
Suasana saat itu terasa sangat canggung, baik Mitha maupun Lucas kebanyakan saling diam dengan pikiran mereka masing-masing. Sesekali Lucas melirik ke arah Mitha secara diam-diam, semakin dilihat dari jarak yang semakin dekat, kecantikan Mitha semakin nyata terlihat. Tidak sama seperti bulan, yang sangat indah ketika di pandang dari kejauhan, namun begitu suram ketika didekati.
“Oh sial, semakin diliat dari deket, kenapa dia keliatan makin cantik?" Gumam Lucas dalam hati.
Keduanya masih saling diam meskipun sudah sampai setengah perjalanan, Lucas yang mendadak merasa kikuk, akhirnya memilih untuk memutar lagu dengan suara yang pelan dari mobilnya secara acak. Namun siapa sangka, lagu yang dipilihnya secara acak itu ternyata adalah lagu favorit Mitha. Mendengar lagu favoritnya diputar, tanpa sadar mulai membuat Mitha jadi terbawa suasana hingga akhirnya ia pun ikut menyanyi meski dengan suara pelan.
Lucas sayup-sayup bisa mendengar suara nyanyiannya, tidak hanya cantik, ternyata Mitha juga memiliki suara yang merdu, bahkan suara nyanyiannya terdengar sangat nyaman di indera pendengaran Lucas.
“Not bad!" Celetuk Lucas secara tiba-tiba.
Mendengar celetukan itu, membuat Mitha sontak tersadar dan langsung menghentikan nyanyiannya. Namun Lucas yang sudah terlanjur dibuat nyaman oleh suaranya, merasa sedikit tak rela jika Mitha harus mendadak berhenti bernyanyi.
“Kenapa berenti? Nyanyi aja lagi, anggap aku gak ada!” Ucap Lucas sembari menambah volume lagu itu hingga suaranya jadi lebih kuat.
Mitha pun mulai melirik ke arahnya sejenak, ia sedikit merasa heran beserta bingung dengan perubahan sikap Lucas. Namun lagi-lagi Mitha memilih hanya diam, dan kembali memandangi jalanan dari kaca jendela mobil.
“Eeeheem.” Lucas berdehem.
Membuat Mitha mendengus tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.
“Udah berapa lama jadi Sekretaris pribadi papa?” Tanya Lucas datar.
“Dua tahun!" Jawab Mitha singkat tanpa melirik sedikitpun ke arahnya.
“Ohh belum lama banget ternyata.”
“Memangnya kalau belum lama banget, terus kenapa?” Kali ini Mitha akhirnya kembali menatap Lucas dengan tatapan tak senang.
“Gak kenapa-kenapa sih, cuma nanya aja.” Lucas pun mengangkat kedua pundaknya.
“Heemm.”
__ADS_1
“Oh ya, di acara syukuran semalam, ada pasangan suami istri yang dateng, mereka ada ngomongin kamu sama orang tuaku. Mereka siapa? orang tuamu atau kerabatmu?”
“Memangnya kenapa?” Tanya Mitha lagi.
“Gak ada sih, tapiii,,, kalau dilihat-lihat, kayaknya mereka gak mungkin orang tuamu sih hahaha.” Lucas pun terkekeh.
Namun tidak dengan Mitha, ia justru semakin tajam menatap Lucas.
“Kenapa gak mungkin?”
“Iya, kalau dilihat dari segi penampilan mereka, kayaknya mereka cukup terpandang, jadi biasanya gak mungkin anak orang terpandang bekerja jadi Sekretaris, harusnya sih jadi CEO di perusahaan orang tuanya, atau pun mungkin Dokter, pengacara, atau bisa juga Designer.” Ungkap Lucas dengan lugu.
Mitha yang mendengar hal itu pun sontak dibuat makin menggeram, namun ia masih mencoba untuk tetap tenang, ia tetap tersenyum meski akhirnya ia terlihat mendengus kesal.
“Iya, bener! Kalau aku punya orang tua yang kaya raya, mana mungkin aku mau capek-capek kerja sama orang lain, apalagi cuma jadi Sekretaris. Yakan? Heem, udah pasti aku bakal menikmati hidupku yang singkat ini, dengan cara berlibur, foya-foya, party, nongkrong sana sini. Yaaaa,, kira-kira seperti kau ini lah, yang kerjanya cuma nongkrong sana sini ngabisin harta orang tua, yakan?” Sindir Mitha dengan sebuah senyuman sinis yang terdengar begitu telak.
“Heii excuse me! Aku?? Menghabiskan harta orang tua?”
“Heh! Asal kau tau, selain kuliah, di Inggris aku juga sambil kerja paruh waktu sebagai Animator, dan aku gak perlu memberitahumu berapa gaji yang aku terima perjamnya. Dan sekarang aku baru aja pulang ke rumahku satu hari, dan apa salah kalau aku nongkrong untuk ketemu temen-temen lamaku dan apa itu termasuk menghabiskan harta orang tua?? Huh dasar wanita, semuanya sama aja, pikirannya sangat sempit!!” Amuk Lucas panjang lebar.
Mitha pun akhirnya terdiam dengan wajah masamnya, kali ini Lucas seolah berhasil memenangkan perdebatan mereka karena bisa membuat Mitha tak berkutik. Lucas akhirnya bisa tersenyum puas karena berhasil membungkam mulut Mitha hingga membuatnya terdiam seribu bahasa.
“Kena kau!” Celetuknya dalam hati.
Beberapa menit telah berlalu, semakin lama berada di dalam mobil Lucas dengan suhu ac yang sengaja dibuat rendah, kian membuat Mitha semakin menggelatuk kedinginan. Beberapa kali ia mengusap telapak tangan hingga lengannya demi memberinya sedikit rasa hangat, namun nampaknya hal itu tidak cukup berhasil.
“Kenapa?” Tanya Lucas datar.
“Bisa tolong kecilkan ACnya dikit?”
“Haaaiss, kenapa harus di kecilin? Aku kepanasan!”
__ADS_1
“Kepanasan?? Hih dasar gila!”
“Gila katamu?? Heh, kau ini selalu aja bilang aku gila, kenapa??” Tanya Lucas yang mulai kembali geram.
“Ya jelas gila, cuma orang gila aja yang masih kepanasan saat suhu AC udah dingin maksimal.”
“Ya wajar aja aku kepanasan, aku udah terbiasa hidup di Inggris dengan udaranya yang dominan dingin!” Jelas Lucas dengan nada kesal.
Mitha pun akhirnya memilih untuk kembali bungkam, saat itu ia sedang tidak ingin memperpanjang perdebatan. Kedua tangannya bersedekap di dada, sembari sesekali kedua tangan itu saling mengusap satu sama lain. Lucas yang menyadari hal itu, akhirnya mulai menghela nafas kasar, ia pun meraih jaket kulitnya yang ia letakkan di kursi bagian belakang, lalu memberikannya pada Mitha dengan sedikit kasar.
“Nih, pakai ini!” Ucapnya.
Mitha pun terkejut dan mulai memandangi jaket itu, lalu kembali melirik ke arah Lucas dengan wajah masamnya. Mitha sejenak menggeram dalam diamnya, namun perlahan akhirnya mulai menempelkan jaket itu pada bagian depan tubuhnya. Aroma maskulin yang bersumber dari jaket itu terasa begitu jelas masuk ke rongga-rongga hidung Mitha, membuatnya secara diam-diam mulai mengendus jaket itu untuk memastikan jika aroma itu memang berasal dari jaketnya.
“Astaga, wangi banget. Parfum apa yang dipakainya ya? Aromanya kok jadi bikin candu gini.” Gumam Mitha dalam hati.
Selain mampu membuat Mitha merasa lebih hangat dari sebelumnya, nyatanya jaket kulit milik Lucas juga mampu membuat Mitha merasa sangat nyaman dengan aromanya. Mitha yang memang seharian ini merasa sangat penat dan lelah dengan pekerjaan yang menumpuk, akhirnya perlahan-lahan mulai merasa jika dirinya akan hilang kesadaran. Mata Mitha serasa semakin berat, hingga akhirnya ia pun tertidur begitu saja.
Lucas belum menyadari hal itu, ia pun kembali bersuara untuk menanyakan alamat rumah Mitha, yang sebenarnya sudah di jelaskan oleh Mitha sebelum mereka memulai perjalanan tadi.
“Eh, di blok apa tadi rumahmu? Kayaknya aku lupa!" Tanya Lucas tanpa melirik ke arah Mitha.
Namun tidak ada jawaban dari Mitha,
“Heh, denger gak?!” Tanya Lucas lagi yang mulai kembali geram.
Namun tetap saja masih tidak ada jawaban dari Mitha, hingga hal itu pun mengundang rasa penasaran pada Lucas, ia pun akhirnya menoleh ke arah Mitha yang ternyata sudah tertidur dengan begitu pulas.
“What the….!!!" Lucas pun terperangah, tidak menyangka jika sejak tadi ia berbicara dengan orang tidur.
...Bersambung…...
__ADS_1