
“Hmm baiklah Mitha Admadja yang cantik, I have to go! Dan untuk makan siang hari ini, biar aku yang traktir, ok.” Ucap Vino sembari mulai bangkit dari duduknya.
Melihat hal itu, Mitha pun refleks juga ikut berdiri, kini keduanya berdiri berhadapan, dengan tatapan yang berbeda satu sama lain, namun seolah penuh makna. Mitha terus menatap wajah Vino dengan tatapannya yang begitu sendu, dalam hatinya ingin sekali ia menarik tangan Vino dan memintanya untuk jangan pergi. Namun apakan daya, hal itu pun tak kuasa ia lakukan karena gengsinya yang juga cukup besar.
“Jaga dirimu ya, dan teruslah tumbuh menjadi seseorang yang lebih hebat lagi, ok? Hehehe.” Vino pun mengusap-usap ujung kepala Mitha.
Saat itu Mitha masih terdiam dengan perasaannya yang terasa sangat kacau.
“Iya kak, kak Vino juga jaga diri ya, jaga kesehatan, and safe flight.” Ucap Mitha dengan suara begitu pelan.
“Iya, pasti.” Vino pun kembali tersenyum.
Mitha juga ikut tersenyum, namun senyumannya terlihat lirih.
“Aku ke kasir dulu.” Vino pun bergegas menuju kasir untuk membayar semua makanan yang mereka pesan saat itu.
Mitha masih diam, masih berdiri di tempatnya dengan tatapan yang tak lekang memandangi punggung Vino. Beberapa menit berlalu, Vino kembali tersenyum ke arahnya dan menghampirinya lagi.
“Oh ya, sebelum aku pergi, aku ingin menyampaikan harapanku padamu.” Ucap Vino yang kali ini mulai menatap Mitha dengan tatapan yang begitu dalam.
“Harapan?? Harapan apa maksudnya?” Tanya Mitha sembari mengangkat kedua alisnya.
Vino lagi-lagi menampilkan senyuman manisnya, lalu perlahan sebelah tangannya mulai menyentuh lembut sebelah pipi Mitha. Hal itu sontak membuat jantung Mitha berdegup hebat, bahkan pipinya juga terlihat kembali memerah karena perasaan gugup dan tubuh yang sedikit gemetar.
Tatapan Vino saat itu sungguh begitu dalam hingga seolah menusuk hingga ke kalbu Mitha, kedua mata indah Mitha pun turut menatap kedua mata berwarna hitam legam itu.
“Aku harap, kamu masih tetap single saat aku kembali nanti.” Ucap Vino dengan begitu lembut, seperti setengah berbisik.
Mitha pun tertegun, rasanya ia mau pingsan karena merasa kehabisan oksigen saat mendengar kata-kata itu keluar dari mulut lelaki yang sangat ia sukai.
Vino semakin melebarkan senyumannya kala melihat ekspresi Mitha yang begitu lucu baginya.
“Aku yakin kamu tau maksudku.” Ucapnya lagi yang kemudian mengusap singkat pipi lembut Mitha dan setelahnya langsung beranjak pergi begitu saja.
Meninggalkan Mitha yang masih tertegun dengan detakan jantung yang terpacu begitu hebat, sembari terus memandangi kepergian Vino yang kian jauh darinya. Vino kembali menghentikan langkahnya saat ia tepat berada di pintu masuk cafe, ia menoleh lagi ke arah Mitha yang kala itu masih tetap memandanginya.
“Bye, see you.” Ucapnya sembari melambaikan singkat tangannya.
__ADS_1
Mitha pun ikut melambaikan tangannya dengan pelan, membuat Vino lagi-lagi tersenyum hingga akhirnya benar-benar pergi. Dibalik wajah sendunya, perlahan mulai muncul sebuah senyuman kecil yang dengan malu-malu terpajang di wajah anggunnya. Mitha kembali mengusap pipinya, yang sebelumnya di sentuh dengan lembut oleh Vino.
“Apa itu tadi? Apa tadi dia beneran nyentuh pipi aku?” Tanya Mitha dalam hati seolah masih tak menyangka.
Mitha yang masih sedikit gemetaran, perlahan kembali duduk di tempatnya semula, sembari sebelah tangannya masih terus memegangi pipinya yang masih terasa hangat bekas sentuhan dari sang pujaan hati.
“Tatapannya, bener-bener bikin jantungku hampir mau lepas, dan tadi dia bilang apa?? Dia berharap aku tetap single sampai dia kembali? Apa itu sungguhan?” Mitha terus bergumam dalam hatinya, seolah tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi antara dia dan Vino.
“Andai kamu tau, aku bahkan rela adi wanita single seumur hidup demi kamu kak Vino.”
Kini perasaan sedih, senang, bingung, dan syok masih bersatu padu dalam hati Mitha, ia sama sekali tak mengerti dengan perasaannya sendiri.
Malam hari…
Mitha duduk berselonjor sembari menyandarkan tubuhnya di kepala ranjangnya, tatapan matanya seolah menatap kosong ke arah langit-langit kamar dengan disertai sebuah senyuman yang penuh arti. Mitha nampaknya masih merasa begitu kasmaran karena Vino, ia bahkan menjadi sering meraba pipinya yang siang tadi baru mendapat sentuhan hangat tersebut.
Rasa kasmaran yang begitu menggebu-gebu seolah mampu menyamarkan rasa sakit pada lambung yang dirasakannya sejak tadi siang. Ya, lambung dan ulu hati Mitha justru semakin terasa sakit ketika Mitha selesai makan. Dan hal itu memang selalu terjadi, dimana lambung dan ulu hatinya malah akan jadi semakin sakit kala perutnya sudah diisi makanan. Penyakit magh yang di deritanya membuat ia benar-benar tidak boleh telat makan, karena kalau ia telat makan dan terlanjur merasa sakit, maka meski lambungnya sudah di isi makanan pun tidak akan menghilangkan rasa sakitnya justru terasa semakin sakit.
Mitha melirik ke arah jam dinding yang tergantung di salah satu sisi kamarnya, saat itu jam sudah menunjukkan pukul 19:00 malam. Mitha perlahan menarik selimut dan membaringkan tubuhnya. Malam itu ia sama sekali tidak berminat untuk menghadiri acara syukuran yang diadakan Ronald di aula gedung kantor mereka.
Selain karena memang perutnya yang sakit, ketidakhadiran sosok Vino nyatanya juga menjadi alasan kuat untuk ia tidak berminat hadir.
Suara ketukan pintu tiba-tiba saja terdengar kuat dari balik pintu kamar Mitha.
“Mitha.” Panggil Mely.
“Ya bund.” Jawab Mitha lesu.
Mely pun langsung masuk ke kamarnya dan menghampiri Mitha yang kala itu terlihat terbaring lesu di atas ranjangnya.
“Astaga Sayangg!! Kenapa masih belum siap-siap juga?” Tanya Mely yang terlihat sudah berpakaian rapi seolah sudah siap untuk pergi.
“Mitha izin untuk gak ikut ya bund, lambung dan ulu hati Mitha sakit banget, karena tadi siang telat makan karena ada tugas dari om Ronald.” Jelas Mitha dengan sangat lesu.
Mitha memang biasa memanggil Ronald dengan sebutan om jika sudah tidak di jam kerja.
“Ya ampun, apa kamu udah minum obat maghmu sayang?”
__ADS_1
“Belum bund, rasanya lemes banget mau ambil minum ke dapur.”
“Astaga nak, kenapa sih dari tadi kamu gak bilang kalau magh kamu kambuh?! Kalau gitu bunda dan ayah di rumah aja deh, nanti biar bunda suruh papa untuk nelpon Ronald.”
“Eehh jangan dong bund! Gak enak sama om Ronald dan tante Nonna kalau bunda dan ayah juga gak datang.”
“Heemm iya juga sih.” Ujar Mely pelan.
“Bunda dan ayah pergi aja, nanti aku bakal minta tolong sama bi Minah untuk ambilkan air dan makan malam.”
“Eeemm beneran??"
"Iya bunddd!"
"Ya udah kalau gitu, kamu istirahat ya, nanti bunda yang bakal minta bi Minah untuk anterin air dan makan malam untukmu, ya?”
Mitha pun mengangguk sembari tersenyum tipis.
“Kalau gitu bunda pergi dulu ya, udah di tunggu ayah di bawah.”
“Iya bund, hati-hati di jalan ya.”
“Iya,”
“Oh ya, Robby mana? Apa dia gak ikut?”
“Oh dia lagi sibuk ngezoom sama teman-teman organisasinya di kampus, ada tugas kuliah katanya, tidak bisa di tunda.”
“Oh, ok.”
“Ya udah, jaga dirimu ya.”
“Iya bund, salam sama om Ronald dan tante Nonna ya.”
“Iyaa, daa sayang.”
"Bye bunda"
__ADS_1
Mely pun pergi meninggalkan Mitha di kamarnya untuk membiarkannya beristirahat. Hampir seluruh karyawan/staff kantor yang sangat menantikan untuk datang ke acara syukuran malam itu, terutama karyawan/staff wanita yang begitu penasaran ingin melihat anak sulung Presdir. Namun tidak halnya dengan Mitha, baginya kehadiran Vino lah yang jauh lebih penting, jika tidak ada Vino, maka hilang pula lah minatnya untuk hadir, dia bahkan sama sekali tidak merasa penasaran akan wajah Lucas Armando yang di gadang-gadang memiliki wajah yang begitu tampan.
...Bersambung…...