Benci Kok Menikah

Benci Kok Menikah
Mengorek Informasi


__ADS_3

“Oh ya, apa boleh kami gabung disini? Karena kayaknya kami udah gak kebagian meja nih, semuanya penuh.” Pinta Nia yang mulai memasang wajah lirih.


“Oh ya, tentu aja boleh!” Jawab Aryo dan Dika secara serentak tanpa bertanya lebih dulu pada Lucas selaku donatur di meja mereka.


Hal itu pun sontak membuat Lucas mulai mengerutkan dahinya, karena ia sama sekali tidak berniat untuk duduk bergabung dengan ketiga wanita asing itu. Ia pun langsung menarik paksa lengan Dika yang kala itu duduk tak jauh darinya.


“Heh!! Apa-apaan kalian ini ha?! Kenapa malah biarin mereka gabung di meja kita? Cepet suruh mereka pergi cari meja lain, aku gak nyaman duduk sama orang asing!” Bisik Lucas dengan nada kesal.


“Ta,, tapi Bro.” Dika pun tak kalah memasang wajah memelas, seperti kebiasaannya sejak dulu.


Aryo yang melihat hal itu pun akhirnya beranjak mendekati Lucas.


“Bro, kenapa?” Tanya Aryo tanpa merasa bersalah.


“Bilang sama dia!” Tegas Lucas pada Dika.


"Ada apa sih?" Aryo yang mulai nampak bingung mulai menatap Dika.


Dika pun akhirnya berbisik pada Aryo tentang apa yang Lucas katakan sebelumnya padanya, saat mengetahui hal itu pun sontak membuat Aryo juga ikut ketar ketir dan langsung mendekati Lucas untuk mengajaknya berkompromi.


“Bro, tolong jangan gitu dong.” Bisik Aryo dengan raut wajah yang juga tak kalah memelas seperti Dika.


“Heh, kalian tau kan aku orangnya gimana?!” Ketus Lucas yang nampak tak senang.


“Iya Bro, iya aku tau. Tapi please lah Bro, kali ini aja, ini menyangkut harga diri dan nama baikku di depan cewek-cewek ini terutama di depan Nia. Ayo lah Bro, pleaseee!!” pujuk Aryo.


Namun kala itu Lucas masih diam dengan wajah masamnya.


“Bro pleasee!! aku mohon, kali ini aja, aku janji.” Bisik Aryo lagi.


Lucas tetap saja diam.


“Lucas, kali ini aja, demi tuhan cuma sekali ini aja! Come on Bro, kita udah temenan dari lama, tolong lah kasi toleransi dikit, cuma untuk malam ini aja.” Kali ini Aryo terlihat semakin memelas.


Akhirnya, mau tak mau dengan berat hati Lucas pun setuju, membuat Aryo dan Dika sontak menghela nafas lega untuk hal itu.


"Thanks a lot Bro, you're the best!" Ucap Aryo dengan senyum sumringah.


"Ini yang pertama dan terakhir, ingat itu!!" tegas Lucas dengan wajah ketatnya.


"Hehehe iya, ok." Aryo pun akhirnya bisa kembali terkekeh, lalu kemudian langsung kembali menghampiri Nia dan kedua temannya.


"Kenapa Yo? Apa ada masalah?" Tanya Nia.


“Ah enggak kok, gak ada masalah apa-apa hehehe." jawab Aryo yang terus tersenyum.


"Ehh, tunggu apa lagi? Ayo duduk.” Ajak Aryo yang langsung mempersilahkan Nia dan kedua temannya untuk duduk.


Nia pun tersenyum singkat dan akhirnya mulai menduduki kursi kosong, begitu pula dengan kedua temannya.


“Duhh jadi gak enak nih hehehe," celetuk Nia sembari duduk.

__ADS_1


"Hehehe gak papa kok Nia, santai aja." Jawab Aryo yang ikut kembali duduk di kursinya.


"Ini yakin beneran gak apa-apa kalau kami gabung disini? Kalau emang kami ganggu kalian, mungkin sebaiknya kami pergi aja dari sini dan cari tempat tongkrongan lain.” Ucap Nia berbasa-basi, karena dalam pikirannya, kehadirannya tidak mungkin pernah bisa ditolak oleh lelaki manapun.


“Kedengarannya bagus! Mungkin lebih baik memang begitu!" Celetuk Lucas datar dan tidak ada rasa segan.


Celetukan itu, sontak membuat Nia dan kedua temannya tercengang, begitu pula dengan Dika dan Aryo yang mendadak panik saat mendengar perkataan yang cukup menohok itu keluar dari mulut Lucas.


“Oh hahaha enggak, enggak! kalian gak usah panik ya, dia cuma bercanda aja kok hehee.” Ucap Aryo dengan cepat sembari tersenyum kaku.


“Hahaha iy,, iya Nia, temen kami yang satu ini memang suka bercanda orangnya, jadi jangan di ambil hati omongannya ya hehehe.” Tambah Dika yang ikut deg-degan dengan perkataan Lucas yang terdengar begitu terus terang.


Lucas pun hanya mendengus dan tersenyum sinis, lalu meraih gelas minumannya dan mulai menyeruputnya dengan tenang.


Nia akhirnya kembali tersenyum sembari memandangi Lucas yang benar-benar membuatnya sangat tertarik saat itu. Ia bahkan sengaja duduk di samping lelaki yang baru saja masuk ke dalam daftar lelaki pujaannya itu, agar bisa mengobrol lebih banyak dengannya.


“Lucas, aku boleh duduk disini kan?” Tanya Nia sembari tersenyum manis penuh percaya diri.


“Kamu udah duduk duluan, kenapa nanya lagi?” Jawab Lucas yang kembali meneguk minumannya tanpa melirik sedikit pun ke arah Nia.


Nia pun terdiam dengan tatapan yang tidak biasa.


"Laki-laki ini, kaku banget sih, apa memang sifatnya kegitu??" gumam Nia dalam hati.


Nia memang lah manis, memiliki bentuk tubuh yang indah, berpenampilan sangat seksi serta modis, tiga hal itu saja rasanya sudah cukup untuk membuat para lelaki yang melihatnya akan terpikat. Namun hal itu nyatanya tidak berlaku pada Lucas, karena Lucas memiliki kriteria wanita idaman tersendiri, yang jelas ia tidak akan jatuh hati pada wanita berpenampilan terlalu terbuka bahkan terkesan vulgar seperti Nia.


"Bro, aku tawari Nia dan temen-temennya untuk pesen makan ya, boleh gak?" Bisik Aryo pada Lucas.


Tak pikir panjang, Aryo pun segera menawarkan Nia dan kedua temannya untuk memesan makanan dan minuman yang mereka inginkan.


“Pesen aja apa yang kalian mau, karena malam ini, Lucas yang bakal bayar semuanya hehehe.” Ucap Aryo sembari tersenyum lebar.


“Ya kan Bro??” Tanyanya lagi yang kembali menatap Lucas.


“Hmmm, ya!” Jawab Lucas masih dengan raut wajahnya yang tanpa ekspresi.


kedatangan ketiga orang asing ke meja itu, benar-benar membuat Lucas merasa tidak nyaman hingga tak bisa menikmati suasana di cafe itu sama sekali. Hal itu membuatnya bahkan lebih memilih untuk memainkan gawainya, dari pada harus ikut ngobrol dan bersikap sok akrab pada ketiga wanita asing yang baru saja ia kenal.


Tak terasa malam kian larut, jarum jam pun tak terasa sudah menunjukkan pukul 23:15 malam, bukan malah bertambah sepi, cafe yang dijuluki sebagai cafe Milenial di kota Z itu pun justru kian ramai pengunjung. Pertunjukan live music yang berada di balkon lantai dua, turut menjadi alasan utama cafe itu banyak diminati anak-anak muda.


Ada banyak pengunjung cafe yang ternyata juga di kenal oleh Dika dan Aryo, dan sebagian besar dari mereka adalah wanita yang juga bekerja di perusahaan keluarga Lucas. Sebelumnya, tak sedikit pula orang-orang yang menyapa mereka saat orang itu sedang melintasi meja yang letaknya tak jauh dari tangga itu. Tak sedikit pula yang menyapa Lucas dan itu cukup membuat Lucas heran, termasuk salah satunya Ria, orang yang juga menjadi salah satu staff di perusahaan keluarga Lucas.


“Eh Ria, kau disini juga??!” Sapa Dika saat tak sengaja melihat teman sekantornya melintasi meja mereka.


“Loh Dika, Aryo, kalian pun disini??? hahaha.” Ria pun nampak sedikit kaget.


“Ehh, ada pak Lucas juga rupanya hehehe malam pak Lucas.” Sapa Ria yang sedikit merasa segan saat menyadari keberadaan Lucas.


Lucas sedikit bingung, kenapa sejak tadi ada banyak orang yang mengenalnya, sementara dia sama sekali tidak mengenal siapapun yang sejak tadi menyapanya, termasuk juga Ria.


“Malam, kamu juga kenal denganku?? Dan kenapa manggil aku dengan sebutan pak? Apa aku setua itu?”

__ADS_1


“Oh hehehe mungkin pak Lucas enggak kenal saya, tapi saya tentu kenal dengan anda dari acara syukuran kemarin.” Jelas Ria..


“Acara syukuran??” Tanya Lucas bingung.


Dika yang merasa tak sabar akhirnya mendekati Lucas dan kembali berbisik padanya.


“Dia itu juga pegawai di perusahaan punya keluargamu, dan yang sebelumnya juga sama, jadi tentu aja mereka kenal sama kamu.” Jelas Dika singkat.


“Oh I see, pantes aja.” Lucas pun mengangguk singkat tanda paham.


“Dan kenapa saya manggil anda dengan sebutan pak? Karena anda anak pak Presdir, jadi tentu aja saya juga manggilnya pak, sebagai bentuk rasa hormat saya hehee.” Tambah Ria lagi.


Nia yang duduk di sebelah Lucas, tentu bisa mendengar perbincangan itu, ia pun sontak menatap Lucas saat baru saja mengetahui sebuah fakta menarik, yaitu fakta bahwasannya Lucas adalah anak seorang Presdir di perusahaan tempat dimana temannya Aryo bekerja.


“Anak Presdir? Aku gak salah denger kan??” Tanya Nia dalam hati yang nampak masih sangat tercengang.


“Kalau beneran, berarti udah pasti dia kaya raya. Heemm pantes aja, dari awal aku juga udah duga kalau dia ini pasti orang kaya, karena keliatan jelas dari penampilannya.” Gumam Nia lagi yang terus tersenyum penuh makna.


“Eemm ok lah, kalau gitu saya duluan ya pak.” Ucap Ria pada Lucas yang ingin beranjak pergi.


“Eh Ri, mau kemana?” Tanya Dika..


“Aku mau pulang, udah dari tadi aku disini, besok takut kesiangan bangun, takut telat kerja.”


“Oh ya ya, ok kalau gitu. Hati hati ya.”


“Kau gak pulang? Besok apa gak kerja?”


“Kerja kok, tapi aku masih mau disini, mumpung di traktir anak bos hehehe.” Dika pun kembali cengengesan.


“Oh ya udah, byee.” Ria pun akhirnya beranjak pergi.


Lucas hanya diam sembari memandangi kepergian Ria, lalu mendadak mulai melirik kesana kemari seolah sedang mencari seseorang yang mungkin saja juga berada disana. Dika yang menyadari hal itu, kembali mendekatinya untuk bertanya,


“Kamu nyari siapa Bro?” Tanya Dika yang juga mengikuti kemana arah pandangan Lucas.


“Dari tadi, keliatannya ada banyak banget pegawai papaku yang dateng kesini, apa memang mereka selalu kesini?” Tanya lucas mulai menyelidik.


“Oh iya, hampir semua anak-anak muda di kota ini selalu milih untuk nongkrong di cafe ini. Dan hampir semua staff-staff papamu yang masih muda-muda, semuanya pada ngumpul disini.” Jelas Dika..


“Jadi semua staff yang masih muda, hampir semua selalu kesini?” Tanya Lucas lagi.


“Iya lah, cafe ini yang paling naik daun sekarang hahaha.”


“Oh gitu. Eeemm termasuk juga….” ucapan Lucas sejenak terhenti.


“Termasuk juga siapa Bro?” Dika pun mengernyitkan dahinya.


Awalnya, Lucas mendadak ragu dan sedikit malu untuk melanjutkan pertanyaannya, namun entah kenapa, rasa penasarannya justru semakin kuat menguasai pikirannya hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2