
“Sakit maghnya kambuh, jadi gak bisa ikut datang kesini. Dia bilang butuh istirahat lebih banyak agar besok bisa kembali fit dan dia juga meminta agar kami menyampaikan permohonan maafnya pada kalian sekeluarga.” Jelas Mely lagi pada Ronald.
“Heemm pasti Mitha telat makan karena sibuk mencari Lucas tadi di bandara.” Celetuk Ronald.
Mendengar hal itu, membuat Lucas yang awalnya sedikit bingung perlahan mulai berfikir jika Hendra dan Mely mungkin bisa jadi adalah kerabat atau pun orang tua Mitha.
“Ah tapi gak mungkin! Penampilan mereka berdua cukup mewah, rasanya tidak mungkin Sekretaris pribadi papa adalah anak mereka. Kalau Mitha itu anak mereka, tidak mungkin dia bekerja pada papa, hanya jadi Sekretaris pula.” Gumam Lucas dalam hati.
“Ha? Benarkah? Berarti Mitha dan Lucas sudah bertemu dong?” Tanya Mely lagi yang nampak sedikit terkejut.
“Belum tante.” Jawab Lucas dengan cepat.
“Belum??” Kali ini Mely lah yang nampaknya jadi sedikit bingung.
“Iya, awalnya aku memang menugaskan Mitha untuk menjemput Lucas, tapi sayangnya mereka gak ketemu di bandara. Lucas mengalami insiden kecil, jadi dia ingin cepat-cepat pulang, bukan begitu Lucas?” Ronald pun melirik ke arah Lucas.
“Benar pa.”
“Hoo begitu.” Mely dan Hendra pun mengangguk-anggukan kepalanya.
“Dan sepertinya aku juga harus meminta maaf pada Mitha, karena aku lupa memberitahunya kalau Lucas sudah pulang duluan naik taksi, dia yang tidak tau hal itu sudah pasti terus mencari Lucas di bandara hingga jadi telat makan, aku jadi merasa bersalah padanya.” Tambah Ronald lagi yang sedikit merasa tak enak hati.
“Heemm udah lah, gak perlu merasa bersalah, Mitha cuma perlu minum obat dan banyak istirahat, setelah itu aku yakin dia pasti bakal fit kembali.” Jawab Hendra sembari tersenyum.
Beberapa saat berbincang, kedua mata Lucas secara tak sengaja melirik ke arah dua orang lelaki yang baru saja tiba. Kedua lelaki itu merupakan staff di perusahaan papanya sekaligus juga sahabat karib Lucas ketika duduk di bangku SMA dulu. Lucas pun kembali mengukir senyuman dan akhirnya meminta izin undur diri karena ia ingin menyapa teman-temannya itu.
“Welcome.” Ucap Lucas yang menyambut kehadiran kedua temannya itu dengan sebuah senyumannya yang begitu khas.
“Wah wah, lihat lah siapa yang menyambut kita malam ini.” Ujar Dika yang terlihat jadi begitu antusias saat mendapati sosok Lucas yang sudah berdiri di hadapannya.
Mereka pun berpelukan singkat, Dika menepuk-nepuk pelan punggung Lucas yang telah begitu lama lenyap.
“What's up dude?” Tanya Dika.
“Fine.” Lucas pun tersenyum.
__ADS_1
Lalu, kali ini giliran Aryo yang menyapa dan memeluknya singkat.
“Senang bisa ketemu kau lagi bro,”
“Ya, aku juga.”
Lucas kembali berdiri tegak di hadapan kedua temannya, lalu memandangi penampilan mereka dari ujung kaki hingga rambut.
“Wow, lihat lah gimana kedua berandalan ini sudah berubah jadi orang kantoran sekarang hahaha.” Celetuk Lucas yang semakin melebarkan senyumannya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya seolah tidak percaya dengan penampilan kedua temannya yang kini nampak begitu rapi.
“Hehehe ini juga berkatmu bro, kaulah yang membuat kami bisa bekerja di perusahaan yang sangat maju ini.” Jawab Dika ikut tersenyum.
“Ya benar, jika bukan karenamu yang membujuk papamu agar mau menerima kami bekerja di perusahaan ini, mungkin hingga saat ini kami masih jadi beban keluarga.” Tambah Aryo yang juga ikut terkekeh.
“Haaais, kalian berdua ini ngomong apa ha? Baru juga kita bertemu kembali, tapi kalian udah ngomong yang berlebihan.” Lucas pun mendengus.
“Tapi memang itu faktanya.” Tegas Dika.
“No, it's not true!! Lagi pula kalian bisa bertahan sampai sejauh ini di perusahaan keluargaku, itu menandakan kalau kalian memang punya skill yang baik di bidang kalian. Karena setauku, perusahaan ini cuma mempertahankan orang-orang yang memiliki skill dan memiliki loyalitas tinggi aja.” Ungkap Lucas.
“Oh forget it, come on.” Lucas pun akhirnya mengajak mereka untuk duduk di kursi tamu yang kosong.
Saking lamanya tidak bertemu dan saling bertegur sapa, membuat ada begitu banyak hal yang mereka perbincangkan malam itu. Mulai dari masa-masa mereka saat duduk di bangku SMA, berbagai pengalaman yang mereka alami, hingga tak luput pula membahas masalah wanita. Ya, jika para lelaki sudah berkumpul, rasanya memang tidak afdol jika tidak ada membahas urusan wanita dan percintaan, begitu pula dengan Lucas dan kedua temannya.
“Lalu gimana denganmu bro, udah berapa wanita bule yang kau tiduri selama disana ha? Hahaha.” Tanya Dika sembari terkekeh.
“Tidak ada!" Jawab Lucas dengan tenang sembari menggelengkan kepalanya.
“Hah??! Tidak ada? Oh dude, are you kidding? Haha yang benar saja!" Aryo pun akhirnya ikut terkekeh seolah tak percaya.
“Kurasa kalian sudah tau, gadis bule, eemm not my type!" Jawab Lucas sembari menggeleng singkat.
“Ya ya ya, tapi apa kau yakin sama sekali gak ada yang bikin tertarik??”
Lucas pun hanya menggelengkan pelan kepalanya.
__ADS_1
“Atau jangan-jangan, kau masih belum move on ya dari Ayra?” Tanya Aryo tiba-tiba dengan raut wajah yang mulai menyeringai.
Mendengar nama Ayra kembali disebut, sontak membuat Lucas mendengus.
“Oh ya bener juga, apa kabarnya dia sekarang ya?” Tanya Dika yang juga nampak penasaran.
“Aku gak tau dan sama sekali gak mau tau!" Jawab Lucas seolah cuek.
Ayra, adalah mantan tunangan Lucas, mereka merajut kasih 4 tahun lamanya, bahkan mereka sudah hampir menikah, segalanya telah dipersiapkan, termasuk undangan juga sudah di cetak, namun sayangnya hubungan mereka harus kandas saat Ayra yang begitu disayangi oleh Lucas, ketahuan selingkuh dan bahkan ternyata ia mengandung anak dari selingkuhannya. Saat itu Lucas tentu sangat kecewa dan patah hati, itulah sebabnya ia memutuskan untuk pergi jauh agar bisa melupakan Ayra. Ia pun memilih kota London sebagai tempat pelariannya dan memilih untuk melanjutkan kuliah disana.
“Hahaha kenapa responmu gitu? Hmm, keliatannya kau ini masih sangat dendam ya sama dia?" Aryo pun kembali terkekeh.
“Heh, kalau aku dendam, aku tidak akan membiarkan dia dan selingkuhannya itu hidup sampai sekarang!” Jawab Lucas dengan tenang.
“Hoo, kalau gitu, berarti kau sebenarnya masih menyimpan perasaan ya sama dia?”
“No, big no!! Lagi pula saat ini kayaknya aku udah kehilangan minat untuk urusan percintaan, dan lagi, belum ada juga wanita yang bisa buat aku tertarik.” Tegas Lucas.
“Haaaiis haha, makanya kau datang ke kantor papamu, disana ada banyak staff yang cantik-cantik hahaha, bener kan Dik?” Aryo pun menyenggol lengan Dika.
“Tentu aja haha. Itulah alasannya kami jadi semangat kerja setiap hari, karena di kantor ada banyak staff wanita yang bening dan menyegarkan mata hahaha.” Dika pun ikut semangat saat menceritakan hal itu pada Lucas.
Namun Lucas, bukan malah jadi penasaran, ia justru hanya mendengus dan tersenyum geli mendengar perkataan kedua temannya.
“Kayaknya itu terdengar sangat berlebihan!”
“Hih jelas enggak dong! Kau belum tau aja, staff disini memang cantik-cantik, semuanya good looking, terutama Sekretaris papamu yang sekarang, duuuuhhh, mulussss. Top!!” Jelas Dika lagi dengan penuh semangat.
Lagi dan lagi, Lucas kembali mendengus dan tersenyum sinis.
“Siapa? Mitha?” Tanyanya santai.
Mendengar hal itu, sontak membuat Dika dan Aryo jadi saling pandang satu sama lain, mereka tidak menyangka jika Lucas dengan cepat sudah mengetahui namanya.
...Bersambung…...
__ADS_1