " kesinilah, temani saya. Saya lagi gak enak badan"



"Oke aku otw ya, setelah meriksa pasienku"



Panggilan langsung berakhir begitu saja. Rindu masih menutup matanya, kepalanya terasa berdenyut, mungkin efek dia kurang istrirahat. Rindu tertidur saat pukul stengah lima.



Suara bel dari luar mau tidak mau membuat matanya terbuka. Rindu berjalan dengan bertompang pada dinding, keadaanya benar benar memburuk. Saat pintu apartemen dibuka Rosa langsung memeluk Rindu dengan erat.



"Aku kangen Rindi" kata Rosa masih memeluk Rindu.



Rindu menarik sudut bibirnya tipis lalu mempersilahkan Rosa dusuk.



"Kamu sakit?" Rosa mengecek suhu tubuh Rindu



"Kamu kesini mau jenguk temen atau mau jadi dokter" ledek Rindu



"Dua duanya" katanya nyengir "yang kamu rasain apa? "



"Mual, pusing, gak selera mau ngapa ngapain, pengen marah terus buk dokter" cerita Rindu sambil tersenyum



"Mual? Kamu mual ?" Ulang Rosa, "apa kamu mual dengan sesuatu yang gak masuk akal?"



"Maksud kamu apa?"



"Kamu mual kalau ngeliat orang jelek contohnya"


Meski kalimat itu terdengar seprti guyonan tapi membuat Rindu justru memikirkan kata kata Rosa.



"Oh iya saya jijik kalau ngeliat tanah basah, saya gak suka bau parfum suami saya, saya gak suka rumah kotor" kata Rindu beruntun



Rosa bertepuk tangan sambil tersenyum lebar "terakhir kamu haids kapan?"



Rindu mengernyitkan dahi, kenapa pembahasan jadi seintim itu?


"Saya lupa" jawab Rindu acuh



"Rin, kamu harus periksa ke dokter, aku rasa kamu hamil"



"Uhukkk"


Kalimat Rosa membuat Rindu tersedak air ludah. Dia hamil? Memangnya secepat itu, terakhir dia berhubungan intim adalah malam dimana mama Sisil meninggal, dia sering melakukan hubungan intim itu dengan Baskara. Tapi apa benar dia hamil



"Mending sekarang kita kedokter" ajak Rosa, mau tidak mau Rindu juga ikut berdiri.






šŸ˜šŸ˜šŸ˜šŸ˜šŸ˜šŸ˜šŸ˜šŸ˜šŸ˜šŸ˜šŸ˜šŸ˜šŸ˜šŸ˜˜šŸ˜˜šŸ˜˜


aku suka kalian spam komen ya, jadi aku tunggu spam komen kalian

__ADS_1


šŸ˜šŸ˜šŸ˜šŸ˜šŸ˜šŸ˜šŸ˜šŸ˜šŸ˜šŸ˜šŸ˜šŸ˜šŸ˜šŸ˜˜šŸ˜˜šŸ˜˜



__ADS_2