
Mitha menghentikan sejenak langkahnya saat ia tepat berada di depan ruangannya, kedua mata indahnya pun perlahan mulai melirik ke arah pintu ruangan Ronald yang kala itu tengah tertutup rapat. Dengan sedikit ragu, akhirnya ia mulai melangkah menuju ruangan yang tepat berada di samping ruangannya tersebut.
“Seenggaknya aku harus nyapa om Ronald karena dia baru masuk ke kantor lagi sesudah libur dua hari. Hmm sekalian aku mau minta maaf karena datang telat hari ini.” Gumam Mitha dalam hati sembari mulai mengumpulkan keberanian untuk mengetuk pintu itu.
*Tok,,tok,,tok*
“Pak Ronald,” Panggil Mitha sembari mengetuk pelan pintu ruangan itu,
Namun tidak ada jawaban.
*Tok,,tok,,tok*
“Pak, boleh saya masuk?” Tanya Mitha lagi.
Namun sama saja seperti sebelumnya, masih sama sekali tidak terdengar jawaban dari ruangan itu. Hal itu pun sesaat membuat Mitha terdiam dan semakin bertambah heran serta penasaran.
“Aneh, kenapa pak Ronald gak jawab? Apa dia juga gak ada di ruangannya?” Tanya Mitha seorang diri.
Untuk menjawab rasa penasarannya, Mitha pun perlahan mulai memberanikan diri untuk membuka pintu ruangan Ronald.
“Pak Ronald,” Panggilnya lagi dengan pelan.
Dan ternyata benar saja seperti dugaannya, ruangan itu terlihat kosong, bahkan terlihat masih tertata rapi seakan belum dimasuki oleh Ronald.
“Pak Ronald juga gak ada di ruangannya?! Hemm kemana dia? Bukannya tadi aku liat mobilnya udah ada di parkiran? Dan seingatku pagi ini gak ada jadwal meeting dan rapat.” Mitha terus bertanya-tanya seorang diri, diiringi pula dengan rasa penasaran yang semakin memuncak.
Mitha pun bergegas keluar dari ruangan Ronald, ia melirik kesana dan kemari demi mencari dimana keberadaan semua orang yang ada di kantor. Tak sengaja ia melihat dua orang staff yang berlari dengan semangat seperti ingin menuju ke arah ruang rapat yang letaknya di lantai yang sama.
“Mau kemana mereka? Kok kayak lagi buru-buru gitu?” Celetuk Mitha yang juga langsung bergegas mengejar langkah mereka.
Langkah Mitha sontak terhenti saat ia tiba di depan pintu sebuah ruangan yang cukup lebar dan luas, ruangan itu biasanya dipakai untuk rapat Mingguan dan bulanan seluruh staff dari berbagai divisi. Di depan pintu itu pula sudah berkumpul para staff terutama staf wanita yang seolah seperti menontoni sesuatu dari dalam ruangan itu.
“Kenapa semuanya disini? Memangnya ada apa di dalam??” Mitha terus bertanya-tanya dalam hatinya sembari perlahan mulai melangkah mendekati kerumunan itu.
Kebetulan, di antara kerumunan para wanita itu terdapat pula sahabatnya yang tak lain adalah Vina. Mitha yang melihat sosok Vina sedang berdiri di tengah kerumunan itu pun sontak menarik tangannya.
__ADS_1
“Astaga Mitha! Kamu ngagetin aja deh!” Ucap Vina.
“Ada apaan sih ini? Kenapa kalian semua ngumpul disini?”
“Astaga! Memangnya kamu gak tau??"
Mitha pun menggelengkan pelan kepalanya.
"Kok tumben banget kamu gak tau, kamu kan Sekretarisnya pak Ronald, masa bisa gak tau sih?" Dahi Vina pun mulai mengkerut saat menatap Mitha.
“Oh ya ampun, dan ini, kenapa wajahmu keliatan pucat banget hari ini ha?” Vina dengan cepat meraih wajah Mitha dengan kedua tangannya.
Vina begitu terkejut saat menyadari wajah Mitha yang pagi itu terlihat tak seperti biasanya, bibirnya pucat tidak berwarna, begitu pula dengan kantung matanya yang begitu jelas terlihat.
“Iya, aku kesiangan, gak sempet dandan.” Ucap Mitha cengengesan.
“Ohh.” Vina pun mengangguk sembari melepaskan kedua tangannya dari kedua pipi Mitha.
“Ihhh, lupain soal wajahku! Bukannya tadi aku yang duluan nanya ya?! ada apa di dalam? Kenapa kalian jadi pada ngumpul semua disini ha?” Tanya Mitha lagi yang masih begitu penasaran sembari seolah berusaha untuk melihat ke dalam ruangan.
Vina dan Mitha yang melihat hal itu pun terkejut dan mulai berdiri tegak sembari menundukkan pandangannya di hadapan Ronald. Tak lama, di susul pula dengan Lucas yang muncul setelah Ronald, dan hal itu disambut dengan penuh antusias oleh para staff wanita yang sejak tadi berdiri di depan pintu.
Mitha yang akhirnya menyadari adanya sosok lelaki yang teramat sangat ia benci ada di kantor pagi itu, sontak jadi terbelalak.
“Nah ini dia.” Celetuk Ronald yang langsung menghampiri Mitha.
Mitha pun kembali tertunduk.
“Selamat pagi pak.” Sapanya pelan.
“Pagi Tha, dari mana saja kamu? Kenapa baru kelihatan sekarang?” Tanya Ronald dengan tenang.
“Ma,, maaf pak, tadi taksi online yang saya pesan kelamaan datangnya, ditambah lagi jalanan yang macet parah. Sekali lagi maaf ya pak.” Ungkap Mitha yang terus menunduk.
“Haaiis, beginikah sang Sekretaris andalan papa?!” Celetuk Lucas yang ikut menghampiri Mitha sembari tersenyum dengan tenang.
__ADS_1
Hal itu kembali memicu kekesalan Mitha padanya, namun tetap saja, saat itu ia tidak bisa berbuat apapun di hadapan Ronald untuk menunjukkan kekesalannya pada putra sulung bosnya.
“Memangnya mobil kamu belum selesai diperbaiki juga?” Tanya Ronald sembari mengerutkan dahinya.
“Belum pak, tapi mereka bilang sore ini selesai.”
“Oh begitu, hemm ok ok, tidak masalah hehe, lagi pula belum ada pekerjaan yang dikejar deadline sekarang ini kan?”
Mitha pun menggeleng pelan.
“Ta,, tapi pak, kalau boleh tau, di ruangan rapat ada hal apa ya pak?” Tanya Mitha yang masih penasaran.
“Oh hehehe, ini saya mau mengenalkan Lucas secara resmi pada anggota dewan direksi yang lain, karena mulai hari ini dia akan bergabung di perusahaan kita, sebagai Direktur bagian keuangan.” Jelas Ronald yang tersenyum sembari menepuk pundak Lucas dengan bangga.
“Hahh??!!” Mitha yang mendengar hal itu pun sangat dibuat terkejut bukan kepalang hingga kedua matanya kembali terbelalak.
Melihat reaksi Mitha yang nampak cukup terkejut, membuat Ronald dan yang lainnya seketika terdiam dengan raut wajah penuh kebingungan akan sikap Mitha. Namun Mitha, yang cepat menyadari hal itu, sontak langsung mengubah raut wajahnya agar terlihat senang.
“Oh hehehe benarkah? Ya ampun saya cukup terkejut pak, maaf hehehe.” Ujar Mitha yang kembali menampilkan senyum keterpaksaan.
“So, apa kamu gak ada niat untuk mengucapkan selamat bergabung padaku? Seperti yang dilakukan oleh para staff yang lain??” Lucas pun kembali menatap Mitha dengan tatapan yang terkesan sedang mengoloknya dan juga bertujuan untuk membuat Mitha semakin merasa kesal.
Mau tidak mau, karena disana masih ada Ronald dan beberapa dewan direksi yang lainnya, Mitha pun terpaksa mengikuti kemauan Lucas.
“Oh hehehe ya, tentu saja pak Lucas. Welcome, semoga anda betah ya bekerja disini.” Ucap Mitha sembari tersenyum lebar, meski senyuman itu hanyalah sebuah senyuman yang begitu ia paksakan.
“Ya sudah, kalau begitu semuanya boleh kembali ke pekerjaan masing-masing.” Ucap Ronald yang kembali tersenyum singkat.
Para staff yang sejak tadi berkerumun di sana untuk menyaksikan Lucas diresmikan menjadi Direktur keuangan pun sontak langsung bubar dengan sebuah senyuman yang terus memandang kagum ke arah Lucas yang nampak begitu tampan saat tubuh proporsionalnya terbalut dengan setelan jas berwarna Biru dongker.
“Kami permisi dulu ya pak Lucas, semoga pak Lucas merasa nyaman selama kerja disini,” ucap Vina yang nampak begitu kesemsem oleh ketampanan Lucas, lalu kemudian ia dan yang lainnya pun langsung beranjak pergi.
“Thanks.” Jawab Lucas yang ikut tersenyum tipis.
Sementara Mitha, melihat sahabatnya melakukan hal yang menurutnya begitu menggelikan, sontak membuatnya kembali memutarkan kedua bola matanya.
__ADS_1
...Bersambung…...