BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)

BARA (Baskara Yang Terluka Karena Rindu)
Chapter 7


__ADS_3

Apa menyebalkan tidak tahu waktu, kalau iya mungkin Baskara orang yang menyebalkan dalam keseluruhan waktu



☘☘



Terik matahari mengenai kornea mata Rindu meski dari jendela yang setengah tertutup oleh rak buku. Rindu mengerjapkan matanya, dia merasa masih mengantuk apalagi setelah perjalan pulang dari Singapore dan setelah rentetan kejadian yang membuatnya hampir menangis, pagi ini bayi besarnya kembali merengek. Dia sudah membuka pintu perpustakaan Rindu sembari terus meminta makan, padahal ada sereal yang bisa dia tuangkan air panas dan membuat susu sendiri tidak perlu teriak teriak seperti dihutan.





Rindu bangkit dengan malas dia merapikan selimutnya, setelah itu dia berjalan keluar melihat ruang tamu sudah berantakan dengan bekas ciki ciki dilantai. Apa menyebalkan tidak tahu waktu, kalau iya mungkin Baskara orang yang menyebalkan dalam keseluruhan waktu.



Rindu memilih diam, toh berdebat dengannya akan menambah masalah yang panjang. Lagi pula dia tidak pandai berdebat, hanya pandai dalam urusan otak. Rindu memilih merebus air panas dan menuangkan susu diatas mangkuk lalu menuangkan air panas yang dia rebus bersama serealnya. Tidak ada percakapan seperti "good morning sayang" atau "bagaimana tidurmu" ah sudahlah jangan mengharapkan kata seromatis itu pada mereka.



"Kecil, setrikakan baju gue, gue ada kelas pagi, mana dosennya datar kayak triplek lagi"



Itu secara tidak langsung adalah kalimat yang ditujukan untuk Rindu. Bukan sebuah persepsi saja tapi itu memang untuk dia karena dosen mata kuliah pertama adalah dirinya.



"Kamu mau pakai baju mana?" sambil memunguti sampah Rindu bertanya dengan nada lembut.



"Emm. Terserah lo" kata Baskara sembari menyantap serealnya. Rindu membuang tumpukan bekas ciki pada kotak sampah lalu berjalan masuk menuju kamar suaminya ralat bayi besarnya untuk mengambil baju. Awalnya dia bingung karena banyak sekali baju yang tergantung dilemari, dia saja wanita tidak sebanyak itu padahal walk in closet keduanya jadi satu tapi baju Baskara yang lebih mendominasi.



Jadi Rindu memilih baju kotak kotak yang dia setrika, sepertinya Baskara sudah selesai sarapan karena dari suara yang menggema diruangan dia tengah menuju keruangan ini.



"Mana?" kata Baskara mengadahkan tangan kearah Rindu. Dia memberikan baju kotak kotak dan celana hitam kepada Baskara.



"Kok ini, gue gak mau, ganti" seru Baskara memprotes pilihan Rindu.



Ya Tuhan, saudara kembar Patrick ini kok menyebalkan sih, tadi bilang terserah Rindu sekarang protes, enaknya tadi bilang dia milih sendiri.



"Jadi mau yang mana?" tanya Rindu dengan nada sabar. Iya, Rindu harus sabar kan didepannya ini bayi besar yang otaknya anak kecil dan jiwa nya jiwa pasien rumah sakit jiwa.



"Kaos" kata Baskara sembari bersidekap.



"Kamu pilih sendiri, nanti saya setrikakan"



"Kok nyuruh gue, yang istrikan elo"  raung Baskara tak terima



Yasudahlah Rindu memilih asal kaos bewarna hitam yanga ada di gantungan Baskara. Setelah selesai dia memberikan itu pada Baskra.



"Gue gak mau kaos itu, lo gila ya. Kalau gue ke kampus pakek kaos itu bisa dikira gembel gue"



Kenapa gak dari tadi coba pas kaosnya keluar dari lemari, jadi Rindu gak capek capek nyetrikanya. Kan kalo gini yang capek Rindu.



Rindu mengambil asal pakaian apa saja yang berada di lemari lalu menyetrika hampir 4 baju. Biarkan si bayi besar yang jiwa nya jiwa pasien rumah sakit jiwa memilih.

__ADS_1



"Gue mau pakek ini" tujuk Baskara pada kemeja kotak kotak yang disetrika Rindu pertama kali.



Wait? Serius. Dia ini gila atau semacam punya kelainan. Tadi dia bilang dia gak mau pakek itu setelah hampir sejamman dan dia bilang dia akan makek kemeja yang pertama. Please kayaknya Patrick gak gini gini amet.



Rindu mengepalkan kedua tangannya didekat wajah Baskara. Dia gemas sendiri dengan tingkah laku laki laki itu.



"Terserah kamu, saya mau mandi" kata Rindu memilih meninggalkan Baskara yang tertawa puas.



"Woy lo gak lupakan sama perjanjian kita, pokoknya gak ada yang boleh tahu tentang perjodohan ini"


Suara Baskara menggema seisi ruangan, entah Rindu dengar atau tidak tapi sepertinya begitu karena pintu kamar baru saja ditutup kasar oleh dia.



**



Baiklah, malapetaka pertama adalah dia harus bangun pagi dan menyiapkan makanan untuk bayi besarnya, malapeta kedua dia harus membersihkan seluruh ruang tamu dan yang ketiga dia harus menyetrika setumpukan pakaian suaminya yang lebih layak disebut anak anak. Dan sekarang oh ghost, demi Neptunus Rindu ditinggal pergi kekampus padahal gadis itu tidak membawa mobil tepatnya mobilnya belum dia ambil dirumah mamanya. Sekarang Rindu harus mencari taksi.



Kabar baiknya adalah Rindu berdiri hampir setengah jam tapi tidak ada satupun taksi yang melintasi jalanan didepannya.



Entah kebetulan atau apa tapi mobil Wirawan yang dari arah kanan berhenti dihadapan Rindu, dia menurunkan kaca mobil agar lebih dikenalinya.



"Wirawan"sahut Rindu lirih



"Butuh tumpangan?" tanyanya




Mereka sampai di kampus setelah pukul 8.35 menit, tentu Rindu sudah telat untuk ke kelas. Padahal biasanya dia tidak pernah telat sama sekali. Buru buru ke kekelas, Rindu jalan sedikit tergesa gesa sampai



Brukkk



Rindu terjatuh kelantai dengan buku yang berserakan. Meski dongkol dan ingin mengumpat tapi mulutnya tetap bisa dia kontrol dengan baik, ini kan di Kampus. Rindu mendongak menatap laki laki angkuh yang berkacak pinggang sembari nyengir kuda setelahnya dia mengerucutkan bibir seolah tengah beraeygo lucu.





"Bu, ibu gak papa? "


Rama membantu Rindu untuk berdiri sedangkan Baskara yang menabraknya justru tidak memiliki rasa bersalah atau semacamnya.



"Tidak apa apa" terang Rindu langsung merapikan bukunya dan berjalan kekelas, belum ada dua langkah dia kembali menoleh



"Kenapa tidak masuk? Saya akan memulai mata kuliah" ucapnya tanpa melirik Baskara lagi.



Tepat didalam kelas, suasana yang tadinya gaduh langsung kembali tenang. Rindu merapikan bukunya diatas meja, lalu dia kembali memulai mata kuliahnya.



**

__ADS_1



Helaan nafas keluar dari hidungnya setelah jam 10 dia selesai mengajar. Rindu berjalan sedikit santai menuju kelasnya. Tapi belum sampai ruangan Rindu, gadis itu memegang perutnya karena merasakan perih di area itu.



Oh ghost, belum puas kejadian pagi tadi ternyata magh Rindu kambuh, buru buru gadis itu berjalan menuju ruangannya dan mencari obat obatan. Ternyata obatnya tidak ada di ruangan, dia baru ingat sedari tadi pagi dia tidak menyantap satu makanan apapun.



Sewaktu hendak bangkit, entah Wirawan dari mana tapi laki laki itu berjalan menuju ruangannya dan membuka ruangan Rindu dengan wajah cerah, ditangannya ada tumpukan kertas dan laptop yang sudah dia bawa. Mungkin dia akan mengerjakan proposal kegiatan kampus, tapi ekspresi santainya berubah sedikit khawatir ketika menatap wajah pucat Rindu



"Ibu Rindu gak pappa?" tanya Wirawan dengan nada khawatir.



Bodoh jika Rindu bilang dia tidak apa apa, buktinya saat ini dia merasa sakit diarea perutnya. Meski dengan wajah datar dia langsung berucap sesantai mungkin "magh saya kambuh“



"Tunggu sebentar saya ambil kan obat obatan"


Wirawan berlalu entah kemana, setidaknya Rindu tidak perlu khawatir karena dia adalah dokter yang merangkap menjadi dosen.



Beberapa menit menahan sakitnya Wirawan datang membawa dua buah roti, air putih dan obat magh.



"Minum dulu" saran Wirawan memberikan air putihnya. Rindu menurut semua anjuran Wirawan, dia sudah meminum obatnya dan memakan habis roti itu. Tapi sakit perutnya tidak kunjung reda.



"Mau kerumah sakit?" tawar Wirawan karena melihat Rindu tidak merubah ekspresi sakitnya.



Rindu hanya mampu menggeleng, toh kalaupun dia kerumah sakit obat yang diberikan Wirawan dan dokter disana akan tetap sama.



"Istirahatlah dulu bu, kalau tidak saya antarkan pulang. Biar nanti saya ijinkan sama Bu Dela"



Bu Dela itu dewan bagian kurikulum biasanya dia yang menangani absen absen para dosen. Jika dosen akan ijin biasanya akan menghubungi Dela.



"Tidak perlu, sebentar lagi baikkan"


Rindu tidak ingin membuat Wirawan khawatir karena rasa sakitnya sedikit berkurang.



"Tapi magh tidak semudah menyembuhkan sakit lainnya bu, perihnya tidak akan secepat itu hilang" jelas Wirawan.



Rindu berusaha ******** senyum tapi gagal karena memang dia tidak pandai untuk itu. Ketika Wirawan masih panik ponsel nya bergetar. Entah siapa si penelfon yang jelas raut wajah Wirawan jauh lebih cemas dibandingkan sebelumnya



"Saya ada pasien darurat. Maaf saya tidak bisa lama lama. Ibu mau saya panggilkan mahasiswa biar ada yang menjaga"



"Tidak perlu pak, nanti juga baikan"



"Kalau ada apa apa hubungi saya"



Wirawan berlalu meninggalkan laptop dan tumpukan kertasnya dimeja Rindu, itu artinya dia akan kembali lagi nanti keruangan ini.



Rindu masih menatap kepergian Wirawan dengan rasa sakit yang hebat diarea perutnya. Dia memilih menidurkan kepalanya diatas meja, air matanya sudah lolos begitu saja tanpa bisa dicegah oleh siempunya. Hal yang paling menyakitkan bagi Rindu adalah ketika penyakitnya kambuh tiba tiba dan itu karena ulah Baskara yang menyuruh dia seenaknya.


__ADS_1



__ADS_2