Benci Kok Menikah

Benci Kok Menikah
Banyak diam


__ADS_3

Tak lama seorang pelayan pun datang dengan membawa tiga buah buku menu yang langsung ia berikan kepada mereka masing-masing.


“Silahkan pak, mas, mbak.” Ucap sang pelayan dengan ramah.


Mereka pun langsung memesan makanan serta minuman yang mereka inginkan, bahkan tak lupa juga Ronald memesan beberapa menu pencuci mulut dan beberapa snack.


“Ok, ditunggu ya.” Pelayan pun pergi dengan sebuah catatan atas segala pesanan mereka, serta juga mengambil kembali buku menu lalu membawanya.


Saat itu Ronald nampak begitu semangat berbincang dengan Lucas putranya, ada banyak hal yang ia perbincangkan kala itu sembari menunggu pesanan mereka datang, terutama tentang perusahaan yang nantinya akan di pimpin dan di pindah tangankan pada Lucas.


Sementara Mitha, ya saat itu ia justru lebih banyak diam, ada banyak hal yang membuatnya seperti itu, selain karena perasaan kurang senangnya pada Lucas yang saat itu tengah duduk di hadapannya, juga karena ia kembali memikirkan Vino. Kedatangannya ke cafe itu ternyata cukup mengganggu pikirannya, hingga membuatnya kembali merasa rindu pada Vino yang masih belum kembali.


“Kak Vinoo, andai yang ada di hadapanku sekarang ini adalah kamu, pasti aku bakalan ngerasa seneng banget.” Gumam Mitha lirih dalam hati, sembari memandangi dua kursi yang sedang kosong, tempat dimana tempo hari ia menghabiskan makan siangnya yang indah bersama Vino terkasih.


Namun sikap diam Mitha, ternyata juga mengundang rasa penasaran pada Lucas dan juga Ronald.


“Tha,” panggil Ronald pelan.


Mitha yang saat itu terus terdiam memandangi kedua kursi kosong itu, sontak dibuat sedikit terperanjat karena kaget.


“Ehh,, iy,, iya pak.” Jawabnya galabakan.


“What’s wrong?” Tanya Ronald sembari mulai mengernyitkan dahinya.


“Eemm eng,, enggak pak, gak ada kok hehe.” Mitha pun mulai menampilkan senyumannya yang terlihat kaku.


“Terus kenapa dari tadi kamu diem aja? Apa ada masalah?” Tanya Ronald lagi.


Lucas yang kala itu juga sedang memandanginya, nampak mulai memicingkan matanya,


“What’s wrong with her? Dari tadi dia terus liatin kursi kosong itu dengan tatapan yang aneh, ada apa ya??” Tanya Lucas yang juga merasa aneh dan penasaran, namun kala itu ia masih memilih untuk bungkam.

__ADS_1


“Gak ada pak! Cuma lagi kan bapak dan Lucas, eehh eemm,, maksud saya pak Lucas, iya pak Lucas hehe! kalian kayaknya sedang mengobrol tentang hal yang cukup serius, jadi saya lebih baik diem, gak mau ganggu hehehe.” Jawab Mitha yang sudah jelas jika jawaban itu hanyalah kebohongan.


“Huh, klise.” Celetuk Lucas pelan sembari mendengus.


Mitha yang mendengar hal itu kembali merasa tak senang hingga membuatnya lagi dan lagi mulai menatap Lucas dengan tatapan sengit.


Namun selang beberapa detik, dua orang pelayan datang dengan membawa sebagian pesanan mereka, hingga hal itu akhirnya berhasil membuat obrolan mereka berhenti sampai disana.


“Aah makanan udah dateng.” Celetuk Ronald yang mulai tersenyum lebar saat memandangi makanan yang tampak lezat mulai dihidangkan di atas meja mereka.


“Ayo kita makan dulu, karena Lucas dari tadi udah berontak kelaperan hehehe.” Tambahnya lagi.


Mereka pun mulai menyantap makan siang dengan tenang, sepanjang makan Mitha lagi-lagi kembali diam sembari terus memikirkan sesuatu, yang tak lain ialah tentang keputusan yang harus ia beritahu pada Ronald.


“Hubungan antara aku dan kak Vino mulai sedikit ada perkembangan, jika aku berhenti kerja, otomatis pas kak Vino balik, dia gak bakal bisa ketemu denganku lagi di kantor, begitupun sebaliknya.” Gumam Mitha dalam hati sembari terus mengunyah pelan makanannya,


“Dan kalau itu terjadi, hubungan yang mulai sedikit ada kemajuan ini, bakalan stuck lagi dan aku gak mau hal itu sampe kejadian!! Udah bertahun-tahun aku nunggu momen dimana aku dan kak Vino bisa lebih deket, dan ini udah hampir di momen itu, masa aku harus akhiri hal ini dengan cara berenti kerja?” Pikirnya lagi.


“Apa?!” Tanya Lucas yang melototi Mitha tanpa mengeluarkan suara sedikit pun hingga membuat Ronald tidak bisa mendengarnya.


Saat itu Mitha tidak menjawab, ia hanya memutarkan kedua bola matanya sebagai tanda jika ia benar-benar malas berkomunikasi dengan lelaki itu.


“Dasar aneh!” Ketus Lucas pelan yang kembali mendengus.


Beberapa puluh menit berlalu, Ronald akhirnya mulai menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi saat ia merasa sudah sangat kenyang.


“Ternyata bener kamu Lucas, makanan disini semuanya enak-enak, bener-bener recomended! Hehehe” Celetuk Ronald yang kembali tersenyum lebar.


“Aku gak bakal pernah salah dalam hal merekomendasikan sesuatu, pa.” Jawab Lucas santai sembari ikut tersenyum tipis.


“Gimana Tha? kamu setuju kan kalau makanan di cafe itu memang enak-enak?” Tanya Ronald yang kembali menatap Mitha yang sejak tadi mendadak menjadi pendiam.

__ADS_1


“Iy,, iya pak, makanannya enak-enak hehehe.”Mitha pun tersenyum kaku.


“Padahal cafe ini gak terlalu jauh dari area perusahaan kita ya Tha, tapi kenapa saya baru tau tentang cafe ini ya? Apa kamu pernah kesini sebelumnya Tha?” Tanya Ronald lagi.


Mitha pun terdiam sejenak, ia mulai berpikir jika ia mengatakan sudah pernah makan di cafe itu, maka setelahnya pasti akan timbul lebih banyak pertanyaan lagi, dan ia sangat menghindari hal itu.


“Belum pak, belum pernah, cuma sering ngelewati aja.” Mitha pun akhirnya berbohong lagi sembari menggelengkan pelan kepalanya.


"Ohh." Ronald pun hanya mengangguk singkat.


Ronald meminta pelayan untuk mengangkat sebagian piring-piring yang sudah kosong agar meja mereka tidak terlalu penuh, hingga hanya menyisakan beberapa piring snack dan makanan pencuci mulut yang dibiarkan menghiasi meja mereka,


Saat itu Lucas terus memandangi Mitha dalam diamnya, semakin kesini, ia semakin dibuat penasaran dengan segala hal yang bersangkutan dengan Mitha yang menurutnya sangat berbeda dan unik dari para wanita yang pernah ia kenal sebelumnya.


“Hei.” Tak lama akhirnya Lucas pun memanggil Mitha dengan suara yang terdengar sedikit lebih lembut dari biasanya.


Membuat Mitha yang kala itu sedang menghisap minumannya melalui sedotan, secara spontan langsung melirik ke arahnya tanpa bersuara,


“Apa yang buat kamu jadi berat banget untuk ngasi keputusan?” Lucas yang awalnya duduk bersandar pada sandaran kursinya, perlahan mulai tertegak sembari melipat sebelah tangannya ke atas meja.


“Anda nanya sama saya pak?” Tanya Mitha memastikan.


Pertanyaan itu lagi-lagi membuat Lucas mendengus pelan.


“Memangnya siapa lagi yang ada di hadapanku sekarang ini?”


Melihat hal itu, Ronald justru kembali dibuat tersenyum tipis, ia pun memilih untuk tetap diam dan menyimak, seolah membiarkan putra sulungnya itu untuk lebih intens berkomunikasi dengan Mitha.


“Tentu saja ada banyak hal yang menjadi pertimbangan saya, terutama adalah sikap anda pada saya, pak." Jawab Mitha sembari tersenyum tenang.


Hal itu pun sontak membuat Lucas jadi terdiam sejenak.

__ADS_1


...Bersambung…...


__ADS_2